"Bunda, kenapa Lily tidak punya Papa?"
Luna hidup sebagai single mom dengan dua anak kembar yaitu El dan Lily. Gala, kekasihnya meninggalkannya ketika Luna sedang mengandung anak mereka.
Setelah 7 tahun berselang, Gala kembali ke hidupnya. Tapi hidup Luna sudah berubah. Ada Alif di sisinya.
Luna belum siap untuk membuka hati. Tapi Lily selalu menanyakan hal yang sama kenapa dia tidak punya Papa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Gala Datang
Gala sampai di sekolah. Dia melangkah menuju gedung utama. Jasnya rapi, langkahnya mantap. Tatapannya menyapu cepat sekeliling, mencari petunjuk arah.
Seorang satpam mendekat. “Selamat pagi, Pak. Bisa saya bantu?”
“Saya dipanggil dari sekolah. Anak saya di UKS,” jawab Gala singkat.
Satpam itu langsung mengangguk. “UKS ada di gedung sebelah kanan, Pak. Lantai dasar. Saya antar.”
“Terima kasih,” ucap Gala.
Mereka berjalan berdampingan. Di koridor, suara kelas sedang berlangsung terdengar samar. Guru berbicara, lalu murid menjawab serempak.
Langkahnya berhenti di depan pintu bertuliskan UKS.
Satpam mengetuk ringan, lalu membuka pintu.
Ruangan itu bersih dan terang. Dua ranjang kecil berjajar rapi. Di salah satunya, Lily terbaring dengan selimut tipis menutupi tubuhnya. Wajahnya pucat, rambutnya sedikit basah oleh keringat.
El berdiri di sisi ranjang. Kedua tangannya menggenggam sisi kasur. Ketika melihat Gala masuk, matanya membesar, lalu keningnya berkerut heran.
“Om Gala,” gumamnya pelan.
Devi yang melihat kedatangan Gala mendekat, lalu menjabat tangannya. “Selamat pagi, Pak. Mohon maaf membuat Bapak khawatir dan harus datang ke sini mendadak.”
Gala hanya mengangguk singkat. Tatapannya tertuju lurus pada Lily.
Setelah tangannya terlepas, Gala segera mendekati Lily.
“Dia kenapa?” tanyanya, suaranya rendah tapi tegas.
Perawat sekolah berdiri di sisi lain ranjang. “Lily pingsan saat olahraga, Pak. Kemungkinan kelelahan dan kurang cairan. Sudah kami periksa, tekanan darahnya normal sekarang. Dia sempat sadar, lalu tidur.”
Gala mengangguk pelan. Tatapannya tidak lepas dari wajah Lily. Lalu, tatapannya beralih pada El.
Gala menarik satu kursi dekat ranjang. “El, kamu duduk dulu. Lily baik-baik saja."
El menatap Gala lama. “Kok Om yang datang?"
Pertanyaan itu tidak dapat disembunyikan dari benak El.
“Bunda lagi sibuk. Jadi Om yang datang."
El masih heran, tapi dia memilih mengangguk. Dia duduk di kursi itu dengan tenang.
Gala tetap berdiri di sisi ranjang beberapa detik. Tangannya terulur, menyentuh punggung tangan Lily pelan. Hangat. Dia menghela napas perlahan.
Beberapa menit kemudian, Lily bergerak kecil. Alisnya berkerut, lalu kelopak matanya bergetar pelan.
Gala langsung mencondongkan tubuh. “Lily,” panggilnya pelan.
Kelopak mata Lily terbuka perlahan. Pandangannya masih kosong beberapa detik sebelum akhirnya fokus. “Om…” gumamnya lirih.
Gala mengangguk kecil. “Iya. Om di sini.”
Perawat mendekat. “Bagaimana rasanya sekarang, Lily?”
Lily menelan ludah. “Pusing sedikit.”
“Tidak apa-apa. Minum dulu, ya,” ucap perawat sambil membantu Lily duduk sedikit dan menyodorkan air.
Gala menahan gelas itu agar stabil. Lily minum pelan, beberapa teguk kecil.
“Maaf, Pak Gala, bisa bicara sebentar?" tanya Devi setelah Lily kembali rebahan.
Gala mengangguk. Dia mengusap rambut Lily lembut. “Sebentar ya."
Lily hanya mengangguk kecil.
Gala mengusap lengan El sebentar, lalu berjalan keluar dari UKS mengikuti langkah Devi.
Pintu ditutup perlahan. Koridor di luar masih lengang karena jam pelajaran belum berakhir.
Devi berjalan sedikit di depan, lalu berhenti di dekat jendela besar yang menghadap lapangan olahraga. Dari sana, garis lintasan lari masih terlihat.
“Saya minta maaf atas kejadian ini,” ucap Devi lebih dulu. “Guru olahraga sudah melaporkan ke saya. Lily terlihat memaksakan diri.”
Gala mengangguk. “Dia memang mudah capek belakang ini.”
Devi menoleh. “Selama ini, di sekolah Lily cukup aktif. Tapi belakangan ini dia terlihat lebih cepat lelah. Kami sempat memperhatikan, tapi hari ini kondisinya memang tidak memungkinkan.”
“Terima kasih sudah ditangani cepat,” jawab Gala.
Devi tersenyum tipis, profesional. “Tentu. Untuk sementara, kami sarankan Lily dipulangkan dan istirahat. Tidak perlu ke rumah sakit jika kondisinya stabil, tapi mohon dipantau.”
Gala mengangguk sekali. “Kalau El baik-baik saja di sekolah?”
“Untuk El… secara akademik dan perilaku, dia baik. Sangat tenang, bertanggung jawab. Saat Lily pingsan, dia tidak panik dan langsung memanggil guru. Dia cukup… dewasa untuk anak seusianya.”
Rahang Gala mengeras sedikit, lalu mengendur. “Saya mengerti.”
Devi menangkap ekspresi itu, tapi tidak berkomentar apapun.
“Saya bantu urus izin pulangnya. El juga boleh ikut, supaya bisa menemani Lily,” ucap Devi.
...***...
Gala tidak langsung membawa El dan Lily pulang ke rumah. Dia mengajak mereka ke tempat makan dekat dari sekolah untuk memastikan Lily makan dan memiliki energi.
Gala turun lebih dulu, membuka pintu belakang mobil. Lily turun perlahan. Langkahnya sudah lebih stabil, tapi tubuhnya masih tampak lemas. Gala refleks meletakkan satu tangan di punggung Lily.
El berjalan di samping, memperhatikan langkah Lily.
Gala memilih tempat di sudut yang sepi. Dia menarikkan kursi untuk Lily dan El duduk. Mereka duduk dengan tenang.
“Lily pusing?” tanya Gala rendah.
Lily menggeleng kecil. “Udah nggak. Cuma capek.”
Gala mengangguk. Dia memanggil pelayan, memesan sup ayam bening, nasi hangat, dan air putih.
Saat makanan datang, Lily menatap mangkuk supnya. “Om… Lily boleh es teh?”
Gala menatapnya sebentar, lalu menggeleng pelan. “Air putih dulu ya.”
Lily mencebik kecil, tapi menurut. Dia menyendok sup sedikit demi sedikit. Uap hangat mengepul. Setelah beberapa suap, wajahnya mulai lebih hidup. Tidak terlalu pucat.
El makan tanpa suara. Sesekali dia melirik Lily, memastikannya baik-baik saja, lalu kembali ke makanannya.
Gala memperhatikan mereka berdua dari seberang meja. Tidak banyak bicara.
Lily mengangkat wajahnya. “Om… Lily nggak papa, kan?”
Gala mengangguk sekali. “Nggak papa. Tapi hari ini istirahat.”
Lily tersenyum kecil, lalu kembali menyendok supnya.
“Om," panggil El.
Gala menoleh.
“Terima kasih sudah datang," lanjutnya.
Gala tersenyum, menepuk bahu El ringan. “Iya. Kalau butuh apapun, El bisa bilang ke Om."
El mengangguk.
Tidak lama, mereka selesai makan. Sup ayam El habis, sedangkan Lily tersisa setengah, tapi dia sudah tidak ingin memakannya lagi.
Gala berdiri dari kursinya. “Om ke kasir dulu.”
El dan Lily mengangguk bersamaan.
Di dekat kasir, sebuah rak kecil menempel di dinding. Isinya barang-barang ringan, seperti boneka mini, mobil logam, stiker, gantungan kecil.
Gala berhenti sejenak, menatap rak itu beberapa saat. Dia ragu sejenak, tapi tangannya kemudian terulur meraih boneka beruang kecil dan mobil logam berwarna abu-abu gelap. Keduanya ringan, muat di satu tangan.
Gala membayar dengan cepat, lalu kembali ke meja. Dia meletakkan boneka beruang kecil itu di depan Lily lebih dulu.
Lily mendongak. Matanya membesar. “Om?”
“Buat Lily,” ucap Gala singkat.
Lily meraih boneka itu perlahan. Senyum kecil muncul tanpa suara.
“Lucu, Om. Lily suka," ucapnya antusias.
Gala tersenyum kecil. Kemudian, dia menggeser mobil kecil ke arah El. “Buat El."
El menatap benda itu sesaat, lalu menatap Gala.
Gala tersenyum kecil.
El ragu sejenak, lalu mengambil mobil kecil itu. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Dia kembali menatap Gala. “Terima kasih, Om."
Gala mengangguk. “Sama-sama."
Gala diam sejenak, menatap El dan Lily bergantian. Lily dengan senyuman lebar, sementara El tetap tenang tapi wajahnya tampak senang.
Hal itu membuat dada Gala menghangat. Perasaan aneh yang baru dia rasakan setelah bertemu dengan kedua anaknya.
...----------------...