Di harap kan bijak saat membaca.
Menceritakan seorang anak yang berbeda dan
mempunyai kelebihan,
Sejak kecil sudah hidup berdampingan dengan makhluk dunia lain.
Bisa melihat dan merasakan makhluk tak kasat mata, sampai harus berjuang dari kerasnya hidup dan takdir yang sangat kejam.
Mempertahan kan sesuatu yang di berikan oleh pencipta,
akan kan selamanya akan seperti ini,
Jika dia bisa memilih dan di beri kesempatan untuk memilih,
Apa yang akan dia pilih, Memilih Hidup dengan kelebihan, atau membuang kelebihan itu,.
Klik hati untuk mengikuti kisah ini,
dan jangan lupa Rate bintang lima, tinggalkan jejak kalian di colom comentar..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RuQi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch35.
SELAMAT MEMBACA
Mungkin bagi kalian sesuatu yang berbeda itu unik, patut di cemburui, selalu banyak yang mencari, banyak teman, dan mudah dalam menjalani hidup
Tidak, semua itu salah, sebagian dari kita banyak berfikir kalo perbedaan ini adalah awal dari kesendirian, kesepian, kehampaan dan ke hilangan.
Kita juga bisa bergaul dengan semua orang, tapi banyak dari mereka yang takut mendekat,
Kita bisa berfikir semua baik baik saja, tapi tidak dengan mereka, yang berfikir kita menakutkan,
Kita tidak menjauh atau berusaha untuk terlihat hebat,
atau bahkan terlihat angkuh,
Tapi, jalan ini lah yang harus kita lalui agar kita kuat menjalani semua dan harus berfikir dewasa,.
Jadi, kalo kalian bisa memilih, hidup mana yang akan kalian pilih,
menjadi seorang indigo yang harus berdampingan dengan mereka yang tak kasat mata, dan terus terganggu dengan hal hal yang gaib, yang hanya kesunyian dan kesendirian yang ada,
atau memilih hidup biasa saja, melakukan hal hal menyenangkan seperti anak anak lainnya, dan tidak di pandang aneh,.
jawab ya di coment,..
Next episode..
Malam itu terasa dingin, angin yang bertiup seperti menandakan akan turunnya hujan, dinginnya malam membuat ku terbangun dan tidak bisa tidur..
Setelah aku pingsan, aku di temukan seorang santri, mbak Dina yang tahu aku belom pulang meminta tolong para santri untuk membantu mencari,
Mereka mencari ku hampir 1 jam,, Abah Joko pun meminta santri untuk mencari kebelakang pondok,
Aku di temukan sudah membiru kulitku, mungkin karna dingin malam dan angin yang tak jauh dari pantai, membuat kulitku membiru
Mereka yang menemukan ku berusaha membawaku ke pondok, dan salah satu dari mereka melapor pada Abah,
Malam yang gelap menjadi malam terberat untuk ku, di mana aku harus berjuang menahan sakit dan takut,
Malam juga terasa panjang untuk ku, entah kenapa seperti mereka mempermainkan hidup ku, hanya lampu sumbu yang menemani saat malam malam sunyi di sini.
Aku terbangun setelah 3 jam di temukan, badan ku terasa sakit semua, dan tengkuk leherku berasa seperti habis di pukul benda keras,
mereka juga masih menjaga ku di depan pondok, mungkin banyak yang menghawatirkan ku,
Saat aku bangun, Ku lihat mbak Dina tidur, aku yang haus pun berencana membangunkan mbak Dina,
Tapi, Suaraku hilang, apa ini karna aku kedinginan, atau karna aku masih shock karna kejadian tadi sore,
Kucari benda benda yang ada di sebelahku, tak ada apa apa, tangan ini ingin meraih gelas berisi air pun tidak bisa,
Aku istighfar dalam hati, masih ingat pesan nenek untuk selalu tenang,
"Allahumma anta Rabbi, La Ilaha illa anta, Khalaqtani wa ana abduka, wa ana ‘ala ahdika wa wa’dika, mas tatha’tu, audzu bika min syarri ma shana’tu, abu’u laka bi ni’matika wa abu’u laka bi dzanbi, faghfir li , fainnahu la yaghfirudz dzunuba illa anta."
doa ku dalam hati memohon ampunan kepada pencipta,
1 jam suara ku masih hilang, dan aku masih beristighfar, tak lama ada yang masuk ke dalam pondok, dia ustazah Rodiah,
"Alhamdulillah.. kamu sudah sadar" kata ustazah Rodiah saat melihatku membuka mata
"Mimin, Romlah, panggil Abah bilang ruqi sudah bangun" ucap ustazah Rodiah pada santriwati yang di luar
"Iya ustazah" jawab mereka
Aku masih diam membisu, mulut ku kelu ingin bicara tapi tak bisa,
Dan karena kegaduhan ustazah dan para santriwati mbak Dina terbangun dari tidurnya,
"Ya Allah dek, kamu udah bangun sayang, maafin mbak ketiduran," kata mbak Dina
"ustadzah, saya panggil Abah dulu," kata mbak Dina kepada ustazah Rodiah
"Ga usah mbak, udah di panggil anak anak tadi, mbak di sini saja jaga ruqi, saya buat teh anget dulu Ama bubur buat ngisi perut ruqi" ucap ustazah sambil pergi keluar
Mbak Dina membaluri kaki dan tangan ku dengan minyak, karna dinginnya malam yang membuat badan ku dingin.
Sampai sini dulu ya .
Selamat membaca...
wassalamu'alaikum..
tour, itu