menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.
Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.
Baca kisahnya di sini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Mobil ku buka. Camilan di kresek ku ambil dengan kasar. Meskipun aku penasaran pada pria itu, sejujurnya aku tetap sayang pada Azzahra. Hanya saja, aku ingin Azzahra melupakan masa lalunya. Seperti diriku, yang sudah mencoba meninggalkan hal-hal negatif.
"Ini Dik!" Ku berikan itu pada Azzahra.
Dia menerima kantong kresek itu dengan mata berbinar.
"Suwun nggeh Mas," jawabnya dengan bahasa Jawa.
"Iya Dik, sami-sami."
Mi goreng dan telur goreng sudah siap di meja. Kami berdua sarapan bersama. Kali ini Azzahra tak lupa dengan kopi kesuakaan ku.
Usai sarapan, aku masih menikmati secangkir kopi bersama handphone di tanganku.
Sementara itu, Azzahra menyapu dan dilanjut mandi. Karena sebentar lagi dia akan berangkat kuliah. Nanti, momen saat dia berangkat akan ku foto. Ku kirim ke orang suruhanku.
Ku tengok, Azzahra masih sibuk menyiapkan keperluannya. Gamis berwarna coklat tua dengan hijab senada, mungkin bisa dikenali.
Jadi saat dia membelakangi posisiku. Segera ku ambil fotonya secara diam-diam.
'Maaf ya Dik,' ucapku dalam hati. Bukan maksud curiga. Tapi aku emang penasaran banget tentang cowok itu.
Setelah ku kirim ke orang bayaranku. Semuanya aman. Tinggal share lokasinya nanti setelah aku sampai sana.
"Udah siap?" tanyaku saat dia menghampiriku yang masih duduk di ruang makan tadi.
"Udah Mas," jawabnya pasti.
Ku tengok udah jam 7 pagi.
"Yuk kalau gitu!" Aku berjalan duluan menuju garasi.
Pintu ku buka lebar. Motorku jarang ku panasi. Kayaknya nanti usai nganter Azzahra, aku mau pakai motor aja pas ke toko.
"Bentar ya Dik! Mas ngeluarin mobil dulu," ucapku.
Dia hanya mengangguk patuh.
Usai mengeluarkan mobil. Saatnya aku menutup pintu garasi. Setelah semua beres ku kunci. Kini kami berdua sudah dalam perjalanan menuju ke kampus Azzahra.
Cukup 25 menitan akhirnya kami berdua telah sampai.
Dia berpamitan denganku dengan mencium punggung tanganku. Kali ini dengan berani aku pegang kepalanya.
Dia menatap ku bingung. Namun saat ku angkat kepalaku lebih tinggi. Dia paham dan memejamkan matanya. Ya, aku beri kecupan di dahinya.
"Semangat belajarnya ya Dik. Nanti kalau mau pulang bilang aja. Dan ya, ini sangumu," kataku sambil memberikan beberapa lembar ratusan padanya.
"Uang yang semalam masih Mas," katanya memberitahuku. Dia hampir menolak. Tapi aku gak suka penolakan.
"Masih atau gak, selama dikasih suami ya mbok diterima," ucapku menyindirnya.
Dia agak kikuk. Namun pada akhirnya dia mengambil uang sakunya.
"Assalamualaikum," salam pamitnya sambil keluar dari mobil.
"Wa'alaikum salam," jawabku. Usai Azzahra pergi menjauh dari tempatku. Segera aku mengambil ponselku. Membagikan lokasiku saat ini.
"Dia kuliah di sini. Aku gak mau tahu, pokoknya apa saja yang dia lakuin kamu kirim ke aku!" suruhku pada orang yang sudah ku percaya sejak lama.
"Baik Bos!"
Setelah ku lihat jawabannya, aku lega. Segera aku memutar balik mobilku. Kayaknya mau pulang dulu ambil motor lalu berangkat ke toko.
...****************...
Di toko aku gak tenang. Udah jam 10 tapi belum ada laporan apapun.
'Sebenarnya dia becus gak sih?' batinku jadi gak yakin.
Cukup lama menunggu. Akhirnya aku dapat kiriman foto.
Rupanya Azzahra baru keluar dari kelas. Mungkin tadi masih di dalam kelas, makanya dia belum ngasih tahu apapun ke aku.
Fiuh, Rupanya masih aman.
Aku meletakkan ke dua tanganku ke belakang kepala. Aku memutar kursiku. Berfikir, setelah ini Azzahra ngapain?
Beberapa menit kemudian. Sebuah kiriman foto masuk ke chat ku.
Masih aman. Rupanya Azzahra makan snack pemberianku semalam.
Dia duduk sendirian di gazebo sambil membuka laptop.
Kasihan, sepertinya istriku tak punya teman. Apakah aku salah mencurigainya? Bisa jadi pria kemarin hanya teman sekumpulannya waktu di majelis.
"Udahlah, aku harus bekerja. Kalau gini terus, yang ada aku gak fokus," gumamku sambil berdiri.
Aku kembali beraktifitas. Membantu karyawan ku yang lain.
Tak lama kemudian, ada sales datang. Saatnya bayar tagihan. Sudah jatuh tempo pembayaran.
Uang di rekeningku banyak. Tapi uangnya mutar, buat modal dan bayar karyawan. Yang ku pakai hasil dari keuntungan perhari.
"Berapa Pak?" tanyaku saat sales itu ku bawa ke ruanganku.
"20 juta kurang 30 ribu," jawabnya sambil menunjukkan nota beberapa lembar.
Kita ini manusia, bisa langsung percaya, bisa juga tidak. Aku orangnya kalau bisnis harus serius. Main-main ya main-main.
Kalau masalah ini gak bisa ku remehkan. Tentu ku teliti dulu. Ku ambil kalkulator. Ku hitung jumlah perlembarnya. Kalau kita gak teliti, bisa ditipu nanti. Jadi kalau bisa, harus waspada.
Setelah ku hitung, jumlahnya berselisih.
"Katanya ada dipotong barang retur Pak? Ini returannya belum kepotong," kataku sambil menunjukkan kembali nota itu. Karena setahuku jumlahnya tak sampai segini. Sekitar 19 juta sekian.
"Oh iya ya Mas. Lupa belum di struk returannya. Kalau uang returnya di potong orderan selanjutnya gimana? Soalnya kantor belum ngasih resi barang returnya," jelasnya.
"Bener gak nih? Udah langganan lho ini. Kalau minggu depan gak dipotong, aku gak order dulu Pak," kataku memberitahu. Kalau gak gini, nanti sales ini akan terus-terusan membodohi kita.
"Iya Mas. Saya potong, tolong diingetin lagi. Sebelumnya saya minta maaf," katanya seperti tulus.
Bukannya aku pelit. Meskipun hanya ratusan ribu, tapi untuk bisnis cara hitungnya beda. Ini lahan penghasilanku. Kalau dihura-hura, ngapain aku jualan?
"Oke Pak. Saya transfer aja seperti biasanya ya?"
"Iya Mas."
Setelah ku ambil HP. Aku mendapat kiriman foto sebanyak 3 kali.
Saking sibuknya tadi, aku lupa mengecek ponselku.
Ku abaikan sebentar foto itu. Karena hal penting sekarang adalah membayar hutang.
"Done Pak. Berhasil. Tolong dicek," ucapku sambil menunjukkan bukti transferan.
"Makasih ya Mas Mustafa. Semoga laris manis, dagangannya cepat habis," doanya sebelum berpamitan.
"Aamiin, suwun nggeh Pak."
Kepergian sales tadi. Aku jadi penasaran. Foto apa yang dikirimkan oleh orang suruhanku.
Pertama-tama, Azzahra masih terlihat menatap layar laptop.
Foto kedua, seorang pria berdiri di depannya.
Melihat itu, mataku sudah memanas. "Ini pasti si Mansur," gumamku menuduh.
Dan foto ketiga, tampaknya mereka berdua sedang mengobrol.
"Azzahra!" ucapku dengan nada emosi.
Suami mana yang gak emosi jika melihat istrinya berduaan dengan pria lain? Termasuk aku. Baru juga jadi pengantin baru. Tapi Azzahra sudah tidak jujur. Lalu beberapa hari ini, kenapa sikapnya melunak padaku? Atau gara-gara ada pria lain, makanya dia menutupinya dengan bersikap baik padaku.
"Mas gak nyangka sama kamu Dik. Bisa-bisanya kamu giniin mas," gumamku lagi.
Rasanya hatiku sakit banget. Dari pada rasa ini berkelanjutan, lebih baik aku menyudahinya.
"Cukup sampai di sini aja. Tulis berapa nominalnya, akan segera ku transfer."
Chatku sudah terkirim pada orang suruhanku tadi.
"Siap Bos!" balasnya.
Sementara itu....
Bersambung...