Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Penerbangan Pertama
"Secepat ini Laras?"
Aku menatap tak percaya wanita di depanku. Kalau saja secepat ini mungkin aku tak akan memberi izin dia terbang lagi. Ia menatapku sekilas, lalu kembali membereskan perlengkapannya.
"Bukannya Laras janji sama abang seminggu lagi baru aktif?" Aku menatap Laras cukup lama. Ada rasa keberatan yang tiba-tiba menyergap.
"Laras juga baru dapat informasi mendadak bang, tapi Laras janji minggu depan Laras pulang," ia merangkul pinggangku, ingin meyakinkanku.
"Kan ada Kania di rumah,"
Moodku langsung hambar. Kania? adik. perempuanku itu hanya bisa menambah masalah. Aku menghela napas panjang.
"Abang nggak menyesalkan mengizinkan Laras, ikut penerbangan lagi?" untuk beberapa saat aku hanya membisu.
"Laras udah training Kania. Kali ini dia nggak akan bikin masalah untuk abang. Satu lagi, Laras janji nggak bakal macem-macem kok di belakang abang," ucapnya menggodaku. Lalu bergegas menyambar kopernya.
"Laras terburu-buru bang, nggak sempat menyiapkan sarapan pagi buat abang,"
Ia menarik koper itu. Namun, aku meraih koper dari tangannya.
"Biar abang bantu,"
Kulirik Laras sekali lagi. Ia tampak anggun dalam balutan baju pramugarinya.
"Abang antar Laras, ya? Sekalian abang berangkat ke kantor," ia tersenyum mengerlingku. Lalu mengangguk, menyetujui tawaranku.
Kami menuruni tangga, menyeret koper yang akan di bawa Laras terbang.
Sementara, di lantai bawah Kania sepertinya sudah menunggu kami cukup lama. Ia begitu asyik bermain game di ponselnya, ketika menyadari kedatanganku dan Laras ia membalik badan.
"Sedih Kania Kak. Akhirnya Kania ditinggal sendirian!"
Ia lama berdiri mematung menatap Laras.
"Bisa nggak Kak, diundur aja berangkatnya?"
ia menghampiri Laras, memeluknya cukup lama.
"Kakak cuma kerja, bukan pergi meninggalkan Kania. Besok juga Kania sudah mulai kuliahkan?"
Laras merangkul tubuh adik bungsuku itu.
"Ya, tetap aja nggak seru Kak. Tanpa Kak Laras dunia Kania sepi. Apalagi cuma berdua sama abang Raka di rumah. Pulang kerja malam, langsung masuk kamar, tidur. Besok berangkat, kerja lagi!"
Aku menutup mulutnya. Ia coba menepis tapi tenagaku lebih kuat.
"Ya udah Kania punya pacar aja," aku tersedak dengan kalimat terakhir Kania. Rasanya sangat tidak rela jika ada pria lain yang berani menyenggol adik perempuanku sedikit saja.
"Nggak, nggak. Selesaikan kuliah kamu dulu!" bentak ku tanpa sadar. Aku melipatkan tangan di dada, memberikan tatapan yang membuat Kania langsung mengunci mulut.
"Oh iya, Kania ikut antar kakak ke bandara?" pertanyaan Laras membuat kebekuan diantara kami terhenti.
"Iya ikut kak, tapi nanti pulang Kania sama siapa?"
"Biar Dimas yang antar!" balasku cepat.
Kami berjalan meninggalkan rumah, Bik Iyem ikut mengantar kami ke depan pintu.
"Hati-hati Nak Laras, cepat pulang ya. Biar rumah nggak sepi,"
Laras mengembangkan senyum.
"Baik Bik, titip Abang sama Kania, ya."
Tampaknya ia sangat bahagia akan kembali ke profesinya semula. Sementara aku gelisah memikirkan kalau saja di sana ada mantan Laras dan di kantor harus menghadapi Ningsih.
"Bang, kenapa melamun?"
Suara Laras mengejutkanku.
"Abang sepertinya banyak pikiran?" Laras menoleh ku, menggenggam tanganku.
"Cieee, mentang-mentang mau ditinggal kekasih hati. Langsung galau brutal deh!" cibir Kania dari bangku depan dengan nada ejekan.
Aku reflek memukul kepalanya dengan bantal sandaranku. Dimas mengulum senyum, sementara Laras terpingkal.
"Galak amat sih sama adik sendiri!" gerutu Kania mengelus kepalanya.
Mendengar ocehan Kania sepanjang perjalanan membuat waktu terasa sangat singkat. Akhirnya kami sampai di bandara.
Dimas menurunkan koper Laras. Saat melangkahkan kaki turun dari mobil, entah kenapa ada rasa yang entah bagaimana aku mengutarakannya. Aku peluk Laras cukup erat, seperti orang yang akan berpisah lama.
"Jangan macam-macam sayang, ingat ada abang." Bisikku di telinganya. Laras mencium punggung tanganku. Aku mengecup keningnya.
"Kak jaga diri ya, abang di sini biar Kania yang jaga," ia melirikku lalu memeluk Laras cukup lama.
Laras meninggalkan kami beberapa langkah sebelum melambaikan tangan perpisahan.
Saat yang kulihat hanya punggungnya, tiba-tiba ada sesuatu yang terasa hilang. Ini pertama kalinya kami jauh sejak jadi suami istri.
"Hmz, hatiku sakit ditinggal istri mencari rezeki!" ejekan Kania membuat hatiku yang melow jadi panas. Ia berlari ke mobil meninggalkanku. Dimas yang di sebelahku terkekeh tapi tertahan.
Aku belum sempat masuk mobil ketika Kania keluar membawa ponselnya.
Ia mendekati.
"Ada apa?"
"Mama telepon Kania. Pasti nanti bakal nanyain Kak Laras." Untuk beberapa saat kami saling menatap. Apa yang harus akun jelaskan kepada mama tentang Laras.
"Angkatlah!"
Kania tampak ragu mengangkat telepon dari mama.
"Loudspeaker kan!"
"Assalamu'alaikum Kania," terdengar suara mama menyapa Kania.
"Waalaikumsalam Ma. Mama apa kabar?"
"Mama udah di bandara Kania. Bisa jemput mama? Abang tadi mama telpon nggak diangkat."
Mukaku terasa menegang. Bukan karena wajahku diolesi masker tapi karena mama sudah di Jakarta.
"Mampus!" umpatku pasrah.
"Bagaimana ini Bang?" Tania juga sangat panik.
Ku rogoh kantong celana, melihat layar ponselku. Benar sekali mama beberapa kali menelponku. Suara ponsel memang sengaja aku senyapkan. Takut kalau Ningsih tiba-tiba memanggil saat aku sedang bersama Laras.
"Abang yang jelaskan ke Mama. Kania nggak mau ikut campur."
Kania beranjak masuk. ke dalam mobil.
'Abang, Laras mau take-off dulu ya. Do'akan Laras lancar dalam perjalanan. Love you Bang.'
Sebuah Pesan WhatsApp masuk dari Laras. Aku tersenyum kecil, namun kepalaku sedang berperang. Penjelasan apa yang harus aku beri kepada Mama nanti.