Bagaimana kalau tubuh laki-laki seorang pembunuh bayaran berakhir di tubuh perempuan yang tidak ia kenal. Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erika Ponpon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Kantor pusat Salendra Group.
Langit kota B mendung, menggantung berat seperti hati Raga saat itu. Dengan kemeja kusut dan rambut yang tak serapi biasanya, ia berdiri di depan gedung menjulang. Beberapa pegawai yang lalu lalang menatapnya heran—tak mengenali, atau mungkin sengaja menghindari tatapan pria yang dulu pernah menjadi suami Hazel Salendra.
Satu langkah. Dua langkah. Dengan rasa percaya diri yang retak, Raga memasuki lobi megah itu.
“Permisi… saya ingin bertemu Bu Hazel.”
Resepsionis menoleh, sopan namun waspada. “Maaf, apakah Anda sudah membuat janji?”
“Saya… saya suaminya. Maksud saya—mantan suaminya. Tolong bilang, Raga ingin bicara. Lima menit saja.”
⸻
Di lantai delapan, ruang kerja Hazel.
Radit masuk, sedikit menahan heran. “Bu Hazel… Raga ada di bawah. Dia ingin bicara langsung.”
Hazel mendongak dari dokumennya. Sorot matanya tajam sejenak, lalu ia menghela napas pelan.
“Suruh naik. Tapi cuma sepuluh menit. Tidak lebih.”
⸻
Pintu terbuka.
Raga berdiri di sana, gugup. Hazel tetap anggun di balik mejanya, mengenakan setelan formal krem yang membuatnya tampak seperti sosok yang tak bisa disentuh.
“Silakan duduk,” katanya singkat.
Raga menelan ludah. “Hazel… gue tahu ini aneh. Tapi gue ke sini buat bilang… gue nyesel. Semua yang terjadi, itu kesalahan gue. Gue salah milih, salah ninggalin lo. Gue… gue minta kita mulai dari awal lagi.”
Hazel tersenyum kecil. Tapi bukan senyum rindu. Itu senyum… iba.
“Raga, kita sudah tidak di tempat yang sama. Lo memilih jalan lo sendiri. Dan gue, harus terus berjalan tanpa lo.”
“Tapi gue—”
“Tidak,” potong Hazel lembut namun tegas. “Gue bukan tempat pelarian saat hidup lo sulit. Gue bukan pintu darurat yang bisa lo buka saat semuanya terbakar.”
Raga diam. Rahangnya mengeras, namun ia tahu… ini akhir yang tak bisa dibantah.
“Hazel… gue cuma mau minta maaf. Itu saja.”
Hazel mengangguk pelan. “Maaf lo gue terima. Tapi kisah kita… sudah selesai.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di tempat lain…
Elora berdiri diam di depan cermin besar berlapis marmer di kamar mandi suite hotel berbintang. Gaun malam berwarna anggur tua itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, menyembunyikan perut yang mulai menonjol sedikit—kehamilannya yang telah memasuki bulan ketiga.
Tangannya menyentuh perutnya sekilas, cepat, seperti gerakan reflek. Tapi tidak ada kelembutan di situ. Hanya kekesalan yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik bulu mata lentik dan eyeliner tajam.
“Bukan waktunya merasa bersalah,” batinnya.
Notifikasi ponsel kembali menyala di meja marmer:
“Aku di lounge. Kamar 1809 sudah siap. I’ll wait. —Dio S.”
Elora menarik napas dalam-dalam, lalu menghela perlahan. Ia tahu apa yang akan ia lakukan malam ini bukan karena cinta—bahkan bukan karena nafsu. Ini murni strategi. Siasat hidup. Raga sudah tak bisa diandalkan, apalagi setelah menjual mobil yang dulu ia paksa untuk dikreditkan. Hidup dengan Raga hanya berarti hidup dengan tagihan dan omelan ibunya.
Kini ia perlu investor baru.
Dio Suryaputra—pengusaha event, flamboyan, suka pamer, dan yang terpenting: mudah ditaklukkan oleh wanita cantik yang tampak rapuh. Elora tahu persis bagaimana caranya memainkan peran itu.
Ia tersenyum miring di cermin, lalu berbisik pada bayangan dirinya sendiri:
“Kalau dunia ini panggung, maka aku tak akan lagi jadi penonton.”
Gaun itu berdesir ringan saat ia melangkah keluar dari kamar mandi. Malam baru saja dimulai, dan di balik aroma parfum mewah dan lampu-lampu temaram lounge bar, Elora mempersiapkan diri untuk berbohong dengan lebih halus… dan lebih mematikan dari sebelumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langkah Elora terdengar pelan namun pasti saat menuruni tangga dari lantai atas rumah. Gaun malam berpotongan elegan yang ia kenakan terseret sedikit di anak tangga terakhir. Wajahnya sudah dipoles sempurna, lipstik merah marun menyala, anting kristal menggantung ringan di telinganya.
Namun langkahnya terhenti begitu suara lantang terdengar dari arah ruang keluarga.
“Mau pergi ke mana kamu malam-malam begini, Elora?”
Suara itu milik Mama Raga, yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa segelas teh. Matanya menyipit tajam, menatap menantu yang kini berdiri membeku di depan pintu.
Elora berusaha tersenyum santai. “Cuma… ketemu teman, Ma. Teman lama. Mau dinner aja.”
Mama Raga menaruh teh di atas meja sambil mendekat. Tatapannya menginspeksi Elora dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sorot matanya bicara: itu bukan baju untuk sekadar makan malam.
“Teman?” ulang wanita paruh baya itu, nada suaranya menggantung penuh kecurigaan. “Kamu ingat kamu lagi hamil, kan? Mau ke mana pakai baju begitu? Raga aja belum pulang.”
Elora mengepalkan tangannya yang menggenggam clutch bag mungil. “Aku butuh hiburan, Ma. Aku juga capek, tiap hari di rumah, mikirin ekonomi, mikirin anak. Aku butuh napas.”
Mama Raga menyilangkan tangan di dada. “Kalau kamu bener-bener mikirin anakmu, kamu gak bakal berdandan kayak mau ke kelab. Hati-hati, Elora. Kamu pikir saya gak lihat kamu makin aneh belakangan ini?”
Elora menahan diri, bibirnya gemetar, bukan karena takut… tapi karena marah.
“Aku hanya ingin mencari hiburan saja ma, emang gak boleh aku berdandan seperti ini? Toh mas Raga baik-baik saja kalau aku berpenampilan seperti ini mama gak ada hak melarang aku.”
Mama Raga hanya mendengus, lalu kembali ke kursinya tanpa berkata lagi.
Elora menatap punggung mertuanya, lalu membuka pintu perlahan. Udara malam menyapa kulitnya seperti peringatan—bahwa setiap langkah keluar dari rumah itu akan mendekatkannya pada api. Tapi Elora sudah terlalu jauh untuk mundur.
Ia melangkah keluar, membiarkan pintu tertutup pelan di belakangnya… dan membiarkan kebohongan baru mulai bekerja di dunia luar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara meja dihantam keras memantul di seluruh sudut ruang kerja eksekutif lantai atas Hotel Ardentium.
Kalingga Ludvig, berdiri tegap di balik mejanya, wajahnya gelap bagai badai yang siap menghancurkan. Di layar besar di depannya, halaman media gosip digital memampang judul menyakitkan:
“Casanova Kota J? CEO KCorp Digosipkan Sering Gonta-Ganti Pasangan!”
Adhvan, asistennya yang setia, berdiri beberapa langkah di belakang, mencoba tenang meski detak jantungnya ikut melonjak.
“Siapa yang buat ini?!” bentak Kalingga, nadanya nyaris mendidih.
Adhvan buru-buru menyalakan tabletnya, membuka log digital yang sudah dikumpulkan oleh tim IT.
“Kami sedang telusuri, Pak. Tapi kami mendeteksi traffic awal muncul dari akun anonim dengan IP masking, terhubung ke jalur luar negeri—namun proxy-nya jejak lokal. Kemungkinan besar, ini disebarkan dari dalam negeri.”
Kalingga menyipitkan mata, rahangnya mengeras.
“Itu bukan sekadar gosip iseng. Itu serangan reputasi. Mereka tahu aku terlibat dalam urusan dengan Hazel, dan mereka mencoba menjatuhkan aku lewat cerita murahan!”
Ia berjalan mondar-mandir, jas hitamnya berkibar, aura dominannya memenuhi ruangan.
“Cek semua akun yang menyebar pertama kali. Cari siapa yang pertama kali mengunggah, retweet, repost, bahkan komen yang terlalu aktif. Aku mau nama! Dan kalau perlu… aku mau wajah!”
Adhvan mengangguk cepat. “Akan segera saya kerahkan tim, Pak. Kami akan cari akar masalahnya.”
Kalingga berhenti di depan jendela besar, menatap keluar ke arah kota yang mulai gelap. Namun matanya menyala.
“Kalau mereka pikir mereka bisa main kotor, kita akan buktikan… mereka menggali lubang untuk diri mereka sendiri.”
Hening menggelantung beberapa detik, sampai Kalingga berbisik lirih, namun tajam.
“Gue tidak akan biarkan nama Hazel terseret lagi hanya karena seseorang ingin menjatuhkan gue lewat kebohongan.”
udah ngerbut raga dari Hazel eh tapi malah bagus dong baj•ngan sama lacu•r sama sama cocok jadi satu
manuk diobral nang cangkeme wong wedok gak nggenah..
eh apa msh aktif jd pembunuh bayaran Thor?
koq gak pernah liat aksinya lagi..?