"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Melihat meja kursi kantin yang sekarang ini ramai, Laura yang selama ini selalu menyendiri memilih untuk makan di danau belakang sekolah.
Ia menentang satu kantong penuh makanan, saat sedang berjalan.
Langkah Laura terhenti ketika tangan kasar menarik lengannya dari lorong sepi menuju gudang tua di belakang sekolah.
Jantungnya berdegup kencang, matanya membelalak saat sosok familiar muncul di hadapannya.
"Kak Luis," suaranya bergetar, campuran takut dan kecewa.
Luis menatapnya dengan mata penuh kemarahan yang membakar, tanpa kata langsung meraih kancing seragam Laura dan mencopotnya satu per satu dengan kasar.
Di sela-sela kancing yang terbuka, Luis menemukan sekeping uang yang terselip di dalam baju Laura.
Wajahnya berubah sinis, "Kamu memang murahan," katanya dingin, suaranya seperti pisau yang mengiris hati.
Laura terdiam sejenak, air mata mulai mengalir tanpa henti, menumpahkan semua rasa malu dan sakit yang selama ini dipendam.
Luis melangkah lebih dekat, suaranya berubah menjadi hinaan, "Berapa banyak pria tua yang sudah kau tiduri demi ini? Jawab!" Pria itu melemparkan uang lima ratus ribu tepat di wajahnya.
Desakan itu membuat dada Laura sesak, tangisnya pecah. Ia terisak, tubuhnya gemetar, merasa terkunci dalam jebakan yang dibuat oleh orang yang seharusnya melindunginya.
Gudang yang gelap dan sunyi itu menjadi saksi bisu kehancuran hati seorang gadis yang baru merasakan kebebasan sejenak dari belenggu masa lalunya.
Laura hanya menjawab dengan gelengan.
Di lantai gudang yang remang dan berdebu, Laura berdiri dengan tubuh yang hampir telanjang, wajahnya memerah bukan karena malu, tapi karena marah dan ketakutan yang bercampur jadi satu.
Luis dengan kasar membuka kain yang menempel di tubuh Laura, tangannya cekatan mengoyak sisa-sisa harga diri yang tersisa.
Setiap kali Laura mencoba menutupi bagian bawahnya dengan tangan gemetar, tangan Luis segera mencengkeramnya kuat, mengekang usaha itu tanpa ampun.
Di sela tawa sinisnya yang menusuk, Luis melontarkan kata-kata penuh kebencian, "Kamu memang murahan seperti ibumu yang merayu ayahku." Suara itu menggema di ruangan kosong, menusuk kalbu Laura hingga terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
Laura mencoba berteriak, suaranya tercekik namun berusaha sekuat tenaga, "Kamu salah paham! Ibuku nggak pernah merayu ayahmu! Ayahku itu bukan ayahmu, tapi Steven Gerrard!" Suara itu penuh kepanikan sekaligus keberanian yang terpaksa ia keluarkan.
Ingatannya yang kabur akibat kecelakaan perlahan mulai menampakkan bayangan kebenaran, fakta yang disampaikan pacarnya, Nigel.
Luis hanya tertawa, tawa dingin yang menandakan tidak ada sedikitpun belas kasihan dan rasa percaya di hatinya.
Matanya menyipit penuh ejekan, seperti menikmati setiap detik penghinaan yang ia buat pada Laura.
"Steven Gerrard ya, nggak usah ngarang cerita? Jadi pembantunya saja kamu nggak pantas," ujar Luis dengan senyuman ejekan.
Sementara Laura, tubuhnya bergetar hebat, matanya mulai berkaca-kaca karena penghinaan yang lontarkan oleh luis, namun dia berusaha keras menahan air mata yang ingin tumpah, menolak menjadi korban yang lemah di hadapan pria yang pernah dianggap keluarga.
Luis mengeluarkan ponselnya, ia memfoto dan memvideokan tubuh Laura tanpa sehelai benang. Setelah puas, mengambil banyak foto dan video.
Luis menarik nafas berat, matanya menyala merah oleh amarah dan nafsu yang tak terkendali.
Dengan kasar ia menarik Laura, tubuhnya yang gemetar dan penuh ketakutan dilemparkan ke atas matras olahraga yang dingin dan keras.
Tubuh Laura terhempas, namun ia segera mengangkat tangannya, memukul dada Luis berulang kali dengan wajah penuh kesedihan dan air mata yang mulai menggenang. "Kak Luis, tolong jangan ambil kesucianku..." suaranya serak, nyaris patah.
Luis tertawa sinis, ekspresinya berubah menjadi lebih gelap dan tajam. "Suci? Kamu saja punya ASI, berarti sudah pernah melahirkan," ejeknya dengan nada mengejek yang menusuk hati.
Laura dengan cepat menggeleng, mencoba membantah dengan suara yang bergetar, "Aku galaktorea, Kak. Aku tidak pernah hamil."
Namun Luis hanya tersenyum sinis, meremehkan kata-katanya, matanya menatap penuh ketidakpercayaan dan kebencian, seolah melecehkan setiap kata yang keluar dari mulut Laura.
Atmosfer di dalam gudang itu menjadi semakin berat, penuh ketegangan dan ancaman yang tak terucap.
"Kak Luis aku mohon jangan ... Nanti kamu pasti akan menyesal ..."