NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 07

...~Berangkat Bareng~...

Suara ayam dan burung saling bersahutan. Sesekali terdengar orang yang berteriak, "Yur. Sayur."

Naira baru saja selesai bersiap.

Ia mengenakan seragam batik merah dengan rok selutut berwarna hitam. Rambutnya diikat rapi tanpa ada poni.

Wangi sabun dan minyak wangi masih melekat di tubuhnya.

Ibunya yang sedang menyiapkan meja makan langsung menoleh. Hidungnya mengendus beberapa kali.

"Kalau begini kan enak."

Naira mengernyit pelan. Alisnya hampir bertautan.

"Apanya?"

"Wangimu."

Ibunya menatap dengan wajah serius. Bibirnya mencibir sesaat sebelum berkata,

"Kemarin nyengak. Sepertinya Mas Arka juga pusing setelah boncengin kamu."

"Ibu apaan sih!"

Naira mendengus kesal.

Ia mencium aroma tubuhnya sendiri. Bahu kanan lalu kiri.

"Sama seperti kemarin kok."

"Arka tuh habis boncengin kamu cuma diem."

Ibu Naira menyenggol bahu putrinya.

"Sepertinya mabok minyak wangimu."

"Ibu tanya aja sama dia."

"Ya gak bakal ngaku. Orang lagi kesengsem."

Naira menarik satu kursi di meja makan hingga suara berderitnya nyaring.

"Ibu itu lo."

"Apa?"

"Kayak aku ini barang dagangan."

"Loh kan belum nikah."

Naira hanya berdehem. Mendengus kesal lalu melihat sarapan yang tertata rapi di meja.

Dalam satu mangkuk besar terdapat nasi goreng khas buatan ibunya yang memakai cabai hijau kecil. Aroma bawang-bawangan terasa cukup pekat dan pedas. Di sampingnya ada satu piring berisi tiga lapis telur dadar.

"Tumben."

Ibunya menarik kursi di dekat Naira.

"Tumben kenapa?"

"Gak masak banyak."

Wanita paruh baya itu tersenyum lebar.

"Nyariin Mas Arka ya?"

"Enggak."

Naira memperhatikan beberapa sudut rumah.

"Bapak ke mana?"

"Udah berangkat ke sawah dari tadi pagi."

"Tumben amat."

Naira mulai mengambil satu centong nasi goreng dan telur dadar. Menyuap perlahan.

"Itu lagi sama Om Seno buat bahas ladang miliknya."

"Milik siapa?" suaranya tertelan bersama makanan.

"Milik Om Seno. Mau digarap."

"Oh..."

"Om Seno kan mau tinggal lagi di sini."

Naira diam sesaat.

"Lha terus Mas Arka?"

"Kan... kan..."

Naira mendelik.

"Bukan begitu."

"Makanya sama Om Seno disuruh nikah biar ada teman di kota."

"Oh...."

Keduanya sarapan dengan tenang.

Radio yang semenjak tadi seolah mencari sinyal akhirnya memunculkan lagu-lagu yang belakangan sedang naik daun.

Beberapa menit kemudian, ketika Naira masih menikmati teh panas dengan uap tipis yang terangkat, sebuah deru sepeda motor berhenti tepat di depan rumah.

"Itu pasti Mas Arka."

"Yakin banget."

"Tentu. Ibu kan memang nyiapin sarapan. Sana ke depan. Ibu ambil rantang."

Naira mencibir pelan sebelum akhirnya berdiri lalu menyeret langkah gontai.

Dan benar seperti yang ibunya katakan.

Arka berdiri di sana dengan setelan rumahan seperti kemarin.

Kaos oblong berwarna hijau gelap dan celana pendek warna krem. Kulitnya yang belang di area lengan atas terlihat cukup kontras.

"Nai. Ibu mana?"

Pertanyaan Arka membuyarkan lamunan Naira.

Gadis itu merasakan wajahnya memerah.

"Lagi ambilin rantang, Mas. Duduk dulu."

Arka memperhatikan Naira beberapa saat.

"Mau berangkat kerja?"

"Iya nih, Mas."

"Bareng aja."

Pria itu diam sesaat. Tampak meneguk ludah pelan. Jakunnya naik turun sekali.

"Biar sekalian."

Nada suaranya begitu lembut, nyaris tak terdengar jika halaman rumah tidak sedang sepi.

Suara langkah Ibu Naira terdengar jelas.

Wanita paruh baya dengan daster cokelat bermotif bunga itu berjalan sedikit tergesa. Di tangan kanannya tergenggam rantang enamel putih bercorak bunga.

"Ini, Mas Arka."

Ia mengulurkan rantang.

"Bareng aja. Sekalian, searah juga."

Naira melirik ibunya sesaat.

Tak ada godaan berarti seperti beberapa saat lalu.

Gadis itu kembali menoleh ke arah Arka.

"Baik, Mas. Tunggu sebentar. Aku siap-siap dulu."

Setelah berpamitan, Naira menuju kamarnya.

Ia mengambil tas yang disampirkan di bahu kursi serta kertas ulangan yang telah selesai dinilainya.

Saat kembali keluar, Arka sudah duduk tenang di atas sepeda motor.

Pria itu sedang mengamati pohon mangga yang cukup tinggi di halaman rumah. Rantang yang diberikan ibunya tadi dicantolkan pada salah satu stang.

Dan ibunya sedang berdiri di hadapan pria itu.

"Bagaimana, Nak?"

"Bapak udah survei buat kebun kopi di dekat bukit. Lumayan terawat."

"Jelas. Pak Min itu telaten."

"Terus ladang yang kemarin-kemarin disewakan jadi mau dipakai sendiri?"

"Iya. Bapak mau berkebun di sini."

"Oalah. Malah bagus buat kesehatannya."

Obrolan mereka terhenti karena mendengar suara pantofel Naira mendekat.

"Udah siap?" tanya ibunya lebih dulu.

"Udah."

Naira mengibaskan ujung kemejanya.

"Naira berangkat dulu, Bu."

Ia mencium tangan ibunya sebelum berpamitan.

Suara deru motor yang baru dipancal Arka terdengar nyaring di kesunyian Senin pagi.

"Ayo."

Naira segera membonceng.

Dan ketika tubuhnya benar-benar duduk sempurna di atas jok, jantungnya kembali berdesir lembut tak nyaman.

"Kami berangkat ya, Bu."

Pamit Arka sebelum memutar gas pelan.

Jalanan pagi itu masih cukup lengang.

Beberapa anak sekolah berseragam putih merah berjalan di pinggir jalan sambil bercanda dengan teman-temannya.

Orang-orang telah berada di ladang. Beberapa lainnya tampak berangkat kerja dengan sepeda motor.

"Nai."

Orang-orang menyapanya dengan senyum dan lambaian tangan.

"Kamu cukup populer, ya?"

Suara Arka memecah keheningan di antara mereka.

"Nggak juga, Mas."

"Banyak yang kenal kamu."

Naira terkekeh geli sesaat.

"Ya karena aku guru. Terus aku juga tinggal di sini dari kecil."

"Iya juga ya."

Naira diam sesaat.

"Kalau di kota gimana, Mas?"

"Ya jarang berinteraksi. Semuanya sibuk kerja. Yang sekolah sibuk belajar. Jarang ada yang bermain."

"Ohh... kalau musim layangan begini gak ada yang main layangan gitu?"

Terdengar kekehan kecil dari Arka.

"Jarang sekali. Terutama karena kabel listrik cukup dekat. Bahaya."

"Oalah."

"Sekolahnya depan itu kan?"

"Iya, Mas."

Ketika deru motor berhenti di dekat gerbang sekolah, beberapa murid langsung melihat ke arah mereka.

Rona wajah Naira sedikit memerah.

Terutama saat salah seorang murid mendekat.

"Suami Ibu baru?"

Naira hampir tertawa mendengarnya.

Sedangkan Arka justru tersenyum lebar.

"Bukan."

Jawab pria itu tenang.

...----------------...

Siang itu Naira pulang dengan langkah yang tak nyaman.

Ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. Ladang yang biasanya cukup ramai hari ini justru terlihat sepi.

Langit mendung gelap menggantung rendah. Angin berembus cukup kencang, menerbangkan debu jalanan.

Deru mesin motor terdengar mendekat.

Lebih halus.

Bukan motor Arka.

Ada sedikit kelegaan yang muncul sesaat sebelum—

"Hai, Nai."

Deg!

Langkah Naira langsung terhenti.

Ia menoleh ke arah sumber suara. Santoso—si anak carik—berhenti tepat di sampingnya dengan sepeda motor.

Kulit sawo matangnya tampak lebih gelap di bawah cuaca mendung. Gigi kekuningan yang tersusun rapi terlihat saat ia tersenyum. Aroma minyak rambut yang menyengat ikut terbawa angin.

Naira segera mempercepat langkah tanpa menjawab.

Jika Santoso berada di dekatnya, biasanya keadaan tidak akan berakhir baik.

"Nai!"

Namun pria itu tetap teguh pada pendiriannya.

Ia memutar gas pelan dan kembali mendekat.

"Nai!"

Kali ini ia berhenti melintang tepat di depan Naira.

Jari-jari Naira tampak gemetar halus.

Napasnya mulai tak teratur.

"A-aku mau pulang."

"Iya. Aku anterin aja."

Naira menggeleng pelan.

"Gak usah."

"Nai..."

Suara pria itu terdengar lembut.

Tapi tidak dengan wajahnya. Seringai lebih tepat untuk menggambarkan ekspresi itu.

"Aku dengar kabar lucu, Nai."

Senyum Santoso perlahan melebar.

Di mata Naira, senyum itu justru terlihat mengerikan.

"Kudengar kamu punya calon suami."

Nada suaranya terdengar datar.

"Itu bohong, kan?"

Tubuh Naira terasa semakin gemetar.

Belum sempat menjawab, Santoso lebih dulu meraih pergelangan tangannya.

Tangan pria itu terasa dingin. Tatapannya tajam.

"Pasti bohong, kan?"

Seolah belum puas, ia kembali mengulangi pertanyaannya.

"Hei! Kamu apa-apaan sih!"

Sebuah suara keras memotong suasana.

Cengkeraman Santoso langsung terlepas dari lengan Naira.

Naira menoleh cepat.

Ayahnya berdiri di sana dengan wajah garang.

Sebelah tangannya menggenggam arit. Topi jerami melingkar di kepalanya. Debu tanah masih menempel pada celana dan ujung sandalnya.

Kelegaan langsung memenuhi dada Naira.

1
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!