Bidariblue namanya, dia bukan robot, tapi tubuhnya dipasangi Bio Bionic dan Microchip oleh dokter James Athur atas permintaan Bob Meyer, seorang owner dari badan intelijen swasta yang bernaung dibawah bendera XPostOne.
James sendiri adalah seorang dokter genetika Bionic women atau manusia robot. Kini Bidari menjadi eksperimen pertama.
Sayang sekali ekspektasi dokter James dan Bob Meyer tidak tercapai. Bidari menjadi tambah berutal disaat ia tersakiti. Bukan itu saja, gadis itu bersikap dingin terhadap lawan jenis, terutama kepada Zuga Qiosaki yang sangat mencintainya.
Apakah perubahan temperamen Bidari hanya pura-pura untuk mengelabui XPostOne dan para agent lainnya atau otaknya sudah terkontaminasi oleh Bio Bionic ciptaan dokter James?
Bagaimanakah kelanjutan kisah Bidariblue saat tahu dirinya diculik dan dipasangi Biobionic dan Microchip?
Ayo ikuti perjalanan Bidariblue dalam sepak terjangnya menumpas musuh negara, dan juga percintaannya yang panasss...
******
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BIDARI MENGAMUK
Mereka panik berdua, seorang perawat datang kemudian memeriksa Bidari.
"Kalian tunggu diluar, pasien belum boleh berinteraksi dan berpikir."
"Ohh...maaf.."
Kedua pemuda itu keluar dengan perasaan bersalah. Mereka berdoa dalam hati untuk kebaikan Bidsri.
"Dokter yang ceroboh, harusnya beri Warning supaya kita mengerti batasan. Aku mana tahu, kirain sudah sembuh."
"Sabar tuan semoga tidak terjadi komplikasi."
Mereka lalu duduk berdua di sofa yang dipersiapkan di depan kamar. Zuga cepat memakai masker, ia antisipasi kalau Martin datang.
"Sudah sepuluh menit, perawat belum juga keluar, kita masuk yuk." ucap Abrano tidak sabar.
"Jangan dulu, pintu juga masih terkunci dari dalam."
"Aku merasa aneh kenapa perawat masuk kedalam lalu mengunci pintu? Mana ada begitu."
"Mungkin ada masalah khusus yang tidak perlu kita tahu."
"Kau sabar sekali, bagaimana kalau Bee semakin parah?"
"Tuan Martin datang."
Zuga nengagetkan Arbano, ia cepat menoleh ke koridor. Ternyata benar, Martin dengan dua pengawal. Laki-laki itu terlihat berwibawa dan tegas, walaupun tidak setampan Zuga atau seganteng Abrano, tapi Martin terlihat punya daya tarik yang membuat wanita meleleh.
Pakaian dan bau parfumnya menandakan dari mana asalnya, pantas Bidari senang dengan Martin, kebapakan, ngayomin dan bikin nyaman.
"Kenapa kau disini?" suara berat Martin menggelegar ditujukan kepada Abrano.
"Aku minta maaf semua ini terjadi gara-gara aku."
"PULANGLAH, pengawal ajak bos mu pulang. Aku akhir-akhir ini tidak bisa mengontrol emosi..." perintah Martin kepada Zuga.
"Siaapp tuan."
Abrano berdiri dengan wajah kaku, ia geram kepada Martin yang selalu ngatur.
"Tapi Bee belum pulih betul, tadi seorang perawat berada di dalam.
"Ada apa lagi, kenapa kalian membiarkan perawat masuk, dia harus ditangani dokter. Kalian bodoohh!!"
Martin membuka pintu, ia berteriak kaget karena kamar kosong. Abrano dan Zuga berlari ke dalam.
"Kemana mereka, kalian stupiddd...tidak bisa menjaga satu orang."
Martin marah dan memaki Abrano dan Zuga sesuka hati. Ia lalu memencet intercom dan bertanya dengan kasar tentang keberadaan Bee. Tapi tidak ada satupun perawat yang datang.
Abrano panik, Ingin sekali ia meledakkan kepala calon iparnya, kalau ia tidak memikirkan masa depan Farida dan keluarganya sudah ia pecahkan kepala Martin.
Zuga berpikir jernih, ia mempertajam pendengarannya dan memperhatikan tembok ruangan. Ia yakin disini ada kamar rahasia, pasti ini ulah Bob Meyer. Pikirnya.
"Tuan, aku yakin Bee diambil keluarganya, tadi kita tidak fokus. Lebih baik kita pulang, kalau Bee sudah sembuh aku yakin dia akan kembali bekerja seperti biasa."
"Enak saja kau bicara, aku tidak bisa kehilangan Bee, aku takut terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan." ucap Martin esmoni.
"Kita sudah kehilangan, jangan ribut lagi, keluarganya yang berhak daripada kita." ucap Zuga meredakan kemarahan Martin.
Mereka keluar dari ruangan dengan tanda tanya besar, kenapa gadis itu diambil oleh keluarganya?
Sampai di tempat parkir Martin dan Abrano diserbu oleh para pencari berita, cepat-cepat Zuga menghalangi.
"Tuan ikuti aku." ucap Zuga mengambil pistol dipinggang Martin dan Abrano.
Kedua laki-laki mafia itu kaget, tangan Zuga sangat cepat dan senjata sudah berpindah tangan. Tentu mereka heran, karena pistol letaknya tersembunyi di pinggang, darimana Zuga tahu mereka membawa pistol?
"Doarrr...."
Tembakan peringatan dari Zuga membuat para kuli tinta berseru tisak terima. Zuga menyeruak di antara banyaknya manusia.
"Minggir..minggir..." teriak Zuga mendorong mereka.
"Tuan Abrano...tuan Martin...jelaskan kenapa kalian ada disini?"
"No comment...." Zuga menjawab.
"Kalian tidak mau minggir aku tembak!!" teriak Zuga lantang.
Mereka akhirnya menyingkir, sebagai wartawan mereka tahu mana orang biasa, aparat atau reserse. Kalau sosok Zuga diartikan reserse, makanya mereka mau menyingkir.
Martin naik ke mobil Robicon bersama dua orang pengawal. Sedangkan Abrano bersama Zuga naik Lamborghini.
Mobil Lamborghini itu menembus jalan Diponegoro, terlihat langit di ufuk barat dengan warna lembayung, sebentar lagi bumi menjadi gelap. Pandangan Abrano jauh ke depan. Lost Without you dari Freya Ridings membuat Abrano tambah slow respon.
Zuga sendiri
"Aku akan minta kepada Farida supaya kamu menjadi bodyguardku."
"Terserah tuan, yang penting jangan sampai ribut."
"Farida memang suka marah, tapi hatinya baik. Kita tumbuh bersama dalam tekanan dan kekerasan."
"Bukankah tuan sangat kaya raya kenapa risau tentang hidup."
"Kaya bukan menjamin orang bahagia. Aku ingin hidup sederhana bersama Bee..."
"Bee..tidak mungkin mau hidup susah, gadis zaman sekarang mana mau naik motor. Saya saja belum laku-laku karena tidak punya Lamborghini, hehe."
"Nanti aku kasi Lamborghini Huracan, yang penting kamu mau menjadi bodyguard ku. Sampai dirumah pindahin barangmu ke kamar nomer tiga belas."
"Siaapp bos."
DI RUMAH SAKIT
Bob Meryer duduk di sofa, Bidari masih berbaring menunggu perintah selanjutnya, ia sudah mau dipindah ke kamar sebelah.
"Mungkin besok sudah boleh pulang, tapi pulangnya ke gedung XPostOne dulu."
"Kenapa harus begitu, aku lebih baik ditempat Martin ada yang merawat aku."
"Asal jangan main hati, kau jangan dulu berpikir keras atau melakukan gerakan kepala yang extrims."
"Baik bos, aku tidak dapat obat kalau kepalaku sakit lagi?"
"Ada, semua akan disiapkan dalam lima belas menit.
"Kalau aku besok pulang, Zuga dan Abrano pasti akan datang lagi. Mereka akan membawa pasukan, mencari aku keseluruh ruangan."
"Telepon Martin suruh jemput sekarang, aku menyelesaikan administrasinya." perintah Bob Meyer kepada kedua pengawalnya.
"Maaf bos, kita sedang tugas tidak membawa ponsel."
"Antar Bidari sampai di rumahnya supaya aman. Serahkan peraturan yang harus dia taati."
"Peraturan apa bos, aku bekerja di tempat Martin, tidak ada keinginan lebih."
"Kamu tidak masalah, tapi Martin terobsesi denganmu. Peraturan itu untuk Martin bukan untukmu, ini semua demi kebaikanmu."
"Baik bos.."
Matahari sudah tenggelam di ufuk barat berganti dengan sinar bulan purnama. Bidari menutup seluruh wajahnya dengan slayer dan jaket hoodie, ia naik kursi roda di dorong oleh pengawal.
Ada Bob Meyer di sampingnya, ia berjalan gagah walaupun umurnya sudah tua. Sebelum mendirikan XPostOne, ia adalah mantan Intelijen Negara dan Sniper 2,5 km gugur.
Sampai di tempat parkir Bob Meyer berpisah dengan Bidari. Seperti biasanya Bob Meyer akan banyak memberi wejangan dan bidari hanya mengangguk.
"Misi di utamakan, pacaran jangan dengan mafia, walau kaya raya hidupnya diujung senapan. Jika sudah saatnya, peluru itu akan menembus jantungnya."
"Baik bos aku bisa membawa diri."
Mereka berpisah saling bersalaman, ntah kapan bisa bertemu lagi. Atau ini terakhir bertemu, karena umur tidak bisa diprediksi.
Bidari bersandar di jok mobil, ia merasa dirinya tidak seperti dulu lagi. Ada perasaan gundah gulana dan kesepian yang memuncak. Rasanya ia ingin keluar dari mobil dan melayang jauh.
"Nona, apakah anda baik-baik saja?" tanya pengawal penuh perhatian.
"Aku mual dan pikiranku kacau."
"Coba nona bersandar dengan mata merem, konsentrasi dalam satu titik."
"Yach...." ucap Bidari lelah.
Mobil berbelok dan masuk area rumah Martin. Dua orang scurity menghadang mobilnya.
Bidari cepat-cepat membuka jendela,
"Kafakan kepada bos aku datang, suruh jemput ke depan."
"Maaf nona aku tidak berani."
"Mana ponselmu aku yang telepon."
"Tidak nona, bos sedang bersama dua wanita." ucap scurity itu takut-takut.
"Owh...tidak jadi." jawab Bidari kesel.
Ia tidak ada hubungan asmara dengan Martin, tapi kenapa ia mendadak kesal dengan Martin?
"Bagaimana nona apakah kita lanjut?" tanya sopirnya.
"Lanjut saja."
Mobil meluncur ke carport setelah palang dibuka. Bidari turun perlahan dan dibantu oleh pengawal.
"Nona, apakah anda kuat berjalan sampai ke rumah tuan Martin?"
"Aku masih kuat, jangan khawatir."
Bidari melangkah ke rumah, beberapa pengawal menghalangi langkahnya.
"Kenapa kalian menghalangiku." tanya Bidari dalam kegelapan.
"Tuan ada tamu, besok saja datang."
"Berani kau bicara begitu padaku? aku sudah tahu ada wanita mur4haan di dalam, itu haknya tuan, aku bukan pacar tuan atau istrinya." ucap Bidari melejit, tangannya cepat bergerak, sebuah pistol sudah di tangannya.
"Nona jangan bergerak."
"Kalian berani menembakku? atau aku saja menembak duluan. Pistol ini isi enam peluru, cukup untuk membuat jantung kalian robek."
"Ampun nona, tolong jangan main-main."
"Beri aku jalan, nanti aku yang bicara kepada Martin kalau kalian kalah melawanku."
Mereka menurunkan senjatanya dan membiarkan Bidari masuk ke rumah utama.
"Maaf nona dilarang masuk." seorang pengawal tidak mau membuka pintu utama.
"Kau tahu dengan siapa berhadapan?"
Pengawal itu tetap diam, badannya yang gede menghalangi pintu masuk. Bidari menarik kerah baju pengawal itu dan melemparkannya dengan mudah. Tenaga nya sangat besar, ia juga menendang pintu besar itu sampai roboh.
Bidari setengah berlari menuju kamar Martin, ia berdiri di depan kamar dan ragu masuk kedalam kamar.
Ketika ia mendengar suara m3suum dari dalam kamar Martin, Bidari tanpa sadar mendobrak pintu. Darahnya memuncak ketika melihat dua wanita melayani Martin.
"Sayank...kau sudah pulang?"
Bidari tidak menjawab, ia menarik kasur yang berisi manusia j4lang itu dan melemparnya keluar kamar.
"Kepar4**..ngapain kau mengamuk!!" teriak wanita itu panik.
Mereka balapan mengambil pakaiannya, tapi Bidari tarik dan melemparkannya ke kebun lewat kaca yang dipecahkannya.
"Syet4nn kau!!"
Kedua wanita itu kalang kabut. Bidari menjambak rambut keduanya dan melemparkannya keluar.
"Aduuuhhhh....." teriak mereka kesakitan.
Martin sangat ketakutan melihat Bidari marah, apalagi saat ini Bidari membawa pistol. Ia cepat-cepat memakai boxer dan ke kamar mandi.
"BRRAAKKK...."
Pintu kamar mandi pecah dan terbuka lebar. Bidari masuk dan berdiri di depan Martin. Laki-laki itu mati gaya di depan Bidari.
"Aku mau ke tempat Abrano, dia lebih baik dari kau!!"
"TIDAKK!! Kau jangan pergi sayank, aku tidak sanggup berpisah denganmu."
BIdari berbalik, ia mau keluar tapi Martin memeluknya dari belakang.
"Sayank jangan pergi, aku minta maaf, aku kesepian karena kau tinggalkan."
Bidari berontak dan menendang laki-laki itu. Bidari tidak bisa mengontrol emosinya, ia sangat marah. Keluar dari kamar mandi ia mengambil sofa dan melemparnya ke tempat pengawal.
******
thrrr jngan lupa ea bidari