Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SARAPAN BUBUR
"Yu... Yukari..." Suara Daiki nyaris tidak terdengar, "Dia... minta dibiarkan mati?"
Kalimat pria asing itu masih terngiang di kepala mereka.
"Biarkan aku mati."
Yukari mengusap pergelangan tangan yang ditepis beberapa saat lalu. Cara pria itu menatapnya membuat Yukari membatin bahwa kematian memang sudah dipilihnya sejak awal.
"Kita harus cepat bawa dia ke dalam, jangan sampai dia hipotermia!"
Mereka bekerja sama memapahnya masuk dan membaringkannya di ruang tengah yang sudah dialasi selimut tipis.
Daiki berlari mengambil kotak P3K dan Yukari mencari pakaian mendiang ayahnya yang masih layak pakai di lemari tua di salah satu kamar.
Daiki sudah lebih dulu membuka kotak P3K. Berbagai botol obat, perban, dan kapas berserakan di lantai.
"Untung masih lengkap," katanya sambil memeriksa isinya.
Yukari berlutut di sisi pria itu, lalu menyentuh dahinya dengan punggung tangan. Daiki menatap gadis itu tanpa berkedip dan memberi anggukan kecil.
Daiki bergerak lebih dulu. "Maaf," meski tahu pria itu belum sadar.
Daiki membuka kancing kemeja pria itu dengan cepat. Kain yang basah menempel kuat di kulit.
Tubuhnya terawat. Otot-otot di bahu dan lengannya terbentuk jelas. Rambut hitam yang basah menutupi sebagian dahinya. Brewok tipis yang tumbuh tak beraturan membuat wajahnya tampak lebih tua dari usia sebenarnya. Meski begitu, garis rahangnya tetap tegas. Bahkan dalam keadaan tak sadarkan diri, raut wajahnya masih menyisakan kesan dingin dan sulit didekati.
Namun saat tubuh pria tersebut dimiringkan untuk mengeringkan bagian punggung, ekspresi wajah Daiki langsung menghilang.
Lebam besar membentang dari bahu hingga pinggang. Warnanya ungu kehitaman. Bahkan di bawah cahaya lampu ruang tamu, bekas luka itu tampak mengerikan.
Daiki menelan ludah. "Astaga..."
Daiki mengambil handuk kering, lalu mengusap air yang masih menetes dari rambut pria itu. Yukari sibuk membersihkan luka di punggungnya dengan kapas yang sudah dibasahi antiseptik. Tubuhnya ikut menegang setiap kali cairan obat menyentuh kulit yang terluka.
"Maaf..." Yukari tanpa sadar. "Pasti perih."
Pria itu tidak menjawab. Kesadarannya belum benar-benar pulih.
"Yukari, aku menemukan ini," Daiki menyerahkan sebuah dompet yang basah ke tangan Yukari. "Aku akan mengganti celananya, kau periksa isinya apa masih ada kartu identitas atau nomor penting."
Yukari mengangguk. Ia memutar tubuhnya membelakangi Daiki yang akan melepas bagian celana yang basah.
Air sungai masih menetes dari sudut-sudut dompet itu. Ia membuka bagian dalamnya, ada beberapa lembar uang basah terselip di salah satu bagian. Tidak banyak.
Lalu matanya menangkap sebuah kartu identitas.
"Ada!" Yukari mengeluarkan kartu itu. Sebuah kartu dengan nama yang tertulis jelas. "Takagi... Akira."
Yukari membaca sekali lagi nama itu. "Takagi Akira... Dia berasal dari Aoyama! Tempat yang sama di mana aku bekerja."
"Apa ada nomor yang bisa dihubungi?" sambung Daiki dari belakang punggung Yukari.
Ia hendak memasukkan kembali kartu identitas itu, namun jarinya menyentuh sesuatu yang keras di balik lipatan dompet.
"...tidak ada..!"
Ia menarik benda itu perlahan. Sebuah cincin emas sederhana dengan desain yang elegan. Benda itu tampak jauh lebih terawat dibanding isi dompet lainnya.
"Aku sudah selesai." Daiki merapikan kotak P3K dan pakaian yang basah dimasukkan ke dalam ember.
Yukari kembali memasukkan cincin itu ke tempat semula lalu menyimpannya di dalam saku.
"Menurutku lebih baik dia kita pindahkan ke kamar."
"Kau benar."
Mereka mengangkat tubuh Akira, membaringkannya di atas futon, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi tubuhnya. Mesin penghangat tua sudah dinyalakan. Sedikit demi sedikit udara hangat mulai mengusir hawa dingin yang sejak tadi menusuk tulang.
Mereka memperhatikan napas Akira beberapa saat. Masih lemah, namun kini jauh lebih teratur.
Yukari akhirnya mengembuskan napas lega. "Ayo keluar."
Pintu kamar ditutup pelan.
"Jadi... kau benar-benar bakal membiarkan Takagi Akira menginap di sini?"
Yukari mengangguk pelan. "Kita nggak punya pilihan, kan?"
Daiki bersandar di ruang tengah, menatap pintu kamar tempat Akira beristirahat. "Kau lihat tatapan matanya sebelum dia pingsan?"
"Ya."
"Bagaimana jika saat dia sadar, tanpa sepengetahuan kita ia akan melukai dirinya lagi? Mencoba untuk mati kedua kalinya."
Yukari menatap sahabatnya datar. "Aku rasa tidak."
Hening menyela di antara mereka, namun tiba-tiba Daiki terkekeh.
"Hei, kenapa kau tiba-tiba tertawa? Apa yang lucu?" Yukari menggeser sedikit tubuhnya, menatap mata pria di sampingnya.
"Kau tidak sadar?" Daiki tersenyum dan sedikit menggeser badannya ke arah Yukari. "Kepulanganmu yang tiba-tiba ini hanya untuk mengurus orang asing di rumahmu sendiri, Yukari?"
Candaan singkat dari Daiki itu membuat kata-kata Yukari tertahan di tenggorokan. Matanya sesekali menatap pintu kamar Takagi lalu melihat sekeliling ruangan rumahnya.
"Ya... kau benar. Ini bukan rencana awal aku memutuskan cuti panjang ke Oku-Niko," katanya sambil meremas ujung kardigannya.
Namun wajah Daiki kembali serius. "Malam ini aku akan menginap. Besok pagi aku akan membawa dokter desa untuk memeriksa keadaan Takagi."
Untuk beberapa detik Yukari hanya memandang sahabatnya. "Terima kasih, Daiki."
***
Kabut tebal masih menggantung di perbukitan Oku-Niko ketika Yukari membuka mata. Rumah kembali sunyi.
Daiki sudah pulang sejak sebelum matahari terbit. Sebelum berangkat, ia bahkan masih sempat mengulang pesan yang sama berkali-kali di kertas memo: "Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku."
Walaupun mereka sama-sama sadar, sinyal di desa itu sering kali muncul sesuka hati.
Yukari berjalan ke dapur. Tak banyak bahan makanan yang ia bawa dari kota, jadi ia memutuskan membuat bubur sederhana dan menyeduh secangkir teh hijau hangat.
"Cukup, semoga saja dia mau makan," katanya sambil meletakkan mangkuk dan cangkir di atas nampan, lalu berjalan menuju kamar tamu.
Pintu geser dibuka perlahan. Udara hangat dari mesin penghangat masih memenuhi ruangan.
Akira masih berbaring di atas futon. Napasnya terdengar jauh lebih tenang dibanding semalam.
Yukari meletakkan nampan di lantai, lalu berlutut di samping futon. Tangannya baru saja hendak memeriksa perban di pelipis pria itu ketika sepasang mata perlahan terbuka.
Pandangan Akira berkeliling menyapu langit-langit, dinding kayu, hingga akhirnya berhenti pada Yukari, Mereka saling bertatapan untuk beberapa menit.
Ia mencoba bangun.
"Hss..."
Rasa sakit langsung memaksanya meringis. Baru setengah duduk, tubuhnya kembali jatuh ke futon.
"Jangan dipaksakan," ujar Yukari menahan tubuh Takagi agar tidak bangun. "Punggungmu menghantam batu cukup keras."
Akira berhenti bergerak. Matanya turun ke pakaian yang dikenakannya. Kemeja flanel longgar dan celana yang jelas bukan miliknya.
Beberapa detik kemudian ia menoleh lagi. "Ka... kamu... siapa?" Suaranya masih serak dan berat.
"... Honami Yukari."
Akira mengulang nama itu pelan, seolah sedang mencoba mengingat sesuatu. "Honami-san..."
Tangan Akira memegang pelipisnya yang diperban lalu memandang Yukari. "Aku, di mana?"
"Desa Oku-niko. Kau sekarang di rumahku." Yukari menunjuk perban yang membalut pelipis Akira. "Kami membersihkan luka-lukamu dan Daiki yang mengganti pakaianmu. Dompetmu juga sudah kami simpan di sini."
Yukari mengambil dompet dari saku kardigannya lalu meletakkannya dalam jangkauan pria tersebut.
Akira melirik dompetnya sebentar, tetapi tidak segera mengambilnya. Perhatiannya justru beralih ke mangkuk bubur yang masih mengepulkan uap tipis.
Yukari mengambil satu bantal tambahan, lalu menyelipkannya perlahan di belakang punggung Akira. "Pelan-pelan."
Ia menopang bahu pria itu sampai posisi duduknya lebih nyaman. "Lukamu masih banyak. Jangan bergerak terlalu cepat."
Akira meringis pelan saat punggungnya menyentuh bantal.
"Kau pasti lapar, Takagi-san." Yukari mendorong nampan itu sedikit mendekat. "Aku sempat bikin sarapan."
Akira memandangi semangkuk bubur itu. "Terima kasih," katanya pelan sambil menggeleng. "Aku tidak lapar."
Yukari tidak memedulikan penolakan itu. Ia malah meniup sesendok bubur, memastikan uapnya tidak lagi terlalu panas, lalu mengangkatnya ke depan mulut Akira. "Silakan."
Akira tidak langsung membuka mulut. Pandangannya bergantian antara sendok yang disodorkan Yukari dan semangkuk bubur. Alisnya nyaris bertaut.
"Takagi-san, buka mulutmu. Ini hanya bubur, bukan racun."
Setelah diam beberapa saat, pria itu akhirnya menyerah. Mulutnya terbuka pelan. Suapan pertama masuk.
Akira mengunyah pelan. Ekspresinya datar dan pucat, tetapi ia sempat terdiam agak lama sebelum akhirnya menelan bubur itu. Yukari sama sekali tidak menyadarinya. Ia justru kembali mengambil sesendok bubur berikutnya dengan wajah puas.
"Pelan-pelan."
Setelah hampir setengah mangkuk habis, Akira mengangkat tangan pelan. "Cukup."
Yukari berhenti. "Sudah kenyang?"
Akira hanya mengangguk kecil. Yukari memandangi sisa buburnya, lalu menoleh lagi. "Gimana? Enak?"
Akira tidak langsung menjawab. Ia masih berusaha menelan suapan terakhir yang terasa sangat berat di lidahnya. Beberapa detik kemudian, pandangannya beralih kepada Yukari.
"... Honami-san."
"Hm?"
"Kau yang masak?"
Mata Yukari langsung berbinar. "Iya!" Jawabannya terdengar penuh kebanggaan. "Mungkin karena Takagi-san sedang sakit, jadi buburnya terasa hambar."
Ia mengangguk puas pada masakannya sendiri. "Ini makanan terbaik yang pernah kubuat... setelah mi instan."
Akira terdiam. Sekarang ia akhirnya mengerti. Masalahnya bukan pada lidahnya yang hambar karena sakit, melainkan karena bubur ini memang tidak ada rasanya.
Akira meraih cangkir teh hijau di atas nampan, lalu meneguknya beberapa kali untuk menghilangkan rasa bubur yang masih tertinggal di mulutnya.
Yukari memperhatikan tingkah Akira tanpa merasa ada yang aneh.
takagi bersandar mengendurkan bahunya yang tegang "Tehnya enak!"