NovelToon NovelToon
Pesona Gadis Desa Dan Ceo ARogan

Pesona Gadis Desa Dan Ceo ARogan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Sevda Aryan

Nala putri, seorang gadis yatim piatu yang miskin, nekat merantau ke ibukota berbekal kejujuran dan keberanian yang membaja.
Namun, nasib membawanya masuk ke ruang wawancara PT Dirgantara Megah Utama, tepat di hadapan Adrian Dirgantara _ Sang CEO tampan yang terkenal kejam, arogan, dan sangat membenci wanita akibat penghianatan masa lalu.

Bagi Adrian, semua wanita adalah makhluk bermuka dua yanh menjijikan, Namun, saat ia mencoba menindas Nala, gadis desa itu justru menatap matanya dengan berani dan membalasnya dengan kalimat menohok yang meruntuhkan harga dirinya.

Alih-alih memecatnya, Adrian yang penasaran justru menjebak Nala dengan menjadikanya sekertaris pribadi demi menyiksanya dengan tugas-tugas mustahil. Adrian mengira Nala akan menamgis dan menyerah. ia keliru, Nala tidak sekedar bertahan, gadis itu justru perlahan- lahan meruntuhkan dinding pembatas di hati Adrian dengan ketulusannya dan ketegasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sevda Aryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Misi Pasar Bunga, Dan Makan Malam Romantis

Asisten Han menarik napas panjang, memijat pelipisnya yang mendadak pening. sipat Barbar, cerdik, dan ceplas-ceplos sisil sebagai karyawan toko bunga selalu berhasil memojokkannya.

Setiap kali Han menggunakan argumen bisnis yang logis, sisil selalu membalasnya dengan logika jalanan yang tidak terbantahkan. 'ditambah embel-embel nama Nyonya victoria.'

"Baik, "geram Han melalui sela-sela giginya yang merapat.

"Biaya perawatan sepeda legendaris anda disetujui perusahaan. Tetapi jika ada satu saja kelopak bunga yang layu saat hari H, saya sendiri yang akan menahan sepeda tua anda itu di gudang kantor!"

"Coba aja kalau berani. Tuan Kanebo kering!"

Tantang Sisil Riang, sama sekali tidak takut. Ia justru tertawa puas melihat wajah asisten Han yang biasanya sedatar tripleks kini memerah padam karena menahan kesal.

Dari balik kaca ruang rapat yang transparan. Nala dan Adrian yang kebetulan lewat hanya bisa menggelengkan kepala melihat pemandangan itu.

Adrian merangkul pinggang Nala dengan posesif, mengeratkan pelukannya.

"Sahabat-sahabatmu benar-benar membawa badai ke kantorku, sayang. "bisik Adrian di telinga Nala, membuat Nala tertawa kecil dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang CEO.

Satu bulan menuju pernikahan, Jakarta benar-benar menjadi jauh lebih berwarna.

Jarum jam tepat menunjukkan pukul satu siang. Kafe berdesain minimalis modern di lantai dasar gedung PT Dirgantara megah utama tampak cukup ramai oleh para karyawan yang sedang menikmati istirahat makan siang.

Namun, bagi Kevin, atmosfer di dalam kafe itu Terasa seperti ruang sidang yang menegangkan.

Pria yang biasanya menjadi maskot pencair suasana di kantor itu duduk tegak di meja nomor tujuh. ia sudah merapikan tatanan rambutnya sebanyak lima kali di toilet dan memastikan napasnya segar.

Di hadapannya, Angel duduk dengan melipat kaki jenjangnya Anggun. Kacamata hitamnya Kini baru Tengger di atas kepala, memperlihatkan sepasang matanya sambil menatap Kevin.

"Jadi....Kamu sengaja minta tolong Nala buat mencuri nomor teleponku, Kev?" tanya Angel membuka percakapan, suaranya yang manja terdengar begitu mengintimidasi bagi Kevin yang sedang Kasmaran.

"E-eh, itu... Bukan mencuri, Angel. Lebih tepatnya...meminta Suaka persahabatan," jawab Kevin terbata-bata.

Tangannya yang memegang cangkir iced americano sedikit gemetar hingga es batu di dalamnya berdenting pelan.

Ke mana perginya Kevin si cowok humoris yang biasanya punya seribu bahan candaan untuk merayu klien?...

Mengapa di depan model internasional ini, lidahnya serasa kelu dan semua lelucon di otaknya mendadak menguap?

Angel terkekeh renyah, bersandar pada kursi. "Kamu lucu ya. Kemarin di taman waktu senam pagi, kamu lihatin aku sampai gak berkedip."

Sekarang pas diajak duduk berdua, malah kayak orang mau diinterogasi polisi!.

Santai aja, Kevin. Aku nggak menggigit, kok.'?

Mendengar tawa Angel, jantung kevin justru berdegup makin kencang. Namun, perlahan rasa gugupnya mulai terkikis oleh sipat ramah Angel yang tidak sombong meski sudah menjadi artis di Amerika.

"Maap ya, habisnya kamu cantik banget. spek malaikat New York nyasar ke Jakarta."

Mana berani aku macam-macam! Celetuk Kevin, mulai berani mengeluarkan sedikit pesona aslinya.

Wajah Angel sedikit merona pujian blak-blakan itu. Senyum manis Terukir di bibirnya. Kencan makan siang yang awalnya Canggung itu perlahan berubah menjadi obrolan hangat, di mana Kevin mulai bisa memancing tawa Angel dengan cerita-cerita konyol tentang proyek kreatif di kantor.

Dari kejauhan, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sangat serasi.

Sementara di lantai dasar dipenuhi bunga-bunga asmara, suasana di lantai paling atas gedung justru terasa mencekam.

Di dalam ruang kerja CEO yang super mewah, Adrian sedang berdiri di dekat jendela besar, menatap tajam keluar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana bahan mahalnya.

'Aura di ruangan itu oleh rasa cemburu. Sejak kedatangan sisil sebagai penanggung jawab dekorasi bunga dari Floris toko bunga'.

Adrian merasa dunianya dijungkirbalikkan.

"Mengapa? karena sekretaris pribadi sekaligus calon istrinya, Nala, kini jauh lebih sibuk mengurusi sahabat masa SMA nya itu daripada memperhatikan dirinya!"

Tok!Tok!

Pintu ruangan terbuka. Nala melangkah masuk membawa beberapa berkas anggaran yang baru saja ditandatangani oleh asisten Han dan sisil dari ruang rapat.

Pakaian kerjanya sangat rapi, namun perhatiannya sama sekali tidak tertuju pada sang calon suami. ponsel di tangan kirinya masih menempel di telinga.

"Iya, sil. nanti mawar putihnya taruh di bagian sudut kanan saja ya supaya nggak layu kena AC...oke, Nanti malam kita bahas sambil makan malam. Bye, sisil. "ucap Nala riang lalu menutup teleponnya.

Adrian membalikan badannya dengan cepat. langkah kakinya yang lebar langsung membawanya berdiri tepat di depan meja kerja Nala, memotong jalur jalan gadis itu. Matanya menyipit tajam penuh kilat posesif.

"Sisil lagi?"tanya Adrian, suaranya terdengar rendah dan dingin, menahan kejengkelan yang sudah menumpuk Sejak pagi.

Nala mendongak, menatap calon suaminya dengan polos. "Iya, sayang. ini soal koordinasi bunga dari Floris toko bunga. Mama Victoria minta semuanya harus detail, jadi aku harus sering komunikasi sama Sisil supaya -"

"lalu Bagaimana denganku, Nala putri?" potong Adrian cepat.

Ia memajukan tubuhnya, menumpu kedua Tangannya di atas meja kerja Nala, mengunci pergerakan gadis berusia 22 tahun itu.

"Sejak kemarin pagi di taman, sampai detik ini di kantor. pikiranmu hanya dipenuhi oleh sisil, bunga mawar, dan sepedanya yang bar-bar itu."

Kamu bahkan mengabaikan pesan singkatku dua jam yang lalu.

Nala mengerjapkan matanya, baru menyadari kalau CEO berusia 32 tahun di hadapannya ini sedang merajuk akibat cemburu berat.

"Sayang, aku kan sedang bekerja mengurusi pernikahan kita juga. kenapa kamu harus cemburu sama sahabatku sendiri?"

"aku tidak peduli," geram Adrian posesif. Ia meraih pergelangan tangan Nala dengan lembut namun erat, menarik gadis itu agar berdiri lebih dekat dengannya.

Aku calon suamimu, pemilik Pt Dirgantara megah utama ini.

Aku tidak suka berbagi perhatianmu dengan siapapun!...

"Termasuk dengan gadis penjual bunga itu. mulai detik ini, matikan ponselmu jika sedang bersamaku, Sayang."

Nala tidak bisa menahan desir halus di dadanya saat mendengar panggilan 'Sayang' yang diucapkan dengan nada menuntut yang sangat seksi itu.

Sifat posesif Adrian yang meledak-ledak selalu berhasil membuatnya tak berkutik, sekaligus merasa dicintai.

"Iya, iya...maaf ya. Sekarang aku tidak akan angkat telepon lagi," ucap Nala lembut sambil tersenyum manis, mencoba menjinakkan singa jantan yang sedang cemburu di depannya.

Adrian mendengus pelan, namun tatapan matanya langsung melunak. ia menarik Nala ke dalam pelukan hangatnya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nala untuk meluapkan Seluruh rasa rindunya yang sempat terabaikan sejak liburan hari minggu kemarin.

Satu bulan menjelang hari H, Adrian bersumpah akan mengikat Nala lebih erat agar tidak ada satu orang pun yang bisa menyita perhatian wanitanya.

Hubungan antara Kevin dan Angel berkembang dengan cepat yang luar biasa sejak kencan canggung mereka kemarin.

Hari ini, Kevin sengaja menjemput Angel sangat pagi untuk menikmati sarapan bubur ayam di depan penginapan Angel. lalu berlanjut hingga makan siang bersama di sebuah kafe estetis di pusat kota.

Hebatnya, pesona asli Kevin telah kembali sepenuhnya!

Otaknya tidak lagi nge- blank atau kaku seperti patung lilin.

Sifat humorisnya yang spontan dan penuh energi kini kembali bekerja 100 persen, membuat Angel tidak bisa berhenti tertawa sepanjang hari.

"Ngel, kamu tahu nggak bedanya kamu sama mawar premium di floris toko bunga tempat Sisil kerja?... "tanya Kevin sambil menopang dagunya, menatap Angel dengan kedipan mata jenaka.

Angel menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum manja. "apa tuh? Jangan bilang gombalan garing ya, kev."

"Kalau mawar premium butuh disiram air tiap hari biar gak layu. Tapi kalau kamu, cuma butuh disiram perhatian dari aku tiap detik biar selalu mekar di hatiku," seluruh kevin dengan ekspresi tanpa dosa.

"Aduh... Kevin! geli banget tahu gak!" pekik Angel sambil tertawanya renyah, wajahnya memerah merona. ia memukul pelan lengan kevin menggunakan tisu.

Sifat kasual Angel yang tidak jaim dipadukan dengan sifat humoris Kevin membuat atmosfer di antara keduanya terasa sangat akrab, hangat, dan dipenuhi percikan asmara yang mengemaskan.

Sementara Kevin dan Angel sedang asyik bertukar tawa, atmosfer yang kontras justru terjadi di pasar bunga rawa belong.

Atas mandat mutlak dari Nyonya Victoria, asisten Han terpaksa mengemudikan mobilnya sendiri menemani sisil mengecek stok bunga mawar segar langsung dari petani.

"Heh, Tuan kanebo! Jalannya cepetan dong!..."

Lambat banget kayak siput kejepit pintu, teriak Sisil yang berjalan lima langkah di depan Han.

Gadis Barbar itu tampil santai dengan kaos oblong dan celana training, kontras dengan Han yang masih setia memakai kemeja kerja rapi dan celana bahan mahal.

"Nona Barbar, jaga langkah anda. Tempat ini becek dan penuh air siraman tanaman. Jika sepatu kulit saya kotor karena kecerobohan anda -"

"Aduh!... Banyak teledor banget sih jadi cowok! "Sisil tiba-tiba berbalik, bermaksud menunjuk sampel bunga mawar putih.

Namun karena lantai pasar yang licin akibat sisa air, Sisil tergelincir hebat. "Eh...eh...Copet!" jadi sisil spontan karena panik.

Dengan repleks kilat seorang asisten pribadi terpercaya, Han mengulurkan tangan kekarnya.

Ia berhasil menangkap pinggang Sisil sebelum Gadis itu jatuh ke lantai yang becek.

Tubuh mereka mendadak merapat. Untuk beberapa detik, wajah Sisil hanya berjarak beberapa senti dari wajah kaku asisten Han.

'Sisil terdiam, matanya mengerjap menatap rahang tegas Han, sementara Han sempat terpaku melihat mata bulat Sisil yang kejujuran dan tanpa sandiwara'.

Hening.

"Ehem, "Han berdeham kaku, langsung menegakkan tubuh sisil dengan canggung setelah tersadar. "makanya, kalau jalan pakai mata, bukan pakai mulut."

Sisil yang biasanya tidak tahu malu mendadak salah tingkah. Wajahnya terasa panas.

Demi menutupi kegugupannya, sifat barbarnya langsung keluar lagi dua kali lipat.

"Heh!...Harusnya kamu Makasih ya sama aku!..."

"Karena aku hampir jatuh, kamu jadi punya kesempatan buat meluk cewek cantik se- Jakarta!"...

Semprot Sisil dengan suara cemprengnya, menunjuk dada Han dengan tangkai mawar.

Asisten Han melotot, tidak percaya dengan tingkat kepercayaan diri gadis di depannya ini.

"Siapa yang sudi meluk anda?..saya hanya menyelamatkan lantai Pasar ini agar tidak terguncang karena tubuh Barbar anda!" balas Han ketus, meskipun dalam hati kecilnya, detak jantungnya sempat berantakan akibat pelukan tidak sengaja tadi.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri pasar sambil terus adu mulut tanpa ada yang mau mengalah, menciptakan tontonan komedi romantis bagi para pedagang bunga sekitar.

Malam harinya, suasana Jakarta terasa lebih tenang. Adrian benar-benar menepati janjinya. Pria berusia 32 tahun itu sengaja memesan seluruh area rooftop restoran mewah bintang lima yang menyajikan pemandangan lampu-lampu kota ( City light).

Jakarta yang memukau. Malam ini, tidak ada Sisil, tidak ada telepon tentang floris toko bunga, dan tidak ada gangguan dari teman-teman mereka. hanya ada Adrian dan Nala.

Nala tampil sangat Anggun dengan gaun malam sederhana berwarna Salem yang dibelikan oleh Adrian.

Di Sabrang meja, Adrian menatap calon istrinya itu dengan pandangan mata yang begitu dalam, penuh dengan kehangatan dan rasa kepemilikan yang mutlak .

"Sayang. Terima kasih ya karena malam ini ponselmu benar-benar mati." ucap Adrian lembut, menggenggam jemari tangan Nala di atas meja kayu yang dihiasi lilin romantis.

Nala tersenyum manis, membalas genggaman erat pria yang telah bangkit dari nol selepas lulusan dari Harvard itu.

"Iya, sayang. maap ya, kalau kemarin-kemarin aku sempat membuatmu merasa diabaikan untuk mengurusi persiapan bersama sahabat-sahabatku."

"Aku aku hanya cemburu, sayang. Aku merindukan perhatianmu yang utuh," aku jujur tanpa gengsi. Sifat posesifnya melunak, digantikan oleh ketulusan seorang pria yang sangat mencintai calon istrinya.

'Satu bulan lagi kita akan menikah. aku ingin memastikan bahwa kamu bahagia, dan seluruh dunia tahu kalau kamu adalah milikku.'

Mendengar ucapan manis dari CEO yang biasanya berdarah dingin itu, hati Nala meleleh sempurna. Makan malam itu berlangsung dengan begitu indah, dipenuhi obrolan hati dari ke hati tentang masa depan rumah tangga mereka kelak.

1
Endang Manuskowati
lanjut author, bagus
Sevda Aryan: "Halo semuanya, terima kasih atas komentar dan antusiasmenya yang luar biasa! Maaf ya kalau updatenya agak terlambat, karena saya penulis pemula dan sedang merapikan susunan kata serta tanda baca dari bab awal agar lolos komtrak editor. Dukungan kalian membuat saya sangat bersemangat. Tunggu kelamjutan ceritanya ya, jangan lupa novel ini di rak buku kalian 😍
total 1 replies
Ifana
Sisil sama Han udh kek tom & jerry 🤣🤣
Sevda Aryan: iya tiap ketemu berantem terus
total 1 replies
Ifana
ditunggu lanjutannya kk ~
Sevda Aryan: iya kaka, mohon maaf jika telat
total 2 replies
Ifana
wong edan...udh ngrebut perusahaan bpk nya sekarang mau ambil perusahaan anaknya, dasar serakah 😡
Sevda Aryan: Nama nya juga manusia serakah , ka🤣
total 1 replies
Ifana
jgn² Sisil jodoh nya Han 🤣🤣
Ifana: tp cewek mcm Sisil cocok sama cowok model Han yg kaku kek kanebo kering 🤣🤣
total 2 replies
Ifana
semangat up nya kk
Sevda Aryan: iya makasih banyak atas dukungannya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!