Liam tidak pernah merasakan cinta sebelum bertemu dengan Lyra Maharani, perempuan yang masih terikat dengan masa lalunya hingga membuat Liam meradang lantaran cintanya tak kunjung disambut oleh Lyra.
"Menikahlah denganku." -Liam Malik
"Saya tidak bisa."-Lyra Maharani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalu Unaiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
“Senang bekerja sama dengan anda Pak Maharaja.” Liam berdiri dari kursinya sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pria di depannya.
“Panggil Lakshya saja Pak Liam, kita seumuran, jadi tidak perlu terlalu formal.” Laki-laki bernama Lakshya Maharaja itu tersenyum sembari menjabat tangan Liam.
“Baik Pak Lakshya, saya harap kerja sama kita bisa berjalan dengan baik,” ucap Liam kemudian.
Lakshya kemudian mengangguk. “Tentu saja Pak Liam. Saya masih akan berada di sini untuk seminggu kedepan, saya sangat berharap kita bisa makan malam bersama sebelum saya pulang,” balas Lakshya.
“Dengan senang hati Pak Lakshya.”
Rapat yang berlangsung selama satu jam lebih itu pun berakhir dengan kesepakatan kerja sama antara perusahaan Malik dan perusahaan Maharaja. Liam tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan putra tunggal pemilik Maharaja Group, perusahaan real estate yang sudah mendunia itu.
Liam tidak terlalu kenal dengan Lakshya Maharaja karna laki-laki yang ternyata seumuran dengan Liam itu kabarnya tinggal di luar negeri. Liam hanya pernah bertemu dengan Harith Maharaja Ayah dari Lakshya pemilik Maharaja Group.
Menurut informasi, awalnya perusahaan Maharaja Group akan dikelola oleh anak Harith yang lain karna Lakshya tidak tertarik dengan dunia bisnis, laki-laki bertubuh tinggi itu lebih tertarik dalam dunia olahraga basket.
Lakshya terpaksa mengambil alih tanggung jawab itu lantaran saudaranya tersebut dikabarkan meninggal dunia. Sebagai anak satu-satu Lakshya tidak dapat menolak, laki-laki itu terpaksa meninggalkan mimpinya sebagai pemain basket profesional.
Hari ini Liam tidak memiliki jadwal lain yang mengharuskannya keluar kantor. Jadi, setelah Lakshya dan sekretarisnya meninggalkan gedung perusahaan, Liam memilih untuk kembali ke ruangannya, sekarang sudah waktunya makan siang.
“Gani, pesankan makan siang seperti biasa,” ucap Liam saat memasuki ruangannya.
Gani yang sejak tadi mengikuti Liam dari belakang pun mengangguk. “Baik Pak, kalau begitu saya permisi,” pamitnya lalu meninggalkan ruangan Liam.
Sepeninggalan Gani, Liam meraih ponselnya lalu menghubungi kontak seseorang. Liam memejamkan matanya sembari menunggu sambungan telepon terhubung.
“Saya ingin semuanya dipercepat,” ucap Liam setelah sambungan telepon terhubung.
“.....”
“Pastikan tidak ada yang tertinggal,” sambungnya.
“.......”
“Saya tunggu informasinya besok.”
Setelah mengatakan itu Liam memutuskan sambungan telepon setelah mendapat balasan dari si penerima telepon.
Liam menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi di belakangnya, kepalanya menghadap ke atas, matanya menatap langit-langit ruangannya dengan tatapan kosong. Sejak pembicaraan terakhirnya dengan Lyra, Liam tidak bisa tenang. Fikirannya dipenuhi oleh banyak hal.
Sebuah notifikasi pesan singkat yang dikirim oleh Casper mengalihkan perhatian Liam.
From : Casper
“Selingkuhan Nadia adalah mantan suami Lyra?”
Liam hanya membaca pesan tersebut tanpa membalasnya. Dia memang sudah menceritakan tentang hubungannya dengan Lyra pada Casper. Saat itu Casper tertawa terpingkal-pingkal kala Liam mengatakan bahwa Lyra menolak menikah dengannya.
Fakta yang baru diketahui oleh Casper tersebut sudah diketahui oleh Liam sejak orang suruhannya mengirimkan informasi tentang selingkuhan Nadia. Harris Winato adalah Ayah kandung Sofia. Laki-laki tidak bertanggung jawab yang menelantarkan anak dan istrinya begitu saja demi wanita lain.
Casper sepertinya menyadari hal itu dari foto-foto yang dia kirimkan kepada laki-laki itu. Liam memang sengaja mengirimkan segala informasi tentang Harris juga Nadia pada Casper untuk mengingatkan sahabatnya itu bahwa perempuan seperti Nadia tidak pantas untuk Casper perjuangkan lagi.
Sebuah pesan kembali dikirimkan oleh Casper yang membuat Liam tertarik untuk langsung menghubungi laki-laki tersebut.
From : Casper
“Apa kau ingin tau siapa keluarga kandung Lyra?”
***
Lyra membuka pintu kamar Liam dengan pelan, sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Setelah masuk Lyra segera menutup pintu kembali, dia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Liam yang tidak dia temukan di atas ranjang.
“Saya tidak tahan berlama-lama mengabaikan kamu.”
Lyra seketika membeku saat merasakan tubuh Liam menubruk punggungnya dengan pelan. Laki-laki itu meletakkan dagunya di atas kepala Lyra.
Entah sejak kapan Liam berada di belakang Lyra. Liam memegang kedua bahu Lyra dari belakang kala merasakan pergerakan Lyra yang ingin menghindar, menjauhinya.
“Tuan, ini tidak pantas,” cicit Lyra. Perempuan itu berusaha menjauhkan tubuhnya dari Liam.
“Sedari awal apa yang kita lakukan memang tidak pantas Lyra. Tidak pantas bagimu untuk naik ke atas tempat tidurku.”
Mendengar itu Lyra kembali mematung. Benar, sejak awal yang mereka lakukan adalah hal yang tidak pantas.
Liam memutar tubuh Lyra membuat mereka saling berhadapan.
Tangan Liam kemudian terulur mengangkat dagu Lyra agar wajahnya dapat berhadapan dengannya.
“Untuk itu menikahlah denganku Lyra,” ucap Liam dengan nada memohon. Liam tidak pernah melakukan hal ini selama tiga puluh tahun dia hidup, namun untuk bisa bersama Lyra dia rela untuk melakukannya berapa kali pun.
Lyra menggeleng.
“Saya akan membantumu untuk menggugat cerai laki-laki itu, Saya akan menyewa pengacara terbaik agar kamu bisa mendapat hak asuh Sofia sepenuhnya. Saya berjanji.” Liam membungkuk mencoba mensejajarkan wajahnya dengan wajah Lyra.
“Setelah itu kita menikah,”
"Saya tidak bisa," ucap Lyra tanpa berfikir panjang.
“Kenapa?!” Pekik Liam. Laki-laki itu kini meremas rambutnya dengan sebelah tangannya.
“Waktu itu kamu bilang kamu tidak bisa menikah denganku karna masih terikat pernikahan dengan laki-laki itu, saya tidak masalah harus menunggu Lyra. Saya akan menemanimu melewati prosesnya.” Liam berusaha mengendalikan nada bicaranya yang sudah mulai meninggi.
“Terima kasih atas semua bantuan Tuan tapi saya rasa saya tidak bisa melakukan hal itu. Saya memang akan bercerai dengan Harris, saya hanya ingin hidup berdua dengan Sofia setelah itu. Jika Tuan takut saya akan kabur dan tidak menjalankan tugas saya, maka saya pastikan itu tidak akan pernah terjadi.” Lyra menunduk tidak sanggup menatap mata Liam yang saat ini sudah memancarkan kemarahan.
Rahang Liam mengeras mendengar jawaban Lyra. Urat-urat lehernya menonjol lantaran menahan amarah. Laki-laki itu sudah menahan selama beberapa hari untuk tidak berbicara dengan Lyra, mengabaikan perempuan itu, menunjukkan kemarahannya atas penolakan Lyra padanya beberapa hari yang lalu. Namun Lyra sepertinya tidak peduli dengan kemarahan Liam.
Liam mengambil langkah mundur beberapa langkah dari Lyra. Dia memutar tubuhnya memunggungi Lyra, kedua tangan Liam menyangga tubuhnya di dinding, kepalanya menunduk menghadap lantai. Liam berusaha tenang, dia tidak ingin menyakiti Lyra dengan kata-kata atau pun tindakannya.
“Apa kamu fikir saya ingin menikahi kamu cuma karna saya takut kamu kabur?” Liam menghembuskan nafasnya kasar, masih dengan posisi tangan bertumpu pada dinding Liam berucap dingin.
“Seorang Liam tidak akan menikah hanya karna alasan itu Lyra. Apa kamu tidak cukup mengerti tentang itu? Saya tidak mengerti mengapa kamu menyimpulkan demikian.”
Liam kembali menghadap Lyra yang masih saja menunduk. Liam mendekat, mengelus pelan rambut Lyra dengan kedua tangannya.
“Saya mencintai kamu Lyra.” Liam menangkup wajah Lyra, membuat mata mereka bertatapan.
“Saya yakin kamu juga merasakan yang saya rasakan,” sambung Liam. Tatapannya lekat pada mata Lyra.
Mata Lyra melebar mendengar pengakuan Liam namun segera ekspresi itu digantikan dengan senyum getir.
“Perasaan itu menipu Tuan, yang kita rasakan sekarang ini hanya perasaan semu dan itu salah. Saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.”