Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Di kantor, pagi menjelma menjadi siang tanpa benar-benar terasa. Jam di dinding berdetak konsisten, namun bagi Haikal waktu seperti tersendat. Ia duduk tegak di balik meja kerjanya, laporan bulanan terbuka di hadapan, t Buetapi angka-angka hanya menjadi deretan simbol tanpa makna. Setiap kali ia berusaha membaca, pikirannya melayang, kembali ke pagi itu, ke dapur rumahnya, ke suara yang memanggilnya pelan.
Pak Haikal.
Ia menutup berkas, menghela napas, lalu membukanya lagi. Fokus. Hanya itu yang ia butuhkan. Namun bayangan Laura dengan pakaian kasual pagi tadi terus menyusup, bukan sebagai godaan yang vulgar, melainkan sebagai kehadiran yang membuatnya sadar akan sesuatu yang lama ia kubur yaitu perasaan diakui.
Tok
Tok
Tok
Ketukan di pintu memecah lamunannya.
“Masuk,” katanya.
Rani, sekretaris pribadinya, melangkah masuk dengan map cokelat tebal di tangan. Wajahnya serius, jauh dari ekspresi profesional yang biasa.
“Pak Haikal,” ucapnya pelan, “ini ada titipan amplop. Katanya bapak yang minta.”
Haikal mengangguk. “Taruh saja.”
Rani meletakkan map itu di meja, lalu ragu sejenak sebelum berbalik. “Kalau Bapak perlu… saya ada di luar.”
Pintu menutup. Sunyi.
Haikal membuka map tersebut. Foto-foto tersusun rapi, tanggal dan lokasi tercetak jelas. Lobi hotel. Lift. Koridor. Dan akhirnya, dua sosok berdiri berdekatan di depan pintu kamar sembari berpelukan.
Gita.
Istrinya.
Bersama Reza, fotografer yang selama ini ia kenal sebagai rekan kerja profesional Gita.
Haikal menatap lama, seolah menunggu foto-foto itu berubah menjadi sesuatu yang lain. Namun kenyataan tidak memberi ruang untuk harapan. Dadanya mengencang, napasnya tertahan. Ia merasakan gelombang panas di tengkuk, lalu dingin yang merayap hingga ujung jari.
“Jadi… begini, kecurigaan saya benar.” gumamnya.
Ia bersandar, memejamkan mata. Ingatan berhamburan, malam-malam sunyi, percakapan yang dipangkas oleh lelah, jarak yang ia anggap wajar. Ia tahu ada kekurangan dalam dirinya—ia mengakuinya, bahkan menghukumnya sendiri.
Namun mengetahui bahwa Gita mencari pelarian, dan menemukan kenyataan itu dalam foto-foto dingin, tetap terasa menghantam.
Ini salahku, batinnya.
Tapi ini juga pilihannya.
Kontradiksi itu menggerogoti. Ia tidak ingin menjadi hakim bagi istrinya, tetapi harga dirinya menolak dipinggirkan. Haikal merapikan kembali foto-foto itu, menutup map, lalu berdiri. Ia berjalan ke jendela, memandang kota yang berdenyut di bawah sana. Orang-orang berlalu-lalang, membawa masalah masing-masing, sementara dunianya sendiri baru saja retak.
Ben menutup pintu ruang kerja Haikal dengan pelan,
“Kamu memanggilku, Kal?”
“Iya… duduklah.”
Beni menarik kursi, menatap Haikal dengan cermat,
“Kamu kelihatan tidak seperti biasanya. Ada apa?”
Haikal terdiam beberapa detik, lalu mendorong map cokelat ke arah Beni,
“Lihat ini.”
Beni membuka map, alisnya langsung berkerut,
“Ini apa… foto-foto?”
"Kamu liat aja apa itu.”
Beni membalik lembar demi lembar, wajahnya berubah tegang dan tak percaya,
“Hotel X… berulang kali?” ujar Ben menelan ludah kasar, tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
“Kal… ini Gita?”
Haikal mengangguk pelan,
“Dengan Reza.Fotografernya.” jawab Haikal sendu.
Beni menutup map perlahan, napasnya terasa berat,
“Ya Tuhan…” lirih Haikal sembari mengusap wajah nya.
“Sejak kapan kamu tahu?”
“Baru beberapa hari. Tapi rasanya seperti sudah lama.”
“Kenapa kamu tidak langsung bicara dengannya?”
“Aku harus memastikan dulu… bahwa aku tidak berhalusinasi. Bahwa ini nyata.”
Beni menatap Haikal dengan tatapan iba,
“Dan setelah yakin?”
“Yang ada malah lebih sakit.” jawab Haikal jujur.
Beni hening sejenak,
“Aku tahu ini bukan urusanku sebagai Aspri. Tapi sebagai sahabat… aku ikut hancur melihatmu seperti ini.”
Haikal tersenyum tipis, pahit,
“Aneh ya, Ben. Aku marah… tapi di saat yang sama aku merasa bersalah.”
“Karena kau merasa gagal sebagai suami?”
“Iya.” jawab Haikal menunduk.
“Aku tahu kekuranganku. Aku tahu selama ini aku lebih banyak diam, menghindar. Tapi aku tidak pernah membayangkan ini. Wanita mana yang tahan dengan suami yang loyo saat di ranjang seperti ku.”
Beni menatap Haikal tegas tapi lembut,
“Kal, dengarkan aku baik-baik.” ujar Ben mencondongkan tubuh nya mendekat.
“Kekuranganmu bukan alasan orang untuk mengkhianati. Setiap orang selalu punya pilihan.”
“Tapi kalau aku lebih normal...”
“Stop.” Ben memotong perkataan Haikal.
“Kamu boleh menyesal. Kamu boleh introspeksi diri. Tapi jangan menanggung dosa yang bukan sepenuhnya salah kamu.”
Haikal menghela napas panjang,
“Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang.”
“Kamu sudah bicara dengannya?”
“Belum. Aku menunggu… entah apa yang aku tunggu.”
“Menunggu dirimu siap, atau menunggu hatimu lebih kuat?”
“Mungkin dua-duanya.”
Beni mengangguk, mencoba memahami.
“Itu wajar. Tapi jangan terlalu lama. Luka yang disimpan terlalu lama bisa berubah jadi racun.”
Haikal menatap Beni,
“Kalau kamu yang ada di posisiku? Apa yang akan kamu lakukan?”
Beni terdiam sejenak, kemudian berkata,
“Aku akan bicara dengan nya. Bukan untuk bertengkar. Tapi untuk mendengar kebenaran dari mulutnya sendiri.”
“Dan kalau kebenarannya sama seperti di foto-foto itu?”
“Setidaknya kamu tidak lagi hidup dalam dugaan.Kal, apa pun keputusanmu nanti,bertahan atau melepaskan, aku ada di pihakmu.”
Haikal tertawa kecil,
“Aku jarang dengar itu akhir-akhir ini.”
“Kamu tidak sendirian. Jangan pernah berpikir begitu.” ucap Ben sembari menepuk bahu Haikal.
“Kamu sahabatku. Dan sebagai Aspri, tugasku melindungi bukan cuma reputasimu, tapi juga kewarasanmu.”
“Terima kasih, Ben.”
“Kapan pun. Dan satu hal lagi…”
“Apa?”
“Jangan membuat keputusan besar saat emosimu sedang paling kacau. Ambil waktu, tapi jangan lari.”
Haikal mengangguk pelan,
“Aku akan bicara dengannya.”
“Itu langkah paling berani yang bisa kamu ambil saat ini.”
Keduanya terdiam. Tidak ada solusi instan, tapi ada kelegaan karena beban itu akhirnya terbagi.
Haikal menarik napas panjang, menatap lantai,
“Ben… ada satu hal lagi yang belum kuceritakan.”
Beni menegakkan badan nya,
“Apa pun itu, katakan saja.”
Haikal tampak ragu, lalu tersenyum tipis,
“Aku baru sadar… ternyata aku tidak seperti yang selama ini kupikirkan.”
Beni mengernyit tak mengerti,
“Maksud nya?”
“Selama ini aku menyalahkan diriku sendiri. Menganggap aku sudah rusak sebagai laki-laki.” jelas Haikal dan hening sejenak,“Tapi ternyata… tidak sepenuhnya benar.”
Beni tetap diam, memberi ruang untuk Haikal berbicara,
“Lanjutkan.”
“Ada momen-momen tertentu… ketika aku merasa kembali menjadi diriku sendiri. Merasa normal.Dan itu terjadi saat aku dekat dengan Laura.”
Beni terkejut, namun ia mencoba ntuk menahan ekspresi nya,
“Laura? Pembantu di rumahmu?”
Haikal mengangguk pelan,
“Tidak ada yang terjadi, Ben. Tidak ada.” ucap Haikal cepat menegaskan, “Tapi kehadirannya… caranya berbicara, caranya melihatku...itu membuatku sadar bahwa masalahnya bukan semata-mata fisik.”
Beni menarik napas panjang,
“Jadi ini lebih ke perasaan?”
“Iya.”
“Selama ini aku hidup di bawah tekanan. Takut mengecewakan, takut gagal. Dan bersama Gita… rasa takut itu justru semakin besar.”
Beni perlahan mengangguk,
“Dan Laura?”
“Dia tidak menuntut apa-apa. Tidak melakukan apa pun.Dia hanya memperlakukanku seperti manusia biasa, melayani ku dengan baik, tapi...”
Beni menyandarkan tubuh, berpikir,
“Kal… ini penting. Tapi juga berbahaya.”
“Aku tahu.”
“Kesadaran bahwa kau ‘normal’ itu penting untuk harga dirimu." Ucap Ben nada suaranya tegas,
“Tapi jangan sampai kau menggunakannya sebagai pembenaran untuk hal lain.”
“Aku tidak berniat menjadikan Laura pelarian.”
“Bagus.” ia menatap Haikal lurus,
“Karena kalau kau lakukan itu, kau hanya mengulang lingkaran yang sama—dengan wajah berbeda.”
Haikal terdiam lama,
“Yang membuatku paling sakit, Ben… adalah kenyataan bahwa aku baru merasa utuh saat rumah tanggaku sudah runtuh.”
“Kadang manusia memang baru mengenal dirinya sendiri saat kehilangan.”
“Menurutmu… apa aku salah?”
“Tidak....Kau tidak salah menyadari dirimu masih utuh. Yang salah adalah jika kesadaran itu kau bangun di atas kebohongan baru.”
“Aku hanya ingin jujur. Untuk pertama kalinya.”
“Itu sudah langkah besar.Gunakan kesadaran itu untuk menyembuhkan dirimu. Bukan untuk melukai orang lain—termasuk Laura.”
“Aku akan berhati-hati.”
“Bagus.”
“Dan satu hal lagi, Kal… apa pun yang terjadi nanti, jangan biarkan masa lalumu menentukan siapa dirimu ke depan.”
“Terima kasih. Aku benar-benar membutuhkannya.”
“Kamu sahabatku.”
“Dan sahabat tidak membiarkan sahabatnya tersesat—bahkan saat jalannya gelap.”
Percakapan berhenti. Tidak ada jawaban pasti, tapi ada kelegaan. Untuk pertama kalinya, Haikal tidak lagi merasa sendirian menghadapi dirinya sendiri.