NovelToon NovelToon
Penjelajahan Prajurit Waktu

Penjelajahan Prajurit Waktu

Status: tamat
Genre:Peradaban Antar Bintang / Evolusi dan Mutasi / Penyelamat / Fantasi / Sistem / Time Travel / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: ArmandArt

Valendro sebagai ilmuwan yang mencanangkan ide mencari time glitcher agar kembali ke dimensinya atau diatur di tempat yang tepat, memiliki kesempatan kedua untuk mengatur sekelompok pasukan yang siap berpetualang di berbagai galaksi dan berbagai alur waktu. Namun untuk merekrut pasukan yang hebat saja, dia harus banyak berputar otak.
Untungnya beberapa prajurit yang telah berdedikasi, telah menyetujui dan mengabdi untuk Kaunsel Sejarah, dengan imbalan mereka diperbolehkan beberapa waktu sekali pulang atau pergi menemui orang yang mereka kasihi, baik itu keluarga ataupun sekedar pacar.
Tak hanya masalah pasukan, Valendro juga harus secara rutin memperbaiki Kapten pesawat yang dikendalikan oleh robot AI! Lancarkah petualangan mereka? Atau lebih banyak kegembiraan daripada yang sudah-sudah?

Hint: Novel ini adalah Saga dari Novel lama Author. Silakan DM author untuk info mengenai novel lama yang dimaksud

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArmandArt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesuatu Seperti Awan

< Serenium - Ruang Makan >

Suasana agak kaku antara Neoron dan Ruby ketika melihat Hellen yang tampak santai, walau dirinya Cyborg, tetap saja dia dapat mengkonsumsi makanan makhluk hidup. Berbeda dengan Hayate yang tampak lesu namun wajahnya tersenyum tipis. Jelas pemuda itu belum mandi, Hellen tampak bersih.

Sedangkan Makaria dan Audreena melakukan sarapan sambil berdiskusi. Berliana tampak biasa saja. Dia sebenarnya telah menyaksikan hal-hal lebih parah di Project terdahulunya.

"Kapten, semalam..." ujar Berliana namun Neoron berjengit sedikit. Robot Maid itu memutarkan sedikit matanya, "....kami, Nona Celia dan Osayr sudah kembali. Jadi tolong teruskan info ini ke Profesor Valendro..."

"Ehmm...ooo-oke..oke..." sahut Neoron agak kikuk. Hal ini memang dibenarkan oleh Ruby. Sekitar pukul 11 kurang 15 menit malam tadi, ruang teleportasi yang digunakan Celia, Osayr dan Berliana tiba. Kedua kru itu segera kembali ke kamarnya malam itu. Sedangkan Berliana ke dapur. Di saat itulah dia bertemu Ruby yang bimbang, seolah habis kabur dari sesuatu.

Tak lama, Audreena dan Makaria minta ijin menggunakan Gym selama sehari-dua hari, sehingga mereka mungkin tak dapat join Misi. Neoron segera mengangguk paham dan berlalu ke Bridge bersama Ruby. Hayate sendiri kembali ke kamarnya untuk mandi. Hellen ketika akan bangkit setelah sarapannya, tiba-tiba ditahan bahunya oleh Berliana.

"Nona Hellen, bolehkah saya bertanya sedikit...?" tanyanya dengan pandangan agak dingin, namun Hellen tak merasakan itu, dia malah menanggapi dengan santai.

"Ya, ada apa, Robot Maid, hehe, maaf aku lupa bertanya nama-nama disini..."

"Berliana, Nona. Apakah semalam anda baik-baik saja, erm, bersama Tuan Hayate...?" ujar Berliana sambil memperkenalkan diri. Hellen yang masih duduk, mengingat-ingat, lalu dia menutup mulutnya.

"Eh? Apa kalian dengar...?!" tanya Hellen agak panik. Terlalu lama dirinya di Dimensi Sentient membuatnya agak melupakan sisi moralitas makhluk hidup. Itu sebabnya dia kurang menahan diri semalam.

"Tidak. Hanya menebak. Saya bertanya hanya untuk memastikan kalian berdua apakah bermasalah melakukan itu?" jawab Berliana sambil sedikit menggelengkan kepalanya.

"Hemm...sejujurnya. Mesin saya dapat beradaptasi dengan kondisi lawan main saya... Dari sisi saya tak masalah, tapi dari sisi Hayate...." ucap Hellen agak ragu sambil menggigit bibir bawahnya, "...m-maksudku! Kurasa dia hanya kelelahan, jadi staminanya agak....terkuras...?!" lanjutnya sambil agak merasa bersalah. Terlebih Berliana memberi pandangan menekan. Namun Robot Maid itu kembali menegakkan diri dan menghela nafas sedikit.

"Baiklah! Nanti saya berikan suplemen penambah stamina ke Tuan Hayate. Tapi..." ucap Berliana lalu dia menambah penekanan ke kata-kata selanjutnya, "....lain kali tolong dimoderasi tingkat intensitas kalian, mengerti? Kami disini berusaha supaya Kru tidak banyak sakit dan siap bekerja" lalu Berliana pun pergi ke dapur sambil membawa piring kotor, yang tadi sambil dia lakukan ketika bertanya.

Hellen agak menjilat bibirnya mendengar itu. Sebagian dirinya merasa bersalah, tapi fisik lamanya. Ketika dia masih manusia, adalah seorang gadis yang hyper. Sehingga hal itu agak sulit dia kontrol. Untuk mengurangi kesalahannya, dia segera ke Bridge Serenium, berharap dia bisa menebus dengan bekerja untuk pesawat tersebut.

****

< Serenium Living Quarter >

[Misi: Transfer Ancient ke Dimensi Lain]

[Lokasi: Dimensi Giga. Planet Urbosa. Dataran Bohma]

[Tingkat Kesulitan: Mudah - Menengah]

[Hadiah: Diberikan oleh Target]

"Ha? Hadiahnya..." celetuk Hellen bingung.

"Ras Ancient yang akan memberinya, tepat sekali Nona...um..Hellen" potong Neoron cepat, "Dimensi ini agak berbahaya. Bukan karena penduduk lokal akan menyerang, tapi mereka masih di jaman Prehistoric. Harap maklum" tambahnya.

"....tapi, Kapten. Apa Misi kali ini hanya menjemput?" tanya Osayr.

"Seperti yang saya katakan tadi, kalian menjemput dan kita akan mengantar Target ke dimensi yang sekiranya aman bagi dirinya. Tapi lokasi dimana Target saat ini, adalah medan yang sulit..." jelas Neoron. Osayr, Celia dan Hayate tampak bingung. Menurut data detil mengenai planet tersebut, satwa dan predator yang bersemayam, kebanyakan adalah makhluk brutal.

"Karena itulah, saya menyarankan antara kalian yang telah menerima Kartu Perekrutan, merelakan kartu supaya Misi ini bisa kita selesaikan..." ucap Neoron, namun tiba-tiba....

Pesan Baru diterima dari SPD.

Ivy menyampaikan itu. Membuat Neoron yakin ini sesuatu yang darurat, "Kalian tunggu disini, atur strategi..." pintanya. Sementara dirinya segera memeriksa di komputer Bridge, yang ternyata pesan dari Valendro.

"Apa menurutmu kita butuh seseorang yang kuat berantem? Kita ada Ria, tapi dia saat ini belum siap kan?" tanya Hayate.

"Itu juga yang kupikirkan...." sahut Osayr, dia mengerling Hellen yang menyadarinya.

"Hey, jangan aku. Aku hanyalah hacker, aku tak pandai bertarung...." ucap Cyborg wanita itu.

"Dan aku tak bisa. Aku hanyalah penyihir putih. Rena bisa bertarung tapi aku ragu dia dapat melawan predator...." sambung Celia ikutan bingung.

"BERITA BAIK!" seru Neoron tiba-tiba dengan berlari kembali ke sofanya, "Profesor Valendro akan mengirimkan satu unit Robot Petarung. Dia ingin tes kemampuan robot ini. Tentu salah satu dari kalian akan menemaninya?" jelasnya. Mendengar itu, Celia menjadi tergugah untuk membantu, terlebih dia tak ikut di Misi sebelumnya.

"Aku akan melakukannya!" sahut Celia semangat.

"Cel- tapi..." potong Osayr. Gadis hybrid duyung itu menggeleng.

"Aku sudah absen satu Misi. Aku akan menemani, siapa tau aku bisa membantu sekiranya robot petarung atau target terluka kan?" jelas Celia, seketika apa yang gadis itu katakan memberi Neoron ide.

"Tolong bawalah Nona Hellen bersama. Tidak untuk bertarung, Nona. Tapi apabila Robot Petarung itu terluka, anda bisa membantunya memperbaiki kan?" ucapnya sambil segera memotong. Karena dilihatnya Cyborg itu seperti mau protes. Namun setelah mendengar perannya nanti, dia kembali duduk dan berpikir hal itu ada benarnya juga.

"Baiklah, Misi akan dijalankan besok. Kami akan menyambut Robot Petarung itu. Kalian jangan khawatir, saya pastikan dia siap saat waktunya tiba!" tutur Neoron menutup meeting kali ini.

****

< Markas SPD >

[Brain System Activated.....]

[Synapsis level.....ready]

[Conscience level.....medium.....ready]

[Mental Adaptation.....activated]

Sebuah Robot baru saja diaktivasikan fungsinya. Robot itu membuka matanya yang hijau toska gelap, lalu dia menyadari dirinya sedang dalam posisi berbaring. Dia perlahan bangun, matanya sedikit tak fokus sejenak. Hal ini lumrah menurutnya, karena dia baru saja berpindah tubuh. Master barunya tak begitu suka dengan penampilan tubuh lamanya.

Dia lalu menggeser ke posisi duduk di satu sisi ranjang khusus Robot itu. Dirinya melihat dan mengobservasi fisik barunya yang, jauh lebih.....ramping. Pahanya yang tadinya berotot kasar, kini sangat halus dan empuk. Silikon, pikirnya setelah merasakan fisiknya. Namun tak hanya pahanya, hampir seluruh sisi tubuhnya terasa empuk dan realistis layaknya manusia biasa.

"XY-4N7N, daftarkan namamu!" ucap seorang pemuda yang dia kenal sebagai Master barunya. Robot itu segera diam, pupil matanya seakan memproses dan menunggu data baru yang akan dimasukkan.

"Claudia" ucap pemuda itu mantap.

"Nama saya Claudia" jawab Robot itu sambil tersenyum kosong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!