NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Badai Pedang Sketsa

BLEGURR!

Tanpa peringatan, tanpa tanda bahaya sebelumnya, sebuah ledakan dahsyat memecah keheningan malam di jantung Ibu Kota Kekaisaran Tianlong. Malam yang baru saja hening, berlapis kabut dan cahaya lentera, seketika koyak oleh guncangan yang mengguncang langit dan bumi. Suaranya begitu menggelegar, memekakkan telinga, bagaikan dewa murka menjatuhkan palu raksasa tepat ke jantung istana.

Getaran brutal itu merambat jauh, mengoyak pondasi tanah dan batu. Istana Naga yang selama berabad-abad berdiri megah sebagai simbol keabadian kekuasaan, kini bergetar seperti ranting rapuh dihembus angin badai. Lantai-lantai giok retak, dinding berukir naga berguguran, dan atap istana runtuh dengan dentuman bertubi-tubi.

Detik berikutnya hanyalah kehancuran. Singgasana naga tempat Kaisar Tianfei duduk beberapa saat lalu terlempar dan hancur berantakan, tak lebih dari serpihan kayu dan pecahan batu. Tiang-tiang penopang yang megah—dihiasi naga bersisik emas—runtuh satu per satu, bagai pohon tua ditebang, menimpa para pelayan dan prajurit yang berlarian panik.

Api oranye membumbung tinggi, asap pekat bercampur bau mesiu menyesakkan paru-paru. Jeritan histeris menyebar dari lorong ke lorong, suara manusia yang tersadar bahwa malam itu bukan lagi malam biasa, melainkan malam kiamat bagi pusat kekuasaan Tianlong.

Namun, di titik ledakan paling dahsyat, justru ada kehampaan mencekam. Segala sesuatu lenyap: bangunan, lantai, hiasan, bahkan udara terasa menghilang digantikan bau besi terbakar. Kawah besar kini menganga, dan di tepinya tergeletak tiga sosok penting kekaisaran—terhempas jauh oleh kekuatan yang tak kasat mata.

INI

Kaisar Tianfei tersungkur, pakaian kebesaran compang-camping, mahkota kerajaan terlempar entah ke mana. Darah mengalir tipis dari pelipisnya, namun matanya yang tajam terbuka lebar, memancarkan keterkejutan bercampur amarah.

Di sisi lain, Kasim Utama mengerang, tubuh ringkihnya ditindih puing. Dengan susah payah ia bangkit, jubahnya robek, rambut putihnya berantakan, matanya bergetar menahan rasa sakit.

Tak jauh dari mereka, Jenderal Agung bangkit lebih cepat. Baju zirahnya penyok di banyak bagian, tapi pedangnya masih tergenggam erat. Nafasnya kasar, matanya liar menyapu sekitar, mencari musuh yang jelas tak kasat mata.

Meski tubuh mereka remuk dan batin terguncang, mereka bukan manusia biasa. Mereka adalah kultivator puncak kekaisaran. Qi spiritual dalam tubuh mereka bergolak otomatis, memperbaiki kerusakan meridian, menambal luka dalam, memaksa mereka tetap berdiri di ambang maut.

Dan di tengah-tengah mereka… sesuatu yang aneh melayang.

Gulungan perkamen—sketsa yang beberapa saat lalu berada di tangan Kaisar—terapung tenang di udara, tak terusik oleh ledakan yang menghancurkan segalanya. Dalam lukisan itu tergambar seorang pemuda dengan pedang mengarah ke langit, wajahnya dingin dan tajam. Kini, mata dalam sketsa itu tampak hidup, berkilat samar, seolah menatap langsung ke arah Kaisar yang terhuyung.

“Apa ini…?” bisik Kasim Utama dengan suara serak.

Jenderal Agung mendesis,

“Sihir… bukan, lebih dari itu.”

Sementara Kaisar Tianfei mengerang rendah, urat-urat di pelipisnya menonjol.

“Berani sekali… bahkan gambar ini berani menghina kami!”

Raungan marahnya pecah. Dengan satu teriakan, Qi agung Kaisar meluap, membentuk sembilan naga perak yang berputar di sekelilingnya. Tinju Sembilan Naga—jurus pamungkasnya—melesat ke arah lukisan. Sembilan kepala naga yang mengaum mengoyak udara, siap menghancurkan selembar perkamen.

Tidak tinggal diam, Jenderal Agung mengangkat pedangnya. Dalam sekejap, ratusan bilah cahaya melesat seperti hujan badai, mengiris udara dengan kilatan perak yang mematikan. Sementara itu, Kasim Utama melafalkan mantra kuno dengan suara bergetar. Puing-puing istana berguncang, menyatu membentuk raksasa batu yang tinjunya sebesar gerobak, bergerak menghantam perkamen itu.

Tiga serangan dari tiga pilar kekuasaan, serentak menghantam satu titik.

Namun yang terjadi berikutnya melampaui nalar.

Mata dalam sketsa itu berkilat. Lengan pemuda bergambar itu bergerak. Pedangnya—yang hanya berupa garis tinta hitam di atas perkamen—tiba-tiba menepis semua serangan dengan satu sapuan sederhana.

Suara ledakan Qi hilang seketika. Tinju sembilan naga lenyap. Hujan bilah pedang runtuh menjadi serpihan cahaya. Raksasa batu hancur bagai pasir diterpa badai. Semua daya, semua jurus, musnah tanpa sisa.

Lukisan itu tetap melayang tenang, tak robek, tak kusut—seakan serangan mereka hanyalah angin lalu.

“K—kenapa…?” suara Jenderal Agung tercekat.

Kasim Utama memucat.

“Itu bukan sekadar lukisan…”

Kaisar Tianfei meraung,

“Tidak peduli apa pun itu! Aku akan menghancurkannya!”

Mereka kembali menyerang, kali ini dengan jurus pamungkas masing-masing, bahkan mengeluarkan harta rahasia: jimat emas Kaisar, gulungan formasi Jenderal, mutiara spiritual Kasim. Namun setiap kali, pedang dalam sketsa itu bergerak—kadang hanya sedikit, kadang nyaris tak terlihat—namun hasilnya selalu sama: serangan mereka buyar, jurus mereka runtuh.

Dan lebih buruk lagi: kini pedang itu tidak hanya bertahan, tetapi menyerang balik. Tebasan tak kasat mata meluncur keluar dari perkamen, menghantam tanah, memecah puing jadi debu, memaksa ketiganya melompat berulang kali demi menghindar.

Clang! Tebasan pedang menghantam perisai emas Kaisar, memecahnya menjadi retakan.

Slash! Badai pedang tak kasat mata menembus kabut ilusi Jenderal, memusnahkannya seketika.

Boom! Gelombang energi menabrak mutiara spiritual Kasim, membuatnya retak dan hampir pecah.

“Kita takkan bertahan lama…” erang Kasim dengan wajah pucat.

“Diam! Bertarung sampai akhir!” bentak Jenderal Agung, meski darah mengalir dari mulutnya.

Kaisar Tianfei menggertakkan gigi, lalu mengangkat tangannya.

“Kalau begitu… aku akan buka segel istana!”

Dengan teriakan menggema, ia mengaktifkan formasi kuno yang terkubur di pondasi istana. Cahaya biru menyembur, membentuk kubah pelindung yang menutupi mereka bertiga.

Namun pedang sketsa itu terus menghantam, lagi dan lagi.

Kubah biru bergetar, riak-riak muncul di permukaannya setiap kali serangan mendarat. Retakan halus mulai merayap, setiap detik semakin melebar.

Kaisar berteriak, suaranya parau,

“Tahan! Bertahan sedikit lagi!”

Tapi di wajahnya, di wajah Jenderal, di wajah Kasim, hanya ada keputusasaan.

Sebuah retakan besar akhirnya muncul di kubah pelindung, berkilat bagai kilat maut.

Dan saat itu, mereka semua sadar—akhir sudah di depan mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!