“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Hujatan Media
Serangan itu datang bukan dari dunia nyata, melainkan dari tempat yang paling sulit dibendung: internet.
Itu bermula pada rabu siang, saat Naura sedang duduk di taman belakang, sibuk memotret mawar putih pertama yang bermekaran di petak tanahnya. Ia mengangkat kameranya, mengatur fokus, dan menekan shutter. Klik. Suara itu memuaskannya, foto yang dihasilkan sempurna, dengan cahaya matahari siang yang menembus kelopak-kelopak putih, menciptakan efek siluet yang artistik.
Ia tersenyum, memutar tubuhnya untuk memotret sudut lain, saat ponselnya bergeta hebat di sampingnya. Bukan satu kali. Bukan dua kali. Tapi terus-menerus, seperti alarm yang tidak mau berhenti.
Naura mengerutkan dahi, meraih ponselnya, dan membukanya.
Layar dipenuhi oleh notifikasi, bukan dari Cipa, atau dari ibunya, tapi dari akun media sosialnya yang sudah lama tidak ia buka. Ada ratusan mention, ratusan komentar, dan puluhan pesan langsung dari orang-orang yang tidak ia kenal.
Jantungnya berdebar tak menyenangkan.
Ia membuka salah satu mention itu, dan darahnya seketika membeku.
Sebuah akun fanpage pesantren telah memposting video pendek, video yang diambil secara diam-diam saat acara seminar dakwah di hotel malam itu. Videonya bukan menampilkan Azzam di atas panggung, melainkan menampilkan Naura. Spesifiknya, momen saat Arkan berjalan mendekat dan berbicara dengannya di lobbi hotel.
Video itu diedit dengan sangat buruk, dipotong-potong sehingga terlihat seolah Naura dan Arkan sedang berbincang akrab, tersenyum, dan berdiri sangat dekat. Bagian di mana Azzam melangkah maju melindungi Naura sengaja dihilangkan. Bagian di mana Naura menolak Arkan juga dihilangkan. Yang tersisa hanyalah gambaran yang menyesatkan: istri Gus Azzam sedang mesra dengan pria lain di hotel.
Caption-nya:
"Istri Gus Azzam ketahuan selingkuh di hotel bintang lima? 😱 Astaghfirullah, ini yang takutnya terjadi kalau menikah dengan orang yang nggak seiman. #GusAzzam #NauraMahendra #Selingkuh"
Naura menatap layarnya dengan tangan yang gemetar. Ia scroll ke bawah, membaca komentar-komentar yang mengalir seperti racun.
@pesantrensetia: ASTAGHFIRULLAH! Ini serius?! Istri Gus Azzam selingkuh?!
@santriwati_bertaqwa: Gue udah bilang dari awal, perempuan model gini nggak bisa setia. Kasian Gus Azzam.
@jamaahikhlas: Buktiin dulu dong sebelum nuduh. Video ini kan nggak jelas.
@hafidzah_cantik: Ngga perlu bukti! Liat aja cara dia ngomong sama cowok tu! Mesra banget! Gus Azzam terlalu baik buat cewek gini!
@zahra_humaira_fans: Zahra lebih pantas jadi istri Gus. Zahra nggak akan pernah ngelakuin ginian.
@netizen_judol: Selingkuh sama siapa tuh cowok?! Ganteng juga! Hahaha!
@pembela_gus: GUS AZZAM HARUS CERAI! CARI ISTRI YANG LEBIH BAIK!
Komentar-komentar itu mengalir tanpa henti, ratusan, lalu ribuan... seperti gelombang tsunami yang menenggelamkan segala upaya Naura untuk bernapas. Setiap kata terasa seperti pukulan, setiap emoji tertawa terasa seperti tamparan, setiap tagaran #GusAzzamHarusCerai terasa seperti pisau yang ditusukkan ke dadanya.
Bukan hanya di satu akun. Video itu sudah tersebar di mana-mana.... di Twitter, di Instagram, di TikTok, bahkan di grup-grup WhatsApp jamaah pesantren. Dalam hitungan jam, Naura Aleesha Al-Farizi telah menjadi bahan olokan publik.
Tangannya gemetar hebat. Ponsel itu terlepas dari genggamannya, jatuh ke rumput dengan bunyi thud yang lembut. Naura menatap langsung ke depan, matanya kosong, napasnya memburu.
"Nggak!" batinnya, merasa dunia berputar. "nggak gitu aslinya... Itu hoks."
Ia meraih ponselnya lagi, membuka akun media sosialnya, dan mencoba membalas salah satu komentar, mencoba menjelaskan bahwa video itu diedit, bahwa pria itu adalah mantannya yang datang tanpa diundang, bahwa suaminya ada di sana dan melindunginya.
Tapi setiap kali ia mengetik balasan, lebih banyak hujatan yang datang. Balasannya tenggelam di antara ribuan komentar kebencian. Ia seperti berteriak di tengah badai... tidak ada yang mendengar, tidak ada yang peduli.
Air mata Naura jatuh lagi. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, mengerang pelan, dan merasa sesuatu di dalam dirinya hancur berkeping-keping.
Bukan karena hujatan itu sendiri. Tapi karena ia tahu siapa yang berada di balik ini.
"Zahra," bisik kebenciannya. "Atau Farrel. Atau keduanya."
.
.
.
Azzam mengetahui tentang video itu bukan dari Naura, melainkan dari salah satu ustaz pesantren.
Saat ia menerima telepon dari Ustaz Makmur, ia sedang berada di ruang kelas, mengajar santri-santri kecil tentang tajwid. Wajahnya yang biasa tenang berubah drastis saat mendengar laporan itu, otot-otot di rahangnya mengeras, matanya menyipit, dan tangannya yang memegang ponsel mencengkerakannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Saya akan urus ini," ucap Azzam pada Ustaz Makmur, suaranya rendah dan berbahaya. "Tolong pastikan tidak ada santri yang menyebarkan video itu di dalam pesantren."
Ia mematikan ponselnya, lalu berjalan keluar kelas dengan langkah yang cepat dan tegang. Santri-santri kecil menatap punggung Gus mereka dengan kebingungan, mereka belum pernah melihat Gus Azzam berjalan secepat itu, dengan bahu yang kaku dan tangan yang mengepal di samping tubuh.
Ia membuka pintu rumah, melangkah masuk, dan mencari Naura.
Tidak ada di ruang tengah. Tidak ada di dapur. Tidak ada di taman belakang.
"Naura!" panggilnya, suaranya lebih keras dari yang ia inginkan.
Tidak ada jawaban.
Ia berlari menaiki tangga, kali ini ia benar-benar berlari dan mendorong pintu kamar tidur.
Naura duduk di lantai kamar, bersandar di dinding, dengan lutut ditarik ke dada dan wajah dimanjatkan di atas lututnya. Ponselnya tergeletak di lantai beberapa sentimeter dari tangannya, layarnya masih menyala, menampilkan salah satu komentar yang paling menyakitkan: Gus Azzam harus cerai!
Azzam mendekat, berlutut di depan Naura, dan meraih wajah istrinya dengan kedua tangan. Ia mengangkat wajah itu, dan apa yang ia lihat membuat jantungnya hancur.
Mata Naura bengkak dan merah, wajahnya pucat pasi, dan bibirnya bergetar hebat. Ia menatap Azzam dengan mata yang penuh keputusasaan... mata yang berkata, "Aku menyerah."
"Azzam..." suara Naura serak, nyaris tak terdengar. "M-ereka... mereka bilang aku selingkuh. Mereka bilang video itu... mereka bilang kamu harus menceraikanku."
"Suuuuut, stop," satu kata dari Azzam, tegas, tajam, namun tangannya yang memegang wajah Naura sangat lembut. "Berhenti memikirkan apa yang mereka katakan."
"Tapi video itu... Gimana caranya aku nggak mikirin itu AZZAM..."
"Saya tahu tentang video itu," Azzam memotong, matanya menatap Naura dengan intensitas yang mencoba memindahkan kekuatan padanya. "Saya tahu itu diedit, pria itu mendekatimu tanpa diundang. Saya tahu karena saya ada di sana, Naura, melihat semuanya. Bagaimana kamu menolaknya. kamu berdiri di sampingku."
Naura menatapnya, air mata mengalir deras. "Tapi mereka nggak tahu! Mereka nggak tahu kebenarannya! Mereka hanya melihat video yang dipotong-potong itu dan menghakimiku! Mereka... Hik-ss...."
"Nauraku." Azzam menarik napas, menenangkan dirinya, lalu berbicara dengan suara yang lebih lembut namun sama kuatnya. "Dengarkan saya. Saya tidak peduli apa yang mereka katakan, tidak peduli video itu. Karena satu-satunya orang yang berhak tahu kebenaran tentang pernikahan kita adalah aku dan kamu. Dan saya tahu, tanpa sedikit pun keraguan, bahwa kamu tidak bersalah."
Naura menggeleng, merasa tidak pantas menerima kepercayaan itu. "Tapi nama kamu... nama pesantrenmu... ikut tercoreng karena aku..."
"Nama pesantren ini tidak akan pernah tercoreng karena kebenaran," Azzam menekankan setiap kata. "Dan nama saya tidak akan pernah tercoreng karena istriku. Karena saya bangga padamu, Naura. Bangga pada bagaimana kamu menolak pria itu dan tidak ada satu pun komentar di internet yang bisa mengubah itu."
Ia meraih ponsel Naura dari lantai, mematikan layarnya, lalu meletakkannya di meja nakas dengan gerakan yang tegas.
"Mulai sekarang, kamu tidak akan membaca satu pun komentar itu lagi," perintah Azzam. "Tidak ada yang bisa kamu dapatkan dari sana... hanya racun."
"Tapi aku nggak bisa diam saja, Azzam!" Naura memukul lantai dengan tinju, frustrasi. "Mereka menghancurkan namaku! Mereka menghancurkan namamu! Aku nggak bisa..."
"Kamu tidak diam," Azzam meraih tinju Naura, membukanya, dan menggenggam tangan istrinya. "Saya yang akan bicara dan akan mengurus ini. Tugasmu sekarang hanya satu. Percaya padaku."
Naura menatap Azzam, dan di mata pria itu ia melihat sesuatu yang membuatnya terdiam, kemarahan yang tertahan, kesetiaan yang tak tergoyahkan, dan cinta yang begitu besar hingga bisa membakar seluruh internet jika dibiarkan.
"Percaya padaku," ulang Azzam, suaranya hampir merupakan permohonan. "Biarkan saya melindungimu. Biarkan saya yang memegang kendali atas ini."
Naura menarik napas, mengangguk pelan, lalu jatuh ke dalam pelukan Azzam. Ia memeluk suaminya erat-erat, membenamkan wajahnya di dada pria itu, dan menangis, bukan karena putus asa, tapi karena kelegaan yang luar biasa mengetahui bahwa ia tidak sendirian menghadapi badai ini.
Azzam mendekapnya, mengusap punggungnya, dan di atas kepala Naura, matanya menatap jendela dengan ekspresi yang menjanjikan perang.
"Kau ingin berperang?" batin Azzam pada orang-orang yang menyebarkan video itu. "Baik. Kau akan mendapatkannya."
.
.
.
Satu jam kemudian, Azzam duduk di ruang kerjanya dengan ponsel di tangan.
Ia telah menenangkan Naura, memastikan istrinya tertidur, lalu memanggil Ibu Jamilah untuk menjaganya. Sekarang, ia harus bertindak.
Ia membuka akun media sosial pribadinya, akun yang jarang ia gunakan, tapi memiliki jutaan pengikut. Dengan jari-jari yang tenang namun penuh tekad, ia mengetik sebuah pernyataan.
PERNYATAAN RESMI DARI GUS AZZAM AL-FARIZI
...Bismillahirrahmanirrahim....
...Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Wasshalatu wassalamu 'ala Rasulillah....
...Kepada seluruh jamaah dan masyarakat yang saya hormati, Saya telah menonton video yang beredar tentang istri saya, Naura Aleesha Al-Farizi. Video tersebut telah diedit dan dipotong-potong dengan sengaja untuk menyesatkan publik. ...
...Fakta yang sebenarnya:...
...1. Pria dalam video tersebut adalah kenalan lama istri saya yang datang tanpa diundang dan tanpa sepengetahuan saya....
...2. Istri saya TIDAK bersalah. Ia menolak pria tersebut dan berdiri di samping saya sepanjang acara....
...3. Saya hadir di lokasi. Saya melihat semuanya. Saya mendengar semuanya. Dan saya adalah saksi bahwa istri saya adalah perempuan yang terhormat....
...Siapa pun yang menyebarkan video ini dengan niat buruk, mengeditnya untuk merendahkan istri saya, atau menggunakan nama saya untuk kebencian... ketahuilah bahwa kalian telah melanggar hukum Allah dan hukum negara. Penyebaran fitnah adalah dosa besar dalam Islam, dan pencemaran nama baik adalah pelanggaran hukum....
...Saya akan menempuh jalur hukum terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pembuatan dan penyebaran video ini....
...Terakhir, saya ingin berkata pada istri saya:...
..."Naura, aku bangga padamu. Aku bangga menjadi suamimu. Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuh kehormatanmu."...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
-Gus Azzam Al-Farizi-
Azzam menekan tombol post.
Dalam hitungan menit, pernyataan itu viral. Ribuan orang membagikannya, ribuan orang berkomentar, dan ribuan orang meminta maaf pada Naura. Tapi di antara dukungan itu, masih ada hujatan, dari akun-akun anonim, dari akun-akun baru yang mencurigakan, dari orang-orang yang tidak ingin kebenaran terungkap.
Azzam tidak peduli pada mereka. Ia hanya peduli pada satu hal. Naura harus tahu bahwa ia tidak pernah sendirian.
Ia membuka aplikasi pesan, mengetik nomor pengacara keluarga Al-Farizi.
Azzam: Pak Heru, saya ingin mengajukan tuntutan pencemaran nama baik terhadap akun-akun yang menyebarkan video editan tentang istri saya. Saya juga ingin melacak siapa yang membuat video itu. Bisakah?
Balasan datang cepat.
Pak Heru: Bisa, Gus. Kami akan segera proses. Apakah ada petunjuk siapa yang mungkin berada di balik ini?
Azzam mengetik balasan dengan rahang yang mengeras.
Azzam: Ada dua orang yang ingin merugikan istri saya. Satu di dalam pesantren, satu di luar. Awasi keduanya.
Ia mematikan ponsel, bersandar di kursi, dan menatap langit-langit ruang kerjanya yang gelap.
Perang baru saja dimulai. Dan Azzam bertekad untuk memenangkannya, bukan demi dirinya, bukan demi pesantrennya, tapi demi wanita yang kini telah menjadi alasan setiap napasnya.
"Naura," bisik Azzam pada malam. "Aku berjanji, aku akan menemukan siapa yang melakukan ini. Dan ketika aku menemukannya... mereka akan menyesal pernah membuatmu menangis."
.
.
.