Salsabila adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang hidup bersama dengan kedua orang tuanya. Salsa membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di perusahaan milik seorang CEO yang ternyata adalah mantannya sewaktu masih SMA. Salsa terkejut saat mengetahui hal tersebut dan memutuskan untuk resign dari pekerjaannya. Namun hal yang tidak terduga terjadi, Mantannya tersebut tidak membiarkannya memundurkan diri dari perusahaan, tapi ia juga sering menyulitkan pekerjaan Salsa. Apa sebenarnya yang di inginkan pria tersebut ? ikuti terus alur ceritanya ya gays.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 35
Saat keluar dari kamar, salsa menoleh pada Edrick yang tengah santai menikmati secangkir kopi hitam di ruang tamu. Salsa berdiri mematung di depan pintu kamarnya. Saat ini ia baru saja selesai membersihkan diri.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?." Salsa bertanya. Pikirannya penuh dengan tanda tanya apalagi sekarang mereka berada di pegunungan yang jauh dari keramaian.
Edrick menatap ke arah Salsa dan mulai menyadari kehadiran salsa. "Tidak ada lagi pekerjaan, aku rasa kita bisa pulang besok."
Mendengar hal itu membuat Salsa sumringah "benarkah".
Edrick hanya diam dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Sementara Salsa memutuskan duduk di meja makan yang tak jauh dari ruang tamu. Salsa merasa sangat lapar. Ia memutuskan untuk memasak. Di kulkas bahan masakan sangat lengkap sehingga membuat salsa semakin bersemangat untuk memasak. Dari kejauhan, Edrick memperhatikan gelagat Salsa, lalu setelahnya ia menyunggingkan senyum miring. Ditambah lagi Salsa memasak dengan bersenandung kecil seakan sangat bahagia. Suasana begitu santai sekarang. Salsa merasa bahagia karena besok ia akan pulang. Apalagi sekarang ia juga memiliki kamar sendiri dan bisa berjarak dengan Edrick.
Tak lama berselang, masakan sudah siap. Salsa menghidangkannya di atas meja. Saat akan duduk, salsa melirik ke arah Edrick yang masih memainkan ponselnya. Salsa memutuskan untuk berjalan mendekati Edrick dan mengajaknya makan bersama. Salsa tahu Edrick juga belum makan dan pasti sedang lapar. Secangkir kopi tidak akan membuat perutnya kenyang.
"Mau makan bersama?." Ucap salsa saat sudah berdiri disamping Edrick.
Edrick menoleh " tidak, aku belum lapar." Tolak Edrick.
Salsa berbalik setelah mendapat jawaban dari Edrick. Langkahnya terhenti saat tidak sengaja mendengar bunyi perut Edrick yang menandakan pria itu sedang lapar. Salsa kembali berbalik dan mulai tertawa kecil. " Jangan sungkan, aku masak lebih kok." Ucap salsa sambil menahan tawa.
Edrick berdehem saat dia ketahuan. " Baiklah jika kamu memaksa aku akan makan bersamamu." Kemudian ia bangkit dan berjalan ke arah meja makan.
Salsa menatap malas " padahal dia sendiri yang lapar, kenapa menuduhku memaksanya. Dasar aneh." Salsa melangkah menyusul Edrick yang kini sudah duduk di depan meja makan. Salsa melirik Edrick yang sedari tadi hanya menatap makanannya.
"Kenapa belum di makan?." Tanya Salsa sambil mengunyah.
"Kamu tidak menaruh racun kan di makanan ini?."
Salsa membulatkan mata mendengar perkataan Edrick. " Ya sudah kalau kamu tidak mau biar aku saja yang makan. Kamu masak sendiri sana biar tidak curiga ada racun di makanan itu." Salsa sangat kesal sekarang saat Edrick menuduhnya. Salsa menarik kembali piring yang ada dihadapan Edrick. Namun saat piring berisi spaghetti itu ditarik, ternyata Edrick menahannya. Salsa akhirnya mengalah dan membiarkan piring itu tetap berada di tempatnya. Edrick mengambil satu suapan dan memasukkan nya ke dalam mulut, suapan kedua, suapan ketiga dan suapan selanjutnya tanpa henti hingga spaghetti itu habis. Salsa yang tidak habis pikir hanya bisa terdiam dan menatap malas.
" Ternyata kamu bisa juga memasak." Ucap Edrick sambil membersihkan sisa makanan di bibirnya dengan tissue.
"Memangnya kamu pikir aku gak bisa masak?." Jawab Salsa dengan judes.
" Mulai sekarang kamu harus memasak untukku setiap hari."
Salsa terdiam dan meletakkan garpu yang ada di tangannya. "Apa?. Aku tidak mau, memangnya aku koki?." Ucap salsa tidak terima.
" Apa kamu berani membantahku?." Tatapan Edrick begitu intens dan tajam hingga membuat salsa kembali merasakan takut.
" Bukan begitu, aku punya banyak kesibukan lain selain memasak untukmu."
"Kesibukan seperti apa?."
Salsa kembali terdiam. Rasanya susah sekali menelan makanan yang ada di mulutnya saat melihat tatapan intens dari Edrick. "Aku tidak mau memasak untukmu."
Mendengar penolakan salsa membuat Edrick menghela nafas panjang.
"Sudah kukatakan sebelumnya bahwa kamu akan menjadi sekretaris pribadiku selama 24 jam, apa kamu lupa?."
Ucapan Edrick membuat Salsa frustasi. "Bisa tidak jangan selalu mengancam ku?." Kini Salsa bangkit dengan ekspresi kesal.
"Aku sudah membiarkan mu cukup lama, dan sekarang aku akan menagihnya. Jika kamu merasa diancam itu memang benar. Pikirkan saja baik baik, semuanya ada di tanganku." Edrick berlalu meninggalkan Salsa yang masih berdiri mematung sambil menatapnya.
Setelah kepergian Edrick, Salsa terduduk dengan pikiran yang bergelut " Seharusnya aku tidak menawarkan makanan untuknya." Gumam Salsa dalam hati penuh sesal. Salsa menghela nafas kasar. Salsa merapikan kembali piring dengan wajah kesal.
Tak lama kemudian Edrick keluar dari kamarnya dengan mengenakan piyama. Ia berjalan ke arah dapur dan berdiri tepat di depan kulkas di samping Salsa yang sedang cuci piring. Ia mengambil minuman dingin dan membawanya ke ruang tamu. Salsa tidak meliriknya sama sekali, rasa kesal masih menggumpal di hatinya. Edrick menyalakan TV dan menonton berita yang sedang di tayangkan.
Salsa masih sibuk dengan pekerjaannya. Tak lama kemudian ia selesai dan berniat memasuki kamar. Namun langkahnya terhenti saat mendengar Edrick berbicara di telepon dengan seseorang.
"Apa berita yang disiarkan ini benar?. Kapan badai saljunya akan berakhir?." Tanya Edrick pada seseorang di seberang telepon.
"Untuk waktu pastinya berhenti belum jelas, tapi diperkirakan 4 hari kedepan badai salju ini akan berakhir."
Edrick mengerutkan kening dan sesaat kemudian ia memutuskan sambungan telepon. Salsa berjalan ke arah Edrick.
"Ada apa?." Tanya Salsa penasaran karena Edrick terlihat serius.
"Badai salju yang lebat terjadi di daerah pegunungan ini. Mobil dan kendaraan lainnya tidak bisa lewat karena jalan penuh dengan salju. Kita harus menunggu sampai badainya reda baru bisa pulang."
"Apa?. Jadi kita masih akan di sini besok?." Salsa kembali merasakan frustasi. Rasa bahagianya akan pulang besok hilang seketika dan yang membuatnya semakin frustasi yaitu harus terjebak bersama Edrick.
"Kira kira berapa hari badainya akan berakhir?."
" 4 hari."
Salsa menghela nafas tak percaya. Sementara Edrick kembali menikmati minuman dinginnya dengan santai. Salsa melihat televisi yang menyiarkan berita tentang badai salju.
" Jika saja kita tidak kesini pasti bisa pulang besok." Gerutu Salsa.
"Apa kamu takut terjebak bersamaku?."
Salsa diam. Ia tidak menjawab dan berlalu pergi masuk ke dalam kamar. Edrick tersenyum tipis dan kembali menyeruput minuman dinginnya.
Edrick mematikan televisi, ia berjalan memasuki kamar. Saat akan membuka pintu kamar tiba tiba lampu padam, Edrick langsung menyalakan flash handphone nya. Edrick merinding saat ada tangan yang menyentuh punggungnya. Edrick perlahan berbalik dan mengarahkan flash ke belakang. Ternyata Salsa yang menepuk punggungnya dan berdiri di belakangnya.
"Ada apa?." Ucap Edrick.
"Aku takut gelap".
"Nyalakan saja flash handphone mu." Ia hendak melangkah ke dalam kamar namun Salsa menarik bajunya yang membuatnya tertahan dan kembali berbalik.
"Handphone ku lowbat." Salsa menunjukkan layar ponselnya yang sudah mati total.
"Lalu apa?. Mau tidur bersamaku?." Tanya Edrick.
Salsa diam. "Apa kita bisa menghidupkan generator listrik?." Ucap Salsa memberi solusi.
"Ini sudah larut, sebaiknya nyalakan lilin saja. Lagipula generator nya ada di gudang, salju sangat tebal di luar kita bisa tenggelam."
Salsa kembali terdiam mendengarnya. Salsa meminta Edrick untuk mengarahkan flash nya pada meja yang di atasnya ada lilin pajangan. Salsa menyalakan nya dan ia berjalan kembali ke kamarnya. Edrick masih memperhatikan Salsa hingga Salsa benar benar masuk ke dalam kamar. Dirasa sudah aman, Edrick membuka pintu kamar. Namun belum juga lima detik, Salsa sudah berlari keluar dari kamarnya dengan lilin yang sudah padam.
"Ada apa lagi?."
"Lilinnya mati."
Edrick menghela nafas, ia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan berbaring di ranjang. Sementara flash nya ia letakkan di atas nakas sehingga ruangan menjadi terang walaupun agak redup. Salsa masih berdiri di ambang pintu, hatinya bimbang antara masuk atau tidak. Tapi ia sangat takut. Samar samar Edrick melihatnya dari dalam kamar. Edrick menghela nafas.
"Masuklah!."
Salsa terperanjat, ia melangkah masuk dan menutup pelan pintu kamar. Salsa mengamati sekeliling dan tidak mendapati apapun disana selain satu ranjang, Salsa menjadi bimbang sekarang. Setelah berpikir cukup lama, salsa memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di lantai kamar. Edrick mendengus kesal melihat tingkah Salsa.
"Tidur di atas, aku tidak menggigit manusia.".
Mendengar ucapan Edrick membuat Salsa terduduk dan berpikir sejenak. Salsa bangkit dan berjalan ke arah ranjang. Di sana ada ruang tersisa untuknya bisa berbaring. Sementara Edrick saat ini tengah membelakanginya. Salsa memberanikan diri untuk menaiki ranjang. Salsa menyelimuti tubuhnya karena cuaca sangat dingin, ditambah penghangat ruangan mati akibat listrik yang padam. Cukup lama Salsa terjaga hingga ia bisa mendengar dengkuran halus di sebelahnya. "Apa dia sudah tidur?." Gumam salsa.
Tiba tiba flash yang sedari tadi menerangi ruangan mati, salsa menjadi panik. Hanya ada kegelapan tanpa cahaya sedikitpun. Keringat dingin bercucuran di dahi dan lehernya. Rasanya begitu sesak.
"Edrick". Salsa menggoyangkan pelan bahu Edrick yang membuat pria itu menggeliat. Keadaan begitu gelap hingga tidak dapat melihat apa apa. Edrick bangkit dan berjalan pelan mengitari ranjang.
"Aku meletakkan lilin dan koreknya di nakas." Ucap Salsa. Ia juga mencoba meraba raba sesuatu di atas nakas yang berada tepat di sampingnya. Keduanya meraba pelan lilin dan korek hingga akhirnya Edrick berhasil menemukan korek dan Salsa memegang lilinnya. Edrick langsung menyalakan korek dan dengan samar dapat melihat Salsa di kegelapan. Edrick mengarahkan korek ke atas lilin dan lilinnya menyala. Seketika Salsa bisa bernafas lega saat kembali melihat cahaya.
Saat melirik ke arah Salsa, Edrick menjadi fokus pada leher mulus salsa yang sedari tadi bercucuran keringat. Dahinya juga dipenuhi keringat, padahal cuaca terasa dingin. Edrick mencoba menahan sesuatu yang sedang bergejolak dan tak tertahan. Salsa mendongak menatap Edrick yang masih berdiri di sampingnya.
"Apa kamu sangat takut gelap?." Tanya Edrick. Salsa mengangguk sambil mengelap keringatnya dengan lengan baju.
Edrick kembali ke tempatnya, Edrick duduk bersandar. Ia melirik salsa yang juga masih duduk.
"Salsa."
Salsa menoleh dan seketika ia mematung saat Edrick menarik nya dan mencium bibirnya dengan lembut. Rasanya ingin memberontak tapi ini terlalu nyaman.
"Edrick....apa yang kamu laku..."
"Diam..." Edrick mengubah posisinya sambil terus mencium lembut bibir Salsa. Edrick berada di atas tubuh Salsa. Sementara Salsa hanya diam dan pasrah dengan keadaan. Salsa menutup kedua matanya saat Edrick mencium lehernya dengan lembut. Nafasnya memburu, debaran jantungnya semakin cepat. Suasana memanas. Edrick mengarahkan ciuman nya semakin ke bawah. Hingga akhirnya.......
Suara dengkuran halus membuat Edrick tersadar dari lamunannya. Semuanya hanya hayalan nya semata. Edrick melihat Salsa sudah tertidur. Ia menyelimuti tubuh Salsa, Edrick menghela nafas dan ia memutuskan untuk berbaring. Edrick berbaring menghadap Salsa. Saat ini mereka sedang berhadapan. Edrick memejamkan matanya sambil tersenyum.
sukses dan sehat selalu utk kak authornya
tapi kadang hidup memang spt itu
ya sudahlah anggap saja kesempatan utk edrick sudah habis
udah part 80an belum bisa menebak endingnya
kadang kalo pemeran prianya udah terlalu nyakitin aku lebih suka sad ending 🤭🤭🤭
kenapa semua CEO otaknya ga sat set sih