Bastian, gak sebaik dan gak sesempurna yang kalian kira guys. Lihat kisahnya disini, dimana dia hanya menyewa seorang wanita, hanya untuk memenuhi keinginan sang mama, untuk memberikannya cucu.
Tara, terpaksa mau untuk menolong keluarganya, hal yang makin membuat bastian benci sekaligus mulai sayang padanya, tapi bastian terlalu bodoh dan gensi untuk mengakuinya.
Bagamana kisah bastian.
Masih pada inget sosok bastian gak?
udah pernah saya post, satu part, mau dilanjutkan di buku baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 - HONEYMOON
"Ta, ihh kamu ngiler."
Bastian dan tara masiu tertidur pulas dipelukan Bastian, kepalanya berada tepat didada bastian yang bidang. Tara langsung bangun ketika mendengar ucapan bastian.
"Apaan enggak." protesnya mengusap sekitar bibir dan menatap bastian, yang sejak tadi sudah menatapnya.
Cupp.. satu kecupan malah bastian berikan pada tara, tepat dibibir ketika tara mendongak protes menatapnya.
"Ihhh..." kesal tara memukul dada bastian. "gih mandi, cariin makanan, aku laper mas."
"Siap buat nyonya bastian." bastian kembali mencoba meraih bibir tara, menciumnya dengan susah payah karena tara mencoba menghindarinya. Tapi akhirnya berhasil. Bastian bergegas ke kamar mandi, mandi dan mengenakan bajunya lalu mengambil telpon untuk membuat pesanan sarapan pagi.
Sementara tara juga sudah bangun, terududuk dan masih mencoba mengumpulkan nyawanya. Tara membuka selimutnya, melihat bawah kasurnya.
"Kenapa ta?" tanya bastian yang sejak tadi memperhatikan tara, tak mau lepas pandangannya dari tara.
"Gak papa." tara menggeleng seperti anak kecil setelah puas memeriksa milikinya.
"hihh... udah aku bobol, emang kenapa?" tanya bastian sedikit tertawa. Tara hanga menatap bastian sinis, dia turun dengan selimut yang melilit tubuhnya.
"Sakit apa ta?" tanya bastian lagi yang melihat tara berjalan pelan.
"Iyalah, dikira enggak." ketusnya, langsung masuk ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandinya dengan keras.
"Kenapa tuh anak kecil, marah gue bobol, kesel, atau kesakitan banget?" bastian geleng-geleng melihat sikap tara. Lucu tapi aneh? kayak marah? tapi semalem juga nikmatin berdua.
Pesanan sarapan milik bastian datang, bastian keluar untuk mengambil pesanannnya. Lalu kembali ke kamar mandi untuk mengecek tara.
"Mas tian, ambilin handuk dong." pinta tara, yang lupa bawa handuk, pakaian, masuk doang tadi ke kamar mandi karena sudah lengket semuanya.
Bastian malah punya ide jail, dia mengambilkan menarik handuknya dan ikut masuk ke kamar mandi.
"Mas tian, mau apa lagi? masih sakit tau. Udah sana." tara mencoba mengusirnya dari kamar mandi, dengan badan telanjang bulat dan tangan yang mencoba menutupi dua bagian terpentingnya, ya tapi tetap saja keliatan.
"masih malu aja, ta. Aku udah liat semuanya kok semalam." bastian tersenyum puas tak henti menatap setiap inci dari badan tara. .
"Ya udah, sana kan udah liat semuanya." tara sangat kesal pada tingkah laki-laki didepannya.
"iya. cuma pengen liat. Aku pakein anduknya, kasian adeknya nanti kedinginan." bastian memakaikan handuknya, lalu keluar.
Bastian menunggu tara di ruang makan. Sementara sibuk memakai pakaiannya. Dia yang sudah kelaparan langsung ke ruang makan, duduk disamping bastian dan memakan sarapan pagi di hotel. Baru masuk sekali makanannya, tara sudah merasa ada sesuatu, tak enak dalam perutnya.
"Uekk..." tara menahan mulutnya yang hampir muntah. Tara langsung berlari ke kamar mandi.
"Ta, kenapa?" baru kali ini bastian melihat tara muntah, biasanya juga tidak apa-apa. Bastian langsung menyusul tara ke kamar mandi, membantu mengusap punggungnya. Baru sekali makan, yang keluar malah berkali-kali, tak ada apapun, hanya muntah kosong.
Setelah beberapa kali muntah, tara jadi tak nafsu makan. Bastian membanti tara istirahat di sofa.
"Mau makan apa?" tanya bastian yang memberikan minuman untuk tara. Tara hanya menggeleng, tak ingin makan apapun, rasanya tak nyaman. Dia mengambil minum dari tangan bastian dan menghabiskannya, mungkin bisa sedikit mengganjal.
"Makanan hotelnya gak enak ya? biar aku protes sama pihak hotelnya ya. Bentar." bastian akan beranjak, mau protes ke pihak hotel, bukan makanannya yang bermasalah, tapi perutnya tara. Tara menahan tangan bastian.
"Perut aku gak enak. Cari ice cream aja yuk mas. Sekalian jalan-jalan." pinta tara, hanya satu yang dia pikirkan, ice cream.
"Ya udah. Lemes gak buat jalan?" tanya bastian, menuruti permintaan tara. Tara menggeleng.
Bastian dan tara keluar hotel, jalan-jalan menikmati pemandangan bali dipagi hari, sekitar pukul tujuh pagi mereka keluar keliling bali, mencari supermarket terdekat dan mencari ice cream.
"Tante itu ice cream punya Bela, bela yang lihat duluan." seorang anak kecil perempuan, berebut ice cream dengan tara yang akan mengambilnya. Ice cream kerucut dengan rasa coklat.
"Yang ambil tantenya dulu. Lepasin gak?" kata bastian tak terima, dia melotot dan memarahi bela, usianya sekitar 6 tahun. Tinggal satu rasa coklat, kesukaan tara, dan mengingat bayi didalam perut tara, bastian tak mau memberikan ice creamnya.
"Mas, lepasin kasian anak kecil. Masak kamu rebutan ice cream sama anak kecil." tara meminta bastian untuk melepaskan tangannya dari ice cream itu.
"Enggak, ini buat anak kita, ta. Biar sia cari yang lain." bastian menggeleng.
"Ini juga ice cream kesukaan bela, bela gak mau lepasin ice creamnya." bela juga gak kalah keras kepalanya.
"lepasin gak." bentak bastian.
Karena tidak ada yang mau melepaskan, bastian dan bela saling menarik ice cream itu, hingga ice creamnya perlahan meleleh. Pertugas supermarket yang melihatnya langsung melotot pada bela dan bastian.
"siapa yang mau bayar?" tanya petugas wanita supermarket itu yang berdecak pinggang.
"Dia." bastian menunjuk bela. Bela menunjuk bastian.
Tara gak habis pikir, gimana kalau anaknya cewek, bisa seperti ini kah? bertengkar dengan Bastian.
"Ya ampun mas tian, disuruh ngalah sama anak kecil aja gak mau."
"Ada yang lebih kecil, ta." bastian menunjuk perut tara. Ya emang bener sih.
"Suami saya yang bayar mbak. Maaf." kata tara melirik bastian, memintanya untuk membayar. Bastian pun akhirnya membayar. Sementara Bela menangis, mengadu pada babysisternya.
"Hwueee... mbak omnya nakal. Ice cream kesukaan bela habis karena si omnya yang jahat. Bela cuma mau makan ice cream itu aja. Bela gak mau makan kalau belum makan ice cream kesukaan bela." Bela menangis kencang, mengadu pada babysusternya.
"Mas, tara juga mau ice creamnya, gak enak kalau sarapan biasa. Aku cuma mau ice cream." tara juga ikut merajuk seperti bela.
"Kita cari kedai ice cream aja, yuk."
bastian bertanya pada penjaga supermarket, dimana kedai ice cream yang tak jauh dari sana.
"tante, bela ikut ya. Bela punya uang kok, mau beli ice cream juga." Bela tanpa izin menahan tangan tara. Rasanya senang, seperti ditahan oleh anaknya, anak perempuannya.
"Boleh. Tante yang traktir karena suami tante udah jatuhin ice creamnya bela." kata tara dengan lembut.
"Gak boleh. Ke kedai sendiri aja, dan gak usah ditraktir ta. Dia yang jatuhin ice creamnya, bukan aku." Bastian tak mau kalah.
Bela menatap sinis bastian, "Tante yang cantik sama baik, kenapa mau sama om jahat ini. Tante mau gak bela kenalin ke papa bela, yang lebih tampan dari om jahat ini." Bela terus menunjuk dan menyebut bastian om jahat, "papa bela selain tampan juga baik, gak kayak om jahat ini."
"Iya emang jahat, awalnya juga cuma dikontrak buat kasih anak." sindir tara malah ikutan menjelekan suaminya sendiri.
"Sama papa bela aja ya tante. Nanti papa bela bakalan jemput bela, nanti bela kenalin."
Bastian makin melotot menatap bela.
-
hayoloh bas..
hahahaa...
belibet..
krn sepasinya trlalu panjaang kadang bikin gk nyambung jadinya
💪💪💪💪💪
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
sukses selalu thor suka banget ceritanya
ditunggu cerita selanjutnya
semangat
💪💪💪💪💪💪