Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Pernah Setuju
Di tempat yang lain, malam semakin larut namun suasana tempat itu semakin ramai.
Seorang laki-laki dan perempuan kini duduk di sebuah club malam yang ada di tengah kota Jakarta.
"Kamu kenapa datang kesini Sya, apa Kais tahu?" Marsya melirik ke arah Bagas yang kini duduk di samping nya dengan senyum miring.
"Dia nggak akan perduli . Lagi pula aku yakin dia nggak ada di rumah. Aku sama dia sempat berantem kemarin malam. Kata mama mertuaku dia kemarin nginep disana."
"Terus kenapa kamu nggak nyusul dia ke tempat mertua kamu?"
"Buat apa? Bahkan dia sudah beda Gas, dia bukan lagi sepenuhnya milik ku." dengan senyum miring namun terlintas rasa kepahitan di dalam senyuman itu.
"Jangan sembarangan nuduh. Semuanya bisa kamu bicarakan. Nggak mungkin Kais selingkuh. Dari yang ku tahu lewat Anisa, suami kamu bahkan tidak mau dekat-dekat dengan perempuan mana pun. Kecuali ya Anisa." Marsya menoleh ke arah Bagas. Tatapannya berubah serius.
"Gas, jujur sama aku. Hubungan kamu sama Anisa baik-baik saja kan?" Bagas menghela nafas panjang.
"Kita sudah putus." ungkapan Bagas sontak membuat Marsya terkejut.
"Putus! Gas, kamu putus sama Anisa, dia mau gitu saja putus sama kamu? Aku yakin kamu yang mutusin Anisa kan, jawab Gas! Kenapa kamu putusin Anisa, Kenapa kamu lakukan ini, Bagas!!" suara Marsya tak lagi pelan. Saat dia tahu Bagas dan Anisa tak lagi bersama dia langsung merasa khawatir dengan sahabatnya itu. Dia tahu Anisa nggak akan pernah berani memutuskan hubungan lebih dulu.
"Sya, tenang....aku sama Anisa sudah sepakat untuk selesai. Aku juga nggak mau terus-menerus membohongi dia, membohongi hatiku sendiri Sya."
Marsya menggelengkan kepalanya merasa tak percaya dengan apa yang di katakan Bagas.
"Kamu ngomong apa sama Anisa, kenapa kamu tega sakiti Anisa Gas?"
"Aku bilang dan aku jujur dengan perasaan ku yang sudah tak lagi sama. Aku nggak bisa lagi bohong kalau aku mencintaimu Marsya. Aku nggak mau Anisa tersakiti terus-terusan."
"Bagas, kamu benar-benar gil*! Lalu kamu kasih tahu Anisa kalau kamu punya perasaan sama aku?" Bagas mengangguk.
Marsya melebarkan matanya mendengar pengakuan Bagas barusan. "BAGAS,KAMU BENAR-BENAR BRENG*EK!" teriakan Marsya membuat beberapa pengunjung Club menoleh ke arah Marsya dan Bagas yang terlibat perdebatan itu.
"Tanpa aku jujur dia tahu Marsya, dia lihat kita di restoran hotel waktu itu!"
Deg.
Marsya syok mendengar penuturan Bagas. "Di_dia lihat kita. Astaga..jangan bilang dia sama Kais lihat kita di sana?" Bagas mengangguk.
Melihat anggukan Bagas, tubuh Marsya mendadak lemas. "Astaga, apa karena itu Kais berubah? Apa karena itu dia menghindar dari aku. Anisa juga nggak pernah lagi chat aku, nggak seperti sebelumnya. Astaga...hiks hiks hiks.." Marsya memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
Dia merasakan perubahan dari sahabatnya dan juga suaminya. Dia beranggapan jika sumber dari renggangnya hubungan mereka di picu dari dimana mereka melihat Marsya terlihat bersama Bagas.
"Sya, kamu mau terus pura-pura tidak punya rasa sama aku? Kamu sadar nggak kalau kita sedang pura-pura tidak punya rasa satu sama lain. Merasa tidak saling membutuhkan. Tapi, kenyataan nya kita sama-sama cinta dan kira saling butuh satu sama lain." Marsya menundukkan kepalanya menjambak rambut nya, merasa ingin melepas semua rasa yang tersirat selama ini.
Marsya menyeka air matanya dengan kasar. " Aku nggak tahu Gas ,aku nggak yakin dengan perasaan aku.." Bagas mendekap erat tubuh Marsya. Saling menyelami perasaan mereka masing-masing dan berusaha meyakinkan diri mereka dengan apa yang tadi mereka bahas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari di apartemen Kais, Anisa membuka matanya dan dia merasakan hembusan nafas dari belakang tubuhnya. Anisa menatap ke belakang sekilas. Ada Kais terbaring di belakangnya dengan mendekap tubuhnya dengan posesif. Anisa berusaha melepaskan diri dari dekapan Kais untuk bangun dari tempat tidur.
Namun semua usahanya itu sia-sia saat Kais menarik tubuh nya kembali dalam pelukannya.
"Mau kemana sayang?" dengan suara seraknya khas orang bangun tidur, Kais mengeratkan pelukannya.
"Aku harus bangun mas, aku harus siap-siap ke kantor. Aku juga harus siapin sarapan buat kita." mendengar ucapan Anisa, Kais bahkan tidak ingin melepaskan Anisa yang sedang ada dalam pelukannya.
"Sebentar lagi sayang, aku masih ingin seperti ini. Soal sarapan itu gampang, aku yang atur." Anisa membuang nafas kasar nya mendengar penuturan Kais. "Hari ini kita nggak ke kantor."
"Nggak kekantor, maksud nya kamu apa?"
"Aku akan bawa kamu ke rumahku." Anisa melebarkan matanya mendengar hal gil* yang baru saja Kais lontarkan.
Anisa membalikkan tubuhnya hingga posisi berhadapan dengan Kais. "Jangan gil* kamu mas, kamu mau bawa aku ke rumah kamu sama Marsya!" Kais melonggarkan pelukannya dan mengusap lembut pipi Anisa.
"Bukan kerumah itu sayang, aku akan bawa kamu ke rumah kita. Rumah aku sama kamu." Anisa merasa jika Kais akan menjadi lebih posesif dari sebelumnya. Apalagi Anisa sudah tidak ada hubungan dengan Bagas dan status nya sekarang bahkan sudah sah jadi istri Kais menurut agama.
" Mas, kenapa kamu lakukan semua ini. Kamu sadar nggak sih, kalau sebenarnya kamu tidak benar-benar mencintai aku. Kamu cuma sedang merasa bosan atau merasa teracuhkan sama Marsya. Kamu masih bisa bicarakan dengan baik-baik sama Marsya." terlihat Kais menatap tajam ke arah Anisa.
"Terserah kamu mau bilang apa. Kalau pun kamu nggak percaya dengan perasaan aku sama kamu, itu nggak masalah. Aku akan buktikan apa yang aku ucapkan sama kamu, itu benar adanya." ucapan Kais begitu serius dan tegas.
Sedangkan di sisi lain, Marsya memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya. Dia ingin bicara dengan Kais.
Namun saat kesana Kais tak ada di sana. Informasi dari kantor Kais belum sampai kantor di jam mendekati jam makan siang.
Niat hati Marsya ingin bicara dengan Kais sembari makan siang. Mendengar suaminya belum sampai di kantor, Marsya pun langsung menuju mansion utama keluarga Nugraha.
Ternyata disana Kais pun tidak ada. Saat Marsya ingin pergi, Sekar mengajak makan siang bersama di rumah itu sembari ngobrol dan membahas soal program bayi tabung yang di jalani Marsya dan Kais.
Marsya pun tidak bisa menolak ajakan ibu mertuanya itu. Sampai selesai makan siang, Marsya diajak ke halaman belakang mansion.
"Apa kamu akan selalu seperti ini Marsya? Kamu tahu kenapa dulu saya kurang setuju Kais menikahi kamu?" Marsya menggenggam erat gelas yang dia pegang.
Perkataan ibu mertuanya mengingatkan dia pada saat dimana Kais dan Marsya ingin menikah namun Sekar mengungkapkan bahwa dia kurang setuju dengan pernikahan mereka. Tapi, dia tidak menghalangi kemauan Kais untuk tetap menikahi Marsya saat itu.
Bersambung