Jangan lupa like dan vote ya, meskipun sudah end.
Sepasang manusia yang tak kunjung menikah diusianya yang sudah matang. Reuni menjadi awal mula kisah cinta mereka yang lika-liku. Kisah asmara yang dibumbui dengan konflik batin.
Bagaimana kisah cinta mereka? Ayo baca dan nikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Irvianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Part yang kalian tunggu. Hehehe
Acara resepsi tersebut berjalan baik. Meskipun, ayah Lolita meminta izin pulang lebih awal. Lolita memahami keadaan ayahnya yang sakit. Bagas juga sempat memberikan selamat. Loli, adik bungsunya menempel terus dengan ayahnya.
Kini, Eric dan Lolita sudah melepaskan semua atribut pengantinnya. Wajah Lolita juga sudah bersih dari make-up. Lolita tengah menunggu Eric yang sedang mandi di dalam kamar mandi. Sedangakan, Lolita mengelilingi kamar milik Eric.
Dia menemukan sebuah foto berbingkai di meja kerja Eric yang menghadap ke jendela. Melihat foto tersebut, membuat Lolita mengulumkan senyumnya. Dia segera mengembalikkan fotonyanya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka.
"Ric, cepat pakai bajunya." Eric keluar tanpa mengenakan atasan.
"Ambilin di lemari."
Lolita mengikuti perintah Eric. Dia melemparkan kaos polos ke arah Eric. Kalau dilihat-lihat kaos Eric hampir tidak bermotif semua.
"Kok dilempar."
"Enggak usah protes, cepat pakai. Aku risih." Lolita berlari memasukkan dirinya ke dalam selimut tebal yang ada di atas kasur.
Setelah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Eric berbaring di samping Lolita, dia menyibakkan selimut yang menutupi wajah Lolita.
"Jangan ditutup semua, nanti enggak bisa napas." Eric memasang selimut ke dirinya sampai bahu.
"Aku cape Ric," ujar Lolita sembari memejamkan matanya.
"Kamu enggak mau cerita-cerita dulu sama aku?" Eric sudah membaringkan dirinya di samping Lolita.
"cerita apa?" Lolita setengah ogah-ogahan.
"Apa saja."
"Aku ngantuk." Lolita berusaha menghindari Eric.
Lolita tidur memunggungi Eric. Lolita paham apa yang akan terjadi kepada pasangan suami istri jika baru menikah. Lolita berusaha mencari alasan untuk menghindari adegan-adegan yang berbahaya.
"Kita sudah sama-sama dewasa." Eric membalikkan tubuh Lolita supaya mengarah kepadanya.
Setengah takut, Lolita membukakan matanya. Dia sudah menebak, kalau Eric sudah memandang wajahnya lekat. Lolita menelan salivanya cepat.
"Aku belum siap."
"Belum siap apa? Aku tidak ngapa-ngapain kamu." Senyum devil Eric muncul.
"Iya, tapi belum." Lolita segera membalikkan badannya, kesal.
Eric merapatkan tubuhnya ke Lolita dari belakang. Jantung Lolita sebanarnya sudah berdetak kencang dari tadi. Eric menaruh dagunya di bahu Lolita.
"Besok aku masih cuti kerja. Jadi, kita bisa bangun siang," bisiknya menggoda tepat di telinga Lolita.
Lolita pura-pura tidak mendengarnya. Dia malah memilih memejamkan matanya, dengan jantung yang berdegub kencang. Lolita sebenarnya ingin, tapi ia juga tak ingin.
"Kamu tidur ya, Ta." Eric menggoyang-goyangkan bahu Lolita.
"Aku kan sudah bilang, kalau aku cape."
"Kirain sudah tidur." Eric menenggelamkan wajahnya di leher Lolita.
Lolita yang merasa geli dengan deru napas Eric, membuat dirinya terpaksa berhadapan langsung dengan Eric. Lolita membalikkan badan ke hadapan Eric.
"Geli, tahu." Lolita tersenyum simpul.
"Kamu masih simpan foto kita, pas kita terakhir ujian ya."
Eric sempat meminta foto berdua, sebagai kenangan.
"Kamu lihat?"
"iya." Lolita mengangguk.
"Beneran suka sama aku dari SMA?"
"Kamu masih ragu?"
Chuup
Lolita mengecup bibir Eric cepat. Dia langsung menutup wajahnya dengan selimut karena malu. Ciuman itu, ungkapan rasa terima kasih Lolita karena sudah mencintainya selama itu.
Bukannya Lolita tidak peka. Namun, Eric benar pandai menutupi perasaannya. Lolita tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Eric, saat Lolita berpacaran dengan Aldo, teman sekelasnya.
"Nakal." Eric menyusul Lolita di dalam selimut.
"Ampun, ampun. Aku beneran cape, Ric." Lolita tertawa menahan geli.
"Ya sudah, tidur. Jangan mancing-mancing."
Malam pertama mereka terlewat begitu saja. Eric memeluk Lolita dari belakang, tangan kiri Eric menjadi bantal bagi Lolita, sedangkan tangan satunya lagi memeluk tubuh Lolita mesra.
Eric tidak ingin terburu-buru. Dia juga merasakan lelah karena acara pernikahannya. Mereka berdiri hampir setengah hari, untuk menyalami para tamu satu persatu.
Mencintai seseorang selama itu, bukan perkara mudah. Kadang ada rasa menyesal, saat orang yang Eric cintai harus memiliki komitmen dengan orang lain.
Karena dia sama sekali tidak merasa bosan dengan mencintai Lolita. Maka dari itu, Eric memberanikan diri mengungkapkan perasaannya sampai sejauh itu.
Ada sedikit rasa kecewa saat dia mengikuti reuni untuk pertama kalinya. Orang yang dia paling tunggu, ternyata tak kunjung hadir diacara tersebut. Beruntung, di tahun berikutnya. Eric bisa bertemu dengannya. Meskipun, sifat ceplas-ceplosnya tidak hilang.
Rasa percaya diri Eric semakin besar, ketika dia mengecup bibir Lolita untuk pertama kalinya. Lolita hanya kaget mendapat serangan mendadak seperti itu.
"Bangun, mama sudah nunggu di ruang tamu." Sekilas setelah mengecup pelan bibir Lolita.
Mata Lolita mengerjap menahan silaunya matahari. Dia menguletkan dirinya di atas kasur.
"Kamu sudah mandi?" tanya Lolita setengah sadar.
"Sudah. Ayo ke bawah."
"Tunggu! Aku mau mandi dulu." Lolita menahan tangan Eric.
"Aku ke bawah dulu." Eric mengacak-acak rambut Lolita.
"Aku malu, kalau nanti turun sendirian." Lolita memeluk tubuh Eric untuk meluluhkannya.
"Cepet sana." Lolita lari dari ranjangnya.
Lima belas menit kemudian.
"ERIC, aku lupa enggak bawa baju dan...," teriakan Lolita terhenti karena malu.
"daleman kamu dimana?"
Eric menyerahkan seperangkat pakaian Lolita lengkap. Dia mengetuk pintu kamar mandi.
"Ta, ini." Dia menyerahkannya dengan sebagian tangan yang masuk ke kamar mandi.
"Awas, Ric!" Lolita berusaha menutup kembali pintu kamar mandinya, tapi tertahan oleh tubuh Eric yang kuat.
"Sengaja ya, kamu!" Lolita berusaha mendorong pintunya. Akan bahaya jika pintu itu terbuka. Lolita masih tidak mengenakan apapun.
Eric hanya menahan tawanya, saat melihat istrinya dijahili dirinya sendiri. Sekali-kali, ini pembalasan tadi malam.
"Aww!" Lolita meringkih kesakitan saat dirinya ikut terdorong ke depan oleh pintu.
Lolita segera mengunci pintunya, takut manusia mesum itu tiba-tiba muncul lagi.
Eric menunggu Lolita di atas ranjangnya. Dia memainkan game yang ada diponsel Lolita. Game yang dimiliki Lolita hanya permainan cacing yang sedang beken.
Ponsel Lolita memang tidak terkunci. Lolita terkadang suka ribet sendiri, kalau mau buka ponselnya jika dikunci-kunci segala.
Beberapa menit kemudian, Lolita keluar dari kamar mandi. Dia langsung menyerobot ponselnya dari Eric.
"Dilarang megang hpku. Kamu jahat." Lolita menyembunyikan ponselnya di belakang tubuhnya.
"Salah siapa enggak bawa baju, wlee," ledek Eric.
"ERIC!" Lolita kesal dengan Eric. Dia mencoba menggelitiki perut Eric.
Oh, tapi apa yang terjadi. Lolita malah salah posisi. Eric malah membuat Lolita berada di bawah dirinya.
"Masih mau gelitikin, aku?" ancam Eric yang semakin mendekatkan wajahnya ke Lolita.
"Ric!" Lolita mulai memejamkan matanya takut.
Tok tok tok
Ketukan pintu menyelamatkan Lolita dari kukungan Eric. Eric melepaskan Lolita begitu saja. Mereka beranjak dari kasurnya dan membuka pintu kamarnya.
"Sudah jam delapan. Sarapan dulu, nanti asam lambung kamu naik." Mama Eric sangat perhatian pada anaknya.
Ternyata Eric punya riwayat asam lambung. Lolita baru mengetahuinya. Untung saja, saat masak mi instan dia tidak menambahkan cabe di dalamnya.
"Iya, ma."
Mereka menuju ruang makan dan menikmati sarapan yang dibuat oleh mama Eric. Lolita masih canggung untuk sarapan dengan kekuarga barunya.
"Kalian mau bulan madu kapan?" tanya papa Eric.
"Eric, masih banyak kerjaan, pa." Jawaban Eric mendapat sorot mata kecewa dari Lolita.
Malam pertama ditunda ya. Mereka harus istirahat.😂
Like dan komen ya.❤
Mampir ke ceritaku juga yang berjudul MY LECTURER. Author akan update kembali cerita tersebut.