Kisah perjuangan sebuah keluarga, dimana sang ibu divonis menderita Leukimia stadium menengah.
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun!! Aku tahu aku bisa menyelamatkan mamahku!! Aku sudah membaca banyak buku!! Lihat dokter!!! Semua yang tertulis disini semua benar kan!!"
Ucap Suni sangat emosional sambil menunjukkan kliping yang ia buat. Dokter Sam membuka lembar demi lembar, semua tentang Leukimia yang diderita Sia, ibunya.
Hancur perasaan dokter Sam. Gadis sebelia ini, begitu sangat bertekad membawa mamahnya kembali pulang. Rasa takut dan manja benar-benar tak tergambar sama sekali di wajah Suni. Sebagai seorang dokter , baru kali ini ia bertemu dengan anak yang memiliki keberanian setulus ini.
(cut dr chapter 20)
Mampukah keluarga ini bertahan sampai akhir? mampukah Suni, si gadis sulung berusia 10 tahun ini mampu menjadi pendonor untuk ibunya?
selamat membaca...😁
karya hanya berdasarkan imajinasi author.
mohon maaf jika ada banyak kesalahan.🙏🙏😁
Salam Author Yoshua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lost Way>>>32 >>>> END.
Tuhan adalah hukum penentu. Sebaik-baiknya manusia berusaha, tak ada yang bisa menyangkal kuasa-Nya. Jika Tuhan menyandarkan IYA, maka tak ada yang bisa mengubahnya menjadi sesuatu dengan makna TIDAK, atau sebaliknya.
Kali ini dokter yang dikenal sebagai utusan Tuhan sebagai penyelamat nyawa pun harus mengerahkan seluruh kemampuan mereka. Proses transplantasi sumsum yang tadinya telah diambil dari tubuh mungil Suni, sepertinya tak berjalan dengan baik.
Sia yang telah berjuang melawan sakitnya beberapa bulan terakhir ini, akhirnya menyerah pada kuasa Tuhan. Semua perjuangannya, dan rasa cintanya pada anak-anaknya, sudah dicukupkan oleh Sang Penguasa kehidupan. Baru setengah jam setelah proses transplantasi selesai, Sia akhirnya menyerahkan kehidupannya sebelum menyapa keluarganya.
“Denyut nadi semakin melemah, Dokter!” ujar perawat di ruang ICU tersebut.
“Akan aku pompa. Siapkan kejut” Dokter Sam sigap melakukan segala cara untuk membawa Sia kembali.
“Pendarahan hidung dokter! Mimisan lagi!” Seru perawat lain.
“Panggilkan Dokter Septian! Cepat!!!”
Namun Tuhan tak berpihak lagi pada kehidupan Sia. Semua keberuntungan dokter Sam pun sepertinya luruh saat itu. Semua usaha dan kerja keras semua dokter pun tak bisa membawa Sia kembali.
..............
Mas, aku rasa waktuku tak lagi banyak. Beberapa hari ini, aku sering melihat taman bunga yang indah di dalam mimpiku. Aku sering lupa jalan pulang ketika aku sudah bermain-main dengan bermacam kupu-kupu yang berterbangan mengitariku di taman itu.
Mas, jika saja memang Tuhan memberikan aku taman itu, jaga anak-anakku baik-baik ya, mereka adalah kupu-kupu yang dipercayakan Tuhan pada kita. Makhluk indah yang seharusnya kita jaga dan kita sayangi sepenuhnya.jangan sakiti dan jangan kecewakan mereka ya, Mas.
Aku tahu semua akan berat pada awalnya, tapi aku percaya cinta dan kebesaran hatimu juga kesetiaanmu pada keluarga, seperti yang telah kamu lakukan selama ini, akan menguatkan anak-anak kita. Cintaku untukmu sepanjang masa, Mas Sundan.
Aku sungguh sangat bahagia memilikimu dalam hidupku. Aku sungguh berterima kasih pada cinta dan seluruh pengorbananmu untukku. Aku sungguh merasakan cintamu yang abadi untukku. Aku akan pergi membawa hatimu. Aku mencintaimu Mas Sundan. Jika ada kehidupan setelah ini, jika kita diijinkan bertemu lagi, aku tetap ingin menjadi bagian dari hidupmu.
Suni, Sean, anak-anak mamah yang tersayang, tumbuhlah sehat. Cintai tubuh kalian. Jadilah anak-anak mamah dan papah yang sehat dan selalu baik seperti biasanya. Mamah sangat bangga memiliki kalian. Mamah sangat bersyukur mengenal kalian dalam kehidupan mamah. Kalian adalah obat terbaik untuk mamah. Cinta kalian yang sangat luar biasa, mama bawa sampai akhir. Jadi jaga cinta mamah juga sampai nanti kita bisa bertemu lagi di kehidupan selanjutnya.
Jagalah papah seperti kalian menjaga mamah.sean dan Suni, mamah harap kalian saling melengkapi satu sama lain. Saling terbuka dan saling mengisi. Saling menyayangi dan saling membutuhkan.
Terimakasih sudah bersedia menjadi anak-anak mamah. Mamah merasa terberkati oleh kalian.
TTD istri yang selalu mencintaimu.
Dan mamah yang selalu mencintai kalian.
Sia Ratri Maharani.
…………
Sepucuk surat yang ditemukan Sean di salah satu buku mewarnai miliknya, ia serahkan pada sang ayah.
Air mata tak lagi tertahan, rasa pilu,sakit dan lelah, menguasai seluruh emosi Sundan. Kepedihan dan kekalutan melemahkan kemampuannya bertahan. Di depan cantiknya jasad sang istri yang sedang didoakan banyak orang, Sundan tertunduk lemah. Tangis Sean dan Suni yang hampir tak bersuara, ditambah tubuh Suni yang juga melemah, belum pulih dari proses penyedotan, membuat Sundan semakin pilu.
Mulut Suni terkunci rapat, namun air mata tak bisa mengering, terus membuat wajahnya semakin memerah. Semua yang hadir membawa doa sore itu, tak mampu menahan pilu yang dirasakan gadis mungil itu.
“Tuhan lebih menyayangi mamah, Nak. Tidak ada yang sia-sia. Mamah pergi membawa sebagian dari dirimu. Mamah pergi membawa cintamu yang tulus kamu berikan untuknya. Kita hanya harus melanjutkan hidup ini bersama cinta mamah untuk kita.” Ucap getir Sundan memeluk kedua anaknya.
Suni dan Sean membenamkan wajah mereka dalam pelukan sang ayah. Tak ada lagi kekuatan untuk sekedar bangkit. Semua terasa runtuh. Semua angan indah, terasa terkubur dalam sekejab.
Namun, tak ada satupun manusia yang bisa melawan takdir dan kuasa Tuhan. Semua harus hanya bisa kembali menata kehidupan selanjutnya.
.
.
.
Beberapa minggu telah berlalu. Kehidupan harus terus berlanjut. Semua harus tetap bertahan dan kuat menerima semua keputusan kehidupan. Pagi ini, semua kembali berjalan dengan baik seperti biasanya. Sean dan Suni bersiap berangkat ke sekolah.
"Papah..." Suni yang berjalan menuju mobil papahnya pagi itu, tiba-tiba melemah.
"Kakak!!" Sean meraih tubuh kakaknya yang tentunya jauh lebih besar.
Sundan yang sudah siap di kursi kemudi, segera berlari menghampiri anak-anaknya, membopongnya dan membawanya ke rumah sakit.
Wajah tegang kembali melekat di wajah-wajah keluarga Sundan.
"Apa Tuhan juga akan mengambil Kakak? Kenapa Tuhan selalu menyayangi orang-orang yang sangat Sean sayangi? Kalau begitu, Sean akan membenci kakak. Sean akan membenci kalian semua. Biar Tuhan tidak mengambil siapapun lagi."
Tangis Sean dan teriakannya terdengar begitu memilukan dan menyakitkan. Semua wajah terbenam. Sundan memeluk lekat tubuh mungil putranya.
"Kami sangat minta maaf Pak Sundan. Sepertinya Suni mengidap sakit yang sama dengan ibunya. Untuk beberapa kasus, sakit ini bisa menurun."
JLEBBBB!!!!!
Rasanya tak percaya Sundan harus kembali menerima kenyataan pahit ini. Ia merasa kehilangan jalan dan terang untuk yang kedua kali. Tubuh kekarnya melemah seketika. Seluruh tulang-tulangnya seketika menghilang, membuatnya tak bisa lagi merasakan tanah tempatnya saat ini berpijak.
"Namun ada kabar baiknya juga. Kerabat anda, yang terakhir kali melakukan pemeriksaan, memiliki kecocokan sumsum, sehingga bisa segera dilakukan transplantasi." Dokter Sam memberikan kalimat teduh selanjutnya.
Bagaikan menerima siraman hujan di saat cuaca benar-benar kering. Begitu dahsyat kuasa Tuhan. Tuhan mengambil, namun menggantinya di saat yang sungguh-sungguh tepat.
...****************...
THE END.
Terimakasih pembaca yang selalu sabar menanti up dari author yang labil dan tak menentu waktu. Kisah ini telah berakhir. Terimakasih telah memberikan semangat positif bagi author. Semoga bisa sedikit dipetik hal positif dari tulisan-tulisan author.
Salam sehat,
TTD Author Yoshua Satrio.🙋
Novel yg penuh perjuangan, keikhlasan, dan pengorbanan.