Seorang pemuda yang misterius menyamar menjadi laki-laki culun, bertemu dengan gadis yang sedikit manja dan baik hati.
"Diam jangan bergerak nanti bakal aku lepaskan kalau kamu nurut."
"Afkar!" jerit Regita kaget.
"Shuttt..diam jangan teriak nanti orang tuamu dengar"
"Kenapa loe bisa masuk ke sini?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VivianaRV, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OMG 35
Afkar mulai mencobanya, ternyata setelah di coba kegiatan menggambar yang di isi oleh banyak anak-anak itu tidak buruk juga. Dia mulai asik dengan gambarnya dan lupa dengan sekitarnya sejenak, Regita yang melihat itu tentu sangat senang. Dia juga ikut menggambar bersama dengan Afkar.
"Ternyata seru juga main gambar-gambaran seperti ini."
"Emang waktu kecil loe tidak pernah seperti ini?"
"Aku belum pernah seperti ini karena pada usia tiga tahun orang tuaku meninggal" raut wajah Afkar yang semula ceria menjadi murung kala mengingat masa kecilnya.
"Maaf ya gue enggak tahu" Regita menjadi tidak enak dengan Afkar, karena perkataannya tadi membuat Afkar sedih.
"Tidak apa-apa kok" Afkar berusaha tersenyum di hadapan Regita.
"Loe jangan sedih gitu dong, gimana kalau kita coba wahana bianglala sepertinya seru" Regita ingin membuat memori kesenangan dalam diri Afkar.
"Itu kan wahana yang banyak anak kecilnya, kita ini sudah besar Regita."
"Ya enggak apa-apa sih kita naik itu lagian tidak ada batasan umur kan untuk naik komidi putar" Regita menggeret tangan Afkar untuk segera mengikutinya.
Afkar hanya pasrah saat di tarik Regita, Regita membeli tiket dan antri menunggu gilirannya dengan Afkar untuk naik ke wahana.
"Pusing enggak sih Git kalau naik itu?" tanya Afkar, maklum dia tidak pernah naik semua wahana seperti ini karena masa kecilnya hanya mengurung diri di dalam rumah tidak bersosialisasi dengan orang luar.
"Mungkin cuma sedikit pusing sih" jawab Regita.
Akhirnya tiba antrian Regita dan Afkar untuk naik, Regita dan Afkar duduk bersebelahan. hanya mereka berdua orang dewasa yang naik komidi putar. "Git aku malu banget di lihatin sama orang-orang."
"Ya biarin aja sih mereka pada lihat kita mereka kan punya mata" jawab Regita cuek.
"Mereka ngelihatnya enggak biasa" Afkar menjadi kurang nyaman dia berusaha mengalihkan pandangannya dari orang-orang. Melihat Afkar yang kurang nyaman Regita langsung menggenggam tangan Afkar dengan lembut.
"Udah enggak usah hiraukan mereka, kita ke sini kan mau senang-senang" ucap Regita lembut supaya Afkar kembali tenang dan nyaman. Mendengar ucapan Regita, Afkar hanya mengangguk dan mengulas senyum simpul.
Wahana sudah berputar berkali-kali dan akhirnya sudah selesai sesi Afkar dan Regita. Mereka turun dari wahana, Afkar yang baru turun langsung sempoyongan karena kepalanya pusing.
"Loe kenapa sih Afkar kok jalannya seperti orang mabuk gitu?" Regita berusaha memegangi tubuh Afkar yang berjalan sempoyongan.
"Kepala aku pusing Git habis turun dari komidi putar" Afkar memijat dahinya supaya mengurangi rasa pusing.
"Ayo duduk di sana dulu" Regita menuntun tubuh Afkar menuju bangku yang berada di dekatnya.
"Bentar gue beliin minum dulu ya loe tunggu di sini dulu" Regita buru-buru membelikan minum untuk Afkar dan langsung memberikannya saat sudah sampai.
"Nih minum dulu biar cepat reda, ini tadi gue beliin minyak buat ngilangin sedikit rasa pusing loe" Regita mulai mengoleskan minyak pada pelipis Afkar.
"Git perut aku kok enggak enak gini ya rasanya mau muntah" Afkar membekap mulutnya agar tidak muntah, melihat itu Regita panik seketika.
"Kalau gitu ayo kita ke toilet dulu" Regita berdiri dan berusaha membopong Afkar lagi tapi di tahan oleh Afkar.
"Enggak usah Git lagian sepertinya ini tidak akan muntah."
"Nanti kalau muntah di sini gimana?"
"Enggak tenang aja, mana minyaknya aku akan oleskan di perutku" pinta Afkar.
"Sini biar gue aja yang olesin" Regita membuka sedikit baju Afkar dan mengolesi perutnya dengan minyak. Saat mengolesi minyak pada perut Afkar bisa di rasakannya ada roti sobek di sana yang berjumlah enam. Tersadar akan tindakannya, Regita langsung cepat-cepat mengolesi perut Afkar, membayangkan ada roti sobek di sana membuat pipi Regita merah.
"Makasih ya Git, eh pipi kamu kenapa kok merah? apa kamu sakit?" Afkar pun mengecek suhu tubuh Regita dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi Regita.
"Gue enggak apa-apa kok" Regita menyingkirkan tangan Afkar pada dahinya.
"Tapi kenapa kok pipi kamu merah oh atau jangan-jangan kamu alergi ya?" Afkar panik.
"Gue sehat-sehat saja dan tidak alergi Afkar, loe tenang aja!" ucap Regita dengan nada yang sedikit keras agar menghentikan kepanikan Afkar.
"Beneran enggak apa-apa?" tanya Afkar memastikan.
"Enggak apa-apa seharusnya loe khawatirin diri loe sendiri, emang pusing sama mual loe udah sembuh?" tanya Regita mencoba mengalihkan perhatian.
"Masih pusing sih tapi kalau mulanya udah enggak, kata kamu tadi kalau naik wahana itu cuman pusing sedikit tapi ternyata apa? aku pusing banget nih" keluh Afkar.
"Gue kira loe sama seperti gue kalau naik wahana itu cuman pusing sedikit"
"Itu kan kamu bukan aku, aku jadi trauma deh naik wahana itu."
"Kenapa loe jadi trauma sih? cuman pusing aja loh masa gitu aja membuat loe trauma."
"Cuman? Gita kepala aku pusing cuman kamu anggap sepele? udah mending sekarang kita pulang aja aku enggak mau di sini lagi" Afkar kesal dan langsung meninggalkan Regita sambil berjalan sempoyongan.
"Eh Afkar tungguin gue dong, lihat jalan loe aja belum normal gitu sini gue bantuin" Regita mengejar Afkar dan berniat membantu Afkar jalan tapi langsung di tepis olehnya.
"Aku bisa jalan sendiri, ini kan cuman pusing" Afkar berucap sambil menekan kan kata 'cuman'.
"Enggak usah ngambek gitu dong, sini gue bantuin" Regita terus memaksa.
"Enggak perlu" Afkar kembali menepis dan mendorong Regita dengan kuat hingga membuat Regita jatuh terduduk, menyadari kesalahannya Afkar langsung coba membantu Regita berdiri tapi di tepis oleh Regita.
"Loe jahat banget sih Afkar sama cewek, ternyata seperti ini ya perilaku loe. Kalau emang loe enggak mau bantuan dari gue loe kan bisa ngomong dengan baik-baik tidak harus mendorong gue" Regita marah.
"Aku tidak bermaksud mendorong kamu, maaf Git aku tidak sengaja."
"Ya sudah sana kalau loe mau pulang-pulang saja" Regita membalikkan arahnya lalu meninggalkan Afkar dan pulang menuju apartemennya.
Afkar yang di tinggalkan begitu saja oleh Regita hanya bisa menghela nafas, karena walau di kejar pun Regita malah tambah marah dengannya lagian juga saat ini pusingnya belum sembuh sempurna. Afkar lalu menelpon salah satu temannya untuk menjemputnya.
Sedangkan saat ini Regita telah sampai di apartemen, Regita mendudukkan tubuhnya ke sofa dan menghela nafas sebanyak mungkin untuk menghilangkan emosinya. Tiba-tiba teleponnya berbunyi.
"Hallo ada apa mak?"
"Kamu mau coba berbohong dengan emak ya?" tanya Nita langsung.
"Gita enggak pernah bohong sama emak."