NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GEMETAR

​Ketakutan adalah emosi yang sangat menular. Hawa dingin menjalar dari telapak kaki Wang Jiao hingga ke ubun-ubunnya, membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Seringai kejam yang beberapa menit lalu menghiasi wajahnya kini telah digantikan oleh rahang yang mengatup rapat karena rahangnya gemetar tanpa henti.

​Di sampingnya, Penatua Huo tidak menunjukkan kondisi yang lebih baik. Sebagai seorang kultivator ranah Qi Condensation tingkat sembilan, dia telah hidup di dunia persilatan selama hampir satu abad. Dia telah melihat berbagai jenis jenius berbakat dan pakar bela diri, tetapi apa yang baru saja dia saksikan berada di luar batas pemahamannya tentang logika kultivasi.

​"Maksud Pedang..." Penatua Huo berbisik dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar. Tatapannya tertuju pada pecahan ranting kering yang dibuang Ji Huang ke tanah. "Bagaimana mungkin seorang remaja di kekaisaran fana bisa menguasai Maksud Pedang pada tingkat bermanifestasi tanpa energi? Ini tidak mungkin!"

​Wang Jiao yang tidak paham esensi di balik serangan tadi, mulai merasa kehilangan muka. Rasa takutnya sesaat terkalahkan oleh arogansi klan besar yang mendarah daging. Dia mencengkeram lengan baju Penatua Huo dengan panik sekaligus geram.

​"Penatua Huo! Apa yang Anda lihat?!" teriak Wang Jiao, suaranya melengking tinggi karena emosi. "Pengawal itu hanya ceroboh! Si sampah Ji Huang pasti menggunakan semacam alat pusaka rahasia atau racun fana untuk mencurangi kita! Penatua, Anda adalah ahli dari Sekte Harimau Barat! Maju dan hancurkan dia! Potong lidahnya agar dia tidak bisa pamer lagi!"

​Mendengar perintah bodoh dari tuan muda manja itu, Penatua Huo rasanya ingin sekali berbalik dan menampar wajah Wang Jiao sampai berputar. Alat pusaka rahasia? Racun fana? Bodoh sekali! Tidak ada alat pusaka di dunia ini yang bisa membuat sebatang kayu lapuk menghancurkan besi tempa tanpa memercikkan satu tetes pun energi spiritual. Itu adalah murni penindasan konseptual dari pemahaman Dao tingkat tinggi!

​Namun, Penatua Huo juga berada di posisi yang dilematis. Dia telah menerima banyak sumber daya dari Keluarga Wang. Jika dia mundur begitu saja tanpa bertarung hanya karena gertakan seorang pemuda yang tidak memiliki basis kultivasi murni, reputasinya dan nama baik Sekte Harimau Barat akan hancur lebur di Kekaisaran Nan Gong.

​Penatua Huo menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Dia melangkah maju, melepaskan seluruh energi spiritual dari Dantiannya tanpa sisa.

​WUSH!

​Jubah biru langit milik Penatua Huo berkibar hebat. Aura spiritual berwarna perak keabu-abuan meledak dari tubuhnya, membentuk pusaran angin yang berputar mengelilingi halaman. Tekanan dari ranah Qi Condensation tingkat sembilan bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan oleh manusia biasa. Ji Zhen dan para pelayan Keluarga Ji langsung jatuh berlutut, napas mereka terengah-engah seolah-olah ada batu tak kasat mata yang menindih dada mereka.

​"Anak muda," Penatua Huo berkata dengan nada berat yang diisi kekuatan dalam. "Aku tidak tahu metode sesat apa yang kamu gunakan untuk menjatuhkan pengawal tadi. Tetapi di hadapan kekuatan murni Sekte Harimau Barat, trik kecilmu tidak akan berguna. Berlutut dan menyerahlah, maka aku akan menyisakan mayat yang utuh untukmu!"

​Ji Huang yang sedang asyik meminum sisa teh dinginnya, langsung menurunkan cangkirnya. Dia menatap Penatua Huo yang sedang berdiri dengan dikelilingi angin puyuh spiritual dengan tatapan yang sangat, sangat lelah.

​"Bisa berhenti membuat angin ribut tidak?" Ji Huang mengeluh, wajah tampannya berkerut kesal. "Debu dari gerbang yang hancur itu jadi beterbangan ke mana-mana. Bagaimana kalau masuk ke dalam cangkir tehku? Teh ini baru saja diseduh oleh Xiao Cui, tahu. Hargai sedikit kerja keras orang lain."

​Penatua Huo merasa harga dirinya diinjak-injak. Dia telah melepaskan seluruh kekuatannya, tetapi tanggapan yang dia terima hanyalah keluhan tentang debu dan teh dingin!

​"Lancang! Terima Jurus Cakar Harimau Pembelah Langitku!"

​Penatua Huo meraung. Dia melompat ke depan, tangannya membentuk cakar yang dilapisi energi spiritual perak yang sangat tajam. Angin di sekelilingnya menderu, membentuk bayangan kepala harimau raksasa yang siap menerkam Ji Huang. Ini adalah jurus pamungkasnya yang telah membunuh puluhan musuh di masa lalu.

​Ji Huang menghela napas panjang. Dia benar-benar malas untuk menggerakkan tubuh fisik fana ini lagi karena rasanya sangat berat dan melelahkan.

​Lagipula, menghadapi orang tua ini, menggunakan tangan adalah sebuah pemborosan energi, pikir Ji Huang.

​Tepat saat Penatua Huo berada beberapa langkah di hadapannya, Ji Huang tidak menghindar. Dia hanya menegakkan kepalanya sedikit, dan sepasang mata sayunya perlahan terbuka lebar.

​Aura malas yang menyelimuti tubuh Ji Huang lenyap dalam sekejap, digantikan oleh pancaran aura kedewataan yang tersembunyi di lubuk jiwanya. Sepasang pupil matanya berubah menjadi keperakan yang sangat dingin. Ji Huang hanya mengarahkan pandangan matanya lurus ke arah sepasang mata Penatua Huo.

​Itu bukan sekadar tatapan. Itu adalah Pandangan Maksud Pedang tingkat dewa.

​DEG!

​Waktu seolah berhenti bagi Penatua Huo. Di dalam pandangan spiritualnya, halaman Keluarga Ji mendadak lenyap. Dunia di sekitarnya berubah menjadi hamparan lembah tak berujung yang dipenuhi oleh miliaran pedang raksasa yang menembus langit. Dan di puncak tertinggi lembah itu, sosok Ji Huang berdiri bagaikan penguasa mutlak alam semesta, menatapnya dengan pandangan dingin seolah-olah Penatua Huo hanyalah sebutir debu yang tidak berarti.

​Sebuah tekanan mental dan spiritual yang tak terbayangkan menghantam kesadaran Penatua Huo. Bayangan harimau raksasa miliknya langsung hancur berkeping-keping menjadi udara hampa bahkan sebelum menyentuh jubah Ji Huang.

​PUH!

​Penatua Huo mendadak berhenti di udara dan jatuh berlutut di atas ubin batu dengan sangat keras. Dadanya bergetar hebat, dan seteguk darah segar menyembur keluar dari mulutnya, menodai lantai halaman. Wajahnya berubah menjadi seputih kertas, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat seperti orang yang sedang kedinginan di tengah badai salju.

​Pusat tenaga dalam (Dantian) miliknya berguncang hebat, dan jalur meridiannya retak karena tidak mampu menahan tekanan tak kasat mata dari pandangan mata Ji Huang. Hanya dengan satu tatapan, Ji Huang telah menghancurkan pondasi kultivasi yang dibangun Penatua Huo selama seratus tahun!

​"P-Pakar... Pakar Agung..." Penatua Huo terbata-bata, air mata ketakutan mengalir bercampur darah di wajahnya. Dia bersujud dengan dahi menempel ke lantai, sama sekali tidak peduli lagi dengan harga diri seorang penatua sekte. "M-Mohon Senior ampuni nyawa anjing ini! Hamba yang bodoh ini telah memiliki mata tetapi tidak melihat Gunung Tai! Mohon Senior belas kasihannya!"

​Wang Jiao yang berdiri di belakang langsung lemas. Kakinya tidak kuat lagi menopang berat tubuhnya, membuat dia terduduk di tanah dengan wajah linglung. Penatua Huo... penatua sekte yang dia anggap sebagai dewa pelindung, sekarang bersujud sambil menangis di depan "si sampah" Ji Huang?

​Ji Huang kembali menampilkan wajah malasnya, dan matanya kembali sayu seolah kejadian mengerikan tadi tidak pernah terjadi. Dia melihat genangan darah di lantai dan menghela napas panjang.

​"Tuh kan, jadi kotor," gerutu Ji Huang sambil menunjuk darah di lantai dengan cangkir tehnya. "Hei, wajah emas, dan kamu orang tua berisik. Bawa pengawal pingsan itu dan cepat pergi dari sini. Halamanku sudah berantakan karena gerbangnya hancur, jangan ditambah dengan bau darah kalian. Mengganggu pemandangan saja."

​Mendengar kata "pergi", Penatua Huo merasa seperti baru saja menerima pengampunan dari dewa kematian. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia segera bangkit, mencengkeram kerah baju Wang Jiao yang sudah kencing di celana karena ketakutan, lalu memapah pengawal yang pingsan di tembok.

​Tanpa berani menengok ke belakang lagi, rombongan Keluarga Wang itu melarikan diri terbirit-birit keluar dari kediaman Keluarga Ji seperti sekelompok tikus yang dikejar kucing, meninggalkan halaman rumah yang kini kembali sepi, namun dipenuhi oleh ketakutan yang mendalam dari orang-orang yang tersisa.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!