Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi lain Dirga
Di kamarnya, Winda terdiam.
BRAKK!
Suara bantingan keras dari kamar Dirga membuatnya tersentak. Jantungnya berdegup cepat. "Apa itu…?" gumamnya pelan.
Lalu-
DUARR!
Suara benda jatuh lagi. Winda menelan ludah. Tangannya mengepal di atas selimut. "Dia… marah banget ya…" Hatinya terasa ngilu.
Meski tadi ia sengaja menusuk Dirga dengan kata-katanya, sekarang justru dirinya yang gemetar.
"Harusnya aku tadi nggak ngomong gitu…" bisiknya menyesal.
Ia bangkit dari ranjang. Melangkah pelan ke pintu. tapi...."Yaudah lah biarin. Siapa peduli." Ia berbalik, kembali naik ke ranjang nya.
Sementara itu di lantai bawah, Sumi sudah tak tahan lagi. "Duh… ribut banget…" gumamnya sambil melepas celemek.
Ia melangkah cepat naik tangga. Berdiri di depan kamar Dirga. Tangannya terangkat..ragu. "Tuan…" panggilnya pelan. Tak ada jawaban. Sumi menarik napas dalam. Lalu membuka pintu perlahan.
Krek…
Dirga berdiri di tengah kamar. Keringat membasahi pelipisnya. Matanya merah. Tembok di sampingnya retak kecil bekas tinjunya.
Sumi terkejut. "Astaghfirullah…Tuan kenapa sampai begini…"
Dirga menoleh. Tatapannya tajam. "Keluar." suara dingin.
Sumi menggeleng pelan. "Tidak, Tuan. Bibi nggak bisa pura-pura nggak lihat."
Dirga tertawa pahit. "Apa lagi? Mau ceramah?"
Sumi mendekat. Nada suaranya lembut tapi tegas. "Tuan cemburu, kan?"
Dirga langsung menegang. "Apa Bibi bilang?" namun belum sempat Sumi mengulang ia langsung menjawab sendiri "Nggak ada yang perlu dicemburuin."
Sumi menghela napas. "Kalau nggak cemburu,
ngapain ngamuk sampai ngerusak kamar?"
Sunyi.
Dirga memalingkan wajah. Rahangnya mengeras. "Bibi nggak usah ikut campur."
Sumi tersenyum kecil. "Kalau nggak ikut campur, nanti Tuan nyesel seumur hidup."
Dirga mengepalkan tangan. "Terlambat."
Sumi menggeleng. "Belum. toh Nyonya masih ada."
Dirga terdiam.
"Tuan cemburu, ya? karena nyonya di antar sama pangeran tampan tadi.." lanjut Sumi pelan dengan sengaja.
Kalimat itu menghantam tepat di dada Dirga. Dan membuat wajah Dirga kembali memerah mengingat wajah menyebalkan Dika tadi. "Pria itu.." gumamnya pelan. tangan nya mengepal erat hingga urat-uratnya menonjol. Dirga tiba-tiba menendang kursi di dekatnya.
BRUK!
Kursi itu terjungkal keras. Sumi refleks mundur selangkah. "Ya Allah… Tuan!"
Dirga mengambil vas kecil di meja dan BRAKK!
dilempar ke lantai. Pecah berkeping-keping.
Napasnya memburu. Dadanya naik turun.Sumi menatap pecahan itu dengan wajah datar. Lalu berkacak pinggang. "Ih, Tuan ini!" ia menatap Dirga tajam "Kalau mau ngamuk, jangan kayak bocah!"
Dirga menoleh tajam. "Apa Bibi bilang?"
Sumi mendengus."Saya bilang apa adanya. Nanti semua ini Tuan beresin sendiri ya."
Dirga mengernyit. "Maksud Bibi?"
Sumi menunjuk pecahan vas. "Kaca-kaca ini. Kursi yang rusak.Tembok yang Tuan tinju." Ia melipat tangan di dada. "Saya nggak mau beresin."
Dirga tercengang. "ini kan tugasnya Bibi." ucapnya ketus.
Sumi menatapnya lurus. "Soalnya ini bukan emosi saya. Ini emosi Tuan sendiri."
Dirga terdiam.
"Biasanya kalau Tuan marah," lanjut Sumi, "saya yang sapu, saya yang beberes.Tapi sekarang? Nggak."
Dirga mendengus. "Bibi berani ya."
Sumi tersenyum tipis. "Berani lah." Ia mendekat. "Kalau Tuan mau nyakitin diri sendiri, ya silakan. Tapi jangan nyuruh orang lain bersihin sisa-sisanya."
Kalimat itu menusuk. Dirga memalingkan wajah. Tangannya gemetar.
Sumi menghela napas. "Tuan boleh marah. Boleh cemburu. Boleh sakit hati. Tapi jangan pura-pura nggak peduli."
Sunyi. Dirga berdiri kaku. Ia jatuh terduduk di lantai, punggungnya bersandar ke sisi ranjang. Napasnya masih berat. Matanya menatap kosong ke depan. Tangannya mengepal di atas lantai. Keras. Seolah ingin menahan sesuatu yang mau meledak lagi.
Sumi yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, perlahan mendekat. Nada suaranya melembut.
"Capek, ya, Tuan? Marah terus juga nggak bikin hati lega."
Dirga tak menjawab. Kepalanya tertunduk. Ia masih duduk di lantai. Punggungnya bersandar ke ranjang. Kepalanya tertunduk. Napasnya berat. Masuk… keluar… kasar.
Rahangnya mengeras. Giginya saling menekan. Ia berusaha menahan. Menahan semuanya. Tapi dadanya sesak. Tangannya mengepal di lantai sampai buku-bukunya memutih. Bahu lebarnya naik turun pelan.
Lalu… Satu tarikan napas panjang yang gagal. Bukan isak. Bukan suara. Hanya embusan berat… yang terdengar seperti orang hampir tenggelam.
Air mata itu jatuh. Diam. Cepat diseka. Ia benci ini. Benci kelihatan lemah. Ia mengusap wajahnya kasar. Sekali. Dua kali. Tapi tetap jatuh lagi. "B*ngs*t…" umpatnya lirih pada diri sendiri.
Sumi mendengar itu. Ia mendekat tanpa suara. Lalu berjongkok di depan Dirga.
Dirga sadar dan refleks ia memalingkan wajah. "Pergi…" suaranya serak. "Nggak usah lihat."
Sumi nggak pergi. Ia malah memeluk Dirga dari samping. Pelukan kuat. Hangat. Seperti seorang ibu yang tidak peduli anaknya sehebat apa di luar. "Tuan nggak perlu kuat di sini…" bisiknya. "Di kamar sendiri nggak apa-apa."
Dirga menghela napas kasar. Matanya memerah. Tangannya sempat menahan.
Tapi akhirnya… ia balas memegang lengan Sumi. Kuat. Bukan manja. Tapi seperti orang yang hampir jatuh dan butuh pegangan.
"Bi...aku cuma benci dia masih suka sama pria jelek itu…" suaranya pecah. "Tapi aku kan suaminya, Bi...."
Sumi mengusap punggungnya pelan. "Yah saya tau itu,"
Dirga tertawa kecil pahit. "aku pengecut, ya, Bi?"
Sumi tersenyum sedih. "Enggak. Tuan cuma suami yang lagi cemburu karena ada pria yang dekatin istrinya. Itu wajar kok, Tuan."
"Aku nggak cemburu kok.." balas Dirga gemetar. Ia menutup mata. Napasnya bergetar. Air mata itu jatuh lagi. Kali ini ia biarkan. Bukan tangis keras. Tapi tangis pria yang terlalu lama menahan, yang terlalu lama pura-pura kuat.
Sumi menatapnya dalam-dalam. Lalu berkata pelan tapi menusuk. "Kalau bukan cemburu…Kenapa Tuan hancur begini?"
Dirga terdiam. Dadanya sesak. Tenggorokannya kering. "Karena…" suaranya nyaris tak terdengar. "Aku takut dia beneran milih orang lain."
Kalimat itu keluar begitu saja. Dan begitu kata-kata itu meluncur… Dirga membeku. Seakan baru sadar apa yang barusan ia akui.
Sumi tersenyum tipis. "Itu namanya cemburu, Tuan."
Sunyi.
Di balik pintu…
Winda yang sejak tadi menguping menutup mulutnya. Matanya membesar. Jantungnya berdetak cepat. Takut. Kaget. Dan… entah kenapa… Senang.
Karena untuk pertama kalinya… Ia dengar sendiri kalau....Dirga takut kehilangannya.
Sudut bibir Winda terangkat tipis. Senyum kecil yang campur aduk.
"Day one buat suami sendiri nangis, hahaha. Mampus lu! Siapa suruh bilang nggak ada pria yang tulus sama aku…" batinnya dengan nada puas.
Tapi senyum itu perlahan memudar. Pikirannya berbelok. "…mungkin memang nggak ada," gumamnya dalam hati.
Dadanya terasa nyeri. Karena di balik
tawanya… ada luka yang belum sembuh.
Ia menatap pintu itu lama. Di baliknya, Dirga sedang hancur. Dan di luar… ia juga nggak sepenuhnya baik-baik saja.
apa Dirga akan ikut meninggal jugaa 🤣🤣🤣🤣🤣 ,,, kalau sampai ending nya Dirga menikah sama Yasmine,, berarti bkn Winda donk tokoh utama cewek nya 🤣🤣🤣,,,kok merasa kurang Seruu yea karena Winda harus di buat meninggal,, harus nya cukup di buat kritis dan koma