Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Ardi berjalan gontai masuk kedalam rumahnya setelah menenangkan diri, dia tidak punya tenaga untuk berdebat dengan adik dan ibunya nanti, dia hanya ingin beristirahat.
"Darimana saja kamu Ardi?, kenapa baru pulang jam segini?, kamu pikir kamu itu sudah hebat memperlakukan kami seperti tadi?". Bentak sang ibu dengan penuh emosi.
Anaknya ini sudah kelewatan dan bertingkah seenaknya seperti itu, dia sudah tidak menghormati dirinya sebagai orang tua.
"Aku capek mau istirahat, nanti saja kalau ibu mau mengomel, kepalaku sudah pusing".
Ardi berjalan gontai ke kamarnya tapi langkahnya langsung terhenti karena ibunya mencekal tangannya.
Dia berbalik dengan malas melihat ibunya yang menatapnya dengan garang.
"Jangan kurang ajar Ardi, ibu belum selesai bicara, mau jadi anak durhaka kamu sama ibu, ha!!". Ucapnya dengan kesal.
Ardi menghela nafas, dia benar-benar tidak punya tenaga untuk berdebat dengan ibunya tapi ibunya terlalu egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri, dia baru sadar hal itu
Ardi tidak mengatakan apapun, dia menyentak pelan tangan sang ibu hingga cekalan itu terlepas, dia kembali berjalan kekamarnya tapi saat membuka pintu dia berhenti dan berucap.
"Andai aku tidak membawa ibu dan Adel kedalam rumah tanggaku, aku pasti masih bisa mempertahankan nya dan tetap hidup bahagia, aku menyesal melakukannya, jangan ganggu aku". Ucapnya dengan dingin tanpa menoleh kebelakang.
Ningsih mematung mendengar kalimat dingin sang anak yang tertuju kepadanya, dia menelan ludahnya susah payah, anaknya jika sudah seperti ini berarti dia sangat marah.
"Sial, aku tidak menyangka jika Ardi akan sangat marah seperti ini, biasanya dia akan menurut". Cicitnya dalam hati dengan gusar.
Di dalam kamarnya Ardi langsung tidur tanpa melepaskan pakaiannya, sejak dirinya tidak tinggal bersama Rania, dia semakin tidak terurus, padahal dulu penampilan nya selalu sempurna dan berkelas sekarang bahkan pakaiannya harus dia loundry agar mendapatkan pakaian rapi karena ibu dan adiknya tidak mengurusnya.
"Maafin aku Rania, aku sungguh menyesal". Gumamnya sebelum akhirnya tertidur.
Rania yang sudah sampai dirumahnya yang baru hanya bisa bernafas lega, disini ditempat yang baru dia merasakan kebebasan sebenarnya walau dalam hatinya masih terasa perih karena sejujurnya dulu dia begitu mencintai Ardi dengan segenap hatinya, bohong jika rasa itu hilang begitu saja.
"Andai semua ini tidak terjadi pernikahan kami pasti bahagia".
Dia tidak mempermasalahkan soal pendapatan dan yang lainnya, mereka bahkan hidup dengan tenang dan bahagia sebelum keluarga Ardi datang dan tinggal dirumah mereka, Ardi sangat berubah dan selalu bertingkah semakin seenaknya.
"Benar kata orang jika sudah berumah tangga jangan pernah membawa orang lain termasuk keluarga dalam rumah tangga kita pasti akan berakhir seperti ini". gumamnya pelan.
Dia menggeleng pelan berusaha membuang kenangan pahit dimasa lalu bersama Ardi.
"Kalian sudah bercerai Rania, saatnya memulai hidup yang baru dan jangan pernah mengulang hal yang sama". Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Keesokan harinya, Ardi keluar dari kamarnya, dia langsung menuju meja makan untuk sarapan karena akan berangkat kekantor, wajahnya sangat lesu tanpa ada kata yang keluar dari mulutnya
Ketiga orang yang ada didepannya meliriknya tanpa berkata karena tadi sang ibu sudah memberitahu mereka keadaan Ardi tadi malam.
"Kamu akan kekantor dengan keadaan seperti itu?, kamu yakin?". Tanya sang ayah memulai percakapan.
Dia bukan tidak tahu keadaan anaknya setelah Rania mengusirnya dari rumah bahkan sampai bercerai tapi dia hanya bisa diam saja karena semua ini juga karena keluarga mereka.
"Iya yah, aku sudah izin kemarin seharian , pekerjaan yang kutinggalkan menumpuk".
Santoso mengangguk kemudian melirik anak dan istrinya yang ingin berkomentar, dia langsung menatap tajam kearah mereka dengan penuh peringatan untuk tidak mengusik sang anak yang sedang tidak sehat, seolah mengatakan :
"Jangan ganggu dia".
"Ya sudah, perhatikan makanmu, istirahat kalau lelah". Sang ayah menepuk pundak sang anak kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi bekerja.
Ardi hanya mengangguk dengan tatapan kosong, dia baru merasakan bagimana hidupnya berantakan tanpa Rania.
Dia melanjutkan sarapannya dan berdiri setelah selesai untuk kekantor tanpa mengatakan apapun pada kedua wanita yang ada dihadapannya seakan keduanya adalah benda tak kasat mata.
Dia masih marah karena mereka penyebab utama kehancuran rumah tangga dan tentu saja dia juga salah dalam hal itu.
"Bu, kok aku kasihan lihat kak Ardi seperti itu yah". Ucap Adel memperhatikan langkah sang kakak yang tidak bersemangat.
Ningsih menghela nafas, dia sebenarnya kasihan pada putranya, dan perasaan bersalah mulai merayap dihatinya, ambisinya menjadi orang kaya membuat anaknya sangat tertekan dan harus mengalami perceraian seperti ini.
"Sudahlah biarkan saja dia, ingat usahakan nanti Minggu depan dia bisa bertemu dengan bosmu itu, kita harus mencarikan kakakmu perempuan yang lebih baik dari Rania agar perempuan itu menyesal karena telah meninggalkan kakakmu". Ucapnya penuh dendam.
Setiap kali mengingat Rania, emosinya langsung tersulut seakan lupa jika dirinyalah yang menjadi penyebab utama masalah ini.
"Benar Bu, kita harus buktikan sama kak Rania sombong itu jika kak Ardi bisa mendapatkan perempuan lebih baik darinya, enak saja dia menghina kita seperti kemarin". Sungut Adel ketika ingat bagaimana Rania menghina mereka kemaren.
"Makanya kamu harus dekati bos mu, pastikan kakakmu tidak punya saingan, kamu mengerti maksud ibu kan?
Adel mengangguk kemudian tersenyum lebar karena mendapatkan dukungan, jika dia berhasil mendapatkan Yasmin menjadi kakak iparnya, langkahnya diperusahaan akan bersinar cerah
"Tenang saja Bu, aku akan mencari tahu dan memastikannya baru aku susun rencana berikutnya".
"Baiklah nak, ibu percaya sama kamu, biarkan saja dulu kakakmu dengan kegalauan nya, kita harus menyusun rencana setelah ini".
Mereka berdua langsung tertawa seakan menang dalam pertarungan tanpa sadar melukai orang lain.
6,Ardi yang telah sampai dikantor hanya berjalan masuk kedalam ruangannya tanpa peduli sekitarnya, dia masih terus mengerjakan semua pekerjaannya bahkan bahkan makan siangnya saja dia meminta tolong OB mengantarkannya karena dia sedang tidak mood untuk kemanapun.
Sedangkan teman-temannya yang ditegur kemarin oleh atasannya kini menatap jengkel dan penuh dendam kepadanya, walau begitu mereka tidak berani kembali mengganggu Ardi karena teguran dari bos mereka .
Dan aktivitas itu terus berlanjut selama seminggu lebih, bahkan Ardi tidak pernah mengeluarkan suaranya saat dirumah, bahkan lebih parahnya lagi setelah jam pulang kerja dia hanya mengurung dirinya di kamarnya tanpa keluar dari sana.
Penyesalan besar begitu memenuhi dadanya, apalagi saat dia melihat Rania bisa tertawa lepas dengan rekan medisnya saat berada dirumah sakit.
Saat istirahat, dia izin kerumah sakit untuk memeriksakan diri dan melihat Rania tertawa bersama teman-temannya.
"Dia bahagia sekali tanpaku". Cicitnya dalam hati.