Kini aku sudah resmi menjadi istri dari Anggara Putra Gibson. Namun, aku menjadi istri kedua. Aku yang masih duduk di perkuliahan semester delapan, menyusun skripsi sembari menata hidup baru bersama lelaki yang sudah mempunyai istri itu, dan dia adalah suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustinara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34 BERTENGKAR LAGI
Luna pov
Rapat hari ini dilakukan di kantor. Jadi aku tidak usah kesana sini. Hari ini juga pak Fadlan tidak hadir karena dirinya harus pergi ke Jakarta. Aku tidak tahu menahu alasannya.
Projek kali ini pun tidak terlalu besar seperti kemarin. Jadi ini akan dilakukan oleh individu dan anggota tim lain hanya membantu.
Sebuah apartemen tak kalah mewah dengan apartemenku, akan di reka ulang segala propertinya. Aneh memang. Tetapi katanya dia baru berpindah dari luar negeri dan ia bosan dengan gaya lamanya.
Bunda sudah menelfonku beberapa kali untuk membawakan barang titipan lain. Aku senang karena bunda seperti tak sabar bertemu denganku.
Jam dua siang pekerjaanku sudah selesai. Butuh satu jam saja aku berkeliling di supermarket. Setelah itu aku pergi kerumah bunda.
Sampai disana aku terheran melihat mobil suamiku terparkir disana. Dalam hati sedikit merasa senang, namun ada perasaan tak enak dalam hatiku.
Aku masuk kedalam rumah besar. Tak ada yang menyambutku. Aku langsung saja pergi ke ruang makan karena terdengar suara orang yang saling berbincang disana dan aku mendengar suara mas Anggara. Namun langkahku terhenti saat mas Anggara membicarakan kehamilan istri pertamanya.
Ntah mengapa aku merasa hatiku sakit. Melihat wajah bunda yang berbinar, mendengar mas Anggara yang antusias, dan bu Silvi. Pasti dirinya pun sangat bahagia akan mempunyai buah hati.
Aku menghampiri mereka ke meja makan. Lala yang asalnya tersenyum, melihatku dari jauh menjadi menatapku dengan khawatir. Aku tersenyum dan mengangguk padanya memberi tahu bahwa aku baik-baik saja.
"Assalamualaikum" ucapku pada semuanya.
Suasana langsung hening dan canggung. Langsung saja aku menggapai lengan bunda untuk memberi hormat. Aku pun mencium tangan suamiku dan aku juga bersalaman dengan bu Silvi.
"Apa kabar bu?" Ucapku basa basi.
"Baik." Ucapnya dingin. Aku tak memperdulikan hal itu. Yang pasti aku langsung memberikan barang-barang yang bunda dititipkan padaku beserta oleh-oleh didalamnya.
"Luna.. maaf aku cuma bawa tiga porsi" ucap Anggara saat Lala hanya mengantarkan tiga piring makanan saja. Lagi-lagi Luna kembali tersenyum.
"Gak apa-apa, aku sudah makan kebetulan tadi mas" Dustaku. Padahal aku belum makan dari tadi siang.
"Yaudah sini duduk sayang, cicip yang bunda aja" ucap bunda. Bunda mencoba membuatku nyaman berada disini.
"Emm bun, aku pengen lihat bunga-bunga dibelakang sana. Udah lama juga, gak apa-apa ya? Nanti kalau udah beres makannya, panggil aja" ucapku. Bunda mengangguk.
Aku langsung saja melangkahkan kaki ke arah pintu belakang. Terngiang berita yang mas Anggara ucapan tadi, membuat hatiku tersengal.
Kulihat bunga mawar yang sudah mekar dan ada juga yang sudah layu. Saat ku lihat kebawah, banyak sekali daun yang kering juga bunga yang sudah terlepas dari tangkainya.
Ku petik dedaunan dan bunga yang sudah mati itu satu persatu. Ku siram mereka dan ku petik bunga yang masih segar untuk ku rangkai. Sangat benar bila tanaman membuatku lebih baik.
Aku jadi bisa berfikir jernih sekarang. Untuk apa juga aku sedih dan sakit hati? Toh mereka pun suami istri. Dan pasti akan mempunyai keturunan. Aku pasti bisa menerima itu, aku tahu posisiku. Aku tak boleh menjadi istri yang buruk.
Jejak seseorang terdengar menghampiriku yang sedang duduk di gazebo. Aku tahu itu tapi aku tidak niat untuk menoleh, aku berpura-pura saja sedang fokus pada bungaku. Aku yakin orang lain pun pernah melakukan hal ini.
"Luna" suara bu Silvi yang sedikit mengejutkan ku. Aku langsung menoleh padanya dan mencoba tersenyum.
"Eh, bu?" Ucapku. Aku langsung mempersilahkannya duduk.
"Kamu suka bunga ya?" Tanyanya. Aku mengangguk dan masih tersenyum.
"Selamat ya bu atas kehamilannya. Bunda pasti sangat bahagia" ucapku antusias. Bu Silvi hanya menorehkan senyumnya.
"Kapan kamu nyusul?" Tanyanya. Tenggorokan ku tiba-tiba seperti tertahan. Namun aku langsung saja tertawa.
"Ih bu Silvi ini gimana sih.. bu Silvi aja dulu, kasian mas Anggara kalau aku hamil juga" ucapku.
"Bulan depan wisuda ya?" Tanyanya. Ia pasti sedang mengalihkan topik. Aku langsung mengangguk saja.
"Akhirnya kamu wisuda juga. Saya tahu tugas terakhir kamu tentang lukisan itu kamu ambil dari rumah ini" ucapnya. Aku hanya membalas perkataannya dengan cengiran. Bagaimanapun dia masih dosenku dikampus.
"Luna?" Ucapnya. Aku mendongak seolah berbicara 'apa'
"Saya harap kita bisa akur." Ucap bu Silvi. Aku tersenyum dan mengangguk lalu bu Silvi meninggalkanku karena mas Anggara memanggilnya.
Akur? Apa aku bisa akur dengannya? Bahkan melihat kebersamaannya dengan suamiku saja sudah membuatku terbakar. Akur dia bilang?
Tapi.. memang seharusnya begitu kan? Ingat Luna, perceraian itu hal paling dibenci oleh tuhan. Poligami pun bukan hal yang buruk. Kamu harus mampu! Sekelas bu Silvi atau pejabat saja banyak yang dimadu.
Aku menghela nafasku guna menenangkan diri. Namun lagi lagi suara seseorang mengejutkanku. Kali ini mas Anggara!
"Luna? Silvi ngobrolin apa?" Tanyanya yang langsung duduk dihadapanku.
"Umm itu- tentang wisuda" ucapku. Memang benar kan?
"Kapan kamu wisuda?"
"Bulan depan."
"Orang tuamu akan kesini?" Tanyanya. Aku mengangguk.
"Nanti saya transfer untuk beli tiket ya"
"Uang saya masih ada ko! Ohiya, mas Anggara sudah transfer aku 100 juta dua bulan ini, itu untuk simpanan aku ya?"
"Itu uang bulanan kamu. Saya naikin lebih dari gaji kamu" ucapnya. Dahiku mengkerut.
"Kenapa?"
"Biar kamu gak terlalu mementingkan pekerjaan kamu. Saya tahu gaji kamu berapa di Lewis" ucapnya. Aku tak mengerti perkataannya.
"Aku gak ngerti"
"Nanti bakal ngerti" ucapnya. Aku hanya menggedikkan bahu saja dan melanjutkan acara merangkai bunga.
Aku tahu mas Anggara memperhatikan gerak gerik tanganku. Dan aku yakin dia sedang memikirkan sesuatu yang sama sekali aku tidak tahu. Mungkin yang difikirannya sama, bertanya-tanya apa yang ada di dalam kepala masing-masing.
"Lun.." ucapnya. Aku mendongak.
"Saya mau buat aturan jadwal baru" ucapnya. Aku menunggunya melanjutkan kalimatnya.
"Kamu gak keberatan kan kalau waktuku lebih lama sama Silvi? Sekarang kondisinya sedang hamil" ucapnya. Terbesit hatiku seolah ditorehkan luka manis yang indah. Namun lagi lagi aku mencoba tersenyum.
"Sure. Aku fikir juga harus gitu mas." Ucapku.
"Gak apa-apa?"
"Yes. Saya juga tahu ko mas Anggara punya istri dua. Dan saya yakin memang sedikit sulit untuk membagi waktu apalagi mas Anggara kan pekerja aktif dan selalu kekantor" ucapku.
"Makasih udah ngerti. Rencana sih saya pulang kekamunya weekend saja, tapi aku belum ngobrol sama Silvi" ucapnya. Aku mengangguk.
"Iya mas."
"Yakin gak apa-apa?" Ucapnya. Aku meletakkan gunting dan tangkai mawar di meja dan langsung menghela nafas.
"Yakin mas. Bukannya aku harus terbiasa untuk itu?" Tanyaku sembari menatap intens dirinya. Akhirnya dia mengangguk.
"Aku mau simpen ini dulu ya" ucapku dan langsung meninggalkan area gazebo.
Hari ini cepat berlalu, karena aku pun langsung membantu bunda membuat dessert seperti kue browniess dan olahan buah.
Mas Anggara dan bu Silvi sudah duluan pulang karena kesehatan bu Silvi sedang tidak baik. Terlihat dari mata mas Anggara yang khawatir padaku. Tapi aku harus tetap terlihat baik-baik saja.
Bunda juga terlihat senang. Toh masa aku akan menjadi perusak keluarga ini. Bagaimanapun aku harus selalu mengingat posisiku disini.
***
Author pov
Silvi baru saja selesai mandi dan Anggara sedang duduk di kursi balkon apartemen sembari memangku laptopnya. Silvi menghampiri Anggara dan duduk disampingnya.
"Eh sayang, udah mandi?" Tanya Anggara yang hanya terbalut koas putih polos beserta celana boxer.
"He'em. Kamu gak mandi?"
"Mau kok" ucap Anggara yang masih menatap layar laptopnya.
"Baru aja diobrolin tadi, sekarang dilakuin kan masih" ucap Silvi jengah dengan aktivitas suaminya menatap laptop dirumah.
Anggara dengan sigap langsung menutup benda pipih tersebut dan merangkul bahu sang istri. Silvi langsung tersenyum dibuatnya.
"Gimana? Gak pusing lagi kan?" Tanya Anggara. Silvi menggeleng.
"Ang.. kok aku jadi merasa bersalah ya sama Luna" ucap Silvi sembari menerawang keatas langit yang sudah gelap. Anggara terheran dengan ucapan Silvi.
"Kok kamu berfikir begitu?" Tanya Anggara.
"Gimana ya, aku takut dia sakit hati karena aku hamil" ucapnya. Anggara menghela nafasnya.
"Silvi.. kebetulan kamu ngomongin ini. Aku bakal bagi waktu ulang ya?" Ucap Anggara.
"Gimana?"
"Yang pasti aku mau disini lebih lama. Kamu juga belum ke dokter kan?" Tanya Anggara.
"Eh- i-iya belum" ucap Silvi tergagu.
"Kenapa kamu gugup gitu?" Tanya Anggara heran. Silvi langsung menggeleng cepat.
"Tenang, aku bakal usahain nemenin kamu kok" ucap Anggara yang langsung mencium kening Silvi.
Kalau begini, aku malah semakin bersalah sama kamu Ang. Maafin aku. Batin Silvi.
"Makasih" ucap Silvi pelan bebarengan dengan senyumannya.
"Ohiya rencana aku akan pulang ke Luna di weekend dan sama kamu di weekday." Ucap Anggara.
"Hah? Gak mau ah, aku pengen weekend kamu disini."
"Kenapa?"
"Aku pengen seharian sama kamu aja kalau weekday. Nanti kan kalau udah keluar baby kita jarang berduaan" rajuk Silvi. Anggara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jadi kamu inginnya gimana sayang?"
"Senin, selasa, rabu. Kamu di Luna. Kamis, jumat, sabtu dan Minggu kamu disini" ucap Silvi. Anggara terlihat berfikir.
"Jadi tiga hari dong di Luna? Aku niatnya kan dua hari aja"
"Gak apa-apa, lagian kan biasanya Senin kamu lembur yang" ucap Silvi.
"Iya juga, yaudah deal ya" ucap Anggara.
"Eh Luna nya gimana? Kamu gak tanyain dulu?"
"Dia pasti ngerti ko" ucap Anggara sembari menggedikkan bahunya.
Mereka dekat gak sih? Tanya Silvi dalam hati.
"Yaudah gih kamu pulang ke Luna. Mandi disana aja, sekarang kan hari selasa" ucap Silvi.
"Gak- gak apa-apa?"
"Aku udah ngerti kok. Yah walaupun ada sedikitnya hati aku terbesit, tapi aku harus terbiasa" ucap Silvi. Anggara akhirnya mengangguk dan kembali mencium kening Silvi.
"Sehabis kamu tidur, aku kesana"
Setelah mereka sholat isya berjamaah, Silvi langsung memutuskan untuk istirahat.
Dipandangnya wajah Silvi yang sudah terlelap. Anggara menatap Silvi dengan penuh tanya. Dalam hati ia semakin banyak curiga padanya.
"Apa yang sebenarnya kamu fikirin Sil?" Gumamnya sembari menyibakan anak rambut sang istri.
Langsung Anggara bangkit dan memakai jaket hoody-nya. Ia juga tak lupa membawa tas yang didalamnya ada beberapa potong baju dan satu laptop miliknya.
Silvi yang menyadari suaminya sudah keluar apartemen, dirinya pangsung terduduk dan menangis.
"Yang penting kamu masih punya aku Ang. Lakukanlah apa yang harus dilakukan. Kesalahanku bahkan lebih besar, maafkan aku" ucapnya dalam tangis.
Entah mengapa Anggara bersemangat untuk berangkat ke apartemen Luna. Ia juga merasa khawatir dengan perasaannya sekarang. Anggara bertanya-tanya, apakah kedua istrinya akan bertahan dan memahami posisinya masing-masing?
Banyak para lelaki diluar sana yang menginginkan beristri dua. Bahkan sampai bersembunyi dan menimbulkan masalah. Pada awalnya Anggara pun merasa akan baik-baik saja setelah dirinya mencoba menaruh hati pada Luna. Akan tetapi yang di rasa pak Cipto ternyata nyata. Ia tak sanggup menatap wajah mereka.
Butuh waktu lima belas menit untuk Anggara mengendarai mobilnya menuju ke apartemen Luna dari tempatnya berada dijam setengah sembilan malam ini. Hingga Anggara menempelkan sidik jarinya dan langsung memasuki apartemennya.
Suasana terlihat lenggang. Sangat sepi disana dan tidak ada siapapun. Terlihat ada bekas piring kotor di meja makan, Anggara yakin Luna sudah berada dirumah. Lelaki yang mempunyai rahang tegas itu mencoba memanggil sang istri sembari mencarinya kesetiap sudut ruangan.
Saat membuka kamar tidur, Luna tidak ada disana. Anggara semakin bingung dan menekukan wajahnya. Di kamar mandi pun tidak ada siapapun.
Ia langsung keluar lagi dan mencari Luna di ruangan yang lain. Saat ia mencoba membuka kamar kosong yang tadinya harus menjadi miliknya, ia tampak ragu tetapi dengan pasti ia membuka pintu tersebut.
Benar saja Luna ada didalam. Ruangan yang langsung menembus kaca besar yang memperlihatkan kota bandung itu terlihat sedikit lenggang, hanya ada beberapa peralatan aneh yang Anggara tak tahu menahu tentang itu kecuali dua buah manekin tinggi. Luna memakai celana hotpans dan baju kebesaran itu terlihat sedang menghadap keluar jendela yang Anggara sendiri tidak tahu sedang melakukan apa. Suara lagu edm dari The Chainsmoker - Closer terdengar begitu keras diruangan ini.
Anggara menghampiri Luna. Terfikir niat jahilnya untuk mengejutkan wanita berumur duapuluh dua tahun itu. Dengan langkah mengendap-endap, Anggara memasang wajah jahilnya.
Namun saat Anggara akan memegang bahu Luna dengan tiba-tiba, Luna berbalik dan mereka berdua berteriak karena terkejut.
"M-mas?" Tanya Luna heran. Anggara hanya tersenyum lebar.
"Kok ada disini?" Tanya Luna lagi sembari mengecilkan suara speakernya dari ponsel.
"Kenapa nanya?" Tanya Anggara yang berusaha melihat apa yang sedang Luna kerjakan dimeja.
"Kamu lagi ngapain? Ini baju siapa?" Tanya Anggara yang terheran melihat kemeja bercorak setengah jadi di manekin. Luna langsung terkejut karena niat selundupannya terbongkar. Ia langsung mendorong tubuh Anggara untuk segera keluar.
"Mas kok disini?" Tanya Luna kembali setelah mereka keluar dari ruangan tersebut.
"Baju siapa tadi?" Tegas Anggara. Namun Luna malah menundukkan kepalanya dan mengigit bibir bawahnya.
Masa gue harus kasih tau dia sih? Batin Luna.
"Lun? Punya Fadlan ya? Atau Cheko?" Tanya Anggara dingin.
"Lah, kok jadi mereka sih?" Tanya Luna heran.
"Yakan kamu dekat sama mereka! Ayo jujur aja" Anggara langsung membuang mukanya.
Dia cemburu? Tanya Luna dalam hati. Langsung saja tawanya yang tertahan keluar.
"Kok kamu ketawa sih?"
"Mas kenapa sih? Kok mikirnya gitu" ucap Luna.
"Ya-kan, aku"
"Kalau buat mereka, kenapa memang? Kok mas malah kayak yang gak suka gitu?" Goda Luna. Darah Anggara naik seolah terkumpul di ubun-ubun. Ia langsung pergi meninggalkan Luna menuju dapur dan meminum segelas penuh air putih hingga tandas.
Buru-buru Luna mengejar sang suami yang terlihat risau. Mereka kembali berhadapan lagi.
"Mas udah makan?" Tanya Luna lembut.
"Gak nafsu!" Ucap Anggara dingin sembari melangkahkan kaki ke sofa dan menyalakan telecisi. Ini sudah jam sembilan malam dan tak ada alasan bagi Anggara untuk makan.
Luna menghela nafasnya. Terheran sengan sikap Anggara yang berubah-ubah, terapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi kalau bukan membuatkan minuman hangat untuknya.
Dengan cepat Luna membuatkan teh manis hangat dan meletakannya diatas meja. Anggara sama sekali bergeming, ia berpura-pura fokus dengan tontonannya.
"Mas? Kenapa disini?" Tanya Luna yang sudah duduk disamping suami.
"Gak boleh?" Tanya Anggara menatap tajam pada Luna.
"Ya- ya boleh, tapi kan-" perkataan Luna terpotong karena Anggara yang tiba-tina berdiri dan mengambil tas gendongnya kembali.
"Eh-- mas-- mau kemana?" Lunapun ikut berdiri dan mengekori sang suami.
"Saya udah bilang apa waktu itu? Jaga jarak sama mereka! Tapi apa? Kamu malah mau buatkan baju!" Bentak Anggara.
"Tapi itu buat kamu mas bukan buat mereka, mas kenapa sih?" Tanya Luna mulai panik. Suaminya memang tak bisa diajak bercanda.
"Halah alasan! Dasar gak tahu diri" ucap Anggara yang langsung keluar pintu apartemen dan menutupnya dengan keras.
Luna tak menyangka. Lagi-lagi suaminya mengatakan hal yang sangat menyakitkan. Ia melangkah mundur dan kembali duduk di sofa.
Dasar gak tahu diri!
Kalimat itu terngiang di benaknya. Air mata tak mampu ia bendung lagi. Mutiara bening terjun bebas di pipi mulusnya.
Sedangkan sipelaku sudah didalam mobil SUV nya dibelakang kemudi. Nafasnya terengah-engah karena emosi. Dirinya memukul stir berkali-kali.
Rehat sebentar mengingat kejadian tadi, Anggara mulai berfikir. Apakah dirinya sudah terlalu kasar pada Luna? Apa yang salah dengan dirinya sehingga dia harus semarah itu?
Buru-buru ia keluar dari mobil kembali menuju lift. Langkahnya yang lebar membuatnya menjadi sangat cepat sampai.
Ia terus memikirkan dirinya dan perasaan Luna. Mengorek hati yang memanas mendengar Luna mengakui dekat dengan lelaki lain. Apa yang sebenarnya ia rasakan sekarang?
Cemburu? Tidak mungkin. Lalu mengapa dirinya harus semarah itu? Inikah yang namanya cinta?
Anggara langsung menempelkan sidik jarinya dan membuka pintu besi yang mengkilap itu. Dilihatnya Luna yang terduduk di sofa sembari menengok padanya dengan wajah merah dan berderai air mata. Hatinya sangat sakit melihat Luna yang seperti itu.
Langsung saja Anggara berlari menghampiri Luna dan memeluknya. Anggara menyadari sesuatu dalam dirinya. Ini bukan hanya sekedar sayang. Ini lebih dari pada itu. Ini adalah benar-benar cinta.
***
BERANTEM MULU PUSHING!
Ohiya...
Karena lagi #dirumahaja dan bumi lagi terkena wabah yang sangat parah, aku ingatkan lagi ya sayang..
Dear good people, stay safety and healthy! Kalau gak penting-penting amat jangan keluar rumah ya! Author pun lagi di lockdown nih dan otomatis kampus meliburkan mahasiswanya, dan sialannya tugas tetep numpuk😂
Inget! Jangan bandel ya! Jangan sepelekan virus ini😭
Mending diem dirumah aja, baca novel aku ya khannnn😂😂
Ohiya dan jangan lupa cek novelku yang baru release ➡️➡️COMING BACK AS WE ARE⬅️⬅️
THX U❣️
Don't forget to like!
Tbc-
kasihan mbak luna yg jd korban.
tapi y sdh lah, takdir kehidupan terus berlanjut, dengan jln ny masing2
Mugi yg bosan dengan usaha ny tuk tanggung jawab pergi.
raasain lo dilvi nikmati hasil yg kau tanam
pantes aja si silvi ngelunjak.
Anggara ny yg bego
udah di selinguhi, masih ja mau baikan.
stukurin ..bakalan ngebesarin anak orang yg nitip benih ny ke rahim silvi
tapi takut di cerai kan 😀😀😀
takit gsk dapatateri dari kamg Anggara 😁😁😁
gak bisa mov on dari istri tercinta ny yg terang2 an selingkuh di belakang ny.