Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.
Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Penyerangan
Perusahaan Desain
Di dalam ruangan kantor yang luas dan mewah itu, An Na berdiri dengan hati yang berbunga-bunga. Ia sudah berdandan rapi dan bersiap-siap menyambut hari pertamanya bekerja. Pikirannya melayang membayangkan dirinya duduk di ruangan yang nyaman, menggambar sketsa desain, dan menuangkan semua ide kreatifnya. Sebuah harapan besar kini tersimpan di hatinya, ia ingin mengubah nasibnya dan juga Anqi agar hidup mereka menjadi lebih baik.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya dengan wajah yang tampak lelah dan sibuk masuk ke dalam ruangan. Itu adalah Manajer Operasional perusahaan tersebut. An Na segera menghampirinya dengan penuh semangat, lalu membungkuk hormat.
“Selamat pagi, Pak Manajer. Saya An Na, karyawan baru yang diterima di divisi desain. Boleh saya tanya, di mana tempat kerja saya? Dan kepada siapa saya harus melapor untuk tugas pertama saya?” tanya An Na dengan antusias, matanya berbinar penuh harap.
Manajer itu hanya meliriknya sekilas dengan tatapan datar, tanpa berhenti melangkah. “Ikut saya,” ucapnya singkat dan dingin.
An Na mengikuti langkah pria itu dengan hati yang penuh rasa penasaran. Namun, alangkah terkejutnya ia saat Manajer itu membawanya bukan ke arah ruangan kantor yang berisi meja dan komputer, melainkan menuju lorong belakang yang berbau lembap, tepatnya di dekat pintu dapur besar perusahaan itu.
Manajer itu berhenti, lalu menunjuk ke arah tumpukan kain pel, ember, dan alat kebersihan lainnya.
“Mulai hari ini, tugasmu ada di sini. Pekerjaanmu sebagai Cleaning Service (CS). Pastikan lantai, dapur, dan kamar mandi di seluruh area kantor ini selalu bersih.” ujar Manajer itu dengan nada perintah, seolah tidak ada hal yang perlu diperdebatkan.
Wajah An Na seketika berubah pucat. Ia merasa seperti disambar petir di siang bolong. Ia mengira telinganya salah dengar.
“Maaf, Pak… Maksud Bapak bagaimana?” tanya An Na, suaranya sedikit bergetar menahan kekecewaan. “Saya diterima bekerja di sini sebagai staf desain, bukan sebagai petugas kebersihan. Saya punya keahlian menggambar dan mendesain, kenapa saya malah ditempatkan di dapur dan disuruh mengepel lantai?”
Manajer itu mendengus kesal, menatap An Na dengan pandangan meremehkan. Ia melipat tangannya di dada dan menjawab dengan nada ketus, “Dengar, Nona. Saat ini perusahaan sedang mengalami penyesuaian staf. Posisi desain yang kau maksud itu sudah terisi oleh orang lain yang lebih berpengalaman. Satu-satunya lowongan yang tersisa saat ini hanyalah posisi Cleaning Service ini.”
Pria itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada mengancam, “Kalau kau mau bekerja, ambil alat itu dan kerjakan tugasmu sekarang juga. Tapi kalau kau merasa pekerjaan ini tidak pantas untukmu, pintu keluar ada di sana. Banyak orang di luar sana yang butuh pekerjaan dan akan dengan senang hati mengambil posisi ini. Aku tidak memaksamu.”
Hati An Na hancur mendengar penjelasan itu. Rasa kecewa, marah, dan sedih bercampur menjadi satu. Ia merasa dipermainkan. Namun, saat ia hendak mengeluarkan amarahnya dan menolak pekerjaan itu, bayangan wajah Anqi terlintas di benaknya. Ia teringat kondisi keuangan mereka yang menipis, sewa kontrakan yang harus dibayar bulan ini, serta kebutuhan makan sehari-hari mereka. Saat ini, ia sangat membutuhkan uang, berapapun itu.
Menolak pekerjaan ini sama saja dengan membiarkan mereka kelaparan.
Napas An Na terasa berat. Ia menundukkan kepalanya, menelan rasa egonya yang tinggi, dan perlahan mengangguk pasrah.
“Baiklah, Pak… Saya mengerti,” jawab An Na pelan, berusaha menahan air matanya agar tidak menetes. “Saya akan mengerjakannya.”
“Bagus. Mulailah bekerja sekarang, jangan bermalas-malasan,” ucap Manajer itu datar, lalu segera berjalan pergi meninggalkan An Na sendirian di lorong belakang.
Dengan tangan gemetar, An Na mendekati tumpukan alat kebersihan itu. Ia mengambil kain pel dan ember. Air mata kesedihan dan kekecewaan akhirnya menetes juga membasahi pipinya. Meski hatinya hancur karena impiannya tidak sesuai harapan, ia tahu ia harus bertahan demi kelangsungan hidup mereka berdua. Ia menghela napas panjang, mengusap kasar air matanya, lalu mulai menuangkan air ke dalam ember untuk memulai pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di sisi lain, Setelah berpisah dari Dokter David, Yu Anqi berjalan santai menyusuri trotoar jalan. Ia masih menikmati suasana dunia barunya dengan pikiran yang tenang, seolah tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Tiba-tiba, dari arah berlawanan, seorang pria bertopeng hitam berlari terengah-engah dengan napas memburu. Di tangan kanannya, ia memegang pisau tajam. Pria itu sedang dikejar, dan saat melihat Anqi yang berjalan sendirian, matanya langsung berbinar seolah menemukan mangsa.
Tanpa ampun, penjahat itu langsung menyambar tubuh Anqi, menariknya paksa ke dalam rangkulannya, dan ujung pisau tajam itu langsung menempel ke leher gadis itu.
“Jangan bergerak! Atau aku habisi nyawanya!” teriak penjahat itu dengan suara kasar dan terengah-engah.
Tak lama kemudian, dua orang polisi yang mengejarnya pun tiba di lokasi. Melihat sandera yang dipegang dengan pisau di leher, wajah kedua polisi itu menjadi tegang dan penuh kehati-hatian.
“Lepaskan gadis itu! Kau tidak akan bisa lari lagi, menyerahlah!” seru salah satu polisi sambil bersiap siaga.
“Mundur! Semuanya mundur! turunkan senjatanya kalian sekarang juga! Atau aku robek lehernya ini!” ancam penjahat itu semakin keras, sambil menekan pisau itu sedikit lebih kuat ke kulit leher Anqi.
Karena khawatir keselamatan warga sipil terancam, kedua polisi itu akhirnya menuruti perintah. Mereka meletakkan senjata mereka ke tanah dan mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Penjahat itu tersenyum di balik topengnya, merasa unggul. Ia mulai mendorong-dorong tubuh Anqi kasar sebagai tameng hidup, bahkan rangkulannya di bahu dan leher Anqi terasa sangat tidak sopan dan menjijikkan bagi seorang putri bangsawan.
Bagi Anqi, perlakuan kasar dan kotor ini sudah melewati batas kesabarannya. Pisau di lehernya sama sekali tidak membuatnya takut, yang membuatnya muak adalah sentuhan jorok pria asing ini.
Karena terus-menerus didorong dan dirangkul dengan cara yang menghina, tatapan Anqi yang tadinya datar perlahan berubah menjadi dingin dan tajam. Tanpa peringatan sedikit pun, secepat kilat Anqi mengerahkan tenaganya, mengayunkan sikunya dengan keras tepat ke arah wajah penjahat itu.
Pukulan itu begitu kuat hingga penjahat itu terlempar ke belakang, melepaskan cengkeramannya dan terjatuh keras ke tanah. Hidungnya langsung mengeluarkan darah segar.
“Arghh!! Kurang ajar!” Penjahat itu marah luar biasa, ia bangkit kembali dengan wajah bengis dan langsung menerjang ke arah Anqi sambil mengayunkan pisaunya.
Namun, di mata Anqi, gerakan pria itu terlihat sangat lambat. Dengan gesit ia menggeser tubuhnya sedikit ke samping, menghindari tusukan itu dengan mudah. Sebelum penjahat itu sempat menarik tangannya kembali, Anqi sudah lebih dulu menendang bagian perutnya dengan kekuatan penuh.
Tubuh penjahat itu terangkat sedikit di udara sebelum terpental jatuh beberapa meter, pisau di tangannya terlempar entah ke mana. Belum puas, Anqi melangkah mendekat dengan langkah yang berisi aura membunuh. Ia mengangkat kaki kanannya dan menginjak dada pria itu kuat-kuat hingga pria itu sulit bernapas. Tangan Anqi kemudian bergerak cepat, mendaratkan pukulan demi pukulan telak ke wajah penjahat itu tanpa ampun, membuat wajah sang kriminal menjadi babak belur dan bengkak tak berbentuk.
“Argh! hentikan... ampun!” teriak penjahat itu memohon belas kasihan.
“Berani sekali kau menyentuhku dengan tangan kotormu itu! Dasar tidak tahu diri! Sampah!” bentak Anqi dengan suara dingin dan penuh kemarahan.
Kedua polisi yang berada di sana, serta orang-orang yang mulai berkerumun, semuanya tercengang. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa gadis yang terlihat lemah dan kurus itu ternyata memiliki kemampuan bertarung yang luar biasa hebat dan ganas.
“Cepat... tangkap dia sebelum aku membunuhnya di sini!” perintah Anqi dengan nada datar, seolah baru saja melakukan hal yang sangat sepele, sambil menendang tubuh penjahat yang sudah tak berdaya itu ke arah kaki kedua polisi yang masih terpaku kaget.
Barulah kedua polisi itu tersadar, mereka segera berlari mendekat dan memborgol tangan penjahat yang sudah babak belur itu dengan perasaan takjub bercampur ngeri melihat kemampuan gadis muda itu.