NovelToon NovelToon
Chaos Divine Body: Takdir Yang Tak Terkalahkan

Chaos Divine Body: Takdir Yang Tak Terkalahkan

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Di hadapan Kekacauan, Langit pun harus tunduk. Di hadapanku, takdir hanyalah sebutir debu."

​Ye Xuan terlahir kembali di Benua Langit Abadi dengan identitas yang memilukan. Meski menyandang nama klan besar, ia dianggap sebagai "sampah" tanpa bakat kultivasi. Puncaknya, di atas Altar Pedang, tunangannya—sang Dewi jenius—memutuskan pertunangan mereka dengan penuh penghinaan, sementara sektenya sendiri mencoba menghapus meridiannya dan mengusir dirinya beserta adiknya yang tercinta, Ye Ling'er.

​Namun, di saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara mekanis kuno bergema di jiwanya:

[Ding! Sistem Tubuh Suci Kekacauan Diaktifkan!]

​Seketika, Tulang Kekacauan Bawaan terbangun, memberikan kekuatan fisik yang mampu menghancurkan gunung! Mata Ilahi Kekacauan terbuka, menembus segala ilusi dan hukum alam! Dengan Kuali Semua Hukum, kecepatan kultivasinya menjadi tak terbatas, melampaui para dewa yang telah berlatih selama ribuan tahun.

​Kini, Ye Xuan bangkit bukan hanya untuk membalas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: ARAKAN PENGANTIN MENUJU GERBANG MAUT

​Fajar di Kota Cahaya Abadi pecah dengan warna emas yang tidak alami. Langit yang biasanya biru cerah kini diselimuti oleh kabut tipis berwarna putih susu, hasil dari formasi pemurnian yang diaktifkan oleh para tetua Klan Su. Di sepanjang jalan utama kota, ribuan kelopak bunga Lingxiao yang bercahaya ditaburkan, menciptakan karpet aromatik yang menyengat bagi siapa pun yang memiliki indra penciuman setajam Ye Xuan.

​Di sebuah barak kecil di pinggiran distrik istana, Ye Xuan berdiri dengan tenang. Ia mengenakan seragam Pengawal Jubah Emas, lengkap dengan topeng wajah penuh yang terbuat dari kuningan. Seragam ini ia dapatkan setelah melumpuhkan salah satu pengawal elit di malam sebelumnya. Di balik topeng itu, matanya tetap terpejam, mengatur aliran energi Kekacauan agar tetap tenang dan tidak terdeteksi oleh radar jiwa yang menyisir kota setiap lima menit.

​[Ding! Memulai Sinkronisasi Lingkungan...]

[Waktu Tersisa hingga Gerhana: 4 Jam 15 Menit.]

[Status Inang: Energi Kekacauan stabil pada 92%. Rantai Takdir pada tulang belakang menunjukkan aktivitas panas tingkat sedang. Disarankan untuk membatasi pergerakan mendadak sebelum ritual dimulai.]

​"Pindah ke posisi!" raung seorang kapten pengawal dengan suara yang menggelegar.

​Ye Xuan bergerak bersama sebelas pengawal lainnya menuju Paviliun Bulan Sabit. Tugas mereka adalah mengangkat tandu raksasa yang akan membawa Jiang Ziyan menuju Altar Matahari Surgawi. Tandu itu sendiri adalah sebuah artefak; terbuat dari kayu gaharu kuno dan dilapisi tirai sutra transparan yang ditenun dengan mantra penenang jiwa.

​Saat tiba di depan paviliun, Ye Xuan melihat Jiang Ziyan keluar. Ia mengenakan gaun pengantin berwarna merah darah yang disulam dengan benang emas membentuk motif burung phoenix yang sedang terbakar. Namun, di balik kecantikannya yang luar biasa, Ziyan tampak seperti mayat hidup. Matanya kosong, sebuah akting sempurna untuk menipu para pengintai, meski Ye Xuan tahu bahwa di dalam tubuhnya, Benih Kekacauan yang ia tanam semalam sedang berdenyut perlahan, melindungi esensi jiwanya.

​Ye Xuan mengambil posisinya di sisi kiri depan tandu. Saat ia mengangkat gagang kayu tandu yang berat, ia sengaja melepaskan sedikit tekanan aura—hanya cukup untuk dirasakan oleh Ziyan.

​Bahu Ziyan sedikit bergetar. Ia menoleh sekilas ke arah pengawal di sisi kirinya. Meski tertutup topeng, ia mengenali binar ungu di kedalaman mata itu. Harapan yang sempat padam di hatinya kini kembali menyala, namun ia segera menunduk untuk menjaga penyamaran.

​Perjalanan di Tengah Sorak-Sorai

​Arakan pengantin dimulai. Suara terompet kerang raksasa dan tabuhan genderang perang menggema, menciptakan irama yang seharusnya sakral namun terdengar seperti barisan kematian bagi Ye Xuan. Di sepanjang jalan, jutaan penduduk kota bersorak, memuja persatuan antara Klan Su dan Alam Dewa. Mereka tidak tahu bahwa di atas tandu itu, seorang wanita sedang dipersiapkan untuk dikuliti jiwanya.

​"Lihatlah keagungan Pangeran Long Haotian!" teriak seorang warga.

"Klan Su akan abadi! Kita akan menjadi bagian dari Alam Dewa!" sahut yang lain.

​Ye Xuan mendengarkan semua itu dengan rasa muak yang tertahan. Abadi? pikirnya. Hari ini, aku akan menunjukkan kepada kalian bagaimana rasanya melihat matahari kalian padam.

​Setiap langkah yang diambil Ye Xuan dilakukan dengan presisi tinggi. Ia menggunakan teknik Langkah Bumi Tersembunyi untuk menyerap getaran dari tanah, memastikan bahwa kehadirannya tidak meninggalkan jejak energi sedikit pun. Namun, tantangan sebenarnya muncul saat arakan melewati Gerbang Matahari, gerbang terakhir sebelum memasuki kompleks Altar Utama.

​Di sana, berdiri dua patung singa emas raksasa yang matanya merupakan batu permata Pendeteksi Kebohongan.

​"Berhenti!" perintah seorang Penatua Klan Su yang berjaga di gerbang. Ia memiliki janggut putih panjang dan mata yang tampak seperti bisa menembus tulang. "Semua pembawa tandu, lepaskan pelindung jiwa kalian. Kami harus memastikan tidak ada parasit yang menyusup ke dalam lingkaran suci."

​Suasana mendadak menjadi tegang. Sebelas pengawal lainnya segera menonaktifkan pertahanan mereka. Ye Xuan tetap tenang, namun di dalam pikirannya, ia berkomunikasi cepat dengan Sistem.

​"Sistem, buat simulasi aura pengawal asli. Gunakan cadangan esensi jiwa Wei Wuya yang kuserap semalam!"

​[Ding! Mengonsumsi 2.000 Poin Sistem. Membuat Kloning Aura... Selesai!]

​Saat Penatua itu menyapukan indra sucinya ke arah Ye Xuan, yang ia rasakan hanyalah aura seorang pengawal tingkat Nascent Soul yang patuh dan sedikit ketakutan. Penatua itu mendengus dan melambaikan tangannya. "Lanjutkan. Jangan sampai terlambat satu detik pun, atau kepala kalian akan menjadi hiasan altar!"

​Altar Matahari Surgawi

​Setelah melewati gerbang, pemandangan di depan mereka berubah drastis. Altar Matahari Surgawi adalah sebuah struktur melingkar raksasa yang melayang di atas kawah lava buatan. Di tengah altar tersebut, berdiri sebuah pilar kristal bening yang akan digunakan sebagai tempat ritual.

​Di atas singgasana tertinggi, duduk Long Haotian. Ia mengenakan jubah perang emas yang menyilaukan, matanya menatap tajam ke arah tandu yang mendekat. Di sampingnya, beberapa tetua agung Klan Su berdiri dengan wajah penuh antisipasi.

​Tandu diletakkan. Jiang Ziyan dipandu keluar oleh dua pelayan menuju pilar kristal.

​"Selamat datang, pengantinku," suara Long Haotian menggema, bergetar dengan kekuatan yang membuat lava di bawah mereka bergolak. "Waktunya telah tiba bagi kita untuk melampaui batas mortalitas ini."

​Ye Xuan dan pengawal lainnya diperintahkan untuk berdiri di pinggiran altar sebagai penjaga luar. Ini adalah posisi yang sempurna. Dari sini, ia memiliki jarak pandang yang luas ke seluruh area ritual.

​Matahari di langit mulai perlahan tertutup oleh bayangan hitam—gerhana matahari parsial telah dimulai. Suhu udara di sekitar altar mulai turun drastis, menciptakan kontras yang aneh dengan panasnya lava di bawah.

​"Sistem," bisik Ye Xuan dalam hati sambil tangannya diam-diam merayap ke balik jubahnya, menyentuh gagang Pedang Penghancur Surga yang telah ia perkecil ukurannya dengan mantra ruang. "Hitung mundur menuju titik terlemah Meridian Matahari milik Long Haotian."

​[Ding! Menghitung...]

[Gerhana mencapai 40%... 60%...]

[Waktu tersisa: 180 detik.]

​Ye Xuan menarik napas dalam. Ia merasakan rantai takdir di punggungnya berdenyut panas, seolah-olah memberikan peringatan akan badai yang akan datang. Ia melihat Long Haotian mulai merapal mantra, tangan sang pangeran terulur ke arah dada Jiang Ziyan, bersiap untuk menarik esensi hidupnya.

​"Satu serangan," gumam Ye Xuan hampir tak terdengar. "Aku hanya butuh satu tebasan untuk meruntuhkan surga bodoh kalian ini."

​Tiba-tiba, Long Haotian menghentikan mantranya. Ia menoleh perlahan ke arah barisan pengawal, matanya yang tajam tertuju tepat ke arah tempat Ye Xuan berdiri.

​"Kau..." Long Haotian menyipitkan mata. "Pengawal di sisi kiri... mengapa detak jantungmu terdengar seperti genderang perang?"

​Seluruh tetua agung Klan Su seketika menoleh ke arah Ye Xuan. Penyamaran yang sempurna itu kini retak oleh insting murni seorang calon Dewa.

​Ye Xuan tidak lagi bersembunyi. Ia melepaskan topeng kuningan yang ia kenakan, membiarkannya jatuh dan hancur di lantai altar. Rambut hitamnya berkibar saat aura ungu yang mengerikan mulai meledak dari tubuhnya, menghancurkan formasi penenang jiwa di sekitarnya.

​"Karena," Ye Xuan menghunus Pedang Penghancur Surga yang seketika kembali ke ukuran raksasanya, membelah lantai altar dengan beratnya. "Genderang itu adalah tanda kematianmu, Long Haotian!"

1
Ardi Rahmad
keren banget
Ardi Rahmad
keren
Didi h Suawa
baik fiktifnya,,🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!