Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Setelah badai teriakan dan tamparan Mama mereda, rumah megah itu kembali ke setelan pabriknya: sunyi, namun kali ini sunyinya terasa lebih mencekam, seperti ada bom waktu yang baru saja dijinakkan tapi kabelnya masih bergetar. Mama dan Papa akhirnya pulang dengan wajah yang masih diliputi mendung kekecewaan yang sangat dalam. Sebelum pergi, Mama sempat memeluk Siham lama sekali, seolah-olah sedang mentransfer kekuatan terakhir yang ia miliki untuk menantunya itu.
Namun, begitu pintu depan tertutup rapat dan mobil orang tua Dewangga menghilang di balik pagar otomatis, atmosfer langsung berubah 180 derajat. Dewangga, yang tadinya menunduk seperti orang yang merasa bersalah di depan Papanya, mendadak bangkit. Wajahnya yang memerah bekas tamparan kini berubah menjadi ekspresi kebencian yang murni.
Ia berjalan cepat ke arah dapur, tempat Siham sedang berdiri mematung di depan kompor, berusaha menata kembali detak jantungnya yang tidak keruan.
"Puas kamu?" suara Dewangga rendah, namun tajam seperti sembilu yang menyayat udara pagi.
Siham tidak menoleh. Ia tetap fokus menata piring-piring di atas meja kayu ek yang dingin. "Tadi Papa sudah bilang, Mas. Bukan aku yang bicara ke Mama. Kamu sendiri yang mendengar bahwa Agata yang menghubungi mereka."
"BOHONG!" Dewangga memukul meja makan dengan tangan kanannya, membuat peralatan makan bergetar nyaring. "Agata tidak mungkin melakukan itu kalau tidak ada pemicunya. Pasti kamu diam-diam menghubunginya, kan? Kamu memprovokasi dia supaya dia merasa terancam dan akhirnya mengadu ke orang tuaku! Kamu sengaja ingin menghancurkan reputasiku di depan Papa supaya aku tidak bisa berkutik!"
Siham menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa perih di paru-parunya. Ia tetap diam, tangannya dengan gemetar menyendokkan nasi ke atas piring. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat soal siapa yang benar. Baginya, kebenaran adalah barang mewah yang tidak lagi mampu ia beli di rumah ini.
"Jawab aku, Siham! Jangan sok suci dengan diam seperti itu!" bentak Dewangga lagi. Ia mulai mondar-mandir di dapur, seperti singa yang terluka namun tetap ingin menunjukkan taringnya. "Kamu tahu betapa sakitnya aku dulu? Kamu tahu pengkhianatan Agata itu menghancurkan hidupku sampai aku harus setuju menikahi kamu demi keinginan orang tuaku? Dan sekarang, kamu malah bekerja sama dengan perempuan itu untuk mempermalukanku?"
Siham memejamkan matanya rapat-rapat. Kata-kata Dewangga tentang menikahi demi balas budi selalu menjadi duri yang paling tajam. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Siham menangkap nada yang aneh dalam suara Dewangga. Pria itu tidak hanya terdengar marah, tapi terdengar seperti seseorang yang sangat bersalah namun berusaha menutupi rasa salah itu dengan menyerang orang lain. Dewangga merasa bersalah karena tetap mengejar wanita yang sudah membuangnya, dan ia melampiaskan rasa jijik pada dirinya sendiri itu kepada Siham.
Siham tetap tidak menyahut. Ia berbalik, hendak melangkah menuju rak piring untuk mengambil piring tambahan. Pikirannya hanya satu: selesaikan tugas ini, makan, lalu masuk kamar untuk menulis bab terakhir Aksara Renjana.
Namun, gerakannya terhenti seketika.
Tangan Dewangga yang kekar menyambar lengan kiri Siham dengan kasar. Sentakan itu begitu tiba-tiba hingga tubuh Siham yang sudah rapuh tidak mampu menjaga keseimbangan. Siham limbung, kakinya lemas seperti jeli, dan sebelum ia sempat meraih pinggiran meja, tubuhnya terjatuh tepat di pangkuan Dewangga yang masih berdiri di samping kursi.
Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar.
Dewangga terdiam seribu bahasa. Amarah yang tadi meluap-luap mendadak tersedat di tenggorokannya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menyentuh istrinya dalam jarak yang sangat dekat. Ia bisa merasakan bobot tubuh Siham di pangkuannya.
Yaitu Sangat ringan.
Dewangga mengerutkan kening. Tubuh di lengannya ini terasa seperti tidak memiliki massa, seolah ia hanya sedang memangku tumpukan kain tanpa tulang. Dan saat Dewangga menunduk untuk menatap wajah Siham, jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak nyaman.
Dari jarak sedekat ini, tanpa riasan tebal kantor, wajah Siham terlihat sangat pucat dan sangat pucat. Ada lingkaran hitam yang dalam di bawah matanya dan bibirnya yang biasanya kemerahan kini berwarna keunguan dan pecah-pecah. Siham terlihat seperti seseorang yang sedang berjuang melawan badai besar sendirian di tengah laut, namun tidak ada satu pun orang yang mengirimkan pelampung.
Siham segera menarik dirinya, menjauh dari kontak fisik yang terasa asing dan menyakitkan itu. Ia berdiri dengan susah payah, memegangi sandaran kursi agar tidak jatuh kembali.
"Mas..." suara Siham tenang, namun ada ketegasan yang belum pernah Dewangga dengar sebelumnya. "Aku tidak mau membahas hal yang membuat kamu sakit hati. Aku tidak mau membahas masa lalumu, Agata atau pengkhianatannya padamu."
Siham menatap mata Dewangga lurus-lurus. "Lagi pula, dari tadi aku sama sekali tidak membahas apa pun. Aku tidak memicu perdebatan ini. Jadi, kamu tidak perlu bersikap seperti ini dan marah-marah kepadaku hanya untuk menenangkan rasa bersalahmu sendiri."
Dewangga tertegun. Ia merasa seperti baru saja ditelanjangi oleh kata-kata Siham. Rasa panas di wajahnya bukan lagi karena tamparan Mama, tapi karena ia sadar bahwa istrinya tahu apa yang sedang terjadi di dalam kepalanya.
Siham meninggalkan Dewangga yang masih terpaku di kursi. Ia berjalan menuju rak, mengambil satu piring untuk dirinya sendiri, lalu kembali ke meja. Dengan tenang, ia menyendok lauk secukupnya, seolah-olah perdebatan hebat dan sentakan kasar tadi tidak pernah terjadi.
Suara denting sendok dan piring yang beradu menjadi satu-satunya musik di ruangan itu. Dewangga menyuap nasinya dengan gerakan mekanis, matanya sesekali melirik ke arah Siham yang makan dengan sangat pelan hampir seperti orang yang sedang dipaksa menelan duri.
Di tengah keheningan itu, Dewangga merasa ada yang hilang. Ia memiliki rumah yang besar, jabatan yang tinggi, dan kekuasaan yang absolut, tapi di depan wanita yang sedang makan dengan tenang di hadapannya ini, ia merasa menjadi pria paling pecundang di dunia.
Ia menatap lengan Siham yang tadi ia cengkeram. Masih ada bekas kemerahan di sana karena kulit Siham yang begitu putih. Dewangga ingin mengatakan sesuatu entah itu permintaan maaf atau sekadar bertanya "kenapa badanmu seringan ini?" tapi egonya yang setinggi langit kembali membungkam mulutnya.
Siham menyelesaikan makannya lebih cepat. Ia mencuci piringnya sendiri, lalu tanpa berkata sepatah kata pun, ia berjalan menuju kamarnya. Ia tidak lagi menoleh ke arah Dewangga. Ia tidak lagi mengharapkan sapaan atau tatapan hangat.
Setelah sarapan Siham memutuskan masuk kedalam kamar dan dalam kamar, Siham langsung mengunci pintu. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, dadanya terasa sesak luar biasa. Ia merogoh saku dasternya, mengambil tisu, dan kembali menemukan noda merah di sana.
Hari ini memang Siham tidak akan ke kantor karena kantor memberi waktu fleksibel untuk pekerjaan Siham, apalagi salah satu karya Siham akan di buat film jadi Siham butuh banyak waktu untuk diskusi kalau kata pak Hendra.
"Sebentar lagi, Mas," bisiknya pada bayangan Dewangga yang mungkin masih duduk di ruang makan. "Setelah naskah ini selesai, kamu tidak perlu repot-repot memarahi aku lagi. Kamu bisa memiliki seluruh rumah ini, seluruh martabatmu dan seluruh masa lalumu. Karena saat itu tiba, aku sudah tidak akan ada lagi di sini untuk kau benci."
Siham membuka laptopnya. Cahaya layar monitor menerangi wajahnya yang kuyu. Ia mulai mengetik judul untuk bab selanjutnya: "Melepaskan Genggaman yang Tak Pernah Menggenggam".
Siang itu, di rumah yang luas tersebut, ada dua orang yang terjebak dalam satu atap, namun dipisahkan oleh jurang penyesalan dan rahasia yang sebentar lagi akan meledak menjadi tragedi yang tak terlupakan. Dewangga masih tidak sadar bahwa piring yang baru saja dicuci Siham adalah salah satu piring terakhir yang akan ia lihat dibersihkan oleh tangan istrinya.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor