Bertemu kembali setelah terpisah sekian lama, perasaan cinta itu kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pe_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Demi Anna.
HAPPY READING...
***
Anna melotot ke arah Sean. seperti mau bilang kalau pria tidak usah bicara yang aneh-aneh lagi. bagaimana tidak, Sean dengan tak tau malunya membicarakan masalah yang terdengar tabu di telinga orang asing seperti Mahes.
Aku benar-benar ingin memukul wajahnya... batin Anna.
dan gara-gara ucapan Sean itu, Mahes hanya terdiam. mungkin juga malu mendengarnya.
"Kenapa melotot?" pancing Sean. membuat Anna semakin salah tingkah. bukan, wanita itu ingin sekali membuang wajahnya saat ini juga.
"Mandi lah dulu... aku akan menunggu di depan saja...". Mahes yang tadinya hanya diam pun akhirnya membuka mulut bersuara. bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
memberi waktu bagi Anna untuk membersihkan diri.
Sana pergi! usir Anna pada Sean dengan ekor matanya. berharap pria itu juga pergi kalau bisa menghilang saja dari bumi ini.
Sean pun pada akhirnya juga mengikuti kemana kaki Mahes melangkah. berdiri di Koridor RS sambil mengamati orang lalu lalang. juga perawat yang beberapa kali terlihat di sekitaran. membuat Sean kembali menatap Mahes dengan tatapan penuh kekesalan.
Dasar mata keranjang! batin Sean. melihat Mahes yang sama seperti pria lain. menatap wanita yang terlibat bening diantara yang lain.
Sedangkan Mahes, pria itu tak peduli. dalam kepalanya justru muncul banyak pertanyaan. dan sialnya, hal itu membuat moodnya tidak baik. hanya saja Mahes bukan pria yang menunjukkan kalau dirinya tengah marah ataupun kesal.
Kenapa aku merasa marah? padahal Anna dan pria itu memang dulunya adalah suami istri... hati Mahes bicara.
ucapan Sean tentang size pakaian Anna benar-benar mampu membuat Mahes sadar tentang posisinya yang tidak sebanding dengan Sean.
Mahes tak tau apapun tentang Anna. kegemarannya, makanan kesukaannya, bahkan hal yang Anna sukai. Mahes tak tau sedikitpun.
Mahes mencuri pandang kepada pria di sebelahnya. Sedangkan dia? Mahes menghela nafas. Sean tau segalanya.
"Bagaimana kerja sama mu dengan Anna? berjalan baik?" tanya Sean memulai pembicaraan dengan Mahes.
"Ha?". Mahes tentu saja terkejut. karena sejak awal ia tengah melamunkan sesuatu hal.
"Oh... belum bisa dikatakan baik... karena masih merancang rencana saja..." jawab Mahes.
butuh waktu untuk mengatakan bahwa proyek kerja sama mereka berhasil.
"Kami sedang sibuk-sibuknya bekerja... dan-,".
"Ya... Arion juga kerap kali mengeluhkan Anna yang sibuk dan sering pulang malam..." sela Sean. membuat Mahes tak bisa melanjutkan ucapannya tadi.
Sean seolah bilang bahwa gara-gara Mahes, putranya terlihat kesepian bahkan sampai jatuh sakit seperti ini.
"Apa Anna juga banyak membicarakan tentang kerja sama dengan perusahaan kami?" tanya Mahes.
membicarakan ku misalnya..?
"Tidak..." jawab Sean. "Anna tak pernah membicarakan apapun yang menyangkut pekerjaan...".
Begitu ya...
Mahes terlihat sedih. semakin sadar akan posisinya yang tidak terlalu penting bagi Anna. sebatas rekan kerja saja.
Cukup lama keduanya berbincang. hingga Sean dan Mahes telah kembali lagi masuk ke dalam ruangan Arion. dilihatnya Anna juga telah mengganti pakaian pemberian Sean tadi. Dress baru yang Sean pilihkan untuk Anna. benar-benar pas di badan dan teleihat cantik.
Pria itu benar-benar bisa memilih pakaian yang cocok untuk Anna... puji Mahes dalam hati.
Sedangkan Sean, pria itu mendekati Anna.
"Benar kan pas, apa aku bilang..." ucapnya dengan jumawa. Sean beralih menatap Arion, meminta pertimbangan bocah itu.
"Arion, apa Mama terlihat cantik memakai ini?".
"Hm... Mama terlihat cantik..." tambah Arion.
Sebenarnya Anna malu mendengar hal itu. tapi mau bagaimana lagi. hanya ini pakaian yang bisa ia kenakan. daripada terus memakai pakaian kerjanya sejak kemarin.
bahkan size ********** juga pas untuk Anna. semakin malu oleh perlakuan Sean itu.
"Ann... Aku pamit dulu ya..." ucap Mahes.
sebenarnya masih ada waktu yang banyak untuknya bisa berada di sini. hanya saja Mahes ingin segera pergi. rasanya aneh saja.
"Kenapa terburu-buru?" tanya Anna. bahkan pembicaraan maslaah pekerjaan belum selesai tadi. masih ada hal yang ingin Anna bahas dengan pria itu. tapi karena Mahes sudah meminta ijin pulang, mau bagaimana lagi? Anna pun tak bisa memaksa pria itu untuk tetap disini dalam waktu yang lama.
"Ada pekerjaan yang perlu aku tangani..." ucap Mahes memberi alasan.
"Baiklah..." jawab Anna pasrah.
"Arion, Om pamit dulu ya..." pamit Mahes pada Arion.
"Hm...". bocah itupun mengangguk.
"Hati-hati di jalan..." ucap Anna.
"Iya..." jawab Mahes dan langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan Arion. tanpa memperdulikan satu makhluk di ujung saja.
Ehh... apa dia tak melihatku tadi? protes Sean seorang diri. merasa diabaikan karena Mahes tidak pamit padanya.
Apa aku dianggap tak ada begitu? ck... sombong sekali...
Anna masuk sambil menghentakkan kakinya kesal. "Apa sih yang kau katakan tadi?" tuduh Anna pada Sean. Ya... hanya pria itu yang bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi saat ini. Mahes yang tiba-tiba pergi, mungkin saja karena ucapan Sean.
entah apa yang dikatakan pria itu terhadap Mahes. Anna benar-benar curiga Sean mengatakan hal-hal buruk yang akan merugikannya nanti.
"Apa? memang apa yang aku katakan?". Tentu saja Sean kebingungan. ia tak mengatakan apapun pada Mahes. jadi jangan salahkan Sean jika Mahes pulang. semua itu adalah kehendak Mahes sendiri.
"Dia terlihat marah tadi... pasti kau mengatakan yang aneh-aneh!". Anna masih h bersikukuh menuduh Sean.
"Aku tidak mengatakan apapun... marah? memang apa yang membuat dia marah? lagian kenapa kamu yang repot, terserah dia kalau mau marah..." ucap Sean tanpa dosa.
"Tapi-,".
"Apa dia kekasihmu? hingga kau takut dengan kemarahannya?" tanya Sean. bahkan terdengar keras, mungkin saja Arion juga mendengarnya.
Seketika Anna menatap ke arah Arion. memastikan reaksi bocah itu dengan ucapan ngawur Sean barusan.
"Tidak... dia bukan kekasihku..." jawab Anna.
Arion... Mama tidak bohong...
"Kami hanya sebatas rekan bisnis saja..." jelasnya.
"Jadi, jangan khawatir..." ucap Sean dengan entengnya.
Awas saja kau! begitu tatapan Anna pada Sean. mampu membuat buku kuduk berdiri.
Di tempat lain.
Mahes tengah mengendarai mobilnya. tangannya mencengkeram keras stir kemudi. ada kemarahan yang coba Mahes tahan. tapi ia tak mampu.
menghentikan laju kendaraannya dan langsung memukul stir kemudi dengan kencang.
Sial! umpatnya.
Ucapan Sean, perlakuan Sean kepada Anna benar-benar mampu membuat Mahes kesal.
Apa yang harus aku lakukan?
Mahes sudah berusaha membuat Anna jatuh cinta padanya. tapi belum sempat membalas cintanya, Mahes justru di hadapkan pada pria lain yang jauh lebih tau dan mengenal Anna.
Mahes memejamkan mata. berharap mampu menjernihkan kepalanya. tapi tak bisa. di kepalanya justru dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang membuat hatinya semakin panas. ada kemelut kemarahan setiap kali membayangkan bagaimana kedekatan Anna dengan Sean.
"Dimana kamu membelinya?" tanya Anna pada Sean. tentang pakaian yang ia kenakan saat ini.
"Kenapa?" tanya Sean seperti tak berkeinginan untuk menjawab pertanyaan itu.
"Aku hanya penasaran..." ucap Anna. Mall masih belum buka di jam segitu. membuat Anna penasaran tentang dimana Sean membelinya.
"Tidak perlu tau..." jawab Sean ketus. membuat Anna menampakkan wajah kesalnya.
Sial! aku benar-benar ingin merobek mulut jahatnya itu... gerutu Anna dalam hati.
Sedangkan Sean merasa tak bersalah sedikit pun. pria itu fokus melihat ponselnya mengecek pekerjaan yang menumpuk di Perusahaan.
Sedangkan untuk masalah pakaian tadi. Mungkin Anna tidak akan percaya kalau Sean sampai memohon-mohon pada temannya yang juga pemilik Toko baju agar dibukakan toko demi dirinya.
Ya... Seorang Sean sampai melakukan hal itu untuk Anna. betapa beruntungnya wanita itu.
***