Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertama membuka mata
Di dalam ruang ICU, suasana terasa sunyi bagi siapa pun yang berada di sana. Namun bagi Raffa, kesunyian itu terasa menyiksa.
Tubuhnya terasa remuk.
Kepalanya berat.
Dadanya sesekali masih terasa nyeri ketika bernapas terlalu dalam.
Bahkan untuk mengangkat tangan saja ia membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.
Namun dari semua rasa sakit yang ia rasakan, satu hal yang paling menyiksanya bukanlah luka-luka itu.
Melainkan ketidaktahuan.
Tentang Shintia, tentang bagaimana keadaan gadis itu, tentang apakah Shintia baik-baik saja atau tidak.
"Shintia..."
Suara seraknya kembali terdengar.
Mamah Raffa yang duduk di samping ranjang menatap putranya bingung.
Sejak sadar beberapa menit lalu, nama itu sudah berkali-kali keluar dari mulut Raffa.
"Siapa Shintia, Nak?"
Raffa memejamkan mata sesaat.
Seolah hanya menyebut nama itu saja sudah membuat dadanya terasa sesak.
"Dia..."
Kalimatnya terputus. Tubuhnya terlalu lemah untuk berbicara panjang.
Aswin yang berdiri di belakang akhirnya menghela napas pelan.
Ayah dan mamah Raffa langsung menoleh kepadanya.
"Aswin."
"Iya, Pak."
"Siapa Shintia?"
Aswin terlihat ragu, Ia melirik Raffa terlebih dahulu. Kemudian kembali menatap kedua orang tua atasannya.
"Itu..."
"Aswin."
Suara ayah Raffa terdengar tegas.
"Ada apa sebenarnya?"
Aswin menunduk beberapa detik, Lalu akhirnya memutuskan jujur.
"Mbak Shintia adalah wanita yang disukai Pak Raffa."
Mamah Raffa langsung terdiam.
"Wanita yang disukai Raffa?"
Aswin mengangguk.
"Iya, Bu."
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara, Karena mereka tahu satu hal.
Sejak kematian istrinya bertahun-tahun lalu, Raffa tidak pernah lagi membuka hati untuk siapa pun. Bahkan ketika banyak wanita datang mendekat.
Bahkan ketika keluarga berkali-kali mencoba mengenalkannya dengan berbagai perempuan.
Raffa selalu menolak. Dan sekarang... Ternyata ada seseorang yang berhasil membuat putra mereka jatuh cinta lagi.
Mata mamah Raffa mulai berkaca-kaca.
"Jadi..."
"Selama ini karena perempuan itu?"
Aswin mengangguk pelan.
"Pak Raffa sangat mencintainya, Bu."
Raffa memejamkan mata. Pikirannya kembali mengingat senyum Shintia.
Cara gadis itu tertawa, Cara gadis itu memanggil namanya. Dan terakhir... Tatapan dingin yang diberikan kepadanya sebelum kecelakaan itu terjadi.
Dadanya kembali terasa nyeri.
"Dia marah sama aku, mah..." Suara Raffa terdengar pelan.
Mamahnya langsung menggenggam tangannya lebih erat. "Sudah, jangan pikirkan dulu."
"Tapi dia marah."
"Raffa."
"Aku belum sempat jelaskan apa pun." Suara pria itu mulai bergetar.
Membuat Aswin menunduk, Bahkan ayah Raffa ikut terdiam.
Karena mereka bisa melihat dengan jelas. Betapa dalam perasaan Raffa terhadap gadis bernama Shintia itu.
***
Sementara itu.
Di tengah kemacetan yang tidak bergerak cepat.
Shintia terus menggigit bibirnya. Ia sudah melihat jam di ponselnya lebih dari sepuluh kali dalam beberapa menit terakhir.
"Kak..."
"Hm?"
"Masih lama ya?"
Andreas menghela napas.
"Kalau kamu lihat depan, ya masih lama."
Shintia mendesah pelan. Ia kembali menoleh ke luar jendela. Entah kenapa jantungnya tidak bisa tenang.
Sejak mendapatkan kabar bahwa Raffa sudah sadar. Hatinya terus berdebar.
Ada rasa lega, ada rasa takut, ada rasa bersalah, dan ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
"Kak..."
"Hm?"
"Kalau misalnya..."
Andreas melirik adiknya. "Kalau misalnya apa?"
Shintia menunduk. "Kalau ternyata aku salah gimana?"
Andreas terdiam. Pertanyaan itu membuatnya ikut berpikir. Beberapa hari terakhir ia juga terus memikirkan hal yang sama.
Tentang foto itu, juga Raffa, tentang bagaimana pria itu mengejar mereka sampai mengalami kecelakaan. Dan tentang penjelasan Aswin yang terdengar sangat masuk akal. Andreas akhirnya menghela napas.
"Kalau memang salah."
"Ya minta maaf."
Shintia langsung menoleh. Semudah itu?
Andreas tersenyum tipis. "Kita semua pernah salah, Shin."
"Tapi jangan sampai gengsi bikin semuanya terlambat."
Kalimat itu membuat Shintia terdiam. Karena kata terlambat langsung mengingatkannya pada kondisi Raffa beberapa hari terakhir.
Ia menggenggam tasnya erat, Dalam hati ia terus berdoa. Semoga laki-laki itu benar-benar baik-baik saja.
***
Kembali di rumah sakit.
Setelah diperiksa dokter, kondisi Raffa dinyatakan cukup stabil, Meski masih harus berada di ICU selama beberapa waktu.
Raffa terlihat lebih tenang.
Namun setiap beberapa menit sekali matanya selalu bergerak mencari sesuatu.
Mencari seseorang, Sampai akhirnya... Pintu ruang ICU kembali terbuka.
Seorang perawat masuk.
"Pak Raffa."
Raffa menoleh pelan.
"Ada tamu yang ingin menjenguk."
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
"Aswin..." Suara pria itu terdengar lemah.
"Iya, Pak."
"Shintia?"
Belum sempat Aswin menjawab. Pintu kaca di luar ICU memperlihatkan dua sosok yang baru tiba.
Andreas Dan Shintia.
Langkah Shintia terhenti begitu melihat kondisi Raffa dari balik kaca, Tubuhnya membeku, matanya langsung memanas.
Laki-laki yang selama ini terlihat kuat, selalu rapi, dan juga tampak sempurna kini terbaring lemah dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya.
Air mata langsung mengalir di pipinya.
"Shin..."
Andreas memanggil pelan, Namun Shintia tidak menjawab. Tatapannya tidak lepas dari Raffa.
Sementara di dalam ruangan.
Raffa juga melihatnya, meski pandangannya belum sepenuhnya jelas. Ia tetap mengenali gadis itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak sadar sudut bibir Raffa bergerak pelan. Senyum kecil yang sangat tipis.
"Shintia..."
Bisiknya.
Nama itu terdengar begitu lirih. Namun cukup untuk membuat hati Shintia semakin sesak. Karena baru saat itulah ia menyadari satu hal, Selama empat hari terakhir. Bukan hanya dirinya yang menderita.
Raffa juga menderita, Bahkan mungkin lebih dari yang ia bayangkan.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua kesalahpahaman itu terjadi... Shintia mulai ingin mendengar penjelasan yang selama ini berusaha ia hindari.
Shintia berdiri terpaku di depan kaca ICU, air matanya terus mengalir tanpa bisa ia tahan.
Entah mengapa, melihat Raffa membuka mata justru membuat dadanya terasa semakin sesak.
Selama empat hari terakhir ia terus berdoa agar pria itu sadar. Namun saat momen itu benar-benar terjadi, ia justru tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Di dalam ruangan, Raffa masih menatap ke arahnya, meski wajahnya terlihat pucat dan lemah, tatapan itu tetap sama.
Tatapan yang selalu membuat Shintia gugup.
"Dokter mengizinkan satu orang masuk selama lima menit."
Ucapan perawat membuat semua orang menoleh.
Mamah Raffa segera menyeka air matanya, ia melangkah mendekati Shintia yang ketika ia memperhatikan nampak tak asing, namun mamah Raffa mengabaikan itu, karena ada yang lebih penting untuk di selesaikan.
"Masuklah." pintanya.
Shintia terkejut. "S-saya?"
Mamah Raffa mengangguk pelan. "Iya."
"Tapi saya..."
"Dia terus mencari kamu sejak sadar."
Kalimat itu membuat Shintia membeku, Andreas yang berdiri di sampingnya ikut mengangguk pelan.
"Masuk saja, Shin."
Dengan langkah ragu, Shintia akhirnya mengikuti perawat masuk ke dalam ICU.
Pintu perlahan tertutup di belakangnya, Jantungnya berdebar sangat keras.
Raffa tertabrak.? 🥲🥲
di tunggu updatenya ya author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuuu🥰🤗💪
tapi syg nya Shintia terlanjur marah 🥲🥲
kira² Andreas bakal cerita ke Raffa gk yaa??
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu
tetap semangat Sayyyy quuu 🤗🥰💪
pasti Shintia salah paham🥲
duhhh kapan Raffa sadar akan berita itu yaaa
duhhh gmn nnt reaksi nya Raffa jika tahu yaaa
takutnya Shintia kecewa 🥲🥲
fuhhh Sella...
kasihan Andreas punya pacar kyak Sella
kira² Andreas bakal kasih tau Shintia gk yaaa??
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗