Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Alasan
Dua hari kemudian...
Lisa mulai panik di kamarnya karena ayahnya masih juga belum berangkat ke perusahaan, sedangkan ia harus membuat Lania pergi untuk berangkat syuting.
Tok.tok.tok...
"Lisa... ini mama," kata Amel.
"Masuk mah," jawab Lisa.
Amel membuka pintu kamar putrinya seraya melangkah masuk ke dalam.
"Bagaimana mah?" tanya Lisa.
"Ssstttt... jangan keras-keras, papa masih di bawah."
"Haduh... terus bagaimana? Anne sebentar lagi menjemputku."
"Tak bisakah kau mengundur waktunya beberapa jam lagi? mama belum berhasil mendapatkan ide agar papa pergi dari rumah."
"Mana bisa, jika aku mengulur waktunya lagi, kru pasti akan mengamuk. Apa mama lupa jika aku sudah membatalkannya 2 hari yang lalu karena kakiku terkilir?"
"Tentu saja mama tidak lupa, tapi harus bagaimana lagi nak?"
"Lania, bisakah mama bicara dengan anak sialan itu? katakan padanya untuk mencari cara agar bisa keluar dari rumah ini."
"Kau benar juga, mama akan bicara dengannya. Bagaimana kondisi kakimu hari ini?"
"Haisssss... bukan waktunya membicarakan masalah kakiku mah. Cepatlah menemui Lania. Aku tidak mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membayar denda melanggar kontrak jika sampai hari ini gagal melakukan syuting lagi."
Amel menghela nafas panjang, "baiklah, mama akan keluar sekarang."
Lisa hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan ibunya keluar lagi dari kamarnya.
...****************...
Amel menerobos masuk ke dalam kamar Lania. Sontak Lania terkesiap karena sedang melamun sambil menatap keluar jendela kamarnya.
"Nyonya..." ucap Lania.
Amel melihat kaki Lania, "kau seharusnya sudah sembuh kan? kau ingat hari ini harus menggantikan Lisa syuting kan?"
Lania menganggukkan kepalanya, walaupun kakinya masih sedikit nyeri namun ia tidak bisa mengeluh. Yang bisa ia lakukan adalah mengikuti semua keinginan Amel.
"Tapi kita punya masalah," ucap Amel.
"Ada apalagi nyonya?"
"Papamu masih ada di rumah. Aku kehabisan ide untuk membuatnya pergi. Lisa tidak bisa membatalkan syutingnya, jika ia melakukannya, kita bisa jatuh miskin karena harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar pelanggaran kontrak. Jadi pikirkanlah solusinya agar bisa keluar dari rumah ini."
"Sebenarnya ini bukan masalahku, Lisa yang harus bertanggung jawab. Ingin sekali aku mengatakan itu, tapi aku tidak bisa. Jika terjadi masalah, kenapa aku yang harus menyelesaikannya? Aku lelah dengan semua ini. Seandainya aku bisa kabur dari sini dan meninggalkan semuanya. Seandainya keselamatan papa tidak terancam. Seandainya aku tidak punya hutang budi pada mereka. Seandainya aku bisa memiliki hati yang kejam dan tidak perduli dengan apapun," pikir Lania sedih.
Amel mendekati Lania seraya mencengkeram kuat kedua lengannya.
"Berani sekali kau mengabaikan aku," ucap Amel geram.
Lania meringis kesakitan, "sakit nyonya, aku tidak mengabaikan anda... aku sedang memikirkan caranya."
Amel melepaskan tangannya, "seharusnya kau jawab terlebih dahulu baru berpikir."
"Iya nyonya maaf."
"Apa kau sudah punya ide?"
Lania menggelengkan kepalanya.
"Anne sudah mau menjemput Lisa, sebaiknya kau cepat pikirkan caranya. Ingat Lania, kau harus memikirkan cara yang tidak merugikan kami. Awas saja jika kau berani menjebakku dan Lisa."
"Aku tidak akan berani nyonya."
"Keluarlah 15 menit lagi, kau harus bicara dengan papa."
Lania menganggukkan kepalanya.
"Cobalah berjalan, aku ingin melihatnya," perintah Amel.
Seketika Lania berjalan maju, sedikit tertatih karena masih terasa sakit sekali. Lania berusaha menahannya tapi tetap saja tidak bisa.
"Apa kau mau melakukan syuting dengan cara seperti itu? apa kau ingin menghancurkan reputasi Lisa sebagai artis yang profesional?"
"Tidak nyonya, tapi kakiku..."
"Aku tidak perduli," sergah Amel, "kau harus berusaha seperti biasanya. Jika kau melakukan syuting dengan kakimu yang seperti itu, kau pikir sutradara nanti tidak akan mengamuk? Ingat Lania, kau itu Lisa. Lisa yang selalu menjadi sorotan publik, Lisa yang memiliki reputasi luar biasa. Jangan coba coba menjadi Lania yang lembek," imbuhnya.
Lania menundukkan kepalanya, setiap kali ia mendengar ucapan Amel, selalu saja menyakiti hatinya. Hatinya sangat terluka sehingga selalu saja tak kuat menahan air matanya.
"Lania... apa kau mendengarkanku?"
"Iya nyonya."
"Coba jalan lagi," perintah Amel.
Lania menarik nafasnya dalam-dalam, ia pun berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sakitnya hingga berjalan seperti biasa di depan Amel.
"Bagus, tetaplah seperti itu saat syuting nanti. Jika kau berani mempermalukan Lisa, aku akan meracuni papamu dan membuatmu menjadi tersangkanya. Percayalah aku bisa melakukannya," ancam Amel.
Lania menelan saliva-nya, lagi-lagi ia mendapat ancaman yang menakutkan seperti itu.
"Waktumu tinggal 10 menit lagi," kata Amel seraya meninggalkan kamar Lania.
Lania menghela nafas panjang, ia segera duduk di tepi ranjangnya. Wanita itu mengangkat kakinya yang terluka seraya mengusap-usap telapak kakinya dengan lembut untuk menghilangkan rasa nyerinya.
"Apa yang harus aku lakukan? bagaimana caranya mencari alasan untuk bisa keluar? Tuhan, bantulah aku," pikir Lania.
Lania terus berpikir dengan keras, waktu yang diberikan Amel hampir habis. Ia harus mencoba keberuntungannya lagi. Lania pun segera beranjak dari sana seraya keluar dari kamarnya. Ia berusaha berjalan se-normal mungkin agar ayahnya setuju dengan alasan yang akan ia katakan.
Dengan langkah perlahan, Lania menuruni anak tangga. Dilihatnya Juanda bersama Amel sedang berada di ruangan santai. Lania pun segera mendekati mereka.
"Pah... masih di rumah?" tanya Lania.
Juanda mendongakkan kepalanya, "iya sayang, hari ini tidak ada pekerjaan penting di perusahaan. Papa ingin berada di rumah bersama kalian. Bagaimana dengan kakimu nak?"
"Sudah baik-baik saja, hampir sembuh total. Pah..."
Lania menghentikan ucapannya membuat Juanda menyipitkan matanya.
"Ada yang ingin kau katakan? katakan saja nak, jangan takut," sahut Amel.
"Benar kata mama, jika kau menginginkan sesuatu, katakan saja pada papa."
Lania menarik nafasnya dalam-dalam, lalu wanita itu menatap Juanda dan Amel secara bergantian.
"Bolehkah Lania keluar sebentar?" tanya Lania.
"Keluar? kemana nak? kakimu masih belum sembuh total," kata Juanda.
"Mengunjungi dokter psikiater. Tapi kalian tidak perlu khawatir, dokter ini sangat profesional. Ia tidak akan mengungkapkan identitas pasiennya. Ia juga membuka praktek di rumahnya, jadi Lania tidak akan diketahui oleh siapapun. Lania sudah berpikir selama 2 hari ini agar bisa sembuh pah, mah."
"Darimana kau tahu tentang dokter ini?"
"Lania terus mencarinya lewat internet. Lania janji ini tidak akan merugikan siapapun, aku hanya ingin sembuh."
"Lania sayang, bukannya kami tidak ingin kau sembuh. Tapi ini juga demi kebaikanmu, kami hanya takut kau menderita nak," kata Amel.
"Benar nak, kau itu seorang gadis. Jika sampai penyakitmu diketahui, maka kau akan hancur nak," sahut Juanda.
"Kalian jangan khawatir, dokter ini sangat terjamin. Aku sudah mencari tahu selama 2 hari ini. Pah, mah... tolong izinkan Lania untuk pergi hari ini."
"Jika kau bersikeras, baiklah papa setuju. Tapi papa yang harus mengantarkanmu."
"Biar mama saja yang mengantarkannya," sahut Amel, "papa tetaplah di rumah untuk menjaga Lisa, biar mama yang mengurus Lania," imbuhnya.
"Terima kasih mah, aku bisa lebih tenang jika seperti itu. Lania sayang, papa harap kau bisa mengatasi ini semua. Mama... tolong perhatikan Lania agar tidak dilihat orang lain."
"Papa tenang saja, aku akan menjaganya dengan baik. Lania, apa kau sudah siap sekarang?"
Lania menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu mama ambil tas sebentar, lalu kita berangkat."
"Iya mah."
Beberapa menit kemudian, Amel keluar dari kamarnya sambil membawa tasnya.
"Pah, sepertinya Lisa membutuhkan sesuatu. Tolong papa bantu ya," pinta Amel.
Juanda menganggukkan kepalanya seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Kalian berhati-hatilah," kata Juanda seraya meninggalkan mereka menuju kamar Lisa.
Amel terus menatap suaminya hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Apa kau tidak bisa memikirkan alasan lain? kau nyaris saja tidak berhasil jika papa mengikutimu," celetuk Amel.
"Tidak akan gagal nyonya, karena dokter itu memang benar-benar ada. Aku sengaja melakukannya untuk berjaga-jaga jika papa curiga. Lalu bagaimana?"
Tin.tin...
Sebelum Amel menjawab pertanyaan Lania. Justru terdengar suara klakson mobil di depan rumah mereka.
"Sepertinya itu mobil jemputan Lisa. Anne sudah tiba. Kau jangan ikut campur soal aku. Keluarlah dari rumah dan masuk ke dalam mobil Anne. Aku akan pergi dengan mobilku sendiri, kebetulan ada barang-barang yang harus dibeli. Saat kau sudah selesai, segera hubungi aku agar kita bisa bertemu di depan pintu gerbang sebelum papamu sadar kita telah membohonginya."
Lania menganggukkan kepalanya.
"Ingatlah Lania, kau keluar hanya sebagai Lisa," ucap Amel.
Lania hanya bisa terus menganggukkan kepalanya. Keduanya pun keluar dari rumah Furhet bersamaan.
...****************...
Happy Reading All...
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣