NovelToon NovelToon
Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Balas Dendam Istri Yang Dianggap Buta

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:28k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Setelah mengalami kebutaan selama bertahun-tahun, Samira Hadid justru mendapatkan kembali penglihatannya lewat kecelakaan jatuh yang melukai kepalanya.

Ia kembali melihat dunia yang dulu terasa gelap. Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama saat ia melihat suaminya memeluk wanita lain di dapur rumah mereka.

Terkepung rasa sakit dan kemarahan, Samira memutuskan untuk tetap berpura-pura buta dan mengamati semua permainan licik sang suami.

Lalu, ia mulai memutuskan pembalasan dendam. Ia bertekad untuk mengambil kembali semua yang telah suaminya rebut dan mencari kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Malam turun perlahan, membungkus sudut kota dengan cahaya lampu jalan yang redup. Di sebuah kafe kecil yang jauh dari pusat keramaian, Christy duduk di sudut ruangan paling tersembunyi. Topi dan kacamata hitamnya belum dilepas, meski hari sudah gelap. Ia tidak ingin dikenali.

Beberapa menit kemudian, seorang pria bertubuh tinggi dengan jaket kulit hitam masuk dan langsung menghampiri mejanya. Wajahnya datar, langkahnya tenang, seolah pertemuan seperti ini bukan hal baru baginya.

“Maaf membuatmu menunggu, Nona,” ucap pria itu pelan sambil duduk tanpa menunggu dipersilakan.

Christy menatapnya tajam. “Jangan banyak basa-basi, James. Aku hanya ingin tahu satu hal. Apakah kau sudah menyelesaikan tugasmu?”

James menyandarkan punggungnya ke kursi. “Mobilnya ringsek di bagian belakang. Tidak ada korban serius. Seperti yang Anda minta.”

Christy tersenyum tipis. Senyum puas. “Bagus.” Ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan amplop tebal. “Kau bekerja rapi dan tidak meninggalkan jejak, bukan?”

Pria bernama James itu mengangguk yakin> “Tanpa jejak yang bisa langsung mengarah pada siapa pun.”

Christy mendorong amplop itu ke arah James. “Bagus. Ini sisanya. Sesuai kesepakatan.”

James membuka sedikit amplop itu, memastikan isinya. Jumlahnya besar, cukup untuk membuat siapa pun tergoda.

“Senang bekerja sama dengan Anda, Nona,” katanya singkat.

Namun Christy belum selesai. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. “Ada satu tugas lagi,” ujarnya pelan, sorot matanya berubah lebih dingin. “Tetapi kali ini bukan untuk Samira.”

James mengangkat alis. “Oh? Lalu untuk siapa?”

“Aku ingin kau meneror pria yang ada di foto ini.” Christy menunjukkan foto Rayhan yang masih tersimpan di ponselnya kepada James. 

Pria itu terdiam beberapa detik. “Sejauh apa?”

“Kau hanya perlu membuatnya takut saja,” jawab Christy tanpa ragu. “Buat dia berpikir bahwa mendekati Samira hanya akan membawanya ke masalah. Aku ingin dia menjauhi perempuan itu, bagaimana pun caranya.”

James menatapnya sekilas, mencoba membaca batas yang tak diucapkan. “Tidak sampai membunuhnya, kan?”

Christy tersenyum tipis. “Aku hanya ingin dia berhenti mengejar Samira dan kembali padaku. Jika kau sampai membuatnya terluka, sedikitpun, aku tak akan mengampunimu,” ucapnya tegas. 

Ia menyandarkan tubuhnya, jemarinya saling bertaut. “Buat teror itu terlihat seperti peringatan saja. Jangan terlalu berlebihan.”

James mengangguk pelan. “Baik.”

***

Malam itu, Samira dan Rayhan sibuk dengan pekerjaan baru mereka. Keduanya duduk di ruang kerja Rayhan, membahas kemungkinan pelaku insiden mobil yang menimpa Samira. 

Dokumen-dokumen berserakan di atas meja, laptop menyala dengan rekaman CCTV jalan yang sedang mereka telaah.

“Aku tidak suka perasaan ini,” gumam Rayhan. “Seolah ada yang sengaja mempermainkan kita.”

Samira berdiri di dekat jendela besar yang menghadap halaman depan. Tirai belum sepenuhnya tertutup. Lampu taman menyinari rumput yang basah oleh embun.

“Aku juga tidak menyukainya,” katanya pelan.

Belum sempat Rayhan menjawab, terdengar suara keras yang memecah keheningan.

Sebuah batu besar menghantam kaca jendela dengan brutal. Kaca itu retak dalam sepersekian detik sebelum pecah berhamburan ke dalam ruangan.

Samira terkejut dan refleks mundur beberapa langkah ke belakang. “Astaga!” pekiknya terkejut. 

Rayhan berdiri cepat, tetapi serpihan kaca yang beterbangan tak sepenuhnya bisa ia hindari. Sebuah pecahan tajam mengenai dahinya.

“Akh!” Ia meringis, tangannya spontan menyentuh keningnya. Ia merasakan darah langsung mengalir cukup deras dari luka di atas alisnya.

“Rayhan!” Samira menjerit panik.

Di lantai, batu besar itu tergeletak dengan secarik kertas terikat padanya. Rayhan mengambilnya, lalu membaca pesan yang tertulis di kertas itu. 

“Jauhi Samira?” Rayhan mengernyit. Begitu pun dengan Samira. 

Tulisan itu tercetak tebal dan kasar. Rayhan mulai memikirkan satu nama yang mungkin berani melakukan hal memalukan seperti ini kepadanya. 

Namun Samira tidak sempat memikirkan isi ancaman itu. Perhatiannya tertuju sepenuhnya pada darah yang menetes di wajah Rayhan.

“Ya Tuhan! Kau berdarah!” seru Samira panik. Tangannya gemetar saat memeriksa dahi Rayhan yang terluka.

Rayhan meringis, perih. “Aku tidak apa-apa—”

“Diam!” potong Samira dengan nada panik yang jarang terdengar darinya.

Ia memegang lengan Rayhan dan menariknya menjauh dari jendela. “Kita ke ruang keluarga. Kita harus segera mengobatinya.”

Rayhan menurut, meski masih mencoba menenangkan situasi. “Ini hanya luka kecil, Samira. Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja.”

Namun darah di dahinya berkata sebaliknya. Cairan merah itu mengalir melewati pelipisnya, menodai kerah kemeja putihnya.

Tangan Samira gemetar saat mengambil kotak P3K. Ia berlutut di depan Rayhan, dengan kapas dan antiseptik di tangannya.

“Kenapa kau selalu bilang tidak apa-apa padahal jelas berdarah seperti ini?” gumamnya dengan suara yang hampir pecah.

Rayhan menatapnya. Ia jarang melihat Samira setakut ini. Tetapi, melihat Samira yang begitu mengkhawatirkannya, cukup membuatnya senang. Karena setidaknya ia tahu bahwa Samira, setidaknya mulai perhatian padanya. 

“Apa kau tahu bahwa aku lebih takut melihatmu terluka?” lanjut Samira pelan. “Daripada diriku sendiri.”

Tangannya dengan hati-hati membersihkan luka itu. Rayhan meringis kecil saat antiseptik menyentuh kulit terbuka. 

“Maaf,” bisik Samira cepat.

“Tidak apa-apa, lanjutkan saja, aku akan menahan rasa sakit apapun itu demi dirimu,” jawab Rayhan lembut.

Samira mengernyit, lalu memukul pelan lengan Rayhan pelan sambil tersenyum malu. “Ini bukan waktunya untuk menggoda.” 

Rayhan tersenyum lembut, merasakan sentuhan tangan Samira yang begitu telaten membalut lukanya. 

Setelah darahnya mulai berhenti, Samira menempelkan kasa dan plester dengan hati-hati. Jemarinya masih sedikit gemetar.

Rayhan meraih tangannya. “Samira. Lihat aku,” katanya pelan.

Samira mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca.

“Aku tidak akan menjauh darimu hanya karena ancaman seperti ini,” ucap Rayhan tegas. “Jika mereka berpikir ancaman kecil ini bisa membuatku takut, mereka salah.”

“Tapi kau bisa saja terluka lebih parah tadi,” balas Samira lirih. “Beruntung pecahan kacanya hanya menggores dahimu. Bagaimana jika kau terluka lebih parah dari ini?” 

Rayhan tersenyum tipis, meski luka di dahinya masih terasa perih. “Tidak masalah, sudah kukatakan bukan? Aku bisa menerima semua rasa sakit demi dirimu.”

Samira menggenggam tangannya erat. “Kenapa kau begitu konyol, Ray?”

Sementara di luar, suara mesin motor terdengar menjauh, James telah menyelesaikan tugasnya dan pergi tanpa jejak.

Namun ancaman itu justru berbalik arah.

Alih-alih membuat Rayhan menjauh, kejadian malam itu justru memperkuat tekadnya.

Dan di tempat lain, Christy tersenyum puas saat menerima pesan dari James, ia sama sekali belum tahu bahwa rencananya telah menyulut sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar ketakutan.

Di ruang keluarga yang kini dipenuhi pecahan kaca dan sisa ketegangan, Samira menatap kertas ancaman itu dengan rahang mengeras. 

“Siapapun yang mencoba mengusikku dan kehidupanku, aku tidak akan tinggal diam. Cepat atau lambat aku pasti akan menemukanmu dan membalas semua perbuatanmu,” gumam Samira dengan yakin. Ia menyobek-nyobek kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. 

1
Thewie
semangat Thor.. hajar para ulat bulu
Endang Lestiowati
Luar biasa
awesome moment
ternyata kere
awesome moment
😄😄😄takut y? takut kismin tp...nyolong. gmn dunk
awesome moment
🤭bnr2 buzuk mokondo tu org
awesome moment
klo sdg sndri suusnla strategy
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Semoga kalian berbahagia 😁
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
akhirnya Samira sadar😭😭😭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Akhirnya kalian tertangkap 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu kuat Samira 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
awas kalian 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
apa pak Arman meninggal? 😭😭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Hati" Samira,nyawamu terancam 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Bersiaplah James
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang kau menjadi lebih kuat Samira 👍🏻
HK: Gak boleh menye-menye lagi 🤸
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tak Sudi 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Enak saja 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
psikopat 😏
HK: Bener-bener sikopet 😌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!