Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guild
Will berhenti di depan seorang penjual buah yang sedang membereskan dagangannya.
"Permisi, Pak. Tahu di mana letak Guild?"
Pedagang sayur itu menoleh. "Guild? Satu-satunya Guild di kota ini ada di ujung jalan. Belok kiri, lurus saja. Nanti ketemu bangunan batu besar dengan bendera biru,"
"Terima kasih, Pak,"
Will berbalik dan berjalan cepat sesuai arah yang ditunjukkan.
Sesampainya di depan Guild.
Bangunannya besar. Terbuat dari batu abu-abu dengan pilar-pilar tinggi. Bendera biru berkibar pelan di atas atap. Dari luar, terdengar suara ramai orang berbicara.
Will menarik napas. Lalu mendorong pintu berat itu masuk.
Di dalam, suasana lebih ramai dari yang ia duga.
Meja-meja panjang dipenuhi orang-orang dari berbagai kalangan. Ada yang berpakaian rapi, ada yang jubah compang-camping, ada pula yang membawa senjata besar di punggung.
Beberapa kelompok sedang berbisik-bisik serius. Tidak sedikit yang tertawa keras sambil memegang gelas.
Will berjalan di antara mereka. Badannya kecil. Hampir tidak terlihat. Beberapa orang nyaris menabraknya, tapi ia gesit menghindar.
Banyak kabar yang tersebar di sini. Dari suara-suara yang terdengar, Will bisa menangkap potongan-potongan percakapan.
Tanpa membuang waktu, ia langsung menuju meja panjang di ujung ruangan.
Di belakang meja itu, seorang perempuan muda dengan rambut pendek sedang sibuk menulis.
Resepsionis Guild.
Will berdiri di depannya. Ujung kepalanya nyaris tidak mencapai tinggi meja.
"Permisi,"
Perempuan itu menurunkan pena. Matanya mencari ke kanan dan kiri, lalu akhirnya menunduk.
"Oh, ada anak kecil. Ada yang bisa dibantu?"
Will berusaha terdengar percaya diri. Ia ingat pesan Aisa dan Lola.
"Aku mau mendaftar Guild,"
Resepsionis itu mengangkat alis. Matanya menyapu tubuh Will dari atas ke bawah.
"Kamu? Mendaftar Guild?" ia tersenyum tipis.
"Berapa umurmu?"
"Lima belas," jawab Will.
Resepsionis itu mengangguk. "Masih muda. Tapi tidak apa-apa. Guild tidak memandang umur. Asal membayar biaya pendaftaran,"
Will memasukkan tangannya ke dalam kantong. Kantong itu terhubung dengan ruang penyimpanan pribadinya. Secara langsung, ia mengeluarkan beberapa koin emas.
"Berapa?"
"Tiga koin emas,"
Will menghitung. Tiga koin emas. Ia masih menyimpan banyak emas. Ia menyodorkan koin itu ke meja.
Resepsionis itu mengambilnya, memeriksa sebentar, lalu mengangguk.
"Baik. Nama?"
"Will,"
"Umur?"
"Lima belas,"
Resepsionis itu menulis di buku besar di depannya.
"Asal?"
Will ragu sejenak. "Dari luar kota,"
"Asal usul kemampuan?"
"Dari latihan sendiri,"
Resepsionis itu berhenti menulis. Ia menatap Will dengan sorot mata yang sedikit berubah. Tidak curiga. Tapi seperti sedang menilai.
"Baiklah. Pendaftaranmu sudah tercatat. Mulai sekarang kamu anggota Guild pemula. Tugas pertama akan diberikan dalam waktu dekat. Sementara itu, kamu bisa mencari kabar di papan pengumuman sebelah sana,"
Ia menunjuk ke dinding besar yang dipenuhi kertas-kertas tempelan.
Will mengangguk. "Terima kasih,"
Sebelum Will pergi...
"Tunggu, kau lupa ini,"
Resepsionis itu mengulurkan tangan. Sebuah kartu kecil berwarna putih dengan tulisan sederhana, nama Will dan tanggal pendaftaran.
Will menerimanya.
"Ini kartu anggota sementara. Bukti kalau kau anggota Guild,"
Will menatap kartu itu sebentar, lalu menyimpannya ke dalam kantong.
"Terima kasih,"
Ia berbalik dan berjalan menuju papan pengumuman.
Di belakangnya, resepsionis itu terus menatap punggung Will yang tidak terlalu kecil, tapi juga tidak terlalu besar untuk anak seusianya.
Lalu, ia menulis sesuatu di buku catatan kecil di sampingnya.
Di papan pengumuman.
Will berdiri di depan papan kayu besar yang hampir menutupi seluruh dinding.
Kertas-kertas lama dan baru terpajang rapi, masing-masing dengan paku atau lem sendiri.
Matanya menyusuri satu per satu.
Ada misi mencari tanaman herbal langka. Ada misi mengusir monster dari ladang warga. Ada misi mengantar barang ke desa seberang. Semua dengan imbalan yang bervariasi.
Will mengamati lebih teliti.
Di sudut kanan atas, ada bagian khusus dengan tulisan merah mencolok.
"Daftar Buronan Istana," gumamnya.
Will menelan ludah.
Ia melihat gambar-gambar wajah di sana. Ada tiga buronan. Dua laki-laki. Satu perempuan. Di bawah setiap gambar, tertulis nama, kejahatan, dan hadiah yang ditawarkan.
Tapi tidak ada wajah yang ia kenal.
Tidak ada ibunya.
Will menghela napas lega. Tapi lega itu tidak bertahan lama.
Berarti ibuku belum masuk daftar buronan yang disebar ke publik. Atau...
Pikiran lain muncul.
Atau mereka sengaja menyembunyikannya.
Ia mengalihkan pandangan ke bagian lain. Di sana, ada kertas yang lebih baru. Tidak ada gambar. Hanya tulisan.
"Dicari: kelompok pemberontak timur. Hadiah 50 koin emas,"
Will membaca pelan-pelan.
Ia ingat Aisa pernah bilang. Ibunya dituduh sebagai anggota kelompok itu.
Mungkin dari sinilah ia harus mulai.
"Hei, nak. Kemari," panggil resepsionis Guild.
Will menoleh. Perempuan dengan rambut pendek itu melambaikan tangan.
Ia segera meninggalkan papan pengumuman dan melangkah mendekat.
"Iya?"
Resepsionis itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Matanya menatap Will dengan sedikit rasa kasihan.
"Karena kau masih pemula, kau hanya bisa mengerjakan misi yang tidak memiliki ranking,"
Will mengerjap. "Maksudnya?"
"Lihat papan pengumuman itu. Misi yang tulisannya hitam, itu untuk pemula seperti kamu. Tidak berbahaya. Mengantar barang, mencari tanaman, membersihkan gudang. Hadiahnya kecil, tapi aman,"
Ia menunjuk ke arah papan.
"Yang tulisannya merah, itu misi ranking B ke atas. Tidak bisa kamu ambil. Belum punya pengalaman,"
Will terdiam. Matanya kembali ke papan pengumuman. Tadi ia memang melihat beberapa tulisan hitam di antara misi-misi lain.
Tapi perhatiannya lebih tertarik pada tulisan merah tentang kelompok pemberontak timur.
"Kalau misi tentang kelompok pemberontak timur..." Will mencoba bertanya.
Resepsionis itu langsung menggeleng.
"Ranking S. Minimal petualang rank A yang bisa ambil,"
Will menggigit bibir.
"Tapi aku..."
"Tidak bisa," potong resepsionis itu. Suaranya tegas tapi tidak kasar.
"Itu aturan Guild. Demi keselamatanmu sendiri,"
Will menghela napas. Ia mengangguk pelan.
"Baik. Terima kasih,"
Ia berbalik menuju papan pengumuman lagi. Kali ini, matanya mencari tulisan hitam.
Misi pemula.
Hadiah kecil.
Tapi... setidaknya aku bisa mulai dari sini.
Will teringat pesan Lola, untuk mencari seseorang.
Ia memasukkan tangannya ke dalam kantong.
Begitu masuk, tangannya langsung merasakan kertas itu, seolah-olah barang yang diinginkan sudah menempel di ujung jarinya.
Ia tarik, dan keluarlah kertas pemberian Lola.
Ia membukanya.
Dua nama. Dua alamat. Dua gambar kecil.
Pertama, perempuan pendek dengan rambut berwarna hijau. Namanya tidak tertulis. Hanya gambar dan keterangan: Penjara Provinsi Estburg.
Kedua, perempuan berambut pirang dengan tinggi standar. Bekerja di sebuah restoran. Namanya juga tidak tertulis.
Will mengerutkan kening.
Masalahnya, ia tidak hafal dengan tempat ini. Ia baru pertama kali berada di kota ini. Tidak tahu arah. Tidak tahu di mana penjara Provinsi Estburg berada. Tidak tahu restoran yang dimaksud.
Bersambung...