Nafisha merasa hidupnya baik-baik saja.
Meski sering terlambat, sering dihukum guru BK, dan kerap terlibat masalah karena membela teman-temannya, setidaknya ia masih bisa menjalani hari-harinya bersama Rendi—sahabat yang selalu ada untuknya.
Sampai suatu hari semuanya berubah.
Sebuah kesalahpahaman membuat nama Nafisha menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Dan tanpa sepengetahuannya, kedua orang tuanya telah menyiapkan keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Perjodohan.
Lebih buruk lagi, pria yang dijodohkan dengannya adalah Andrea—guru BK yang paling sering menghukumnya di sekolah.
Nafisha tidak pernah membayangkan harus hidup berdampingan dengan pria menyebalkan itu.
Namun semakin keras ia berusaha menjauh, semakin sering takdir mempertemukan mereka.
Mampukah Nafisha menerima takdir yang telah ditentukan untuknya? Saat guru BK yang selalu membuatnya kesal itu ternyata adalah pria yang harus bersanding dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dira.aza07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Reksa membelalakkan kedua matanya. Lalu dengan gerak cepat iya berlari menghampiri Andrea yang hampir saja melewati pos satpam di dekat gerbang itu.
"Eh Pak, kenapa balik lagi? Ada yang ketinggalan?" tanya Reksa sok akrab.
"Orang tua Nafisha nelepon Bapak, katanya belum pulang, Apa kamu lihat dia di sekolah ini?" tanya Andrea sambil culingak-culinguk ke arah sekolah.
"Emm gak tuh Pak," timpal Reksa dengan suara kencang.
Nafisha terperanjat, ia langsung bersembunyi di bawah meja. Jantungnya berdetak kencang tidak karuan.
"Ya sudah biar Bapak telepon saja, mungkin dia ke pantai," ujar Andrea dengan mengambil ponsel dari sakunya.
Dret dret...
Suara getaran di meja satpam itu terdengar jelas. Membuat Andrea menyipit dan melihat ke arah ruangan satpam itu yang berkaca.
Reksa membisu.
Ya ampun sa, ngomong dong jangan diam aja, keluh Nafisha dalam hatinya. dengan tangannya yang masih bergemetar.
"Mmm Pak, biar aku cari lagi di dalam, nanti kalau ada biar aku yang antar," ucap Reksa akhirnya.
"Mm boleh, kabari ya ada atau tidak," ucap Andrea dan ia pun berlalu dari tempat itu.
Sementara satpam itu tengah berdiri di dekat mereka sejak tadi, hanya saja tidak ikut bersuara.
"Ayo Pak, kita duduk lagi," ajak Reksa dengan suara kencang.
Nafisha yang berada di kolong meja itu mengusap dadanya. Lalu perlahan ia kembali duduk, tangannya bergerilya di atas komputer dengan lihai.
Hitungan menit akhirnya ia selesai. Ia berjalan mengendap-endap saat fokus satpam itu teralihkan oleh Reksa.
Setelah itu, tidak lama Reksa pun meninggalkan parkiran dan memasuki area sekolah.
"Gimana sudah dapat?" tanya Reksa.
Nafisha mengangguk dan melihatkan flashdisknya.
"Sini biar aku cek di rumah, hasilnya kita buat mereka tahu akibatnya, kita pulang, ortumu nyari," ajak Reksa dengan meraih tangan Nafisha.
Sesampainya di parkiran.
"Eh ada neng Nafisha? Ngapain di dalam Neng?" tanya Satpam itu.
"Cari sesuatu di kelas. Pak," ujar Nafisha singkat.
Lalu ia menaiki motor Reksa, dan memegang kameja Reksa dengan canggung. Reksa dengan santai menarik lengan Nafisha.
"Lepas ih!" sentak Nafisha dengan menarik paksa lengannya.
Ia merasa risih akan sikap Reksa.
"Sorry, gue cuma khawatir sama Lo," ujar Reksa santai.
Nafisha mengernyit.
"Modus," timpal Nafisha dengan mendelik.
"Ya udah Soryy ya," ujar Reksa. "Nanti Minggu jadi ya, dan kalau benar ini ulah mereka, kita buat mereka malu saat acara malam taun baru. Bagaimana?"
"Wah..., Reksa benar yang terbaik," puji Nafisha dengan bangga.
Tapi tiba-tiba hatinya teringat Rendi.
Coba yang begini itu Rendi ya, tapi Rendi itu Cemen, malah seringnya gue yang bantu bukan itu cowok, pikir Nafisha dengan memajukan bibirnya.
Saat pikiran itu mulai teringat sahabat masa kecilnya sekaligus pemuda yang ia kagumi sejak lama, ia jadi badmood. Nafisha merasa sedikit kecewa terhadap lelaki itu. Harusnya yang selalu ada untuknya bukan Reksa melainkan Rendi. Tapi Rendi hanya sibuk bekerja untuk makan keluarganya. Jarang sekali bermain atau ada waktu dengannya, seandainya saja tidak sebangku mungkin Nafisha tidak akan bisa sedekat itu dengannya.
"Nafisha, Lo baik-baik aja?" tanya Reksa yang meliriknya lewat kaca spion.
Nafisha masih terdiam. Bahkan pria di depannya begitu banyak membantunya. Sudah membantunya sekarang mengantar pulang pula.
Rendi?, pikir Nafisha.
Ia melirik ke arah kaca spion.
Deg...
"Rendi?"
Bersambung...