Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 011
Tidak Perlu Malu
Kalimat sederhana itu membuat mata Kiara panas dengan cara yang tidak ia siapkan.
Dan seperti semua hal memalukan yang terjadi akhir-akhir ini, tubuhnya memilih waktu paling buruk untuk membuktikan Rayhan benar.
Begitu pintu kamar tertutup, Kiara baru melihat noda merah di celana rumahnya. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat napasnya tertahan. Ia cepat-cepat masuk kamar mandi, mengganti pembalut, memakai celana menstruasi yang dibelikan Rayhan, lalu menatap pakaian kotor di tangannya seperti menatap barang bukti kejahatan.
Jangan panik.
Itu bukan salahmu.
Kalimat Rayhan berputar di kepalanya.
Tetap saja, Kiara panik.
Ia mengisi baskom kecil dengan air dingin, memasukkan celana rumah dan pakaian dalamnya, lalu berusaha mencuci noda itu secepat mungkin. Perutnya melilit lagi. Kali ini lebih tajam. Tangannya berhenti di atas baskom, jari-jari mencengkeram kain basah.
"Aduh..."
Suara itu keluar tanpa izin.
Ponselnya bergetar di atas wastafel. Pesan dari Cici muncul bertubi-tubi.
Cici:
Ki, lo udah sampai rumah kan?
Cici:
Pak Song nggak muncul lagi kan?
Cici:
Jawab. Gue parno.
Kiara ingin membalas, tapi gelombang nyeri berikutnya membuat lututnya melemah. Baskom di tangannya miring. Air dingin tumpah ke lantai kamar mandi.
Tok tok.
"Kiara?"
Tubuh Kiara langsung menegang. "Jangan masuk!"
Hening di luar pintu.
"Aku tidak masuk," jawab Rayhan. "Tapi aku dengar suara jatuh. Kamu jatuh?"
"Nggak."
"Kiara."
Ia benci bagaimana namanya terdengar seperti alat pendeteksi kebohongan di mulut Rayhan.
"Baskomnya tumpah."
"Kamu berdarah banyak?"
Wajah Kiara panas sampai matanya perih. "Kak Rayhan!"
"Jawab dulu."
Nada itu tidak malu, tidak jijik, tidak bercanda. Hanya khawatir. Kiara menelan gengsinya.
"Nggak. Cuma... bajuku kena."
Di luar, Rayhan diam sebentar. "Kamu butuh bantuan?"
"Tidak."
Ia mencoba berdiri, tapi perutnya kembali melilit. Kiara menahan wastafel, napasnya terputus.
"Kiara, buka pintunya. Aku akan berdiri di luar. Kamu ambil handuk dulu."
Kiara memejamkan mata. Ini pasti salah satu bentuk hukuman dari alam semesta. Dari semua orang yang bisa melihat sisi paling kacau dirinya, kenapa harus Rayhan?
Ia mengambil handuk besar, menutupi bagian depan tubuhnya, lalu membuka pintu sedikit.
Rayhan berdiri di luar, wajahnya langsung berubah ketika melihat lantai basah dan tangan Kiara yang masih gemetar.
"Duduk di tempat tidur."
"Lantainya basah."
"Aku urus."
"Tapi..."
"Duduk, Kiara."
Ia terlalu lelah untuk membantah. Kiara berjalan pelan ke tempat tidur dan duduk di tepi, masih memeluk handuk. Rayhan masuk ke kamar mandi hanya setelah ia memberi ruang. Ia tidak melihat ke arah tubuh Kiara. Tatapannya lurus ke lantai, baskom, dan pakaian yang masih terendam.
Kiara ingin menghilang.
"Itu..." Suaranya hampir tidak terdengar. "Pakaian dalam."
Rayhan mengambil kain pel dari balik pintu kamar mandi. "Aku tahu."
"Jangan sentuh."
Rayhan berhenti. Ia menoleh, tapi matanya tetap menjaga jarak, tidak turun ke barang yang membuat Kiara malu.
"Kalau kamu tidak nyaman, aku hanya bersihkan lantai. Pakaianmu aku biarkan. Tapi kalau kamu pusing dan nyeri, noda darah lebih mudah hilang sekarang daripada besok pagi."
Kiara menggigit bibir. Pernyataan itu masuk akal. Terlalu masuk akal.
"Aku bisa sendiri nanti."
"Bisa." Rayhan mengangguk. "Tapi tidak harus."
Tiga kata itu lebih berbahaya daripada semua kalimat manis yang pernah Kiara baca di novel.
Tidak harus.
Seolah selama ini ia selalu hidup dengan aturan sebaliknya.
Kiara menunduk, jemarinya meremas handuk. "Kak Rayhan nggak jijik?"
Ekspresi Rayhan akhirnya berubah. Bukan tersenyum. Lebih seperti tidak percaya Kiara menanyakan itu.
"Darah haid bukan aib."
Mata Kiara panas lagi.
"Aku tanya sekali lagi," kata Rayhan lebih pelan. "Boleh aku bantu cuci sekarang?"
Kiara tidak sanggup menatapnya. Ia hanya mengangguk kecil.
Rayhan tidak membuat komentar apa pun. Ia mengambil pakaian itu dari baskom, membilasnya dengan air dingin di wastafel kamar mandi, lalu menambahkan sedikit sabun cair. Gerakannya praktis dan hati-hati, seperti sedang membersihkan barang penting yang tidak boleh rusak.
Kiara duduk di tepi ranjang, memeluk lutut. Setiap suara air dari kamar mandi membuat wajahnya panas, tetapi rasa malu itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih lunak.
Ia membuka ponsel dengan tangan masih gemetar.
Kiara:
Aku aman. Lagi sakit perut. Besok aku cerita.
Cici membalas cepat.
Cici:
Haid?
Kiara:
Iya.
Cici:
Ya ampun. Mau gue kirim jamu?
Kiara melirik ke kamar mandi, melihat punggung Rayhan yang sedang membilas kain tanpa ekspresi aneh.
Kiara:
Nggak usah. Di sini sudah ada.
Cici:
Tetangga misterius lagi?
Kiara tidak menjawab.
Rayhan keluar beberapa menit kemudian membawa pakaian yang sudah bersih dari noda, terlipat basah di atas handuk kecil.
"Aku jemur di laundry room. Kamu mau aku lanjut atau kamu sendiri?"
Kiara mengangkat wajah. "Aku sendiri."
Rayhan mengangguk dan meletakkan handuk itu di keranjang kecil dekat pintu, bukan di atas ranjang, bukan di tempat yang membuat Kiara makin malu.
Tatapannya kemudian berhenti pada seprai putih yang sedikit kusut.
Kiara langsung mengikuti arah pandangnya. "Jangan lihat."
Rayhan sudah memalingkan mata sebelum ia selesai bicara. "Ada noda juga?"
Kiara ingin berbohong, tetapi seprai putih tidak pernah bekerja sama dengan kebohongan. Ia mengangguk sangat kecil.
"Aku ambil seprai ganti."
"Kak Rayhan, aku bisa ganti sendiri."
"Perutmu sedang kram. Mengangkat kasur bukan kegiatan wajib."
"Ini kamarku."
"Dan ini rumah kita."
Kiara terdiam.
Rayhan juga tampak sadar kalimat itu keluar terlalu alami. Ia berdeham pelan, lalu berjalan ke lemari linen di lorong. Ia kembali membawa seprai abu-abu muda dan sarung bantal bersih. Tanpa menyentuh Kiara, ia meminta Kiara duduk di kursi dekat meja, lalu mengganti seprai dengan gerakan cepat.
"Minum obat nyeri?"
"Belum."
"Makan dulu sedikit."
"Aku nggak lapar."
"Obat perut kosong bisa bikin mual."
Kiara ingin membantah, tapi tubuhnya terlalu lelah. Rayhan kembali sepuluh menit kemudian dengan roti tawar hangat, air putih, dan obat pereda nyeri yang tadi ia beli. Ia menunggu Kiara makan dua gigitan, minum obat, lalu menarik selimut sampai menutupi kakinya.
"Tidur."
"Kak Rayhan."
"Hmm?"
"Makasih."
Rayhan berdiri di sisi ranjang. Lampu kamar yang hangat membuat wajahnya tidak setajam biasanya.
"Lain kali panggil aku sebelum kamu memaksa diri."
"Aku malu."
"Aku tahu." Suaranya turun. "Tapi di rumah ini, kamu tidak perlu sembunyi karena malu."
Setelah Rayhan keluar dan pintu tertutup pelan, Kiara menatap langit-langit kamar. Perutnya masih sakit. Matanya masih panas. Tapi untuk pertama kalinya, rasa malu tidak terasa seperti sesuatu yang harus ia tanggung sendirian.
Di luar kamar, Rayhan berdiri beberapa detik di lorong. Ia menatap pintu tertutup itu, lalu membuka ponselnya.
Jarinya berhenti di kontak Sari.