NovelToon NovelToon
Akhir Cinta Dari Formosa

Akhir Cinta Dari Formosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / Pembantu
Popularitas:489
Nilai: 5
Nama Author: IbuAnna30

" Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali.
kisah Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriaki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak di cintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi yang juga majikan tempatnya bekerja. Namun kisah cinta Ana dan Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. bagaimana kisah mereka? Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?

Malam berakhir dengan gemerlap bintang-bintang dan bunga-bunga yang bermekaran mengantarkan pada mimpi yang menjanjikan sebuah harapan. Malam ini Ana lupa akan traumanya bunga di hatinya memaksa bersemi mesti tak pasti akankah tumbuh atau kembali layu dan mati.

ikuti terus kisah Ana dan jangan lupa dukungannya ....
terimakasih .. Update setiap hari, No libur kecuali mati lampu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IbuAnna30, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Selamat pagi Tuan Lhi

Matahari masih malu-malu di ufuk timur, saat Ana sudah bersiap dengan semangat bekerja di hari pertama. Kopi pahit di gelas tumblernya sudah tandas tak bersisa bersama 5 keping biskuit mengganjal tenaga.

Menurut arahan Citra mereka mulai kerja pukul 7 pagi, kemudian akan turun ke dapur pukul 8 pagi untuk sarapan sebelum kembali berperang dengan debu ruangan.

"Udah rapih bener, kak." Sapa Citra yang masih kesulitan membuka mata.

"Hari pertama,Cit harus semangat," sahut Ana. "Kita masuk ke rumah jam 7 kan?" Tanya Ana kemudian.

Citra masih kesusahan membuka mata sembari jalan sempoyongan menuju kamar mandi, "tunggu pintu di buka," jawab Citra berat.

Ana memilih menunggu di teras paviliun saat tiba-tiba pintu terbuka. Laki-laki denagn wajah dingin dan pakaian olah raga muncul dari balik pintu, Ana berkesiap menyapa penuh hormat, "Selamat pagi Tuan," tunduknya penuh kesopanan.

Tidak ada jawaban hanya deheman yang terdengar samar di kejauhan.

Menurut cerita Citra tadi malam setelah mereka menyelesaikan pekerjaan orang-orang di rumah itu memang cuek-cuek atau dingin ya seperti itulah. Salah satunya Tuan nya yang baru saja Ana sapa.

Tuan Lhi anak kedua dari keluaga Huang, pria itu memang di kenal sebagai gunung es nya keluarga Huang. Wajah nya dingin dengan tatapan tajam, dapat Ana rasakan saat perkenalan tadi malam pun pagi ini saat sapaan penuh hormatnya hanya mendapat balasan deheman.

Usianya tak jauh berbeda dengan Ana dengan perawakan tinggi dan badan yang cukup proposional, wajar saja, laki-laki itu tak pernah melewatkan joging pagi, masih menurut informasi Citra yang memang suka curi-curi pandang dari lantai 3.

''Si gunung es itu nggak ada berubahnya, dari awal aku dateng sampe sekarang gitu-gitu aja ekspresinya," celetuk Citra saat Tuan Lhi baru saja lewat di depannya dan Ana.

"Memangnya mau kamu gimana, Cit?" Goda Ana.

"Yaa senyum dikit kek, apa gimana. Biar tambah memancar gitu loo ketampanannya." Oceh Citra kembali.

Ana hanya terkekeh tiap kali mendengar celotehan Citra, gadis asal kota Subang yang baru satu hari jadi rekan kerjanya itu selalu pintar mengekspesikan segala mimik muka orang yang jadi target bahan gibah nya. Mungkin di masa depan Ana juga bisa jadi targetnya.

Ana memulai pekerjaannya dengan cukup santai, tidak ada intruksi khusus hanya membersihkan semua sudut ruangan hingga mengilat itu saja cukup. Ujian nya datang saat menjelang makan siang. Ana dengan sigap membantu Āyí Jung si juru masak di dapur, dan benar saja wanita paruh baya itu bak nenek sihir, semua yang Ana kerjakan salah di matanya.

"Heh itu sayur si rendam garam! Itu jangan di letakkan di situ! Kamu kerjakan ini! Sayur jangan di potong begitu! Ini ... itu ... ini ...itu!

Sepanjang Ana membantu memasak ocehan Āyí Jung tidak ada berhentinya, padahal semua yang Ana kerjakan atas perintahnya pun saat memotong sayuran juga mengikuti contoh dari wanita tapi tetap saja ada selah untuk mencari kesalahan.

" Jangan di dengarkan," bisik Āyí Ling saat melihat Ana menghela nafas berat.

Ana hanya tersenyum masam, "mau tidak di dengar tapi lama-lama panas juga telinga." Batin Ana.

Waktu berlalu tanpa banyak tanya 6 bulan sudah Ana bekerja di rumah itu, tidak banyak yang berubah selain Tuan gunung es nya yang sudah beberapa minggu ini selalu duduk di sofa lantai 2 area Ana bekerja. Entah ada angin apa hanya duduk diam seolah mengeja semua yang Ana kerjakan.

"Orang itu perasaan tiap minggu pagi duduk di situ," celetuk Citra saat kembali dari mengambil pakaian di depan pintu kamar majikan.

"Tau, bikin orang kikuk aja." Sahut Ana

"Naksir sama, kak An ini aroma-aromanya," kekeh Citra.

Ana yang semakin canggung seketika menoel pundak Citra, " kalo ngomong suka asal ya." Protesnya.

Citra semakin terkekeh, " kayanya bener lo kak, seumur hidup aku di sini nggak pernah orang itu duduk di situ. Baru ada Kak Ana ini dia begitu, sumpah!"

Ana memelototkan matanya saat di lirik nya Tuan nya itu melihat ke arahnya dan Citra, "udah sana cepet beresin cuciannya, katanya mau ke minimarket?" Sela Ana.

"Cie ... cie .. salting," kekeh Citra semakin gencar menggoda Ana yang sudah memerah wajahnya.

Ana sendiri juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba tuannya itu suka duduk di sofa lantai 2. Ana kembali mengingat saat hari minggu pertama Tuan Lhi duduk di sofa, membuat dia kikuk seketika terlebih untuk pertama kalinya Tuan nya itu membuka suara.

"Kamu sudah berapa lama datang di Taiwan," suara serak-serak tipis Tuan Lhi mengejutkan Ana yang sedang mengelap kaca di depannya.

"Hampir 2 tahun Tuan," jawab Ana pelan.

Hanya satu pertanyaan tapi mampu membuat Ana berdebar seharian. Sejak saat itu setiap hari minggu pagi tuan nya selalu duduk di tempat itu tiap kali selesai joging pagi. Entah sekedar minum kopi atau membaca koran yang menurut Citra si pembawa informasi, itu tidak pernah Tuan Lhi lakukan.

Ana tidak ingin memikirkannya terlalu dalam apalagi sampai kege'eran seperti yang Citra tuduhkan. Wanita itu cukup sadar diri akan perbedaannya dengan sang Tuan pun traumanya yang belum sepenuhnya hilang.

Meski tidak di pungkiri ada sedikit debaran yang berbeda, tapi siapa juga yang tidak berdebar jika di tunggui seperti itu saat sedang bekerja.

Obrolan singkat itu Ana simpan rapat, akan runyam kalau orang lain tau apalagi si pembawa informasi, bisa-bisa jadi bahan ledekan sampai finish kontrak dia.

Tapi di balik obrolan singkat yang tersimpan rapat itu satu orang memperhatikan dalam diam Āyí Ling. Wanita paruh baya yang di sebut ibu peri oleh Citra itu diam-diam memperhatikan Tuan Lhi yang juga keponakannya. Bibi Ling adalah adik dari Nyonya Huang yang bertanggung jawab untuk mengurus kamar-kamar yang ada di rumah itu.

"Yang semangat kerjanya, An." Sapa Bibi Ling saat melewati Ana yang sedang sibuk mengepel lantai.

Namun pandangan Āyí Ling justru tertuju pada keponakannya yang terlihat sibuk membolak-balik koran yang di bacanya.

"Sampe bingung gimana cara curi-curi pandangnya," celetuk ĀyíLing yang membuat Ana semakin salah tingkah. Sedang yang di sindir bersembunyi di balik lembaran koran sebelum kemudian beranjak masuk ke kamarnya.

Āyí Ling terkekeh melihat tingkah keponakannya itu sama seperti Citra, dia juga sempat bingung sebelum paham apa yang jadi pusat perhatian laki-laki yang sudah di rawatnya sedari bayi. Ana pembantu baru mereka.

___Bersambung.

_IbuAnna.

1
Kim shin
gemesh
Kim shin
apakah bab ini di beri bawang 10 kilo 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!