Zidan Arkan, seorang CFO muda yang selama ini selalu mendapatkan perhatian dari banyak orang terutama kaum hawa, merasa harga dirinya terluka saat ada satu orang perempuan yang selalu mengabaikannya sejak hari pertama pertemuan mereka. Zidan berencana untuk membuat perempuan itu jatuh ke dalam pelukannya. Tapi Lalita, nama perempuan itu, baru saja bercerai dari mantan suaminya dan sedang tak ingin membuka hatinya untuk laki-laki lain yang kemungkinan besar akan menyakitinya sama seperti mantan suaminya. Berhasilkah rencana Zidan? Akankah Lalita jatuh ke dalam pelukan Zidan? Atau malah Zidan yang bertekuk lutut dihadapan Lalita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scarlettema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
"Aku sudah punya apartemen sendiri. Dan kamu sudah tahu itu. Memang tak sebesar ini, tapi kurasa itu cukup untukku."
"Tapi tempat itu cukup jauh dari sini dan Adit bisa mendatangimu sewaktu-waktu. Aku tidak akan bisa hidup dengan tenang." Zidan menjelaskan alasannya menyewakan apartemen ini untuk Lalita.
"Tapi..." Lalita hendak mengutarakan keberatannya lagi.
"I promised you I will do something about that room." Zidan memotongnya, dia sudah memperkirakan sejak awal kalau Lalita akan menolak. Tapi Zidan juga sudah berjanji akan melakukan sesuatu terhadap trauma Lalita tentang kamar utama di apartemen Zidan.
"But not this way. This is too much. You don't need to do this for me." Lalita masih saja menolak meski dia tahu Zidan akan mengabaikan penolakannya.
Zidan berjalan dan memendekkan jarak antara dirinya dengan Lalita, membiarkan pintu apartemen menutup dibelakangnya. "Yes, I have to do this. Right now, you are my precious one and you deserve all of this." Zidan membelai pipi Lalita dengan punggung tangannya.
"Nih, kunci mobilmu. Mobilmu juga sudah kuparkir di basement, nomernya ada di gantungan kuncinya." Zidan menyerahkan kunci mobil Lalita.
"Makasih." Lalita tersipu malu, dia tersentuh dengan apa yang dilakukan Zidan saat ini.
"Cuma makasih?" goda Zidan.
"Memangnya kamu mau apa lagi?" Lalita juga mulai menggoda Zidan.
"You know what I want." Zidan tersenyum sambil menarik tubuh Lalita mendekat dan membawanya ke dalam pelukannya.
"I know, but it doesn't mean I want to do it." Meski berkata seperti itu tapi Lalita membalas pelukan Zidan, bahkan lebih erat.
"Aku tidak akan memaksamu. Lakukan apapun yang kamu mau. Aku ingin melihatmu bahagia karenaku dan bersamaku." Zidan mencium puncak kepala Lalita.
"Jadi, besok aku tidak boleh bekerja dulu, karena harus melakukan apa?" Lalita bertanya sambil melepaskan diri dari pelukan Zidan. Dia masih tidak memahami alasan Zidan melarangnya bekerja besok.
"Kamu tidak ingin mengisi apartemen ini? Belanja bahan masakan? Beli pakaian, personal care atau apapun yang kamu butuhkan? You have all day tomorrow."
"Apartemen ini sudah full furnished, sepertinya aku tidak butuh apapun. Sedangkan untuk barang pribadi lainnya, termasuk pakaian, aku bisa mengambilnya nanti di apartemenku."
"Aku tidak akan mengijinkanmu kembali ke apartemenmu sendirian. Siapa tahu Adit atau anak buahnya masih ada yang menunggu di sana. Tunggu aku ada waktu, nanti kutemani ke sana. Sementara ini, kamu belanja saja dulu untuk keperluanmu."
"Tapi itu akan membuang-buang uang."
"Aku tidak keberatan membuang-buang uang, asalkan aku tidak kehilanganmu." Zidan mengeluarkan sebuah kartu kredit platinum dan memberikannya kepada Lalita.
"Aku tidak mau menerimanya. Kamu sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untukku." Lalita menolak kartu kredit Zidan.
Zidan membungkam bibir Lalita dengan bibirnya sambil tangannya menyelipkan kartu kreditnya di saku belakang celana pendek Lalita.
"Bawa saja, terserah mau dipakai atau tidak," kata Zidan setelah melepaskan bibirnya.
Akhirnya, setelah perdebatan panjang yang sudah pasti tidak akan dimenangkan Lalita, perempuan itu mengalah dan memutuskan untuk menerima apapun pemberian Zidan. Hatinya menjadi lebih lemah sekarang sejak dia menerima pernyataan cinta Zidan.
Keesokan harinya, setelah Zidan berangkat ke kantor, Lalita mulai menjelajahi apartemen barunya. Zidan bilang dia boleh mengajak kedua orang tuanya untuk tinggal di sana mengingat apartemen itu mempunyai dua kamar yang masih kosong. Lalita sangat menghargainya, ternyata Zidan memikirkan banyak hal tentang dirinya. Tapi dia juga tahu, orang tuanya tidak akan mau tinggal di kota besar, mereka lebih menyukai tinggal di pedesaan. Mungkin kapan-kapan dia akan mengajaknya untuk tinggal selama beberapa hari saja, sambil melepas rindu.
Lalita memindahkan pakaian dan barang-barangnya ke kamar utama di apartemen 702. Kamar utamanya sangat luas, seluas kamar utama di apartemen Zidan, bedanya kamar mandinya tertutup rapat dan tidak transparan seperti kamar mandi di kamar utama apartemen Zidan. Memikirkannya membuat Lalita teringat peristiwa hari itu, terutama tentang pantat bulat nan kencang milik Zidan. Ah, Lalita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena merasa malu. Untung saja Zidan tidak ada di sini saat ini. Kalau tidak, Lalita bisa lebih malu lagi.
Pikiran Lalita terbukti, apartemen itu sudah full furnished, tinggal memakai saja. Peralatan masak dan peralatan makan juga sudah lengkap. Lalita berpikir, jangan-jangan Zidan sendiri yang membeli dan melengkapi apartemen ini dengan semua perabotnya. Setelah semua barangnya pindah ke apartemen 702, Lalita membersihkan apartemen Zidan. Sebenarnya ada petugas yang akan membersihkannya setiap dua hari sekali, meski selama ada Lalita di sana Zidan meliburkan petugas kebersihan tersebut, tapi Lalita tetap melakukannya dengan alasan sebagai bentuk terima kasihnya kepada Zidan. Setelah lelah memindahkan barang-barang dari apartemen 701 ke apartemen 702, Lalita membuat mi instan untuk makan siang, kemudian tidur siang sebentar. Menjelang sore dia pergi ke supermarket untuk berbelanja bahan masakan.
Ting tong....
Lalita mematikan kompornya dan membuka pintu. Dia sudah tahu kalau pasti Zidan yang mendatangi apartemennya, kan memang cuma dia yang tahu kalau Lalita tinggal di sini, dan ini juga sudah jamnya Zidan pulang bekerja.
"Memangnya kamu tidak punya kunci apartemen ini?" tanya Lalita setelah membuka pintu apartemen dan menyuruh Zidan masuk.
"Kamu tahu ya, kalau aku punya kuncinya." Zidan yang tertangkap basah hanya bisa meringis.
"Aku tidak tahu, hanya menebaknya. Tapi kalau melihat sifatmu, sepertinya itu benar."
"****, seharusnya aku bilang tidak punya saja tadi ya." Zidan mengekor di belakang Lalita yang berjalan menuju meja makan.
"Dare to lie to me again?" Lalita tiba-tiba berbalik sehingga Zidan hampir menabraknya.
"No," Zidan tersenyum.
"Good. Duduklah dulu, akan kusiapkan makanannya." Lalita menarik sebuah kursi makan dan mempersilakan Zidan untuk duduk.
"Kamu memasak untukku?"
"Untuk kita," ucap Lalita sambil berjalan pergi ke dapur untuk menyelesaikan masakannya yang sebentar lagi matang.
Setelah makan malam, Zidan membantu Lalita, ehm, lebih tepatnya menunggui Lalita saat dia membereskan peralatan makan dan mencuci piring.
"Mulai hari ini kamu tidur di sini?" Zidan bersandar di meja dapur, di samping Lalita yang sedang mencuci piring.
"Memangnya untuk apa kamu menyewakanku apartemen ini?"
"Just ask. Memangnya kamu tidak takut tidur sendirian?"
"Biasanya juga selalu tidur sendirian." Lalita acuh, meski sebenarnya dia mengetahui jalan pikiran Zidan.
"Aku akan kesepian," Zidan memelas.
"Kamu kebiasaan tidur sama...." Lalita keceplosan, baru saja dia akan bilang 'perempuan lain', tapi kemudian dia sadar dan menutup mulutnya.
Sejenak keduanya terdiam, sama-sama canggung.
"Kamu keberatan kalau aku tidur di sini malam ini?" pertanyaan Zidan memecahkan kecanggungan diantara mereka.
"Kamu kan yang menyewa apartemen ini, kamu bisa tidur dimanapun dan kapanpun kamu mau. Kamu juga punya kuncinya, tinggal masuk saja." Lalita sama sekali tidak memandang ke arah Zidan yang sedari tadi mengawasinya.
Zidan merasa ucapan Lalita barusan menyindirnya, tapi dia mengabaikannya saja saat ini. Zidan banyak mengalah kepada Lalita sejauh ini.
"Jadi, kapan kamu mau mengajak orang tuamu untuk tinggal di sini?" Zidan bertanya setelah keheningan yang sesaat.
"Mereka tidak akan suka tinggal di sini. Mereka lebih suka tinggal di desa, di rumah mereka sendiri." Lalita meletakkan peralatan makan yang sudah selesai dicuci ke atas rak piring.
"Yah, paling tidak diajak main ke sini, biar tahu tempat tinggal anaknya. Kalau sewaktu-waktu mereka ke sini dan malah datangnya ke apartemen lama kamu bagaimana?"
"Kenapa sih? Sepertinya kamu yang lebih ingin bertemu mereka daripada aku, padahal kan mereka orang tuaku." Lalita sudah selesai dengan kegiatannya dan saat ini sedang mengeringkan tangannya dengan lap kering.
"Kamu tidak mau mengenalkan aku ke orang tuamu?" Zidan mengekor di belakang Lalita yang sedang berjalan menuju ke ruang tengah.
"Kamu ingin aku mengenalkanmu ke orang tuaku? Sebagai apa?" Lalita menjatuhkan pantatnya di atas sofa ruang tengah.
"Jangan gitu dong, La. Masa kamu belum mau mengakui aku sebagai pacar kamu? Aku sedih nih." Zidan ikut duduk di sofa di samping Lalita, tanpa jarak sedikitpun. "Kalau saja aku punya orang tua, pasti aku bakalan cepat-cepat mengenalkanmu ke mereka."
"Memangnya kamu tidak punya orang tua?" Lalita menoleh ke arah Zidan.
"Punya sih, tapi...." Zidan lalu menceritakan tentang masa kecilnya, masa sekolahnya, sampai saat dia dewasa dan bekerja hingga saat dia masuk ke PT. CJR sebagai CFO.
Di akhir cerita, Zidan sudah berada dalam pelukan Lalita.
"Being with you for some time, I feel good and be a better man. You've change me to a good person. Now you knew all about me. Don't you dare to leave me, I beg you to still be my woman, and always in my side." Zidan menempelkan kepalanya di dada Lalita, dan menikmati kenyamanan dalam pelukan perempuan yang dicintainya.
semangat Thor,,aku selalu nunggu updatean mu
Lalitaaa apa rasanya diperhatiin 3 cowok gitu ? tell me please
andrew cariin cwk lain yg baik yaaa yaa yaaa