NovelToon NovelToon
ELKAN: Menaklukkan Hati Sedingin Es

ELKAN: Menaklukkan Hati Sedingin Es

Status: tamat
Genre:Suami ideal / Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Mafia / Tamat
Popularitas:59.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kiky Mungil

Kabur dari rumah demi menghindari perjodohan gila yang direncanakan oleh pamannya membawa Kelaya sampai disebuah desa yang sangat jauh dari rumahnya, hingga ia berakhir pingsan di sebuah rumah di tengah hutan yang ternyata adalah milik seorang lelaki.

Ide gila muncul saat mengetahui lelaki itu masih melajang dengan wajah yang cukup menarik sebagai seorang peternak juga pengrajin kayu, dan minim bicara, membuat Kelaya mengajaknya menikah dan nekat menjebak lelaki itu agar mereka dinikahkan secara paksa oleh masyarakat setempat.

Ide itu muncul sebagai upaya mencegah pamannya untuk menjodohkannya kembali dan lagi pula Kelaya menyukai lelaki itu.

Masalahnya, lelaki itu bagaikan musim dingin yang panjang dan terlalu misterius. Rasanya Kelaya ingin menyerah saja untuk meluluhkan hati dingin lelaki itu.

Apakah Kelaya akan benar-benar menyerah apa lagi setelah mengetahui sebuah rahasia yang disembunyikan lelaki itu? Atau bertahan sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35. Hasil Pencarian Data: [NIHIL]

Elkan hanya bisa pasrah duduk di depan Kelaya, sementara perempuan itu duduk dengan melipat kedua tangannya, wajahnya menunjukkan raut kesal, galak dan cantik.

"Jadi kemarin itu kau dan Haru ke pasar hanya untuk menemui Dio?"

"Ya dan tidak."

"Apa maksudnya?" Kelaya mengerutkan kening.

"Aku menemui pemilik kios sepatu tempatmu bekerja lebih dulu untuk memberitahukan kalau kau berhenti. Setelah itu, yeah, kami menemui Dio untuk bicara."

"Bicara?" Kelaya menaikkan sebelah alis matanya, menyorot suaminya dengan tatapan skeptis.

"Ya... bicara ala sesama laki-laki."

"Bisa kau jelaskan bicara ala sesama laki-laki itu seperti apa tepatnya?"

Elkan berdeham. Dalam hati mengutuk Haru yang memilih untuk menurut dan berbaik hati mengantarkan Dio ke klinik bersama dengan Sena. Dan kini, dia disidang sendirian, di depan perempuan mungil yang menatapnya galak dan membuat kadar kecantikannya semakin mempesona.

"Yah...begitu lah, aku hanya memintanya untuk menjauhi mu, tapi sepertinya teman barumu itu senang menguji kesabaran ku."

"Lalu apa yang kau lakukan saat kesabaranmu diuji?"

Elkan mengedikkan bahu.

"Apa kau juga turut menyumbang lebam pada wajahnya sebelum dia dipukuli perampok?" Tebak Kelaya dengan tebakan yang tepat sasaran.

"Aku terbawa emosi."

"Apa suamiku orang yang kasar seperti itu?"

Elkan tidak menjawab dengan bibirnya, meski hatinya menjawab dengan jujur bahwa kekerasan adalah jurus ninjanya dalam 'berdiskusi' sesama pria jika tidak mencapai kesepakatan sesuai dengan keinginannya.

Kelaya mendesah berat, punggungnya pun bersandar pada sandaran kursi, kedua tangannya masih setia terlipat di depan dada.

"Apa kau juga akan seperti itu padaku?"

"Aku lebih baik memotong tanganku dari pada menyakitimu." jawab Elkan dengan tegas dan bulat.

"Kalau begitu, jadikan juga prinsip seperti itu untuk ke semua orang."

"Aku...."

"Apakah ini ada kaitannya dengan apa yang pernah kau bilang? Kau bilang, ada monster dalam dirimu, kau bilang hidupmu gelap."

Elkan memalingkan wajahnya, sangat nyata dia menghindari tatapan istrinya. Napas Kelaya dibuang lagi dengan dorongan yang lebih pelan. Ia bangkit dari tempatnya untuk pindah ke atas pangkuan Elkan yang terkesiap dengan ketiba-tibaan itu. Kelaya merangkum wajah Elkan dengan telapak tangannya yang memiliki jemari-jemari lentik, mata indahnya menatap wajah Elkan lekat-lekat.

"Aku tidak tahu apa saja yang pernah terjadi pada mu di masa lalu, aku tidak tahu apa saja yang telah kau alami pada gelap mu itu, aku tidak tahu monster apa yang menyelinap masuk melalui kegelapan itu, tapi bukan kah kau sendiri yang bilang, kalau sekarang kau telah menemukan cahaya? Apa cahaya itu masih ada?"

"Cahaya itu ada di depan mataku sekarang."

Kelaya tersenyum, ia mengikis jarak dan mengecup bibir Elkan dalam kecupan singkat yang menggetarkan seluruh urat nadi yang ada di dalam tubuh pria besar itu.

"Aku jatuh cinta padamu sejak aku menyeruput teh susu kayu manis yang kau buatkan untukku pertama kali saat kita pertama kali bertemu. Pria asing yang menatapku dengan sorot matanya yang dingin, bibir tipisnya yang hanya bernada ketus dan selalu ingin mengusirku, tapi dia membuatkanku teh yang sangat enak dan menghangatkan diriku yang kelaparan dan kedinginan."

"Tapi aku sering melukai hatimu."

"Benar, tapi anehnya aku tetap tidak bisa menyingkirkan keyakinan ku tentang dirimu bahwa hanya kau pria terbaikyang kuinginkan."

Kini, Elkan merasakan sensasi dari sebuah perasaan asing yang baru, entah kenapa dia ingin menangis. Dorongan itu sekuat tenaga ditekannya, dia tidak mungkin menangis di depan Kelaya. Tidak! Baginya, seorang laki-laki pantang menangis apa lagi di depan seorang perempuan. Dia tidak ingin Kelaya menilainya sebagai lelaki cacat yang lemah dan cengeng. Tapi, yang Elkan tidak sadari, mata yang biasanya selalu menunjukkan betapa dinginnya pria itu, saat ini berkaca-kaca.

Emosi baru itu menghangatkan hatinya, ia merengkuh pinggang ramping yang ada di atas pangkuannya itu, menariknya masuk ke dalam dekapannya.

"Tidak ada monster di dalam sini." Kelaya menyentuh dada Elkan, mengecupnya lembut dan mendaratkan pipinya di sana. "Yang ada hanya seorang pangeran baik hati yang terjebak di dalam kegelapan itu, tapi aku tidak akan membiarkan pangeran itu sendirian lagi, aku akan menjemputnya dan membawanya ke tempat di dihujani sinar matahari."

Dan tanpa terlihat oleh mata Kelaya, air mata untuk kali pertama dalam hidupnya yang keras dan gelap selama ini, menetes dan membasahi pipi Elkan, air mata itu terus mengalir hingga terjatuh tepat di atas pundak Kelaya.

Perempuan itu memang tidak melihat dengan matanya, tapi dia bisa merasakan emosi baru yang merayapi Elkan saat ini. Kelaya tersenyum, dia juga mengeratkan pelukannya.

Sementara Elkan dan Kelaya yang akhirnya mengakhiri pagi manis mereka dengan aktifitas yang lebih hangat di atas ranjang, Haru baru saja menghentikan mobil di depan sebuah klinik di kota. Pria dengan wajah babak belur itu tertidur di jok belakang dengan mulutnya yang setengah terbuka.

"Kau saja yang bangunkan dia." kata Haru kepada Sena seraya keluar dari mobil.

Sena membangunkan Dio hanya dengan melemparkan sekotak tisu ke dada Dio yang langsung membuat dia gelagapan.

"Bangun, kau sudah sampai." kata Sena datar lalu keluar dari dalam mobil.

"Astaga, orang-orang ini tidak bisa lembut sedikit? Huh!"

Setelah bertemu dokter dan di obati, mereka bertiga duduk di kursi tunggu sambil menunggu obat di siapkan dengan kesibukannya masing-masing. Haru dengan game online-nya. Sena dengan - entah apa - yang membuat wajah perempuan itu sangat serius seperti sedang mengerjakan soal ujian. Hanya Dio yang merasa bosan tanpa kamera di tangannya.

"Hei, kata Elkan, kau akan membantuku menemukan pelaku yang merampok dan memukuliku, benar begitu?"

"Hm," Sahut Sena tanpa melihat Dio yang bertanya di sebelahnya.

"Wah, bagaimana caramu melakukannya? Apa kita akan ke polisi?"

Tidak ada sahutan apa lagi jawaban yang memuaskan rasa penasaran pria cerewet itu.

"Apa kau yakin polisi bisa menemukannya? Karena, kau tahu, ini bukan kali pertama aku di rampok, dulu sekali aku juga pernah dirampok, tapi tidak ada kelanjutan bagaimana nasib keadilan untuk kamera-kameraku. Dan lagi pula aku-"

"Heh! Apa kau tidak bisa mengunci bibirmu yang cerewet itu?" Sentak Haru yang kesal karena baru kali ini menemukan laki-laki secerewet Dio. Meski pun dirinya sendiri juga suka bicara, tapi rasanya dia kesal saja mendengar ocehan Dio.

"Aku hanya bosan. Kalian sibuk dengan ponsel, lalu aku?"

"Ya bukan urusanku! Masih untung kuantar kau berobat, tidak ku lempar kau ke kandang beruang."

"Ya ampun, apa kau memang selalu sekejam itu?"

"Iya. Makanya tutup mulutmu, atau kubuat suster-suster disini terpaksa menjahit bibirmu yang kurob-"

"Diam kalian berdua! Astaga!" Sena mendorong wajah Haru dan Dio yang berada di kanan dan kirinya. Kelakuan tiga orang itu pun sampai membuat orang-orang yang tengah menunggu obat di depan farmasi pun menjadi lebih terhibur karena tiga orang yang tampilan fisiknya sungguh berbeda dengan kebanyakan masyarat desa. Meskipun ketampanan Dio sedang terkamuflase dengan lebam-lebam pada wajahnya. Setidaknya, sikap santai pemuda itu cukup membuat gadis-gadis muda yang mengantar orang tua mereka lebih menyenangkan. Lalu wajah Haru yang perpaduan manis dan tampan, di tambah dengan postur tinggi semampai Sena membuat ketiganya begitu kontras dengan orang-orang yang ada di dalam klinik.

"Kau main game-mu di luar sana!" Sena menunjuk Haru dengan tatapan galaknya.

"Dan kau duduk diam, tunggu namamu dipanggil!" Haru memundurkan wajahnya karena jari telunjuk Sena tepat di depan matanya. "Atau aku tidak akan membantumu mencari pelakunya."

"Baiklah, baiklah." Dio mengalah. Sementara Haru sudah melenggang keluar dari dalam klinik.

Tapi semakin dalam Sena mencari tahu pelaku yang merampok Dio, Sena justru tidak menemukan apa-apa, sama sekali! Dengan keterampilan ibu jarinya yang bergerak cepat di atas layar monitor gadgetnya, Sena mencari tahu tentang Dio, tanpa sepengetahuan pria yang kini sedang nyaris tertidur di atas kursi tunggu dengan kepalanya yang terayun-ayun ke depan.

Mata Sena menyorot tajam kepada Dio. Jika memang pemuda itu adalah seorang fotografer, dan memiliki sebuah studio di luar negeri seperti yang dia ceritakan dalam perjalanan menuju klinik sebelum jatuh tertidur dengan mulut terbuka, seharusnya Sena bisa dengan sangat mudah mendapatkan semua data tentang Dio. Tapi ini, yang muncul pada layar gadgetnya malah satu kata yang membuat Sena harus segera memberikan peringatan waspada pada pria itu.

Hasil Pencarian Data:

[NIHIL]

.

.

.

Bersambung~~>>

1
Mrs. Ketawang
Dio itu Zeon
Mrs. Ketawang
kaaannn Dio itu penjahat😡
Mrs. Ketawang
keren ceritanya..👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Mrs. Ketawang
jurigen bgt kalo Dio musuh dlm selimut
Mrs. Ketawang
Dio nih misterius
Mrs. Ketawang
siapa sbnarnya si Dio ini,sok knal sok dekat bgt sama Kelaya😏
Mrs. Ketawang
mau di peluk jg sama bang Elkan😍😍
Mrs. Ketawang
lagi sweet"nya😍
Dio ganggu aja😁
Mrs. Ketawang
Bagus ceritanya...
pemilihan kata"nya jg indah...
knp baru nemu cerita sbagus ini😁👍🏻👍🏻
Mrs. Ketawang
WOUW....baru pertama ketemu lgsung ngajak nikah aja nih Kelaya🙈
Nelita Nopitasari
penuh teka teki🤔
Youleannaa
bagus ,,,
Desty Winianti
padahal ceritanya bagus..tp yg.baca cuma sedikit....mungkin blum pada Nemu. ini novel
Lovely Shihab
Tegang, seru, romantis n keren, dikemas apik ma author. Keren kamu thor, the best 👍👍👍👍
Lovely Shihab
Paling benci lihat orang keras kepala. Disuruh dirumah aja tetep keluar
apajalah
👌👌🍂👌🍂🍁
apajalah
bravo🍂🍁🍂🍁🍂👌👌👌
Yustika PAMBUDI
sepertinya cinta segitiga Dio, elkan dan pacarnya yg meninggal ya... ?
Siska Febriana
Dio itu ya Zeon
Lastri Naila
ceritanya bagus sekali...untungnya aq senang dgn novel yg tamat jd gak nunggu nunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!