Alkisah di sebuah benua yang bernama El Dorado, kekayaan emasnya begitu mahsyur sehingga penduduk pulau tidak pernah bekerja apalagi kelaparan tetapi sekarang cerita itu hanyalah sekedar hikayat dari orang-orang tua.
Asalkan ada yang mau membayar dengan mahal, pasti ditemukan petunjuk dari hikayat itu untuk menemukan "El Dorado".
Daftar Arc:
1. Prologue: Cambiaso Dybala (Bab 1-3)
2. Muerte Prison Escape (Bab 4-13)
3. Arc of Lamh Laidr (Bab 14-33)
4. Pemberontakan Bangsa Gunung (Bab 34-51)
5. Fuego de Duchess Villareal (Bab 52–selanjutnya)
6. Age of Mercenario (Coming Soon)
—
Genre: Aksi, Petualangan, Fantasi Barat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Protocetus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Serangan Miasma
Goncalo kaget saat merasakan ledakan listrik yang sangat besar berasal dari dalam hutan. Teknik itu pasti berasal dari Barella, dia dan beberapa orang prajuritnya segera menyusul ke tempat pertarungan.
Pemuda itu sangat khawatir kalau-kalau Dybala memiliki rencana keji untuk menghabisi tuannya. Dari awal dia sudah curiga dengan tindak-tanduk Dybala. Goncalo yakin sebenarnya Dybala merupakan bawahan Sofia.
Ribuan Miasma beterbangan seakan menutupi langit, puluhan dari monster itu menyerang Goncalo dan rekan pasukannya. Mereka keluar dari sarang bawah tanah di dalam batang pepohonan karena mendapat rangsangan dari gelombang elektromagnetik yang sangat besar.
Teknik Taufan: Langkah Sayap!
Pssht!
"Sialan kalian Villareal pengkhianat!" teriak Goncalo, menghempaskan tubuhnya dengan kekuatan angin. Meninggalkan rekan-rekannya bertarung sendirian.
Goncalo yang menggunakan langkah udara untuk melayang memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Dia mendapati beberapa penduduk kampung yang diserang oleh miasma.
"Ah sial istriku!" ucap Goncalo segera mendarat untuk menolongnya.
Istrinya yang sedang hamil muda anak keempatnya itu tersungkur di atas tanah. Salah satu miasma yang hinggap di kakinya mulai menggigit.
"Arrgghh! tolong aku," ucapnya tidak berdaya.
Srat!
"Di luar berbahaya Mairi, kau seharusnya di rumah saja." ucap Goncalo dengan penuh kelembutan.
"Maaf suamiku, kata tetangga ada buah yang enak tapi agak masuk ke hutan. Aku sedang ingin makan buah itu."
"Kalau kau sedang mengidam, aku akan ambilkan ya agak sore. Sekarang tuan kita sedang diserang kau harus lebih hati-hati. Jaga anak kita dengan baik." Goncalo menggendong istrinya kembali ke perkampungan.
"Iya baik," jawab Mairi.
—
Dybala hampir tidak dapat menghindar dari serangan besar tadi. Tubuhnya seakan menggigil, bulu kuduknya merinding. Teknik tadi jika terkena, maka Dybala tidak mungkin dapat menahannya. Aura yang dia punya tidak akan cukup.
Stefano sejenak keluar dari pertarungan dan duduk mengawasi Dybala yang menyambut kehadiran Barella. Pemuda itu menggigit gigi gerahamnya kuat-kuat. Menyerangnya dengan pukulan dan tendangan yang dialiri kekuatan listrik.
"Kalau di pertarungan yang asli mungkin kau sudah mati nak Dybala. Kau pintar menyerang dari belakang, tetapi tidak pandai dalam menghadapi jenis serangan yang sama. Aku ingin melihat apa reaksimu bertahan ketika diserang dari belakang, Barella mengarahkannya agak ke atas ...," gumam Stefano.
Mata yang sudah tua itu tetap mampu mengikuti pergerakan Dybala dan Barella yang semakin cepat. Kilatan-kilatan petir menyambar-nyambar, banyak di antaranya yang mengenai kerumunan miasma yang mendekat.
Kehadiran monster di sana hampir tidak merubah keadaan pertarungan mereka. Dybala beberapa kali mendaratkan pukulan dan sengatan listrik. Berbeda halnya dengan serangan Barella yang hampir selalu dapat dihindari.
Zap!
"Kena kau dengan halilintarku," ucap Barella.
"Sakit juga, siapa nama Paman?" Dybala meraba-raba tangannya. Barella terkejut karena dia dapat menahan serangan tingkat 2 secara langsung dengan memadatkan aura.
"Barella, aku adalah orang kepercayaan Tuan Stefano. Hanya itu saja dibolehkan bagiku untuk memberitahumu."
Gerakan Dybala semakin cepat, Barella tidak dapat melawannya dan hanya mampu bertahan.
Teknik Halilintar: Langkah Kilat!
Pergerakan Barella menjadi sangat cepat, Dybala tidak dapat menyamainya. Dari belakang, sebuah pukulan keras disertai oleh kilatan cahaya mengenai mata kirinya. Pemuda itu tetap pada tempatnya dengan mencengkram lengan Barella meski kakinya terasa lemas.
Barella beberapa kali menghajarnya, tetapi Dybala dapat dengan mudah menangkis dan menghindarinya. Dia menjegal dan menahan telapak kakinya. Mata pemuda itu menjadi merah dan darah dari kepalanya tidak berhenti menetes.
"Sialan kau Paman! harusnya aku tidak menyelamatkanmu," Dybala yang mengamuk tidak melepaskan cengkeramannya. Dia menendang sangat kuat hingga membuat Barella tersungkur di tanah.
"Tenang dulu nak Dybala. Ini latihan yang penting. Kau tidak terbiasa diserang dari belakang kan?" ucap Stefano.
"Bukan seperti ini caranya! bukan seperti ini," balas Dybala tidak mau mendengarkannya.
Zap!
Barella segera bangkit dan membalas kembali Dybala. Pukulan, tendangan dan tandukan saling beradu. Pertarungan sengit berlangsung cukup lama di antara keduanya. Dybala lebih banyak mengandalkan pertahanan untuk dapat mengenainya.
"Tuan! kau tidak terluka kan? ayo akan aku antarkan menuju tempat aman," Goncalo mendarat dengan beberapa rekan prajuritnya. Mereka mengamankan kampung dari serangan miasma sebelum pergi untuk menyelamatkannya.
"Tidak ada nafasku hanya sedikit sesak saja," ucap Stefano.
Blar!
"Pasti dari suara monster? ini pasti rancangan rencana Dybala. Ke arah mana tuan terakhir melihatnya," tanya Goncalo.
"Hah ... kau mengulangi perkataan bodohmu lagi? taruh senjatamu di sini dan bantu Barella menghadapi Dybala. Aku akan menyusul, pinggangku tiba-tiba sakit."
"Baik," ujar Goncalo segera menuruti perintah Stefano.
Goncalo mulai naik dan melayang di udara. Auranya sudah banyak terkuras karena terlalu menggunakan teknik itu dan membersihkan miasma yang memenuhi kampung. Tidak lama mencari keberadaan mereka berdua, dia mendapati Barella yang terhempas ke sungai.
Kuasa Listrik: Ngengat!
Byur!
Dybala mengeluarkan sebuah kuasa setrum yang kuat sebelum dia kehabisan aura. Hidung pemuda itu mengalami mimisan. Barella muncul ke permukaan dan membalas dengan kilatan-kilatan petir ke arah pepohonan.
"Anak sekecil itu dapat menekan Barella sampai seperti ini. Dia salah satu pengawal ksatria terkuat kami ...," gumam Goncalo sebelum mengumpulkan kuasa angin dalam genggaman tangannya.
Teknik Taufan: Hembusan Angin Raksasa!
Awalnya bola angin yang keluar dari telapak tangannya kecil, tetapi ketika mengenai tanah bola itu menghembuskan angin sangat kuat. Pepohonan di sekitarnya bergoyang, beberapa di antaranya tumbang. Goncalo turun, Dybala menghilang dari pandangnya maupun Barella.
"Wah kau sampai berdarah-darah seperti itu. Aku punya beberapa daun obat," ucap Goncalo.
"Tidak perlu ... memangnya kau sedikit ada luka di wajahmu langsung tempel. Laki-laki itu memang seperti ini, menahan rasa sakit apalagi hanya luka gores." balas Barella, duduk mengistirahatkan dirinya.
Barella dapat dikatakan sebagai guru pertama yang mengajari Goncalo ketika pelatihan di akademi ksatria. Pada musim semi nanti, pria itu akan berusia 36 tahun dan belum memiliki seorang istri.
Plek!
"Pakai saja," ucap Goncalo setelah menempelkan daun obat.
"Kau ini ... di mana tuan kita. Sepertinya Dybala menyerah atau dia pingsan karena seranganmu. Kita sudah boleh kembali," jawab Barella.
"Aku tidak percaya pada anak itu ...."
semangat berkarya terus yaa 💪💪💪
terbaik lah buat akak.
maap ya heheh.🙏.