Reza seorang mahasiswa baru di sebuah Universitas ternama di Kota Malang, jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Alvionita sang dosen yang dikiranya mahasiswi baru seperti dirinya.
"Aku masih gak percaya kalau kamu adalah dosen disini!" teriak Reza usai mata kuliah Rekam Medis berakhir.
Alvionita yang baru saja keluar dari ruang mengajar menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah datangnya suara.
"Buktinya aku tadi menyampaikan mata kuliah didepan kelas dan telah melakukan perkenalan didepan semua orang disana" tunjuk Alvionita dengan dagunya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Berhasilkah hubungan antara mahasiswa baru dan dosen muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2. Ch. 3 - Mengejar Alvionita
Reza kini tiba di Taiwan pukul 12 siang waktu setempat. Dalam perjalanannya kali ini, pria itu tak memberitahu Vio lagi. Dia ingin mengejutkan belahan jiwanya akan kedatangannya ke Taiwan lagi.
***
Sebuah dering ponsel terdengar dari dalam tas seorang wanita yang saat ini tengah bersantai dengan rekannya.
Wanita itu kemudian merogoh tas selempangnya berusaha meraih ponsel yang terus berbunyi.
"Siapa, sih?" gumam wanita itu.
Nomor baru.
"Siapa, Vi?" tanya gadis di seberangnya.
"Entah, Kak. Nomornya tak ada di kontak ponselku."
"Coba dijawab aja. Barangkali penting."
Wanita itu mengangguk, menggeser tombol hijau di layar ponselnya sebelum mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
"Assalamu'alaikum, Cinta," sapa orang di seberang panggilan.
Vio mengamati ponselnya. "Sepertinya orang iseng," batin Vio. "Tapi kenapa suaranya familiar?"
"Ehm. Siapa ya?" Pada akhirnya wanita itu bertanya, memastikan kalau dugaannya benar.
"Ya ampun, Vi ... Masa suara suami sendiri gak kamu kenali suaranya?" gerutu pria dalam panggilan.
"Kamu Reza? Tumben pakai ucap salam? Mulai kapan tobat?" cecar Vio.
"Hemm. Masa suami sendiri mau tobat dipertanyakan? Bukannya didukung? Jawab dulu kek, salamnya." Terdengar suara pria di sana menahan kesal.
"Wa'alaikumsalam, Suamiku. Tapi kenapa harus pakai nomor baru?" tanya Vio ingin tahu.
"Biar gak digangguin lagi. Cuma keluarga besar dan karyawan ku aja yang tahu nomor ini," jawab Reza enteng.
"Tunggu, ini kode negara Taiwan ... Jadi kamu ke sini?"
"Iya donk. Menemui kekasih tercinta." Suara Reza terdengar semakin dekat dan jelas.
Tanpa diduga, Reza telah berada di samping meja makan Vio. Pria itu lalu mematikan panggilan ponselnya, menaruh benda pipih itu kembali ke dalam saku jas nya.
Vio memanyunkan bibirnya. Wanita itu tampak kesal. Ini kali kedua Reza tak memberitahu kedatangannya.
"Kenapa terkejut begitu?" Reza mencubit gemas pipi chubby istrinya.
"Lagian kamu ke sini bukan ngasih kabar dulu. Kan bisa aku jemput dulu," sungut Vio.
"Surprise! Gak asyik dong kalau dijemput." Reza tertawa simpul.
"Lagian aku kan pindah ke sini. Bukan berkunjung?"
"Hah? Serius? Terus kantor siapa yang urus?" Davika yang sedari tadi melihat kemesraan sepasang pasutri itu cukup terkejut.
"Nah, itu dia alasan aku langsung ke sini, untuk memberi tahu kalau Kak Davika boleh pulang besok. Aku titip perusahaan ke Kak Davika dan Kak Fariz. Aku yakin kalian pasti bisa," ujar Reza menjelaskan.
Tak tampak sedikitpun rasa bersalah dari penjelasan Reza. Pria itu justru tampak santai memberitahu hal sepenting itu.
"Lalu, kamu bakal tinggal di mana? Gak mungkin kan di asramaku? Dan gak mungkin juga terus menerus tinggal di hotel kan?" selidik Vio.
"Aku sudah beli rumah. Buat kita. Jadi kamu bisa pindah dari asrama, dan tinggal bersamaku di rumah kita."
"Memangnya bisa beli rumah pakai KITAP (Kartu izin tinggal Permanen)?"
"Aku membelinya dari teman aku. Dan kebetulan rumahnya tak jauh dari kampus."
Vio dan Davika hanya bisa melongo. 'semudah itu bagi orang kaya beli rumah," batin dua wanita itu.
"Oh iya, jadwal penerbangan Kakak, besok ya," ujar Reza.
"What?!"
***
Usai mengantar Davika kembali ke asrama, Reza dan Vio kini sedang berjalan santai menuju rumah yang disebutkan oleh Reza sebelumnya.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit perjalanan berjalan kaki, mereka tiba di depan sebuah rumah bergaya modern yang cukup asri. Rumah bernuansa putih dan abu-abu itu memiliki tiga lantai dengan halaman yang cukup luas.
"Kamu yakin ini rumah kita?" tanya Vio yang mendapat anggukan dari pria itu.
Vio takjub. Rumah itu benar-benar rumah yang mewah. Jauh lebih bagus dari rumah impiannya.
"Tapi ngomong-ngomong, kamu kan udah gak kerja di Indo? Di sini kerja apa?" Vio masih penasaran akan suami mudanya itu.
"Kamu lupa kalau suamimu ini multi-talent?" Sombong reza.
Vio hanya menganga. Baru pertama kali ini pria dihadapannya menyombongkan diri berlebihan seperti itu.
"Udahlah. Ini boleh masuk buat lihat-lihat isi dalamnya kan?" tanya Vio antusias.
"Masuklah." Reza membuka gerbang rumah dengan access card yang dikantonginya sedari tadi.
"Kamu lihat semua isinya. Nanti perabot yang mau kamu tambah atau kamu ganti, itu terserah kamu. Kamu yang akan mengatur semuanya." Reza bergelayut manja pada pundak Vio.
Vio berusaha melepaskan rengkuhan pria itu. Wanita itu kemudian berlari melihat seisi ruangan.
"Hati-hati. Tak perlu berlari," ucap Reza memperingatkan Vio agar tak terjatuh menaiki tangga.
Reza memilih pergi ke dapur. Dia mengambil sekotak jus jeruk lalu membawanya ke ruang tengah.
Cukup lama Reza menunggu Vio turun dari lantai atas. Sudah hampir 1 jam pria itu menunggu sambil memainkan ponselnya. Hingga pada akhirnya, lelaki itu memilih menyusul istrinya, khawatir takut terjadi sesuatu pada wanita itu.
Reza membuka satu per satu pintu ruangan itu. Pandangannya menelisik ke seluruh sudut ruangan. Hingga akhirnya Reza mendapati istrinya berada di lantai tiga rumah itu. Terlelap dalam ayunan sofabed yang ada di ruangan beratapkan kaca itu.
Reza perlahan mendekat ke arah istrinya itu. Wanita itu seperti tak terusik dengan kedatangan Reza.
"Pantas saja tak bersuara. Sepertinya kamu kelelahan. Maaf ya, Sayang," lirih Reza diikuti sapuan bibirnya di kening Vio.
Vio sedikit menggeliat merasakan adanya sentuhan dari luar. Namun hal itu tak cukup membangunkannya dari tidur nyenyaknya.
Reza mengamati setiap bagian wajah istrinya. Wanita yang berusia tiga tahun lebih tua darinya ternyata mampu membuatnya tak berpaling ke gadis lain. Reza benar-benar telah jatuh sedalam-dalamnya ke dalam pesona mantan dosennya itu.
Reza sedikit meragu, mengingat pekerjaan Vio yang merupakan seorang dosen. Dia sebenarnya ingin agar istrinya itu di rumah saja, tak bekerja, hanya melayani dirinya saja. Namun sepertinya hal itu akan sulit. Vio pasti tak akan setuju, mengingat menjadi seorang tenaga pengajar merupakan cita-cita nya.
Reza membaringkan tubuhnya di samping istrinya itu. Pria itu memeluk erat wanita cantik di sampingnya dengan posesif. Hingga akhirnya Reza ikut terlelap menuju alam mimpi bersama Vio.
***
Vio menggeliat bangun. Wanita itu merasa ada sebuah beban yang cukup berat menimpa perutnya. Sebuah lengan kokoh merengkuh dirinya dengan sangat erat, sehingga membuatnya sedikit kesusahan untuk bangun.
Vio sedikit mengangkat lengan Reza, berharap pria itu tak sampai terjaga. Namun Reza justru semakin mempererat pelukannya saat merasakan Vio hendak membuka gembok lengan di tubuhnya.
Pada akhirnya, wanita cantik itu memilih membalikkan badannya, mengamati pria yang telah menjadi suaminya, pria yang mampu membuatnya jatuh cinta. Lebih tepatnya jatuh cinta dengan kekonyolannya saat pertama kali berjumpa.
Vio bersyukur, masalah berat yang waktu itu sempat menerpa mereka, membuat dirinya semakin yakin bahwa dia telah jatuh hati dengan pria muda bertubuh besar itu. Dia tak pernah menyangka bila mahasiswanya sendiri justru membuatnya baper dan terombang-ambing akan perasaan yang berbeda.
Bersambung...
Happy Reading 😘
pokoknya top banget deh ceritanya
lanjutkan biar tidak penasaran
ternyata masih ada juga y seorang dosen dengan umur segitu,,,,
cie Reza udah mulai jatuh cinta pada pandan tu😂😂😂
ya ampun thorrr keren banget ceritanya
makasih thor
😂😂😂
semangat teruus yaa 🥰
tinggal menikmati masa indahnya hidup berdua.
bertemu lagi dgn pengisi suara novel ini 😁😁
semoga suka dgn suara recehku yg ala kadarnya, hehehe.
Jangan lupa dengerin audiobooknya juga ya, dan dukung terus karyanya
terima kasih kpd kak Dhanz yg melanjutkan cerita ini.
terima kasih