" sebuah perjalanan dalam meraih cinta sejati "
Hana sebenarnya ragu untuk meneruskan langkahnya menuju pernikahan yang sudah didepan mata.
Hana tak pernah menduga jika ia akan diberi kesempatan lain.
Namun dengan cara yang tak biasa.
Hana terdampar dijaman dan ditempat yang entah dimana.
Ia pun dihadapkan pada takdir dengan begitu banyak kejutan.
note : Alur ceritanya lambat karena pengenalan tokoh berjalan seiring dengan berjalannya cerita.
Begitupun dengan konfliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thata Embem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melarikan diri
🌺 hem... 🌺
* * *
Semua orang terlihat menyantap sup buatan Hana dengan lahap.
Hal itu membuat Lauren dan Hana saling melemparkan senyum ke penuh kemenangan.
Mereka kini hanya perlu duduk manis sembari menunggu reaksi ramuan tidur yang ada dalam makanan itu berkerja.
Selang beberapa saat kemudian, suasana rumah bordil tersebut menjadi hening. Mereka yang tadi duduk menyantap makanan kini sudah tertidur dengan kepala berada diatas meja.
Hana dan Lauren langsung beranjak untuk mengemasi barang bawaan mereka dikamar dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sebelum benar-benar meninggalkan kota sesuai rencana mereka, tampak Herepito sudah menunggu di gerbang keluar dengan kereta yang sudah di isi berbagai bahan pokok.
Itulah ternyata rencana yang sudah disusun oleh Herepito, Lauren dan Rosita beberapa hari yang lalu.
Selain bertugas menyediakan bubuk tidur, Herepito juga menyediakan bahan pokok untuk mereka bawa pulang.
Jadi untuk sementara waktu, Hana dan Lauren tak perlu ke kota.
Misi melarikan diri pun berhasil. Siapa yang menyangka jika Hana akan berhasil mengecoh seorang pangeran dan Artius yang terkenal akan kewaspadaan.
Dengan kebisuan dan juga kepolosan yang ditunjukanya, Hana telah membuat mereka tertipu.
Usai dipesani oleh Herepito agar tak kembali ke kota dalam waktu dekat, Hana dan Lauren yang tak punya pilihan lain itupun menyetujui hal tersebut.
Masih dengan sisa-sisa badai, Hana dan Lauren akhirnya memulai perjalanan pulang meski ditengah gerimis.
* * *
" kau pasti sangat lelah .. maafkan aku, Hana " ucap Lauren menarik selimut menutupi tubuh Hana yang baru saja ambruk ditempatnya bisa tidur.
Mereka baru saja sampai saat matahari sudah tenggelam sepenuhnya.
Malam sudah sangat larut.
Hana yang sudah dikuasai lelah itu pun terlebih dahulu memejam matanya.
Namun Lauren, ia masih terjaga dengan
duduk disisi Hana, memperhatikan bagaimana wajah cantik itu tertidur dengan nyenyaknya.
Ia tak mengerti bagaimana mungkin ada wanita seperti Hana tanpa banyak bicara menurut saja pada apa yang ia katakan.
Meski tak menempuh perjalanan yang sama dengan berjalan kaki, namun karna kondisi fisiknya Lauren merasakan lelah yang serupa dengan Hana dan itu justru membuatnya tak mudah memejamkan kedua matanya.
Ia lalu teringat pada tingkah laku dua pria yang mulai memperhatikan Hana lebih daripada sebelumnya, Artius khususnya.
" jangankan wanita lain, aku saja bisa salah tingkah jika berada diantara dua pria seperti itu.. wanita ini benar-benar berbeda.. " kekeh kecil Lauren , ia masih menatap Hana dalam remang cahaya kecil lilin di ruang tersebut.
" bagaimana mungkin hatinya tak bergetar digoda oleh Artius.. meski dia kasar dan arogan namun wanita manapun pasti setuju dia tampan dan terlihat sangat jantan.. sedangkan pria bangsawan itu.. ah, apalagi dia.
Wajah dan tampilannya saja sudah lebih dari sempurna.. "
Lauren beranjak naik keranjang lusuhnya.
" apa mungkin karna calon suaminya ? jika benar demikian maka pantas saja jika Hana benar-benar menjaga dirinya.
Ia sudah terikat oleh hubungan pasti dengan pria lain.
Aku jadi penasaran.
Seperti apa sosok pria bernama Jon itu... betapa beruntung nya dia memiliki Hana yang masih setia menjaga hati untuknya ''
Cahaya lilin kian meredup, dan tak lama mati dengan sendirinya. Membuat seisi ruangan pun sama dengan langit diluar sana menjadi gelap gulita .
* * *
Hari berikutnya.
Seisi rumah bordil tampak kacau, mereka yang baru saja terbangun menatap heran ke sekeliling. Bagaimana mungkin mereka semua dapat tertidur dengan posisi kepala diatas meja dan beberapa pelayanan dilantai bahkan makanan yang mereka santap kemarin masih tergeletak begitu saja diatas meja.
Jangankan tuan rumah dan tamu inap mereka, para pelayananpun tak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi.
Karna badai , jadi di rumah pada saat itu hanya ada beberapa pelayan saja . Sedangkan banyak diantaranya memilih kembali kekediaman mereka masing-masing.
Artius memang tak mewajibkan para pekerjanya untuk tinggal menetap. Namun ia memberlakukan jam kerja secara bergilir.
Iantak mau sampai kekurangan pelayanan di rumah bordilnya.
* * *
Artius kesal karna kini ia berbalik dikerjai oleh dua wanita yang biasanya ia kerjain itu.
Satu persatu pelayan pun terkena imbas dari suasana hatinya yang sedang murka. Bahkan Berito pun tak luput dari pelampiasan kekesalanya.
" dimana Lauren " pangeran Leorda dan Hazel yang sudah sadar sepenuhnya dari tidur panjang mereka.
Mereka pun fa. paknya sudah menyadari dan mulai mencari sosok yang tak ada diantara mereka.
" ini pasti kerjaan Lauren.. ia pasti sudah memasukan sesuatu kedalam masakan yang kita makan kemarin " ucap Artius melihat pada wadah makan yang kemarin mereka semua gunakan.
" apa kau tau dimana mereka tinggal ?" pangeran Leorda menatap Artius penuh harap.
Setelah sebelumnya ia dan Hazel puas mencari disetiap sudut ruangan rumah tersebut dan tak menemukan apa yang ia cari.
" ah, sial.. aku lupa kalau aku tak tau dimana mereka tinggal...Akunhanyabtau mereka tinggal di bagian luar wilayah ini, dan jaraknya sangat jauh.
ck' sekarang mereka pasti sudah sampai "
Artius mengerbak meja.
" mungkin kita bisa melacaknya.
Jalanan masih basah pasti banyak jejak yang mereka tinggalkan " Hazel mengidekan.
Artius berjalan membuka pintu, lalu melangkah keluar .Tampak matahari terlihat bersinar dengan terangnya, menandakan jika badai sudah berlalu.
Artius memanggil para pelayannya termaksud pengawal setianya Berito agar mempersiapkan kereta dan perbekalan untuk perjalanan menyusul Hana dan Lauren.
Tak butuh waktu lama, keempat pria itu sudah berada diluar siap dengan segala keperluan menuju kediaman dua wanita itu.
" baiklah.. kita berangkat..lebih cepat lebih baik... " Pangeran Leorda tampak kompak satu misi dengan Artius.
Artius mengangguk dengan senyum penuh semangat.
Ia yang berada didalam kereta dengan Berito kusirnya, sementara dua tamu inapnya itu masing-masing menunggangi kuda yang entah sejak kapan sudah dipersiapkan.
" berani mempermaikankanku.. lihat saja bagaimana aku akan membalas kalian " gumam Artius saat perjalannya baru saja di mulai.
* * *
" sudah siang rupanya " Hana yang baru saja bangun dari tidurnya.
Hana merasa sangat lelah, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit karna harus menempuh perjalan dengan medan yang tak seperti biasanya.
Hana segera beranjak dari tempat tidurnya, ia melihat ranjang Lauren sudah kosong. Ia lalu menuju dapur dan tak jua ia temukan sosok renta itu disana.
Hana pergi menuju sungai, ia melepas seluruh pakainya, termaksud korset yang mau tak mau menjadi pakaian dalamnya selama ini. Ia mencelupkan habis tubuhnya kedalam air sungai yang terasa begitu menyegarkan. Beberapa kali ia terlihat menyelam untuk membasahi kepalanya.
Setelah kembali kedalam rumah dan mengganti pakainnya, Hana duduk di kursi dapur. Ia menunggu Lauren sambil memakan beberapa apel yang sempat ia petik tadi.
Lama dan tak jua muncul sosok yang ia tunggu dari tadi.
Hingga ia memutuskan kembali kedalam dan entah sejak kapan ia kembali tertidur. Mungkin lelah masih menginginkan tubuhnya untuk kembali beristirahat.
Hana sedikit terkejut ketika mendengar pintu terbuka, Lauren nampak masuk dengan keranjang penuh tumbuhan untuk racikan ramuan.
Hana mengkerutkan dahi, lalu bangun dan menghampiri Lauren yang hanya menyapanya dengan senyuman lalu pergi menuju dapur.
Hana menyusul, duduk disamping Lauren nyang memilah tumbuhanya untuk dijemur.
" ibu pergi begitu lama... aku sangat khawatir.. dan kenapa mencari begitu banyak tumbuhan? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak ke kota dalam waktu dekat ? " kesal Hana lalu mengambil ember berisi air, membasuh kedua kaki lauren yang penuh lumpur.
" kau tau Hana, semalaman aku memikirkan dua pria itu dan kesepakatan mereka yang kau ceritakan "
" tenanglah,bu . Toh, pada akhirnya kita berhasil kabur dari mereka.
Jadi untuk sementara waktu kita bisa sedikit tenang sambil memikirkan cara agar dapat menghindari mereka dalam jangka waktu panjang "
" kurasa hanya tinggal menungg waktu mereka akan menemukan kita "
" apa ? bukankah kau bilang tak satu orang pun tau dimana tempat tinggal kita... termasuk si Artius juga kan? "
" Bukan Artius yang ku khawatir kan..
tapi pria bangsawan itu...
entah kenapa firasat ku mengatakan dia bukan bangsawan biasa...
dia membuntuti kita, mencari tau tentang kita dengan bertanya pada orang-orang di kota bahkan sampai membuat kesepakatan dengan Artius... hanya agar aku dapat mengikuti tes ujian wajib itu... "
" apa yang kau khawatir kan bu... bukankah tidak akan ada hukuman bagi mereka yang gagal dalam mengikuti tes uji coba itu ?
Jadi bukankan tak masalah , jika pada akhirnya kau harus mengikuti kewajiban sebagai bagian dari negri ini kenapa tidak ikut saja dulu "
Lauren menyentuh pipi Hana yang masih membungkuk dihadapanya, seakan mencurahkan kasih sayang dari lubuk hatinya yang paling dalam.
" kau, Hana.. kaulah yang paling ku khawatir
jika aku kesana .
Jika aku harus berada disana selama 1 sampai 3 bulan, lalu bagaimana denganmu ? "
" kalau memang harus seperti itu maka aku akan ikut kemanapun kau pergi.. bukankah kita berjanji untuk saling menemani satu sama lain "
Hana menarik tangan Lauren dan menggenggamnya, membuat wanita tua itu tak dapat lagi membendung air mata harunya.