NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35

"Nata … udahan dong ngambeknya. Iya gue tau kita salah udah nggak bantuin Lo beresin kekacauan yang udah kita buat. Tapi gue janji nggak akan ulangi lagi serius," bujuk Nathan yang sedari tadi di cuekin Natalie

Natalie berdehem pelan menanggapi bujuk rayu Nathan. Matanya fokus menelusuri jalanan di taman.

Nathan mendesah pelan mendengar respon Natalie yang tetap sama. Ia memilih menoleh ke sebrang jalan, di mana terdapat penjual es krim yang terlihat menggiurkan.

Sebuah ide cemerlang muncul di benaknya. Membuat senyum lebar muncul begitu saja.

"Nata, Lo mau es krim nggak? Gue beliin ya?"

Tanpa menunggu jawaban dari Natalie, Nathan langsung melesat pergi meninggalkan Natalie yang hanya diam melihat kelakuannya.

Dengan malas ia duduk di pinggir jalan menunggu Nathan yang entah ke mana perginya. Pamitnya memang membeli es krim. Namun di seberang sana tidak terlihat sedikitpun batang hidungnya.

Sudah terhitung beberapa menit yang lalu Nathan meninggalkannya tidak kunjung kembali. Natalie memutuskan untuk mencari sahabatnya itu daripada mati kebosanan di pinggir jalan.

Brak!

Seorang ibu-ibu berteriak dengan keras sebelum akhirnya sebuah tubuh terhantam mobil truk dengan begitu keras. Darah berceceran hingga di depan matanya.

Deg.

Tubuh Natalie terkulai lemas di aspal. Ia melihat dengan jelas di depan matanya sendiri bagaimana tubuh itu terhantam. Ia menahan napas sampai wajahnya memucat.

Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat kala rotasi matanya melihat dua buah es krim terlempar jauh di dekat kakinya. Natalie memegang dadanya yang terasa seperti tercubit.

Dengan tangan gemetar, ia menekan nomor Nathan. Tak ada jawaban. Hanya suara operator yang menjawab.

Dengan pelan ia berdiri. Memaksa tubuhnya untuk berjalan meskipun rasanya sangat lemas bagaikan jelly.

Semakin dekat, jantungnya berpacu lebih cepat. Rasa sesak semakin memenuhi rongga dadanya.

"Nathan …," lirihnya.

Ia tak bisa melihat dengan jelas tubuh itu akibat orang-orang yang mengerubungi. Ia menahan isak tangis yang tertahan sedari tadi.

Suaranya tak mampu lagi berucap. Semuanya terasa begitu berat baginya.

Dari kejauhan, seseorang melihat Natalie yang menghampiri lokasi kecelakaan. Dengan secepat kilat ia berlari untuk menghampiri Natalie.

Sesampainya di sana, ia langsung merengkuh tubuh perempuan itu. Memeluknya dengan erat sambil menenangkannya.

Natalie mendongak untuk melihat siapa yang sudah memeluknya begitu erat. Saat melihat dengan jelas, tangisnya tumpah begitu saja. Tangannya terkepal erat, hingga kukunya menancap di telapak tangan.

"Nathan, gue takut …." Suara Natalie terpecah, membuat Nathan semakin mengeratkan pelukannya.

"Hei, gue di sini. Lo lihat, gue nggak kenapa-napa, kan."

Nathan membawa tubuh Natalie untuk menepi di pinggir jalan. Duduk di bangku taman yang sedikit jauh dari tempat kejadian.

Tangannya mengusap lembut rambut Natalie. Satu tangannya lagi ia gunakan untuk mengambil es krim yang hampir mencair.

"Nata, es krimnya mau cair. Lo masih mau nggak?"

Natalie menggelengkan kepalanya di pelukan Nathan, membuatnya menghela napas pasrah dengan es krimnya yang terbuang sia-sia.

"Mau pulang?" tawar Nathan yang di balas anggukan singkat.

Nathan hendak melepaskan pelukan Natalie, tetapi Natalie semakin mengeratkan pelukannya.

"Nata, lepas dulu. Gue nggak bisa jalan kalau Lo peluk terus-terusan kayak gini," ujar Nathan.

"Nggak mau," tolaknya.

Nathan hanya menghela napas pasrah, sebelum akhirnya mengeluarkan handphonenya. Ia akan menelpon Fabian agar menjemput mereka di taman menggunakan mobil.

Tak selang beberapa saat kemudian Fabian sudah ada di depannya menggunakan mobil Dewi. Di dalam ada Reyhan juga Darren yang ikut Fabian.

Di mana Darren yang duduk di kemudi dengan Reyhan di sampingnya. Sedangkan di bangku penumpang terdapat Fabian yang duduk manis di sana.

Natalie melepaskan pelukannya sebentar, lalu beralih pada Fabian. Nathan yang melihat perubahan Natalie dalam sekejap akibat adanya Fabian pun hanya melongo di tempatnya.

Semudah itukah berpaling darinya saat ada Fabian, pikirnya.

"Nathan, kamu mau masuk apa nggak? Kalau nggak Kita tinggal nih," teriak Reyhan dari dalam yang menyadarkan Nathan.

Dengan langkah terburu-buru ia langsung masuk ke dalam mobil. Daripada harus jalan kaki kan, mending ikut mereka naik mobil. Ya meskipun rumah Dewi hanya berjarak beberapa meter saja dari taman. Tapi tetap saja melelahkan kalau harus jalan kaki.

"Nata kenapa?" tanya Fabian tanpa suara.

Nathan mengetik sesuatu di handphonenya, yang langsung mendapat anggukan dari Fabian. Ia mengerti sekarang kenapa Natalie tiba-tiba berperilaku seperti itu.

"Nata, gimana tadi jalan-jalannya di taman?" tanya Reyhan tanpa mengetahui situasi yang sedang terjadi di belakangnya.

Nathan mengumpat pelan mendengar pertanyaan Reyhan. Dengan pelan ia mencubit lengan Reyhan, yang langsung mendapatkan cubitan balik.

"Sakit tau," ringisnya.

Nathan melotot kan matanya, mengisyaratkan pada Reyhan untuk diam tidak bertanya apa pun—yang langsung di pahami olehnya.

Natalie menyembunyikan wajahnya ke dada Fabian. Memeluknya dari samping, enggan untuk lepas. Biarlah orang lain menganggapnya ganjen ataupun apa. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah kenyamanan.

Fabian yang peka tangannya mengusap surai Natalie dengan lembut. Mulutnya bersenandung pelan. Mengeluarkan irama lagu yang ia buat sendiri bersama Natalie kala itu.

"Darling,

I know what you're feeling know …

We walk upon roots covered in thorn's …

There's no one left who understand

Sometimes I want to give up on this life

To fly as high as a bird in the sky

… "

Lirik demi lirik lagu Fabian nyanyikan dengan suara lembut—suara yang mampu membuat Natalie merasa tenang. Begitu tenang. Hingga Natalie merasa matanya semakin memberat. Tanpa sadar, Natalie tertidur lelap dalam peluk hangat Fabian.

Di akhir lagu, Fabian meneteskan air matanya. Suaranya yang semula lembut sedikit pecah. Memilin ujung bajunya dengan erat. Sorot matanya penuh akan luka yang dalam.

Nathan memperhatikan itu semua. Mulai dari bagaimana cara Fabian memperlakukan Natalie, hingga bagaimana sahabatnya itu menangis tak kala lagi selesai ia nyanyikan.

Awalnya ia bingung dengan lagu yang Fabian nyanyikan. Karena lagu itu sangat asing di pendengarannya. Namun kini ia paham. Lagu yang Fabian nyanyikan adalah buatannya sendiri.

Ia cukup tersentuh dengan makna lagu itu. Sangat menggambarkan keadaan keduanya saat ini.

Reyhan menyodorkan tisu ke arah Fabian, yang di sambut dengan kerutan di dahinya.

"Ingus kamu kena rambut Natalie," ucap Reyhan sedikit bercanda.

Karena nyatanya, tidak ada ingus yang ia maksud.

"Kamu ternyata bisa nangis juga ya," celetuk Darren tiba-tiba.

"Manusia."

Darren memutarkan bola matanya malas mendengar jawaban Fabian. "Ck, iya tau. Tapi maksud aku tuh kamu bukan tipikal orang yang cengeng."

Tidak tahu saja Darren kalau Fabian sebenarnya sering menangis di depan sahabatnya. Kebetulan ia nangis sekarang karena nyanyi sambil menikmati arti lagunya. Terlalu terbawa suasana.

Kalau nyanyi lagu balonku ada lima pun, pasti nggak akan nangis dirinya.

.

.

.

1
Lvlly nb
Huwaaa, aku baru sadar nama bundanya Nathan sama kayak tantenya Natalie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!