Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Langkah kaki Syifa terasa ringan saat memasuki ruang kelas, namun atmosfer di dalam mendadak berubah agak lesu. Dosen mata kuliah pertama ternyata berhalangan hadir hari ini karena ada urusan mendadak. Meski begitu, beliau tetap meninggalkan tumpukan tugas penganalisisan dan perangkuman materi yang cukup padat untuk mahasiswa semester 5 kelas A.
Karena tugas tersebut membutuhkan banyak buku referensi, Syifa bersama kedua sahabatnya bergegas menuju perpustakaan kampus sebelum meja dan buku-buku di sana habis diperebutkan oleh kelas lain.
"Ketemu nggak, gais? Duh, susah banget ya cari bukunya. Kepalaku udah mau pecah duluan liat deretan judul ini," keluh Jihan sambil menyandarkan badannya ke rak buku dengan tidak bersemangat.
"Coba cari lagi, Jihan. Jangan menyerah dulu, pasti ketemu kalau kita teliti," timpal Syifa dengan sabar. Jemari lentiknya bergerak teratur, memeriksa satu per satu punggung buku tebal yang berjejer di rak bagian atas.
"Iya nih, Jihan. Baru juga nyari sebentar udah bilang ngga ada aja. Jiwa rebahanmu tolong dikondisikan ya," sahut Adiba menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu.
Tak lama, Bella datang menghampiri mereka dengan langkah lemas membawa kabar baru. "Tadi penjaga perpus bilang ke aku kalau buku referensi untuk materi kita jumlahnya terbatas banget tahun ini. Jadi mau nggak mau, kita harus gantian sama kelompok dari kelas sebelah kalau mau pakai."
"What?! Emang kampus kita ini yah... selalu penuh dengan segala kearifan lokal dan ujian kesabaran yang tiada habisnya," keluh Jihan lagi, kali ini sambil menepuk dahinya dramatis.
Naya yang sejak tadi fokus membaca silabus mencoba menenangkan suasana. "Untungnya tugas ini dikumpulkan minggu depan, sih. Aku nggak bisa bayangin kalau harus dikumpul hari ini juga dengan kondisi buku yang rebutan kayak gini."
"Capek deh..." jawab Bella bercanda, menirukan gaya bicara komedian di televisi yang langsung memancing tawa kecil di antara mereka di tengah ketegangan tugas.
Di tengah hiruk-pikuk keluhan itu, mata Syifa mendadak berbinar saat melihat sebuah buku bersampul hijau tua di sudut rak yang agak tersembunyi. Dia menariknya perlahan.
"Alhamdulillah! Ketemu juga, gais!" ujar Syifa kegirangan, mengangkat buku tersebut seperti menemukan harta karun.
"Nah, sementara kita cari garis besarnya dari buku ini dulu. Lumayan nih, aku udah berhasil ngumpulin 3 buku yang pembahasannya saling berkaitan," sambung Syifa lagi, meletakkan buku-buku tersebut di atas meja diskusi kelompok mereka.
"Oke, aku setuju banget sama ide Syifa. Yuk, langsung eksekusi biar cepat selesai! Eh, btw... kamu masih mau ikut kelompok kita nggak nih, Han? Atau mau nyari kelompok lain?" ledek Adiba sambil melirik Jihan jahil.
Jihan langsung bergelayut manja di lengan Adiba dan Syifa bergantian. "Ya pastilah aku ikut kalian! Mau sama siapa lagi emang? Nggak bakal ada kelompok lain yang sepengertian dan se-sabar duo bestie-ku ini dalam menghadapi kemalasanku," ucapnya cengengesan.
Tawa kecil kembali terdengar di sudut meja perpustakaan itu. Mereka pun mulai membagi tugas dan mengerjakan analisis materi secara berkelompok. Berada di lingkungan sahabat-sahabat yang suportif dan humoris membuat beban kuliah Syifa terasa jauh lebih ringan. Di sela-sela menulis rangkuman, fokus Syifa sesekali teralih pada cincin manis yang melingkar di jarinya, mengingatkannya bahwa nanti siang, ada sebuah 'kencan pertama' yang sedang menantinya.
...----------------...
Suasana di dalam rumah sederhana di kampung halaman Syifa terasa begitu pekat oleh rasa cemas. Jarum jam dinding berdetak memecah kesunyian, namun tak mampu menenangkan abi Musthofa yang terus berjalan mondar-mandir di ruang keluarga dengan guratan dalam di dahinya. Di sudut ruangan, ummi Salwa duduk bersandar di kursi kayu, jemarinya yang gemetar tiada henti memutar butiran tasbih, sementara bibirnya merapalkan doa-doa keselamatan.
Raihan, yang sejak tadi duduk di sudut ruangan memandangi kedua orang tuanya, akhirnya tidak tahan melihat keputusasaan yang menggantung di udara.
"Abi, Ummi... apa tidak sebaiknya kita telepon kak Syifa saja sekarang?" tanya Raihan dengan nada suara yang ikut bergetar karena khawatir.
Abi Musthofa menghentikan langkahnya sejenak, menghela napas panjang lalu menggeleng lemah. "Kita tunggu dulu hasil pemeriksaan dari pak mantri, Rey. Jangan terburu-buru mengejutkan kakakmu."
Tepat setelah kalimat itu terucap, pintu kamar kakek terbuka. Seorang pria paruh baya berkacamata melangkah keluar sambil menenteng sebuah tas medis berbahan kulit di tangan kanannya. Beliau yang biasa dipanggil Pak Mantri oleh warga sekitar.
Abi Musthofa bergegas mendekat, diikuti ummi Salwa yang langsung bangkit dari duduknya. "Bagaimana kondisi abah saya, Pak?" tanya abi Musthofa penuh harap sekaligus cemas.
Dokter tersebut membetulkan letak kacamatanya, menatap abi dan ummi dengan tatapan penuh simpati sebelum menjelaskan kondisi kakek Ali secara gamblang.
"Sekarang beliau sedang istirahat setelah saya berikan suntikan pereda nyeri. Mengenai kondisi kesehatannya... sejujurnya, beliau harus segera mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit kota, Pak. Di sana fasilitasnya lebih lengkap untuk melakukan pemeriksaan mendetail yang berkaitan dengan penyakit jantung yang diderita beliau selama ini."
"Ya Allah... Abah..." Ummi Salwa seketika terisak, menutup mulutnya dengan ujung jilbab. Tangisnya pecah mendengar kenyataan pahit itu.
Pak Mantri menghela napas, melanjutkan penjelasannya dengan berat hati. "Kalau pun beliau dipaksakan dibawa ke puskesmas pusat di kecamatan ini, dengan fasilitas yang kurang memadai, saya khawatir hal itu malah akan memperburuk kondisi kesehatan beliau jika terlalu lama ditunda. Waktu sangat berharga untuk penyakit jantung seperti ini."
Pak Mantri kemudian merobek selembar kertas dari buku catatannya. "Untuk sementara, saya hanya bisa memberikan resep obat yang ada untuk meredakan gejalanya," ucapnya sambil mengulurkan kertas tersebut kepada abi Musthofa.
Abi Musthofa menerima kertas itu dengan tangan yang sedikit bergetar, raut wajahnya tampak begitu sedih dan terpukul. "Baik, Pak. Nanti akan saya bicarakan dulu dengan seluruh keluarga."
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak, Bu. Semoga Bapak Ali segera diberikan kesembuhan," pamit beliau dengan sopan
.
"Aamiin, ya Allah. Terima kasih banyak, Pak," lirih abi dan ummi bersamaan.
Raihan segera mengambil langkah maju. "Abi, biar Rey yang antar Pak Mantri sekalian pergi ke apotek di depan untuk menebus resep obatnya kakek. Raihan pamit ya Abi, Ummi... Assalamu'alaikum," pamit Raihan seraya mencium tangan kedua orang tuanya bergantian.
"Wa'alaikumussalam," jawab abi dan ummi pelan.
Setelah Raihan dan dokter itu keluar dari pintu depan, kekuatan abi Musthofa seolah runtuh. Beliau terduduk lemas di sebelah ummi Salwa, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Pikiran beliau berkecamuk hebat. Merujuk kakek ke rumah sakit besar di kota bukanlah perkara mudah, biaya administrasi, ambulans, dan perawatan intensif memerlukan dana yang tidak sedikit, sedangkan tabungan mereka saat ini sangat terbatas.
Ummi Salwa menyentuh lembut pundak suaminya, mencoba memberikan ketenangan di tengah badai.
"Abi, apa yang dikatakan Rey tadi ada benarnya. Kita tidak boleh menyembunyikan hal ini dari Syifa. Dia berhak tahu kalau kakek yang paling menyayanginya sedang berjuang di atas ranjang sakit. Dan... ummi juga berharap, mungkin kita bisa menceritakan hal ini pada Fadhlan. Sebagai menantu dan seorang pemilik Rumah Sakit di kota, ummi yakin Fadhlan pasti bisa membantu kita menemukan jalan keluar terbaik."
Abi Musthofa menghela napas berat, matanya menatap kosong ke arah lantai.
"Jangan merepotkan Fadhlan, Mi. Pernikahan mereka baru seumur jagung, dan keluarga kita sudah terlampau banyak berutang budi pada kebaikan keluarganya sejak awal. Abi tidak ingin martabat keluarga kita terlihat seperti memanfaatkan posisi Fadhlan yang berkecukupan. Biarlah abi cari jalan lain dulu."
"Tapi Abi, Fadhlan itu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga kita," ummi Salwa mengingatkan dengan suara serak menahan tangis. "Kalau mereka mendengar kabar kakeknya sakit parah seperti ini, mereka juga tidak akan tinggal diam atau membiarkan kita kebingungan sendirian."
Abi Musthofa bangkit perlahan, mencoba menegakkan tubuhnya yang terasa lelah. "Abi akan membicarakannya dulu dengan Andi sore nanti. Semoga saja ada jalan keluar terbaik yang diberikan oleh Allah tanpa harus membebani anak-mantu kita yang baru menata hidup. Abi mau ke dalam dulu, melihat kondisi abah."
"Iya, Abi..."
Ummi Salwa hanya bisa memandang punggung suaminya yang menjauh dengan perasaan pasrah. Di dalam hatinya, keinginan untuk menghubungi Syifa begitu menggebu-gebu. Beliau sangat khawatir jika menunda memberi tahu, Syifa akan merasa sangat terpukul dan marah pada dirinya sendiri kelak. Bagaimanapun, semua orang tahu bahwa Syifa adalah cucu kesayangan kakek Ali. Biasanya, setiap kali kakek mengeluh sakit sedikit saja, Syifalah yang paling telaten berada di sampingnya, menyuapi makanan, menghibur dengan cerita-ceritanya, dan merawatnya tanpa kenal lelah.
...**************...