NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 : Malam Penilaian yang Berbeda

Dua hari setelah kepulangannya, Lin Hai mengumpulkan seluruh anggota Klan Lin untuk menghadiri sebuah pertemuan besar.

Secara resmi, pertemuan itu disebut sebagai Evaluasi Pasca Turnamen.

Namun hampir semua orang di dalam klan memahami tujuan sebenarnya.

Kekalahan di Turnamen Sekte Bulan Perak telah mengguncang reputasi Klan Lin. Posisi Lin Hai sebagai kepala keluarga juga mulai dipertanyakan secara diam-diam. Pertemuan ini lebih ditujukan untuk memulihkan wibawa dan mengembalikan kepercayaan anggota klan daripada sekadar membahas hasil turnamen.

Lin Chen hadir.

Begitu pula Huo Ling'er.

Meski hanya diperkenalkan sebagai "rekan perjalanan dari luar kota", kehadiran gadis berambut merah itu tetap menarik perhatian banyak orang.

Seperti biasa, Huo Ling'er memilih tempat duduknya sendiri.

Ia duduk di sudut aula, posisi yang memberinya pandangan jelas ke seluruh ruangan sekaligus jarak yang cukup dari kerumunan agar tidak merasa terganggu.

Pertemuan berlangsung sesuai dugaan Lin Chen.

Lin Hai berbicara panjang lebar mengenai hasil turnamen, kelemahan yang harus diperbaiki, serta rencana pengembangan klan ke depan.

Para tetua sesekali mengangguk.

Beberapa anggota muda mendengarkan dengan serius.

Sebagian lainnya hanya berpura-pura memperhatikan.

Wei Hao mendapat bagian khusus.

Lin Hai memuji bakat dan potensinya, tetapi di balik pujian itu terselip teguran halus mengenai kegagalannya membawa hasil yang diharapkan dalam turnamen.

Cara yang cukup elegan untuk menegur seseorang tanpa mempermalukannya di depan umum.

Semuanya berjalan normal.

Sampai seseorang mengangkat topik yang tidak ada dalam agenda.

"Ada satu hal lagi yang perlu dibahas."

Suara Penatua Lin Shan terdengar dari barisan depan.

Sebagai tetua yang paling jarang berbicara, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya langsung menarik perhatian seluruh aula.

"Tentang Lin Chen."

Suasana ruangan sedikit berubah.

Beberapa orang langsung menoleh.

Lin Shan melanjutkan.

"Ia baru kembali dari tugas yang diberikan klan. Akan lebih baik jika posisi dan kontribusinya dibahas secara resmi."

Tatapan puluhan pasang mata segera beralih ke arah Lin Chen.

Namun sebelum Lin Shan menyelesaikan maksudnya, Lin Chen berbicara lebih dulu.

"Dalam tugas itu, aku tidak menemukan herbal yang diminta."

Kalimat tersebut membuat seluruh aula terdiam.

Lin Chen tetap duduk tenang.

Nada suaranya datar, seolah sedang menjelaskan cuaca.

"Karena sebagian besar herbal dalam daftar itu hanya bisa dipanen dengan aman oleh kultivator yang jauh lebih kuat daripada diriku saat itu."

Ia menatap seluruh ruangan.

"Beberapa bahkan membutuhkan kekuatan Alam Jiwa Baru Lahir untuk mendapatkannya tanpa mempertaruhkan nyawa."

Keheningan langsung menyelimuti aula.

Beberapa anggota klan mulai saling berpandangan.

Mereka tidak bodoh.

Mereka memahami maksud di balik pernyataan itu.

"Lin Chen."

Suara Lin Hai terdengar lebih berat dari sebelumnya.

Nada peringatan yang halus.

Namun Lin Chen tetap tenang.

"Aku tidak menyampaikan ini sebagai tuduhan."

Tatapannya beralih ke Penatua Lin Shan.

"Aku hanya menyampaikan fakta. Dan menurutku fakta adalah dasar yang paling baik untuk memulai diskusi."

Ia sedikit menyandarkan tubuhnya.

"Karena Penatua Lin Shan ingin membahas posisiku, silakan. Apa yang ingin diketahui?"

Untuk pertama kalinya, Penatua Lin Shan tampak kehilangan arah.

Ia tidak menyangka Lin Chen akan mengambil alih pembicaraan dengan begitu mudah.

"Kemajuan kultivasimu," jawabnya akhirnya.

Lin Chen mengangguk pelan. "Alam Pembentukan Inti Tingkat Menengah."

Ruangan langsung membeku.

Tidak ada suara.

Tidak ada gerakan.

Bahkan udara seolah berhenti mengalir.

Lin Hai yang hendak mengangkat cangkir teh menghentikan tangannya di tengah jalan.

Penatua Lin Dao menatap Lin Chen tanpa berkedip.

Sementara Wei Hao yang sebelumnya duduk santai perlahan menegakkan punggungnya.

"Maaf..." Suara Lin Hai terdengar pelan. "Apa yang baru saja kau katakan?"

Lin Chen menatapnya. "Alam Pembentukan Inti Tingkat Menengah."

Ia mengulanginya tanpa tekanan.

Tanpa kebanggaan.

Seolah itu hanya fakta biasa.

Justru karena itulah dampaknya terasa semakin besar.

"Itu mustahil!"

Penatua Lin Dao berdiri dari kursinya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya sebagai tetua klan, suaranya terdengar tidak yakin. "Meridian mu rusak!"

"Benar." Lin Chen mengangguk. "Dulu."

"Dulu?"

"Tubuhku mengalami perubahan di Gunung Cang Lei." Jawabannya singkat.

Tetapi cukup untuk membuat suasana semakin tidak tenang.

Wei Hao akhirnya berdiri.

Tatapannya semakin tajam.

Tidak lagi menyembunyikan rasa tidak percaya yang memenuhi pikirannya.

"Apa buktinya."

Cuman kata itu, Namun semua orang tahu itu adalah tantangan.

Lin Chen tidak marah. Ia hanya mengangkat tangan kanannya perlahan.

Sesaat kemudian, nyala api muncul di atas telapak tangannya.

Api itu kecil.

Tenang.

Berputar perlahan seperti bintang mungil yang hidup.

Warnanya merah keemasan.

Indah, namun sekaligus menakutkan.

Gelombang panas yang dipancarkannya segera menyebar ke seluruh aula.

Tidak berlebihan.

Tetapi cukup untuk membuat semua orang merasakannya.

Dan yang paling mengejutkan bukanlah panasnya.

Melainkan kualitasnya.

Api itu berbeda dan sangat berbeda.

Setiap kultivator di ruangan itu, mulai dari Alam Kebangkitan Roh hingga Alam Pembentukan Inti, merasakan hal yang sama.

Seolah mereka sedang berdiri di hadapan sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih tinggi daripada teknik api biasa.

Sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki seorang kultivator muda.

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

Tidak ada yang berani.

Karena untuk pertama kalinya, seluruh anggota Klan Lin menyadari satu kenyataan yang sulit mereka terima.

Pemuda yang pernah mereka anggap sampah klan...

telah kembali sebagai seseorang yang bahkan tidak bisa mereka pahami.

Di sudut aula, Huo Ling'er mengamati semuanya dengan tenang.

Ekspresinya tetap datar seperti biasa.

Namun jika seseorang memperhatikannya dengan sangat saksama, mereka mungkin akan melihat sudut bibirnya sedikit terangkat.

Senyum kecil.

Nyaris tidak terlihat.

Senyum seseorang yang sudah mengetahui hasilnya jauh sebelum semua orang lain menyadarinya.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!