"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.
Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.
Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.
Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35 - Maaf yang Datang Terlambat
Adrian datang ke Ruang Sela tiga hari setelah pernyataan resmi itu keluar.
Ia tidak membawa Vania.
Tidak membawa Ratna.
Tidak membawa karangan bunga besar dengan pita nama perusahaan.
Ia hanya membawa satu map cokelat dan satu kantong kertas kecil.
Mbak Rini yang membuka pintu menatapnya dari atas ke bawah. "Cari siapa?"
"Alina."
"Janji temu?"
Adrian terdiam setengah detik. Di hidup lamanya, ia jarang ditanya janji temu untuk menemui istrinya sendiri.
"Tidak ada."
"Kalau begitu tunggu."
Mbak Rini menutup pintu setengah, lalu memanggil ke dalam, "Mbak Alina, ada laki-laki rapi yang mukanya seperti masalah lama."
Dari meja pola, Lia langsung menoleh. "Deskripsi akurat."
Alina meletakkan gunting. Ia sedang memeriksa sampel jahitan Sasa. Di layar laptop, ada daftar klien pertama yang akan datang minggu depan.
"Biarkan masuk," katanya.
Adrian masuk dengan langkah hati-hati. Matanya bergerak cepat menyerap ruangan: dinding putih yang belum selesai, rak kain, gambar Nara dekat tangga, cangkir kopi Lia, dan Alina yang berdiri di antara semua itu tanpa terlihat seperti tamu.
Tempat ini masih kecil.
Tetapi Alina tampak lebih berada di sini daripada di rumah besar Wicaksono.
"Aku mengganggu?" tanya Adrian.
"Sedikit. Tapi katakan saja."
Lia pura-pura merapikan kain di meja yang sama. Nadia tidak ada hari itu, jadi tidak ada orang yang secara hukum bisa mengusir Adrian dengan kalimat indah.
Alina menatap Lia.
Lia mengangkat kedua tangan. "Aku ke bawah. Tapi kalau lima menit lagi kamu berteriak, aku naik membawa setrika."
Setelah Lia pergi, ruangan menjadi lebih sunyi.
Adrian meletakkan map di meja.
"Ini salinan perubahan dokumen Arka dari sekolah. Kontak darurat, izin penjemputan, dan catatan bahwa tidak ada orang selain yang kamu setujui bisa menemui dia saat jadwalmu."
Alina membuka map, memeriksa halaman pertama.
"Terima kasih."
"Ada juga laporan dari keamanan tentang nomor yang mengancam kamu."
Alina berhenti membaca.
"Nomornya kartu prabayar. Dipakai sebentar, lalu mati. Tapi ada jejak pembelian di minimarket dekat Senopati. Kamera toko kurang jelas."
"Aku tidak kaget."
"Aku masih cari."
"Baik."
Adrian menunggu. Lagi-lagi, hanya kata pendek.
Ia mengeluarkan kantong kertas kecil. "Ini untuk Arka. Dia minta aku membelikan buku gambar kalau Sabtu nanti kamu jemput. Tapi aku pikir lebih baik aku titip sekarang."
Alina tidak mengambil langsung.
"Kenapa tidak berikan saat dia datang?"
"Karena aku tidak ingin muncul di jadwalmu hanya untuk terlihat baik."
Kalimat itu membuat Alina menatapnya lebih lama.
Adrian menunduk sedikit. "Aku belajar pelan."
"Pelan sekali."
"Aku tahu."
Tidak ada pembelaan. Tidak ada kalimat tentang betapa sulitnya posisinya. Tidak ada cerita Vania sakit. Tidak ada Ratna menekan. Adrian hanya berdiri di sana, terlihat seperti pria yang akhirnya kehabisan alasan dan baru menyadari alasan selama ini lebih ia sayangi daripada istrinya.
"Alina," katanya.
"Ya."
"Maaf."
Kata itu keluar tanpa tambahan.
Alina tidak menjawab.
Adrian menarik napas. "Maaf karena terlambat datang ke mediasi pertama. Maaf karena membiarkan ibuku bicara seolah kesabaranmu tidak punya batas. Maaf karena Arka belajar menyakiti kamu dari orang dewasa di rumahku. Maaf karena aku membuat Vania menjadi pusat rumah yang seharusnya kita bangun."
Di bawah, suara Lia memarahi tukang terdengar samar. Dunia tidak berhenti hanya karena Adrian meminta maaf.
Alina menyukai itu.
"Kenapa sekarang?" tanyanya.
Adrian memandang meja pola. "Karena sebelumnya aku pengecut."
Jawaban itu membuat ruangan diam.
"Aku ingin percaya aku orang baik. Jadi setiap kali ada bukti bahwa aku menyakitimu, aku mencari alasan yang membuatku tetap terlihat baik. Vania sakit. Ibu tertekan. Arka butuh stabil. Kamu kuat. Kamu bisa mengerti."
Alina menutup map.
"Aku memang mengerti."
Adrian mengangkat wajah.
"Itu masalahnya," lanjut Alina. "Aku terlalu sering mengerti. Sampai kalian mengira aku tidak bisa terluka."
Adrian tidak punya jawaban.
"Aku menerima permintaan maafmu sebagai kalimat," kata Alina. "Tapi aku tidak menerimanya sebagai jalan kembali."
"Aku tidak meminta kamu kembali."
"Bagus."
Kata itu cepat, bersih.
Adrian tersenyum pahit. "Kamu benar-benar sudah jauh."
"Tidak. Aku hanya berhenti berjalan di tempat."
Ia mengambil kantong buku gambar. "Ini akan kuberikan ke Arka. Tapi Sabtu nanti, kamu tidak perlu turun dari mobil."
"Aku paham."
"Dan jangan kirim pesan malam-malam kecuali tentang Arka atau urusan hukum."
"Baik."
"Jangan datang tanpa janji lagi."
"Baik."
Adrian mengangguk. Ia seharusnya pergi. Tetapi matanya jatuh pada gambar Nara di dinding.
"Anak Damar?"
"Ya."
"Dia sering ke sini?"
Alina menatapnya.
Adrian langsung sadar. "Maaf. Itu bukan urusanku."
"Benar."
Satu kata itu menyelesaikan banyak hal.
Adrian mengambil napas, lalu berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti.
"Aku dulu pernah melihat kotak biolamu di gudang."
Alina diam.
"Hari itu Vania menelepon. Aku pergi sebelum bertanya kenapa kotak itu disimpan di sana. Setelah gala, aku baru ingat."
"Lalu?"
"Tidak ada lalu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ingat sekarang."
Alina memegang ujung meja.
"Mengingat sekarang tidak mengubah apa pun."
"Aku tahu."
"Tapi mungkin baik untukmu. Supaya lain kali, kalau seseorang meletakkan sesuatu yang penting di tempat gelap, kamu tidak langsung pergi karena orang lain memanggil."
Adrian mengangguk pelan.
Ia keluar.
Di bawah, Lia melihatnya lewat dan bertanya keras, "Sudah selesai jadi masalah lama?"
Adrian berhenti, lalu menjawab, "Sedang berusaha."
Lia tampak tidak menyangka ia menjawab.
Setelah pintu tertutup, Lia naik kembali.
"Kamu baik?"
Alina duduk di kursi.
"Aku baik."
"Menangis?"
"Tidak."
"Aku agak kecewa. Setrika sudah panas."
Alina tertawa pendek.
Tawa itu tidak lama, tetapi cukup untuk mencairkan sesuatu di dadanya.
Malamnya, Adrian pulang ke rumah Wicaksono. Ratna menunggu di ruang tengah.
"Kamu dari tempat Alina?"
"Ya."
"Untuk apa?"
"Minta maaf."
Ratna tampak tidak nyaman. "Dia pasti senang."
Adrian menatap ibunya. "Tidak."
"Tidak?"
"Dia tidak membutuhkannya seperti yang Ibu kira."
Ratna terdiam.
Vania muncul dari arah tangga, memakai cardigan tipis. "Kak Adrian, aku perlu bicara soal jadwal Prof. Hadi."
"Besok," kata Adrian.
"Tapi ini penting."
"Kalau penting, kirim detailnya. Aku akan baca."
Dulu, ia akan mendekat.
Malam itu, ia melewati Vania dan masuk ruang kerja.
Vania berdiri di tempat, wajahnya pucat bukan karena sakit.
Di Ruang Sela, Alina membuka buku gambar yang dititipkan Adrian. Di halaman pertama, Arka sudah menulis dengan huruf besar:
Untuk Mama, Sabtu kita gambar rumah.
Alina menyentuh tulisan itu.
Ia masih ibu.
Ia masih terluka.
Dua hal itu bisa hidup bersamaan tanpa saling menghapus.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor Prof. Hadi masuk.
Besok sore bisa datang? Ada hal tentang ibumu yang sebaiknya kamu dengar langsung.
Alina membaca pesan itu dua kali.
Ibunya.
Selama beberapa detik, ruangan kecil apartemennya terasa berubah. Bukan karena ada orang masuk, melainkan karena masa lalu yang selama ini duduk diam tiba-tiba mengetuk meja.
Ia membuka kotak kayu tempat menyimpan sisa barang Maya. Ada dua foto, satu saputangan yang warnanya sudah pudar, dan surat pendek tanpa tanggal. Tidak banyak. Hidup ibunya di tangan Alina selalu terlalu sedikit untuk disebut warisan.
Alina mengangkat kalung dari lehernya dan meletakkannya di samping kotak itu.
"Apa yang belum Ibu ceritakan?" bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari Nadia.
Besok aku ikut.
Alina tersenyum tipis. Ia bahkan belum memberi tahu.
Nadia selalu tahu kapan sebuah pesan terlalu berat untuk dibaca sendirian.
Alina membalas:
Besok jam tiga. Terima kasih.
Lalu ia menutup kotak kayu itu perlahan.
Malam itu, ia tidak tidur cepat. Ia duduk di lantai dekat sofa, membaca surat pendek Maya berulang-ulang meski isinya tidak berubah. Kadang manusia membaca bukan untuk menemukan kalimat baru, tetapi untuk memastikan yang lama masih ada.
Kata itu membuka pintu lain yang selama ini terkunci dari sisi yang tidak ia kenal.
Baca Maraton tapi takut kehilangan makna
psikopat sinting tolololllll down normal otak nya massa kurang satu kwintal 🔪🔪🔪🔪🖕🖕
pelakor Jahannam semoga tersemogakan cepat mampossss🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🔪🔪