Aletta Nanda Saraswati yang awalnya bermimpi dan membayangkan menjadi istri CEO dari perusahaan barunya, terwujud tanpa ia duga-duga. Namun, ternyata menjadi seorang istri dari Pengusaha Sukses (CEO) bukanlah hal yang mudah seperti yang mereka lihat. Banyak air mata yang tumpah karena keegoisan, pertikaian, dan perselingkuhan...
Bahkan ketika Aletta merasa semua sudah berubah, ia kembali mendapatkan cobaan yang menguras kesabarannya...
Inilah kisah Aletta Nanda Saraswati istri CEO kaya raya bernama Eric Sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Belanja
Pagi itu saat Farrel masih tertidur dan Eric yang tengah mandi untuk bekerja, aku sibuk mencari bahan makanan di kulkas untuk kumasak.
"Kok cuma ada bawang bombai sama kol sih," keluhku sedih melihat kulkas yang kosong.
"Eric!! Makan roti ya pagi ini?!" seruku pada Eric yang masih di kamar mandi.
"Iya," balasnya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Aku pun menyiapkan roti tawar dan selai untuk sarapan Eric dan aku sendiri. Eric yang sudah selesai memakai pakaiannya segera menghampiri dan memelukku dari belakang sambil mengecup pipiku sekilas.
"Kok tumben, cuma di kasih roti?" tanya Eric dengan wajah imutnya.
"Aku lupa belum belanja bulanan, sibuk banget ngurus Farrel sampai jarang buka kulkas. Kamu ni yang sering makan tapi enggak bilang kalau kulkas udah kosong!" lanturku panjang membuat Eric langsung melahap rotinya.
"Nanti aku mau belanja sama Farrel," timpalku lagi.
"Yah, aku ada meeting hari ini. Mau nemenin," keluh Eric dengan menelan kasar roti di tangannya.
"Yaudah sih, kerjaan kan juga penting," ujarku mengalah, padahal mau banget di temenin Eric.
"Makasih ya, udah ngertiin."
"Iya ..."
"Jangan lupa beli cemilan yang banyak buat aku," pinta Eric dengan senyuman anehnya yang membuatku tak tahan. Tak tahan mau nampar maksudnya.
"Sini bagi duit," ledekku.
"Lah, bukannya masih banyak di kamu ya?" tanyanya heran.
"Makannya kamu kan juga banyak, ya kali pake uang aku semua," acting-ku.
"Ya ampun, punya istri pelit amat sama suami sendiri," ujarnya sembari mengambil dompetnya.
"Ya ampun, punya suami enggak pengertian banget sama istri sendiri," balasku.
"Nih, cukup ya?" tanyanya sembari memberikan sejumlah uang hampir 2 juta lebih.
"Segini doang? Ini cuma dapat satu cake kesukaan kamu itu, Ric."
"Sayang, sejak kapan kamu belajar matre sih? Lagian mana ada kue harga satunya dua juta?" keluhnya dengan wajah depresi.
Aku hanya menahan tawa dan langsung mengambilkan tas kerja milik Eric.
"Yaudah sekarang kerja dulu sana, buat beli jajan," pintaku sembari merapikan baju Eric dan membawakan tasnya.
"Nanti hati-hati ya pas belanja, jangan ngelamun di jalan!" saran Eric dengan mengambil tasnya dariku, sekilas mencium bibirku dan langsung pergi dari apartemen.
Selepas kepergian Eric, aku menghampiri lembaran uang di meja yang ia berikan tadi.
"Lumayan buat nambah beli kosmetik aku, hahahaha." Senyumku puas memoroti Eric pagi ini, padahal uang yang diberi kepadaku sudah lebih dari cukup untuk belanja dan tambahanku membeli apapun.
Aku segera menuju kamar untuk mengecek Farrel.
*****
Siang itu, aku sudah selesai memandikan Farrel dan mendandaninya, "Udah siap nemenin Mama belanja ya, sayang!"
Aku menggendong Farrel dan menciumi pipi gemay-nya berkali-kali. Kemudian kami pun berangkat untuk belanja di mall terdekat.
Sesampainya di mall, aku berjalan dan mencari semua bahan-bahan yang tidak ada di kulkas dan tidak lupa membelikan cemilan untuk Eric. Aku heran padanya, walaupun dia makan seperti beruang tapi abs-nya masih saja terbentuk di perutnya.
'PUKK'
Tak sengaja aku menjatuhkan satu cemilan milik orang, dan ternyata orang itu aku sangat mengenalnya. Ia yang menyadari kehadiranku langsung dengan cepat menjambak rambut panjangku.
"Aaargght! Lepaskan aku, atau aku teriak," rintihku.
'PLAKK'
Satu tamparan juga mendarat di pipi kananku. Aku sangat takut namun aku tidak bisa melakukan apapun selain melindungi anakku.
"Ohh ... jadi dia alasan Eric ninggalin aku!" seru wanita itu. kalian pasti tahu dia siapa.
"Cukup, Dewi! Aku udah enggak ada urusan sama kamu lagi!" ungkapku dan begegas pergi namun Dewi dengan kasar menahanku. Aku benar-benar merangkul Farrel kuat agar tak tersentuh oleh Dewi.
"Enggak ada urusan lo bilang? Bahkan sekarang Eric ninggalin gue dan nyampakin gue karena elu! Perebut pacar orang!" tegas Dewi dan hampir menamparku lagi namun aku tahan.
"Gue enggak pernah ngrebut Eric dari lu! Apa lu lupa, kalau gue ninggalin dia demi elu!" jelasku sambil menekan lengan kurus Dewi.
"Lalu ngapain elu balik lagi dan membawa bayi itu pada Eric! Lu dan bayi itu harusnya enggak pernah ada lagi di dunia ini!" teriak Dewi dan mendorong tubuhku kencang sampai hampir terjatuh.
Karena takut terjadi apa-apa pada Farrel, aku memutuskan untuk berteriak meminta tolong agar Dewi di bawa ke keamanan mall. Yang terlihat hanya Dewi meronta tidak terima jika dia dibawa oleh petugas keamanan. Hatiku kembali kepada masa lalu yang menyakitkan dan itu berhasil membuat pikiranku tertekan sampai menangis histeris. Aku dan Dewi kemudian diamankan di ruang keamanan dengan Farrel dibawa oleh salah satu petugas wanita di sana.
Kami meneruskan pertengkaran sampai Eric datang menjemputku dan Farrel. Namun, Dewi malah memeluk erat tubuh Eric yang baru saja datang. Itu membuatku semakin marah tapi aku hanya bisa melihat mereka dengan air mata yang berderai.
"Lepas!" ketus Eric mencoba melepaskan Dewi dari tubuhnya.
"Honney! Aku kangen sama kamu! Kenapa kamu sekarang enggak pernah hadir untukku! Aku kesepian tanpa kamu, Honney!" lantur Dewi yang tak mau melepas pelukkannya.
Eric melepas paksa Dewi dan langsung menghampiriku yang masih menangis, ia kemudian memelukku dan menenangkan aku. Tapi hatiku masih saja dongkol dan ingatan masa lalu terus saja muncul.
"Sayang, kamu enggak apa-apa kan?" tanya Eric dengan nada khawatir.
Aku hanya terdiam sambil tanpa berani menatap Eric, pikiranku kini sangat kacau.
"Pak, tolong amankan wanita yang di sana itu. Tahan sampai saya membawa pulang istri dan anak saya," ujar Eric pada petugas keamanan.
"Baik, Pak!"
"Eric! Kenapa kamu jahat sama aku! Dengar ya kamu enggak akan bisa terus bersama Aletta! Aku janji akan menghancurkan hubungan kalian!! AAAA!" teriak Dewi melihat Eric tengah membawaku dan Farrel untuk pergi menjauh.
*****
Sampai malam, aku hanya terdiam dan membiarkan Farrel menangis karena kehausan. Pikiranku yang kacau membuat diriku lupa dengan segala yang harus aku kerjakan sekarang.
"Aletta, kamu sampai kapan diam dan biarin Farrel kehausan gini!" ujar Eric yang menimang Farrel.
Aku masih diam dan menangis. Inilah hal yang aku takutkan selama ini jika aku pulang ke rumah. Aku harus mengingat masa lalu dan melhat Dewi di manapun.
"Aletta!" seru Eric dengan nada mulai marah.
Aku pun menengok padanya. Ia marah-marah pada diriku yang melamunkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipikirkan lagi. Saat Eric membentakku untuk terakhir kalinya, aku pun mulai sadar dan mengambil Farrel untuk kuberi asi.
"Maafin aku," tuturku yang baru saja tersadar,
"Sayang, kamu enggak usah pikirin dia! Kamu lihat sendiri kan kalau aku lebih milih kamu daripada dia!"
"Kamu pilih aku karena ada Farrel kan?" perkataanku membuat Eric semakn naik pitam.
"ALETTA!!" bentaknya.
Aku hanya menangis mendengar bentakkan Eric, dan menyesali apa yang sudah aku katakan.
"Apa masih kurang perhatian aku buat kamu?" jelas Eric.
"Maafin aku ..."
Dengan sabar, Eric menghela napas dan langsung memelukku.
"Maafin aku juga udah bentak kamu, tapi kamu jangan kayagitu lagi. Kasihan Farrel. Kamu harus ingat kalau aku enggak akan ninggalin kamu. Jangan percaya apapun kata Dewi atau siapapun itu! Selain aku!" jelas Eric dengan mencium keningku lembut.
"Aku cinta sama kamu, Eric," rintihku.
"Aku juga cinta sama kamu, Aletta."
.............................
OTW 1K LIKE ..... WOWWWW AUTHOR TERCENGANG DAN MELETUP-LETUP!
TERIMA KASIH TEMAN_TEMAN YANG SETIA SAMA AUTHOR VI
DAN SUKA SAMA CEO WIFE~~
......
teh juga ada kafeinnya jg bahaya klo lg kambuh
eaaaaaaaa🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Salut sama Rendy cintanya ga pernah pudar untuk alleta😢