NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Disangka Macan, Ternyata Mantan (Eh, Maksudnya Anjing!)

"Ded... lo denger itu kan?" bisik gua hampir nggak keluar suaranya.

Gua makin nempel ke punggung Dedik. Suara geraman itu makin deket, dibarengin sama bunyi kresek-kresek dari balik rumpun bambu yang tingginya dua meter lebih. Pikiran gua udah melayang ke mana-mana.

Apa ada macan? Atau babi hutan yang nyasar? Sagitarius emang suka petualangan, tapi kalau petualangannya jadi santapan hewan buas, gua milih balik jadi rebahan-wan aja!

"Diem, Rey. Jangan panik," kata Dedik tenang. Pelan-pelan dia narik tas gitarnya ke depan, kayak mau dijadiin tameng kalau tiba-tiba ada yang nyerang.

GRRRRR... 

"DEDIK! ITU MAKIN DEKET!" gua spontan meluk pinggang Dedik dari belakang, nyembunyiin muka gua di sela-sela pundaknya. Gua bisa ngerasa badan Dedik kaku sesaat, tapi dia nggak nolak.

Tiba-tiba... SREEET! 

Sesosok makhluk berbulu item loncat keluar dari semak-semak. Gua udah mau teriak histeris, tapi suara yang keluar malah...

"Guk! Guk! Guk!"

Gua melongo. Dedik narik napas panjang, bahunya yang tadinya tegang langsung turun. Di depan kita, seekor anjing kampung ukuran sedang lagi asik ngejar buntutnya sendiri.

Ternyata suara geraman tadi itu cuma suara dia pas lagi berantem sama ranting bambu.

"Anjing?" gua nanya bego.

"Logikanya, Rey... di desa kayak gini, populasi anjing penjaga itu tinggi. Nggak usah drama sampai meluk gua segini kencengnya kali," sahut Dedik.

Dia nengok ke bawah, ke arah tangan gua yang masih melingkar sempurna di pinggangnya.

Gua langsung ngelepasin pelukan gua kayak abis megang setrika panas. "Y-ya kan gua refleks! Lagian suaranya tadi serem banget!"

Muka gua panas. Sumpah, malu banget. Gua baru aja meluk cowok paling nyebelin se-kampus gara-gara seekor anjing kampung yang bahkan nggak peduli sama keberadaan kita.

Dedik benerin jaket denimnya, terus balik natap ke arah hutan bambu yang makin dalem. "Udah, lupain. Sini, ikut gua. Gua mau ambil sampel suara di area yang lebih lembap."

Gua ngintilin dia dari belakang, masih sambil komat-kamit nyumpahin diri sendiri. "Lo beneran nggak terganggu sama Arlan tadi?" tanya gua, nyoba ngalihin topik.

"Keganggu?" Dedik berhenti jalan, bikin gua hampir nabrak tas gitarnya lagi. "Gua keganggu karena dia nggak ngerti esensi harmoni. Dia cuma liat luarnya doang. Dan gua nggak suka cara dia natap lo."

"Hah? Emang dia natap gua gimana?"

"Kayak lo itu barang pajangan di etalase toko yang siap dia beli. Lo itu partner gua, Rey. Dan selama proyek ini jalan, gua nggak mau fokus lo pecah cuma gara-gara sepupu sok kaya lo itu."

Gua diem. Kalimat Dedik barusan kedengeran sangat... posesif? Tapi dia bungkus pakai alasan "proyek". Dasar Aquarius, emang susah banget ngomong jujur.

Kita nyampe di sebuah area yang banyak bambu kuningnya. Suara angin yang nabrak batang bambu di sini bunyinya unik banget, kayak suara seruling alami.

Dedik mulai ngeluarin alat rekam kecil dari sakunya, terus dia diem, nutup mata sambil megang mikrofonnya ke arah atas.

Gua merhatiin dia dari samping. Cahaya matahari yang masuk dari sela-sela daun bambu jatuh tepat di mukanya. Ternyata, kalau lagi serius gini, Dedik kelihatan... cakep banget.

Garis rahangnya tegas, dan dia kelihatan sangat menghargai suara alam yang menurut gua biasa aja.

"Rey," panggil dia tanpa buka mata.

"I-iya?"

"Kenapa lo berhenti nyanyi?"

Pertanyaan itu bikin jantung gua deg-degan lebih kenceng daripada pas denger geraman anjing tadi. "Gua nggak berhenti. Gua cuma... ngerasa nggak ada gunanya lagi."

Dedik buka matanya, terus natap gua dalem. "Folder 'Secret' itu isinya rekaman lo dari dua tahun lalu sampai bulan kemarin. Lo konsisten nyanyi tiap lo lagi sedih atau seneng. Itu artinya, musik itu udah jadi napas lo."

"Gua cuma iseng, Ded. Gua anak Akuntansi, bukan anak Seni Musik kayak lo."

"Musik nggak butuh jurusan, Rey. Dia cuma butuh kejujuran. Dan gua butuh suara lo buat nyelesein proyek ini."

Gua geleng-geleng. "Nggak bisa. Gua punya stage fright. Gua nggak bisa nyanyi di depan orang. Suara gua bakal ilang kalau ada yang ngeliatin."

Dedik maju satu langkah. Dia narik satu tangan gua, terus diletakkan di atas senar gitarnya yang masih di dalem tas. "Kalau cuma gua yang denger? Lo masih takut?"

Gua diem. Lidah gua mendadak kelu. Jarak kita deket banget lagi, dan kali ini nggak ada anjing kampung yang bakal ganggu.

"Coba nyanyi satu bait aja. Lagu yang di folder itu," bisik Dedik.

Gua ragu-ragu. Gua liat mata Dedik yang biasanya dingin, sekarang kelihatan sangat tulus minta tolong. Gua narik napas, nyoba nginget nada lagu Someone Like You yang sering gua puter.

“Never mind, I'll find someone like you...”

Baru satu kalimat, suara gua udah gemeteran. Tapi Dedik nggak ketawa. Dia malah mulai metik senar gitarnya pelan, ngikutin nada yang gua nyanyiin.

Perpaduan suara gua dan petikan gitarnya di tengah hutan bambu ini rasanya... ajaib.

Tapi tiba-tiba...

KRETEK! 

Suara ranting patah dari arah belakang kita. Kali ini suaranya beda, kayak injakan sepatu yang berat.

"Wah, wah... ternyata selain riset, kalian asik kencan di sini ya?"

Suara itu. Arlan.

Gua langsung loncat menjauh dari Dedik. Arlan berdiri di sana sambil pegang kamera DSLR mahal, kayaknya dia tadi ngikutin kita diem-diem.

"Lan! Lo ngapain sih?!" teriak gua kesel.

"Gua tadi mau moto pemandangan, eh malah dapet momen 'Harmoni Hati' dua mahasiswa bimbingan Tiara," Arlan senyum ngejek. Dia ngeliatin layar kameranya.

"Foto ini kalau gua kasih liat ke Tiara, kira-kira dia bakal seneng nggak ya, Ded? Secara, dia kan pengennya proyek ini profesional."

Mata Dedik menggelap. Dia jalan ke arah Arlan dengan langkah mantap. "Hapus foto itu, Lan."

"Kalau gua nggak mau?" tantang Arlan sambil ngangkat kameranya tinggi-tinggi.

Dedik nggak teriak. Dia cuma berdiri tepat di depan Arlan yang badannya lebih gede dikit.

"Lo mungkin punya duit buat beli sponsor, tapi lo nggak punya hak buat ganggu privasi partner gua. Hapus, atau gua pastikan kerja sama lo sama fakultas gua berakhir sore ini juga."

***

Dedik berani ngancem balik Arlan! Tapi masalahnya, Arlan punya posisi kuat sebagai sponsor. Apa yang bakal dilakukan Arlan? Apakah foto "mesra" Dedik dan Reyna bakal beneran dikasih liat ke Kak Tiara?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!