Spin off The Soldier and The CEO
Sabrina Lee selalu merasa dirinya bukan anak kandung sang ibu karena perlakuannya yang terlalu over protektif apalagi dia tinggal di sebuah dusun yang terpencil. Lulus SMA dan ibunya meninggal, Sabrina nekad ke Jakarta untuk mencari pekerjaan yang layak sambil kuliah online. Sabrina diterima di Ramadhan Securitas sebagai bodyguard. Kemampuan Sabrina bela diri itulah yang diterima kerja di sebuah perusahaan perlindungan klien VIP. Lima tahun pekerjaan itu dilakoni Sabrina hingga dia ditugaskan mengawal CEO muda bernama Ardiona Waranggana yang menyebalkan. Ardiona atau biasa dipanggil Ardi, awalnya tidak suka dikawal perempuan tapi Sabrina wanita tangguh hingga Ardi mengakui gadis cantik itu keren. Disaat Ardi diwajibkan menikah, dia membawa Sabrina sebagai calon istrinya. Mereka menikah dengan perjanjian selama setahun tanpa Ardi tahu jika Sabrina adalah pewaris yang hilang dari keluarga Pratomo.
gen ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabrina Curiga
Ardiona dan Sabrina tiba di gedung PRC yang bersamaan dengan kedatangan Aleksei Reeves bersama dengan asistennya, Norman.
"Leksi! Terima kasih kemarin sudah mengantarkan Sabrina. Aku masih ada urusan jadi Sabrina bosan dan pulang duluan," senyum Ardiona sambil menyalami Aleksei.
"Kamu tuh gimana sih! Asprimu malah disuruh pulang sendiri! Gak tanggung jawab tahu!" omel Aleksei ke Ardiona. "Untung ada aku dan Katarina jadi bisa pulang sama kita."
"Sorry. Tidak akan terjadi lagi," jawab Aleksei tanpa ada keinginan membantahnya.
Keempatnya pun masuk ke dalam lift dan Norman pun mengulurkan tangannya ke Sabrina.
"Norman Timothy."
"Sabrina Santoso."
"Kamu baru ya? Soalnya aku belum pernah lihat."
"Kamu saja yang dikirim keluar negeri sebulan ini, Norman. Jadi baru ketemu dengan Sabrina," ucap Aleksei ke asistennya.
"Oh, aku yang salah." Norman tersenyum ke Sabrina yang hanya dibalas dengan wajah datarnya.
Ardiona melirik sebal ke arah Norman yang langsung tertarik dengan Sabrina. Itu calon bini gue, woi!
Pintu lift pun terbuka di lantai perusahaan milik Ardiona. Pria itu malah meminggirkan tubuhnya. "Lady first," ucapnya sambil mempersilakan Sabrina keluar dulu.
Sabrina menatap bingung ke bossnya tapi dia berjalan keluar sambil berpamitan dengan Aleksei dan Norman.
Ardiona mendorong punggung Sabrina dan semua itu tidak lepas dari pengamatan dari Aleksei. Apa ada sesuatu antara Ardiona dan Sabrina?
Keduanya pun masuk ke dalam ruangannya dan tampak Ika sudah siap disana dengan dandanan yang cantik serta Ilham yang membawa banyak berkas.
"Pagi pak Ardiona," sapa Ika manis.
"Pagi. Kalian berdua ke ruangan saya untuk laporan soal Bandung. Nanti tolong jadwal saya dikosongkan Ika, saya harus pergi karena ada urusan mendesak." Ardiona pun naik ke ruangannya sementara Sabrina ke mejanya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Sabrina duduk di kursinya lalu menghubungi Lukman dan Haris tentang perkembangan Bratajaya.
"Jadi sekarang masih di ruang rawat inap?" tanya Sabrina.
"Iya. Sudah puasa semalam dan ini nanti jam sembilan masuk ruang operasi. Kamu sudah sampai kantor?" tanya Lukman.
"Jangan lama-lama, Brina," timpal Haris.
"Nunggu pak Ardiona selesai urusan kantor dulu. Baru kita ke Harkit. Sabar ya," jawab Sabrina.
"Oke."
Sabrina mematikan panggilannya bersamaan dengan keluarnya Ika dan Ilham dengan wajah gembira. Ardiona menyusul keluar dan mengunci ruang kerjanya.
"Brina, kita pergi sekarang!" ucap Ardiona dengan nada dingin.
"Baik pak."
Keduanya pun berjalan menuju lift dan semua itu tidak lepas dari perhatian Ika. Dilihatnya, Ardiona dan Sabrina tidak ada interaksi apapun bahkan mereka ada jarak.
Rupanya perasaan aku salah. Pak Ardiona tidak tertarik dengan Sabrina. Siapa juga yang betah dengan cewek macam robot begitu? Ika tersenyum. Jadi kans mendapatkan pak Ardiona terbuka lebar.
"Bagaimana kabar dari rumah sakit?" tanya Ardiona.
"Pak Bratajaya sudah persiapan mau masuk ruang operasi pak."
Ardiona mengangguk. "Nanti kamu nyetir agak ngebut ya."
"Baik pak."
***
Rumah Sakit Harapan Kita Jakarta
Ardiona mengakui kemampuan menyetir Sabrina yang bisa tiba dalam waktu setengah jam. Gadis itu ternyata bisa menyelip sana sini dengan smooth tanpa merusak mobilnya. Keduanya pun bergegas menuju area untuk operasi dan bertemu dengan Lukman dan Haris.
"Bagaimana?" tanya Ardiona dengan nada terengah.
"Baru saja masuk pak ...."
"Pak Ardiona?" tanya seorang suster yang sudah memakai baju operasi lengkap.
"Ya Sus?" Ardiona pun berjalan menghampiri suster itu.
"Bapak dicari pak Bratajaya. Pakai baju steril dulu. Pak Bratajaya minta dengan sangat untuk bertemu bapak."
"Baik Sus." Ardiona pun mengikuti suster itu sementara Sabrina, Haris dan Lukman menunggu di ruang tunggu yang disediakan.
"Kamu baik-baik saja Sabrina. Maafkan kami tidak bisa menemani kamu," ucap Lukman.
"Kan tugas bang Lukman dan bang Haris menjaga pak Bratajaya," ucap Sabrina.
"Betul juga."
Ardiona keluar dari ruang persiapan operasi dan menatap Sabrina.
"Sepertinya ada masalah, Brina. Sana, kamu hampiri Pak Ardiona," ucap Haris.
Sabrina pun menghampiri Ardiona dan pria itu tidak berbicara apapun tapi menarik tangan gadis itu lalu pergi ke area tangga darurat.
"Apa yang terjadi Ris?" tanya Lukman.
"Aku tidak tahu."
***
"Bapak? Pak Ardiona?" panggil Sabrina saat mereka berada di area tangga darurat.
Ardiona berjalan hilir mudik di depan Sabrina.
"Ada apa?" tanya Sabrina.
"Besok kamu berikan semua berkas kamu. KTP, KK, surat ijin menikah dari RT RW dan foto kamu. Pokoknya berkas untuk menikah. Jika kamu tidak sempat, biar aku telepon Galuh !"
Sabrina melongo. "Pak! Yang benar saja! Tolong jelaskan pada saya ini ada apa?"
"Brina, kakek meminta kita segera menikah! Benar kan, dua Minggu ! Kakek minta dua Minggu ke depan kita menikah !" ucap Ardiona. "Jadi tidak ada acara kamu menunggu wangsit atau apalah itu !"
Sabrina memegang pelipisnya. "Tapi kenapa pak? Apa ada masalah pada pak Bratajaya?"
"Kakek ingin melihat kita menikah Brina!" Ardiona menatap serius ke Sabrina.
"Pak ... Ini serius permintaan Tuan Bratajaya?" Sabrina merasa ada yang aneh.
"Memangnya aku dipanggil buat apa tadi!" hardik Ardiona dengan nada gusar.
Sabrina melihat bahasa tubuh Ardiona yang tampak genuine dan tidak ada kebohongan disana. Pantas kan aku curiga karena yang di depan aku seorang raja modus.
"Sekarang aku akan menghubungi Galuh dan aku akan datang nanti malam ke rumah kamu. Aku akan resmi melamar kamu!" ucap Ardiona tegas.
Eh? Eh? Eeeeeehhhhhhh?
***
Yuhuuuu up Siang Yaaaaaaaa
Thank you for reading and support author
don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️ 🙂
Ada Fayza - Hideo, Shaera - Eren
🤭🤭🤭
Sabrina - Ardi, agak mirip Fayza - Hideo yg menurunkan manusia paling random se klan Pratomo 😜😜😜😜😜