NovelToon NovelToon
Beauty & The Boss

Beauty & The Boss

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Perjodohan / Nikahmuda / CEO / Obsesi / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:699.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Okiramitzu

Hidup Vania langsung berubah saat kedua orang tuanya memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang laki-laki bernama Alfin yang merupakan putra dari sahabat papanya.

Berawal dari pertemuan yang tidak menyenangkan, keadaan terus memaksa mereka harus bisa hidup berdampingan dan saling memahami dengan segala perbedaan yang ada walau awalnya menikah tanpa cinta.

Let's cekidot⬇️
Story by Okiramitzu
________

📢 Mohon maaf jika masih terdapat banyak kekurangan🙏




enjoyyyyyy💃

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okiramitzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Alfin menatap kosong ke depan. Terakhir kali ia ke tempat ini ditemani oleh Vania. Kali ini tidak ada pemandangan sunset, yang ada hanya kelap kelip lampu jalan seberang yang terpancar di perairan kanal, ditemani semilir angin malam yang berhembus lembut.

Alfin terlihat sedang memikirkan sesuatu, yang sangat mengganggu pikirannya hingga saat ini. Ia tidak henti-hentinya merasa bersalah, karena telah melukai perasaan Vania.

Ia merasa sangat merindukan Vania berada di sisinya lagi, ia tahu sebenarnya sejak dari dulu dirinya merasa ada perasaan yang aneh terhadap Vania.

Sudah lama sekali rasanya ia tidak merasakan perasaan yang seperti ini. Kehadiran Vania membuat hidupnya yang datar, menjadi terasa penuh warna.

Ia diperlakukan dan dirawat dengan sangat baik, namun Alfin selalu menyangkal dengan apa yang dirasakannya sejauh ini.

Seiring berjalannya waktu, kini ia sadar bahwa ia benar-benar mengharapkan Vania lebih dari apapun.

Matanya mulai berkaca-kaca, berkali-kali ia menyeka air matanya berusaha untuk menguatkan diri. Walaupun sebenarnya ia tidak pernah seperti ini, hanya karena perempuan.

Rasanya tidak pernah sesakit ini, air matanya pun mulai berjatuhan secara perlahan tanpa bisa lagi ia bendung. Perasaan takut itu seolah tak henti-hentinya menghantuinya. Yang ia tahu, ia benar-benar takut kehilangan Vania.

...✤✤✤...

Alfin segera pulang ke rumah, tetapi ia tidak menemukan keberadaan Vania di sana. Berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Vania, tetap tetap tidak bisa tersambung. Ia semakin merasa bersalah, ia merasa perlu menjelaskan sesuatu kepada Vania.

Dengan diliputi perasaan gelisah yang merajam, Alfin mengendarai mobilnya mencari Vania.

Sepanjang perjalanan dipikirannya saat ini hanya ada Vania, gadis yang membuat perubahan besar dalam hidupnya. Sebuah perasaan yang telah lama tidak ia rasakan.

“Vania, kamu di mana?” Alfin mengalami fase paling cemas dalam hidupnya, lebih dari memikirkan urusan bisnis yang besar.

Sementara dirinya juga bingung ke mana harus menemukan Vania, berkali-kali ia mencoba kembali menghubungi Vania tetapi tidak dapat tersambung. Kemungkinan istrinya itu sengaja mematikan ponsel.

...✤✤✤...

Sementara itu di kediaman Wina dan Rio.

Ponsel Wina terus saja berdering, Wina sudah mengira pasti Alfin turut repot menghubunginya.

Dipandanginya Vania yang sedang duduk dengan isak tangisnya, setelah selesai menceritakan semuanya.

Wina dan Rio berkali-kali saling bertukar pandangan, merasa sama-sama seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi pada kehidupan rumah tangga adiknya ini.

“Vania … kamu masih tega membuat anak orang sampai panik begini?” tanya Wina.

Ia lalu memperlihatkan layar ponselnya ke arah Vania. “Alfin udah telpon berpuluh-puluh kali ke nomor Kakak."

“Jangan di angkat Kak, aku mohon,” pinta Vania, sama seperti sebelum-sebelumnya saat Wina memberitahu soal panggilan berulang itu.

“Kamu jangan kayak anak kecil gini dong. Dia pasti khawatir banget sama kamu sekarang," kata Wina.

"Iya Vania, ini kan harusnya bisa dibicarakan baik-baik. Kalian hanya perlu saling bertemu dan coba bicarakan dengan kepala dingin." Rio menimpali.

"Aku lagi nggak pengen lihat dia, Kak."

Wina mulai bereaksi hendak memarahi adiknya itu, tetapi ia terburu diberi kode oleh Rio agar Wina bisa menahan amarahnya.

"Oke. Kalo dia pintar, dia akan menemukan kamu di sini,” ujar Wina.

Cukup lama mereka terdiam dalam satu ruangan, Wina tampaknya sudah sangat gelisah melihat kelakuan Vania yang entah sampai kapan mau sembunyi disini.

“Kamu ini sebenarnya benar-benar benci sama Alfin? Atau gimana?” tanya Rio.

 “Aaarggghhh. Aku kesel kenapa ada cowok macam Alfin di dunia ini! Angkuh, nyebelin, kepala batu, nggak peka …”

 “Nggak ada di saat kamu butuh?!” sahut Alfin yang tiba-tiba saja sudah sampai di sana.

Membuat Vania terkejut karena laki-laki itu sudah berdiri di ambang pintu yang memang sedang terbuka.

“Mm ... Win, Mas Rio. Aku izin bawa Vania pulang ya?” pinta Alfin. Wina mengiyakan. Sementara Rio mendekat ke arah Alfin.

“Tentu, Fin. Dia kan milik kamu,” sahut Wina.

Rio lalu menghampiri Alfin dan menepuk bahunya. "Selesaikan dengan kepala dingin."

Alfin mengangguk paham. Ia lalu melangkah mendekati Vania yang masih duduk di sofa, masih dengan wajah ala ngambek.

“Ayo!” ajak Alfin mengulurkan tangannya, tetapi Vania nampaknya enggan menggubrisnya.

“Ayooo!!” paksanya.

“Kamu pulang aja sendiri! Aku nggak mau lihat kamu!” sahut Vania sebal.

Wina lalu ikut menghampiri Alfin. "Dia memang agak kekanakan, Fin. Kamu nggak papa kok sedikit keras sama dia," bisik Wina, tatapannya meyakinkan adik iparnya itu.

"Ayo!" Alfin menarik tangan Vania yang terasa keras karena Vania menahannya.

"Aku bilang aku nggak mau!"

“Tapi aku memaksa!”

Alfin langsung mengangkat tubuh Vania dan membawanya masuk ke mobil, Vania hanya berteriak kesal minta dilepaskan.

Sementara Wina dan Rio melihat mereka datar, agak geli sebenarnya dengan kelakuan keduanya. Terutama Wina yang menganggap Vania masih kekanak-kanakan.

"Agak susah emang, tapi aku harap Alfin bisa bersabar menghadapi sikap Vania." Wina jelas sekali mengkhawatirkan soal adiknya.

Alfin berhasil membawa Vania masuk dalam mobil, Vania terlihat pasrah dengan amarah yang masih memuncak.

Ia juga sedikit ketakutan melihat wajah Alfin, yang nampaknya marah kepadanya karena kelakuannya ini. Keduanya pun hanya diam tanpa ada satu kata terucap.

...✤✤✤...

Selang beberapa saat di perjalanan, mereka sudah sampai di rumah.

Vania bergegas keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah yang terburu-buru, masuk ke dalam rumah berupaya menghindari Alfin sebisanya. Sedangkan Alfin hanya berjalan mengikutinya.

“Kamu pikir aku akan betah diperlakukan kayak gini terus?! Aku punya hati, Fin!!” kata Vania nyaris dengan suara keras, tanpa memandang wajah Alfin di belakangnya.

“Tolong berhenti bersikap seolah kamu--” Vania menahan ucapannya dengan berat.

Ia berbalik badan dan menemui Alfin turut menghentikan langkahnya, sehingga mereka berhadapan. "Peduli kepadaku,” sambung Vania dengan napas berat.

 “Aku capek! Selalu membutuhkan kamu! Nggak bisa tanpa kamu, entah kamu benar-benar peduli atau hanya sekedar memperlukanku dengan baik. Sementara, aku nggak bisa Fin harus berpura-pura nggak mencintai kamu, aku nggak tau kenapa perasaan ini ada begitu saja.”

Vania merasa puas meluapkan isi kepalanya, ia lalu menatap heran ke arah Alfin yang masih terdiam mendengarkannya.

"Sudah selesai?" tanya Alfin.

"Apa?" Vania terheran.

"Aku lebih senang mendengar kamu melampiaskan semua amarah kamu, dibanding kamu pergi begitu saja," kata Alfin.

Vania mendadak terdiam, sorot matanya masih memandang suaminya yang saat ini terlihat dingin.

“Kamu pikir enak dibikin khawatir setengah mati?! Hah?! Kamu marah tanpa mau mendengar penjelasanku! Hp dimatikan? Nggak bisa dihubungi. Pergi tanpa bilang ke mana?!” Alfin menggerutu.

Vania tersentak, suaminya itu tampaknya sangat marah, ekspresi yang ditunjukkan Alfin tidak seperti biasanya.

Detik berikutnya Vania pun langsung menekuk wajah, ia merasa takut untuk melihat ke arah Alfin.

Suasana hening di rumah mereka menjadi benar-benar terasa, saat keduanya masing-masing menutup suara untuk beberapa detik.

“Dibikin khawatir sama kamu itu menakutkan, lebih menakutkan dari apapun. Aku takut kamu kenapa-napa. Aku minta maaf karena membuat kamu merasa nggak nyaman bersamaku. Dengar, Natasya bukan siapa-siapa aku, hanya kamu, Vania.” Alfin menghela napas.

Raut kemarahan itu mendadak berubah menjadi sendu. Melihat wajah istrinya, rasanya lenyap semua rasa marah bercampur khawatir itu.

Tapi dalam lubuk hatinya, Alfin cukup merasa senang. Vania cemburu menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.

“Nggak ada yang memperlakukanku sebaik kamu, nggak ada yang benar-benar mengetahui kekuranganku, tapi masih menghargaiku dan tetap ingin bersamaku seperti kamu. Kamu nggak tau semua tentangku tetapi kamu bisa mengerti aku dengan baik. Maaf, harusnya aku menyadarinya lebih awal."

Alfin melangkah mendekat ke arah Vania yang masih tertunduk menyimak perkataannya.

“Aku nggak pandai dalam hal percintaan, apalagi dapat mengerti perasaan kamu. Aku minta maaf ya. Kamu harus tahu, apa yang kamu lihat di bandara itu nggak seperti yang kamu bayangkan. Dia hanya akan menjadi bagian masa laluku.” Alfin membelai kepala Vania dengan penuh perasaan.

“Aku egois, memang terlihat nggak peduli sama kamu. Tapi jauh di luar itu, aku selalu ingin menjaga kamu, memastikan kamu hidup dengan layak meski harus mengorbankan waktuku. Kamu tau? Setiap aku pergi, kamu adalah satu hal yang selalu membuatku ingin cepat pulang. Semua waktu saat bersama kamu adalah yang selalu aku rindukan. Aku nggak tau ini perasaan apa? Dan mulai kapan ini hadir, yang aku tau, kamu adalah bagian penting dalam hidupku. Bukan sekedar teman hidup, dan aku, bukan apa-apa tanpa kamu, Vania. Aku benar-benar takut kehilangan kamu.”

Alfin merasa lega karena baru saja mengutarakan semua isi hatinya, sedangkan Vania tak kuat lagi menahan air matanya yang mau menetes sedari tadi.

Pernyataan panjang lebar Alfin, sudah lebih cukup dari apa yang ia harapkan. Alfin langsung memeluknya dengan erat, ia mencoba tetap tegar di saat Vania terlihat rapuh.

“Apakah pertanyaan kamu sudah terjawab?” tanya Alfin. Vania tidak dapat berkata apa-apa, ia hanya bisa mengangguk.

“Tolong jangan suka bikin aku khawatir lagi ya,” pinta Alfin dengan lirih, sambil menahan air matanya.

Sementara Vania terlihat begitu nyaman di pelukan Alfin, pelukannya kali ini terasa sangat berbeda, seolah mereka sama-sama tidak ingin berjauhan.

Vania menatapnya lekat, Alfin menyapu air matanya yang sudah tertumpah. Ia mencium kening Vania dengan penuh perasaan, lalu mengecup lembut bibirnya.

“Maafin aku ya Fin.”

Alfin membelai kepalanya. “Aku yang salah, Vania. kalau saja aku nggak membiarkan Natasya masuk ke kehidupan kita. Tapi jujur, jauh di lubuk

hatiku, sudah nggak ada dia lagi, Vania.”

“Kita bisa kan bahagia? Tanpa ada dia? Aku takut kamu lebih milih dia, karena dia cantik, pinter ...”

“Aku milik kamu sepenuhnya, Vania," ucapnya tersenyum.

Alfin menatapnya dalam, dengan perlahan ia mencium bibir Vania sambil terus memeluknya tanpa ingin melepaskan.

...✤✤✤...

“Adel, cepetan dong!!!” teriak Oris yang gelisah menunggu Adelia.

Gadis itu masih sibuk membereskan peralatan kuliahnya di dalam kelas. Sesekali wajahnya manyun, kesal karena itu adalah teriakan Oris yang ke sekian kalinya mendesaknya.

“Udah, ayukk!” Adelia berlari menghampirinya begitu sudah selesai.

“Lo lama banget si, pegel gue nunggu lo!” Oris menyeletuk.

“Yee, baru juga sebentar nunggunya. Lo lebay banget sih.”

“Eh, Del. Kok gue gugup yah? Ini pertama kalinya nih gue tampil live di tv.”

“Lo pasti bisa kok, Ris. Kan ada gue yang nyemangatin lo.”

“Vania bakal dateng nggak yah?”

“Gue sih udah kabarin dia, kayaknya dia nggak bisa.”

“Ya udah kita langsung berangkat aja ya? Gue takut telat, anak-anak pasti sudah nunggu.”

 “Ayuk!”

...✤✤✤...

Dengan wajah yang ceria Vania masuk ke ruang kerja Alfin.

“Hei Sayang," sapanya, agak malu-malu dengan panggilan baru itu.

Alfin yang kebetulan baru mengakhiri obrolan dengan Prima, kini langsung menyambut kedatangan istrinya.

“Hei.” Alfin menyapa dengan mencium mesra kening Vania.

“Kamu kenapa sih?” Vania terheran. “Nggak enak tau ada Prima,” bisiknya.

“Nggak papa, pergi sekarang?”

“Ya udah ayo.”

“Prima, saya tinggal dulu ya. Kamu ingat kan tugas kamu yang harus segera kamu selesaikan?”

Prima mengangguk.

"Itu hukuman untuk kamu karena tidak tahan dengan godaan cewek itu."

“Siap, Pak. Bu Vania, maafkan saya," ucap Prima menyesal.

"Nggak papa," balas Vania tersenyum.

...✤✤✤...

Seseorang terlihat sudah menunggu Alfin di depan gedung kantor. Alfin dan Vania menghentikan langkah mereka, menyadari kehadiran orang tersebut.

“Pak Alfin kan? Saya Bedjo, yang kemarin, Pak," ujarnya memperkenalkan diri dengan segan.

“Oh. Iya, iya,” jawab Alfin yang jelas langsung mengingatnya.

“Bapak nggak lupa toh?”

“Iya, mana mungkin saya lupa, sebentar ya.”

Alfin segera mengeluarkan ponsel, menekan panggilan nomor kontak Prima.

“Siapa?” tanya Vania berbisik, tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“Bentar ya, Sayang.”

Beberapa saat kemudian, Prima sudah menghampiri mereka.

“Pak Alfin yakin? Mau menyerahkan mobil Bapak untuk dia?” tanya Prima memastikan.

“Serius?” timpal Vania ikut bertanya.

“Iya, berkat dia aku bisa ngejar kamu waktu itu,” jelas Alfin. “Nah, Mas Bedjo, untuk semua urusan saya serahkan ke Prima, asisten saya, ya. Prima, kamu layani dia dengan baik."

“Jadi ini beneran mas? Nggak bohong kan?”

“Iya, saya serius, terima kasih banyak ya Mas Bedjo.”

Pria itu terlihat sangat girang, mimpi apa ia bisa dapat hadiah mobil. Prima mengajaknya masuk untuk mengurus semuanya. Sementara Vania masih terheran nyaris tidak berkedip.

 “Kamu kenapa?”

“Kamu rela nyerahin mobil kamu?” Vania seolah tak percaya.

“Aku rela kehilangan apapun asalkan bisa sama kamu, mending kehilangan mobil daripada harus kehilangan kamu.” Alfin menatapnya nakal.

“Gila kamu ya, emang bener-bener gila.” Vania tertawa senang.

“Gara-gara kamu lah. Iya, tergila-gila sama kamu.”

“Bahkan harus rela kehilangan proyek besar?? Terus, rugi besar karena batal kontrak?”

“Iiii ... yaaaaa, udah lah. Nggak papa. Kalo rezeki juga nggak kemana.”

“Ya udah sekarang kita pergi naik apa nih?”

"Naik angkot." Alfin nyengir.

"Serius?"

“Enggak lah. Surprise..!!!” Ia memencet kontak mobil ditangannya, tampak di depan mereka di antara barisan mobil, salah satunya mengedipkan nyala lampu sien.

Vania menutup mulutnya, mendadak bungkam mengagumi mobil baru Alfin.

“Ayuk!” ajak Alfin menggandeng tangannya memasuki mobil tersebut.

Hari ini mereka hanya ingin menikmati waktu berdua,  Vania sangat bersemangat karena hari ini Alfin mau meluangkan waktu untuknya.

...✤✤✤...

Suara gemuruh tepuk tangan dan teriakkan dari penonton mengiringi akhir dari penampilan Oris dan teman-temannya, setelah menampilkan beberapa lagu di atas panggung.

Adelia terlihat bersemangat dan bangga melihat sahabatnya itu. Ia berdecak kagum melihat Oris yang sedang berlari menghampirinya, setelah turun dari panggung.

“Gimana?? Gue nggak kelihatan gugup kan tadi?” tanya Oris antusias ingin mendengar komentar Adelia.

“Iya, Ris. Lo keren banget pokoknya, akhirnya terwujud juga impian lo.” Adelia merasa bangga padanya.

“Ahh, berkat lo juga kali selalu nyemangatin gue." Oris menatapnya dengan senyum berseri-seri, ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Eh, Vania bener-bener nggak ke sini?”

“Iya. Mmm.. Ris, lo masih ngarepin Vania ya sampai sekarang?” Adelia terlihat ragu, takut pertanyaannya akan membuat Oris tersinggung.

“Dari dulu sampai sekarang, gue tetep mengagumi dan sayang sama dia, Del. Tapi gue bahagia bisa liat dia akhirnya bersama dengan orang yang tepat, dan gue nggak akan ngarepin dia lagi. Bersamanya sebagai sahabat, udah cukup buat gue. Yang penting diantara kita bertiga nggak boleh ada yang ngejauh.”

Oris melihat ke arah Adelia yang tersenyum. Oris menggaruk lehernya tersipu, ia merasa ada yang aneh sekarang di antara mereka.

Sebuah hal yang sulit dijelaskan, terlebih saat melihat senyuman Adelia yang entah kenapa hari ini terlihat jauh lebih manis dari biasanya di mata Oris.

“Lo kenapa, Ris?”

“Mmm. Nggak papa kok, gue, baik aja Del.” Tatapan sahabatnya ini tiba-tiba membuatnya menjadi salah tingkah.

“Lo kok liatin gue kayak gitu sih, Del?”

“Nggak papa.”

Adelia tersenyum ke arahnya, membuat Oris melihat betapa manisnya cewek satu ini. Keduanya merasa canggung, padahal mereka sudah kenal sejak lama, tapi hari ini ada yang berbeda dari semuanya.

...✤✤✤...

Vania menatap wajah Alfin yang terlihat bingung. Vania mendekatinya dan duduk di hadapan Alfin yang sedang di tempat tidurnya.

 “Sayang." Vania menyapa dengan suara manja.

 “Iya?” Alfin mengalihkan pandangannya kepada istrinya.

“Belum ngantuk?”

“Belum.”

“Masih keinget sama mobil kamu?”

“Enggak lah, udah di kasih ke orang nggak usah diinget lagi.”

“Terus?”

“Pak Rendra masih mau melanjutkan kerjasamanya denganku, gimana? Menurut kamu?”

“Ohh, itu. Ya udah, bagus dong. Terserah kamu sih.”

“Tapi aku akan sering ninggalin kamu.”

Vania terlihat berpikir, ia tahu ini adalah hal yang menyenangkan untuk Alfin. Ia merasa tidak bisa egois, dari awal menikah ia sudah tahu dengan pekerjaan Alfin, dan ia harus menerima meskipun Alfin akan sering sibuk di luar.

 “Aku nggak papa, Fin,” katanya tersenyum. Sementara Alfin berpikir keras, ia harus cepat mengambil keputusan.

“Oke mungkin memang ini saatnya, aku harus lebih percaya pada orang lain.”

“Maksud kamu?”

“Aku akan ambil proyeknya, tapi mungkin bukan aku yang akan mengurusnya langsung, aku yakin orang yang aku pilih ini akan bisa dipercaya.”

“Siapa? Tunggu, tunggu … maksud kamu, Prima??”

Alfin mengernyit, lalu ia mengangguk.

"Kamu mau nyerahin proyek besar langsung ke dia?"

“Aku rasa aku harus memberinya kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya. Sekalian ngehukum dia juga sih. Dia harus bisa kasih aku hasil yang memuaskan. Tapi, nanti aku juga coba konsultasi ke papa dulu.”

Alfin merasa lega. Mendengar itu Vania tersenyum bangga padanya.

“Aku akan tetap dukung kamu dalam hal apapun.”

“Sekarang tanggung jawabku lebih besar dari sekedar mengurus perusahaan.”

Vania menaikkan alis. “Maksud kamu?”

“Aku mau punya anak!” seru Alfin.

“HAHH??!!” mata Vania terbelalak. Alfin mengangguk penuh harap.

“AKU MAU PUNYA ANAK!!!!!” tegasnya, lalu memandang nakal.

“ENGGAK SEKARANG ALFIN!!!! Aku masih semester satu!!!” Vania sedikit ketakutan melihat Alfin menatapnya seolah menemukan mangsa dan tiba-tiba langsung mendekapnya.

******************

Tamat.

1
Lonafx
ini novel lama, tp masih seru aja dibaca.. wkwk kocakk beettt/Facepalm/
nuning 29
ambil jurusan apa? bukan arsitek. tapi, arsitektur.

arsitek itu profesi. sedangkan, ilmunya arsitektur.

ambil jurusan apa? dokter. anehkan?
yang benar ... kedokteran.
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣: wahh Terima kasih Kak 🙏🙏 nanti saya perbaiki
total 1 replies
roma widia
ceritanya bagus kak. up yang banyak kak 😁
Murti Ningsih
ceritanya garing
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣: Terima kasih
total 1 replies
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
kok ga diteriakin
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
padahal bisa jadi solusi. ck
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
mantan? baiklah
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
oh Vania cantik. baiklah
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
valid! tp klo senior cewek biasanya agak bermanis2 muka sama junior cowok yg goodlooking.
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
pemalas mah pemalas aja
Ig : Author_fanie.liem
semangat terus Kaka ..
Aszenapena
ayo author. aku padamu (◍•ᴗ•◍)
Risalah_Hati
sementara dilempar batu dulu Vin, entr dilemparnya pakek cinta
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣: wkwwk,

makasih ya mampir dimari🙏
total 1 replies
PORREN46R
sudah kukirim vote nya.
Risalah_Hati
kayaknya alvin sama nino bakalan jatuh cinta ma vania deh
Ig : Author_fanie.liem
bunga untuk author yang cihuy...
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣: cihuyyyyy, maacih kakak thorr yg caemmm😘
total 1 replies
Ig : Author_fanie.liem
jadi ingin main skuter..
mengingat masa remaja wwkwk
canvie
strict parent ya??
canvie
senioritas lagi :") kebiasaan pribumi kita
🧣𝗢𝗞𝗜𝗥𝗔 𝗔𝗗𝗜𝗧𝗢𝗠𝗔🧣: pengalaman pribadi author sih ini sebenarnya 🤣
total 1 replies
canvie
duh, gerah gerah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!