NovelToon NovelToon
Sistem Sekretaris Kecil

Sistem Sekretaris Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Antara Pasrah dan Perhitungan

Napas Citra tersengal-sengal.

Semua perjuangannya terasa sia-sia di hadapan kekuatan absolut pria itu—seperti berenang melawan arus sungai yang terlalu besar untuk dilawan dengan tenaga sendiri. Pikirannya hampir runtuh, tapi satu bagian kecil di sudut kesadarannya masih bertahan, mengamati, mencari celah.

Dan celah itu datang dalam bentuk air mata.

Bukan sepenuhnya strategi. Bukan sepenuhnya akting. Air mata itu nyata—lahir dari ketakutan yang nyata, dari tubuh yang bereaksi lebih jujur dari yang Citra izinkan. Tapi saat ia merasakan cengkeraman di pinggangnya sedikit mengendur, ia menangkap momen itu.

"Tuan Arjuna..." Suaranya tipis, lembut, menyedihkan. Tetesan bening mengalir di pipinya yang kini bersih, jatuh ke dada bidang Arjuna.

Mata itu—berkaca-kaca oleh ketakutan dan rasa malu—menatap wajah tampan yang agresif di hadapannya. Tatapan polos, tanpa tipu daya, murni meminta belas kasihan.

Arjuna berhenti.

Tatapan gelap dan lapar itu kini menatap wajah kecil berlinang air mata,dan sesuatu di dalamnya, entah apa, membuat mesin predatornya berhenti sejenak. Ada kerentanan di sana yang berbeda dari apa yang biasa ia hadapi. Sesuatu yang jika dihancurkan terlalu cepat, akan menghilangkan semua kesenangan permainan ini.

Citra merasakan perubahan itu. Dan ia menggunakannya.

"Aku akan bersikap baik... sungguh..." bisiknya, bulu matanya bergetar. "Bisakah kau... tolong... membiarkanku mandi dulu? Kau bau alkohol, dan aku... aku merasa kotor."

Tubuhnya gemetar dalam pelukannya. Kaus murahnya yang basah kuyup menempel erat—tapi ekspresi wajahnya adalah ketundukan yang tulus, bukan perlawanan. Seperti anak kucing yang menggesekkan tubuhnya, bukan menggigit.

Arjuna menatap wajah mungilnya lama.

Wanita-wanita yang biasa ia hadapi berpengalaman, tahu cara bermain, tahu cara menyenangkan. Tapi gadis ini—secantik ini, sepolos ini, menyembunyikan semua itu di balik topeng kusam—adalah sesuatu yang berbeda. Pengalaman pertama dengan seseorang seunik ini terlalu berharga untuk dirusak dengan kasar di lantai kamar mandi yang dingin.

Gelombang kegelapan di matanya perlahan mereda, digantikan oleh kepuasan posesif yang lebih halus.

Napasnya berembus ke lekukan leher Citra. Tangan besarnya membelai pinggang ramping gadis itu sekali,sentuhan yang mengandung klaim lebih dari kasih sayang.

"Heh..."

Bibir tipisnya menggigit cuping telinga Citra dengan keras, merasakan tubuh gadis itu bergidik dalam pelukannya.

"Ingat kata-katamu, Pembohong Kecil," bisiknya, suara serak yang mengandung perintah tak terbantahkan. "Bersihkan dirimu. Keringkan dirimu. Dan jangan membuatku menunggu terlalu lama."

Ia melepaskannya.

Kaki Citra mendarat di lantai basah, gemetar hingga hampir tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Arjuna berbalik dan melangkah keluar dari kamar mandi tanpa menoleh—aroma alkohol dan sesuatu yang lebih mengancam dari itu mengikutinya pergi.

Citra merosot ke dinding. Lalu ke lantai.

Ia memeluk lututnya yang gemetar, menyembunyikan wajah dalam-dalam. Air matanya bercampur dengan air yang masih menetes dari ujung rambutnya, tidak ada yang bisa membedakan mana yang mana.

Ia duduk di sana cukup lama—membiarkan tubuhnya gemetar, membiarkan kepanikannya habis dengan sendirinya. Baru setelah itu, perlahan, pikirannya yang dingin mulai berfungsi kembali.

---

Setelah mandi dan mengeringkan rambut, Citra berdiri di depan cermin kamar mandi yang masih beruap.

Jubah mandi putih bersih membungkus tubuhnya hingga ke betis. Wajah kecilnya yang polos menatap balik dari cermin—tanpa krim, tanpa kacamata, tanpa lapisan perlindungan apa pun.

*Sistem mengatakan wajah dan tubuh ini adalah senjatamu.*

Ia menarik napas pelan.

Rencananya semula adalah membangun sesuatu perlahan....kepercayaan, kehadiran, kesan yang mengendap tanpa disadari. Tapi Arjuna Pratama tidak memberi ruang untuk perlahan. Pria itu bergerak dengan logika miliknya sendiri, dan logika itu tidak meminta izin.

Maka Citra menyesuaikan.

Rasa takut yang membabi buta hanya akan membuatnya terlihat lemah tanpa daya tarik. Tapi kelemahan yang terkontrol,kelembutan yang dipilih, bukan dipaksakan,adalah sesuatu yang berbeda. Ini memang kepribadian aslinya. Ia tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.

Yang perlu ia lakukan adalah bertahan cukup lama untuk menemukan celah yang lebih besar.

Matanya di cermin menatap balik,tampak polos, tampak patuh, tapi di sudut yang paling dalam ada ketajaman diam-diam yang tidak pergi ke mana-mana.

---

Di ruang tamu suite, hanya lampu tidur yang menyala, memancarkan cahaya redup dan ambigu.

Arjuna tenggelam di sofa kulit hitam yang luas. Jubah mandi, kerah terbuka longgar, segelas anggur merah di tangan. Posturnya malas—satu kaki disandarkan, satu lagi ditekuk. Ia sudah minum beberapa gelas lagi sejak keluar dari kamar mandi, membantu menekan hasrat yang belum sepenuhnya padam.

Suara langkah kaki ringan.

Ia menoleh.

Di ambang pintu, berdiri sosok putih bersih. Jubah mandi membungkus tubuh ramping, kulit leher dan betis yang terbuka bersinar lembut di bawah cahaya redup. Wajah kecilnya merona merah muda,alis dan mata seperti lukisan klasik, memancarkan rasa malu yang polos.

Arjuna tidak tahu sudah berapa kali hari ini kecantikan gadis ini mengejutkannya. Setiap kali ia berpikir sudah melihat semuanya, ada sisi lain yang muncul...lebih menggoda justru karena tidak berusaha menggoda.

Jakun Arjuna bergerak tanpa suara.

Ia meletakkan gelas anggurnya. Mengulurkan tangan, suaranya malas tapi penuh otoritas.

"Kemarilah."

Citra melangkah kecil dan ragu-ragu. Berhenti dekat kakinya, menundukkan kepala sedikit, tampak bingung dan gugup—dan memang begitulah adanya, meskipun di baliknya ada bagian yang mengamati setiap detik dengan sangat sadar.

Arjuna tidak memiliki kesabaran untuk menunggu.

Lengannya mengulur, menggenggam pinggang ramping Citra, dan dengan sedikit tenaga mengangkat tubuh mungil itu ke pangkuannya.

"Ah—" Tangan kecil Citra menekan dadanya secara refleks untuk menjaga keseimbangan.

"Bukankah kau bilang akan menjadi orang yang baik?" Arjuna terkekeh pelan, suaranya rendah dan menggoda.

Lengannya melingkari pinggang Citra, menariknya lebih dekat ke dalam kehangatan tubuhnya yang maskulin. Citra menutup matanya—bukan karena menyerah sepenuhnya, tapi karena kadang ada situasi yang tidak bisa dilawan dengan kekuatan frontal.

Yang bisa dilakukan adalah bertahan. Tetap sadar. Tetap berpikir.

Dan menunggu saat yang tepat untuk mengubah arus permainan ini menjadi miliknya.

1
Friska trisna
Tema perjuangan: Bab ini bisa jadi fondasi untuk tema besar — Citra membangun karier dengan usahanya sendiri, meski berada di bayang-bayang kekuasaan Arjuna.
Friska trisna
Bab ini berhasil menunjukkan dinamika pasangan: Citra yang polos dan keras kepala, Arjuna yang arogan tapi luluh oleh ketulusan.Ada keseimbangan antara romansa manis dan ketegangan ringan. Pembaca bisa ikut tersenyum melihat kegembiraan Citra, sekaligus merasa hangat melihat Arjuna akhirnya mendukungnya.
cipung
semangat kak🤭
Ayu Ning
semangat thor
Ayu Ning
secepat itukah,menyerah.
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir moga suka
cipung
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!